Ada sebuah penyakit baru di zaman internet: kalimat yang terlalu indah untuk dibiarkan tanpa nama besar.
Seseorang menulis, “Orang yang banyak membaca sulit jatuh
cinta karena ia mencari jiwa kembar spiritual.” Kalimatnya manis, filosofis,
sedikit melankolis, dan sangat cocok diletakkan di atas foto perempuan sedang
membaca buku di dekat jendela ketika hujan. Maka seseorang pun berpikir: “Kalau
cuma ditulis ‘Anonim’, kurang berkelas. Bagaimana kalau Dostoevsky?”
Selesai.
Dostoevsky pun resmi menjadi bapak angkat bagi kalimat yang
bahkan mungkin tidak pernah ia kenal.
Inilah salah satu keajaiban internet: Anda bisa
mengatakan apa saja, selama cukup puitis, lalu menambahkan nama orang terkenal
di bawahnya.
Kalau kalimatnya tentang kesepian, pasang Dostoevsky. Kalau
tentang cinta, pasang Rumi. Kalau tentang kebebasan, pasang Nietzsche. Kalau
tentang kebijaksanaan hidup, pasang Mark Twain. Kalau semuanya tidak cocok,
pasang Einstein. Einstein sudah terlalu sering dituduh mengatakan sesuatu yang
bahkan mungkin tidak pernah ia pikirkan.
Dostoevsky dan Kejahatan Menjadi Quote Card
Dostoevsky memang sangat cocok dijadikan korban.
Namanya membawa aroma penderitaan, salju Rusia, kamar
sempit, dosa, penebusan, kegilaan, dan manusia yang sedang mengalami krisis
eksistensial sambil menatap langit-langit.
Tetapi kalimat:
“Wanita yang banyak membaca tidak bisa mencintai dengan
mudah...”
terdengar agak terlalu rapi untuk Dostoevsky.
Dostoevsky yang asli biasanya tidak berhenti pada “mencari
jiwa kembar spiritual”.
Ia mungkin akan membawa kita ke sebuah ruangan gelap,
mempertemukan kita dengan seorang lelaki yang memiliki tiga masalah psikologis,
dua dosa moral, satu utang, dan seorang perempuan yang sedang mengalami konflik
eksistensial.
Lalu semuanya berlangsung selama 700 halaman.
Kalau Dostoevsky membuat quote card, mungkin bukan:
“Carilah jiwa kembarmu.”
Melainkan:
“Carilah jiwa kembarmu, tetapi bersiaplah menyesalinya
selama 600 halaman.”
Itulah Dostoevsky.
Cinta dalam dunia Dostoevsky bukanlah dua orang yang saling
memandang dengan lembut di bawah cahaya bulan. Cinta adalah dua manusia yang
sama-sama terluka, kemudian mencoba memahami luka masing-masing sambil
mempertanyakan apakah Tuhan masih mengawasi mereka.
Dengan kata lain, Dostoevsky tidak terlalu cocok untuk
Instagram.
Instagram membutuhkan kalimat pendek.
Dostoevsky membutuhkan terapi.
Tetapi Gagasannya Memang Menarik
Lucunya, meskipun kutipannya kemungkinan besar bukan milik
Dostoevsky, gagasannya tidak sepenuhnya ngawur.
Ada sesuatu yang benar di dalamnya.
Orang yang banyak membaca memang bisa mengalami perubahan
dalam cara memandang kehidupan.
Ia tidak hanya mengenal manusia yang ditemuinya di pasar,
kantor, kampus, keluarga, atau grup WhatsApp.
Ia juga mengenal Raskolnikov, Anna Karenina, Emma Bovary,
Don Quixote, Meursault, Pangeran Myshkin, Hamlet, dan ratusan manusia fiktif
lain yang ironisnya kadang lebih rumit daripada tetangga sendiri.
Membaca membuat kita sadar bahwa manusia tidak pernah
sesederhana status WhatsApp.
Seseorang bisa terlihat tenang tetapi sedang berperang
dengan dirinya sendiri.
Seseorang bisa terlihat kasar tetapi sebenarnya takut
ditinggalkan.
Seseorang bisa terlihat sangat religius tetapi diam-diam
sedang bergulat dengan keraguan.
Dan seseorang bisa menulis:
“Aku baik-baik saja.”
padahal ia sudah mengetik pesan panjang kepada ChatGPT pukul
dua pagi.
Buku mengajarkan kita satu hal penting: manusia itu
rumit.
Masalahnya, setelah mengetahui bahwa manusia rumit, kita
bisa menjadi terlalu sulit puas.
Standar Tinggi: Kebijaksanaan atau Efek Samping Membaca?
Di sinilah kutipan tersebut menjadi lucu.
Katanya, perempuan yang banyak membaca sulit jatuh cinta
karena ia mencari “jiwa kembar spiritual”.
Baiklah.
Tetapi kita harus hati-hati.
Kadang-kadang yang disebut “standar tinggi”
sebenarnya hanya daftar tuntutan yang semakin panjang.
Dulu:
“Yang penting baik.”
Lalu membaca banyak buku.
Kemudian:
“Yang penting baik, cerdas, dewasa secara emosional, mampu
berkomunikasi, memiliki kedalaman spiritual, sensitif, humoris, reflektif,
stabil, mandiri, dan memahami Dostoevsky.”
Lalu membaca lebih banyak lagi.
Akhirnya:
“Saya mencari seseorang yang mampu memahami kesunyian saya
tanpa saya harus menjelaskannya.”
Masalahnya, calon pasangan juga manusia.
Ia tidak membawa kemampuan telepati.
Maka ketika ditanya:
“Kenapa kamu diam?”
ia mungkin menjawab:
“Karena kamu diam.”
Selesai.
Jiwa kembar spiritual pun gagal di tahap komunikasi dasar.
Kita Sering Jatuh Cinta kepada Karakter Fiksi
Ada bahaya lain dari terlalu banyak membaca: kita mulai
membandingkan manusia nyata dengan manusia fiksi.
Tokoh fiksi sangat menyenangkan karena penulis telah
menghabiskan ratusan halaman untuk menjelaskan isi kepalanya.
Kita tahu kenapa ia marah.
Kita tahu masa kecilnya.
Kita tahu trauma masa lalunya.
Kita tahu alasan ia tidak percaya cinta.
Kita bahkan tahu apa yang ia pikirkan ketika sedang duduk
sendirian.
Bandingkan dengan manusia nyata.
Kita bertanya:
“Kenapa kamu murung?”
Jawabannya:
“Enggak apa-apa.”
Kita:
“Serius?”
“Iya.”
“Yakin?”
“Iya.”
Lima menit kemudian:
“Kenapa kamu nggak peka?”
Inilah alasan manusia nyata kalah telak dari novel.
Novel memberikan catatan kaki.
Manusia memberikan silent treatment.
Cinta Tidak Selalu Membutuhkan Cermin
Gagasan tentang “jiwa kembar” memang romantis. Tetapi
mungkin cinta yang matang justru tidak selalu membutuhkan seseorang yang
menyerupai kita dalam setiap detail.
Bayangkan dua orang yang sama-sama suka membaca, sama-sama
menyukai filsafat, sama-sama menikmati musik klasik, sama-sama suka hujan,
sama-sama menganggap Dostoevsky hebat.
Indah sekali.
Lalu mereka menikah.
Setelah itu mereka menemukan bahwa keduanya sama-sama tidak
suka mencuci piring.
Maka rumah berubah menjadi eksperimen sosial.
Karena ternyata kesamaan spiritual tidak otomatis
menghasilkan kesamaan jadwal piket rumah tangga.
Cinta bukan sekadar menemukan orang yang memahami buku yang
kita baca.
Cinta juga menemukan orang yang mau membeli gas ketika
habis.
Ini aspek metafisika yang jarang dibahas para filsuf.
Plato membicarakan bentuk ideal.
Aristoteles membicarakan kebajikan.
Dostoevsky membicarakan dosa dan penebusan.
Tetapi tidak ada yang cukup berani menulis:
“Kehidupan rumah tangga dimulai ketika tabung gas
kosong.”
Perempuan Pembaca Bukan Spesies Langka
Ada pula sesuatu yang perlu dikritik dari kutipan tersebut:
seolah-olah perempuan yang banyak membaca otomatis memiliki kelas emosional
tertentu dan karena itu lebih sulit mencintai.
Ini terdengar romantis, tetapi juga sedikit berbahaya.
Membaca tidak otomatis membuat seseorang bijaksana.
Ada orang membaca seratus buku dan tetap menyebalkan.
Ada orang membaca Nietzsche lalu menggunakannya untuk
membenarkan perilaku egois.
Ada yang membaca buku psikologi tiga halaman, lalu
mendiagnosis semua mantan sebagai narcissist.
Ada yang membaca satu buku tentang attachment style,
lalu setiap orang yang terlambat membalas WhatsApp langsung dinyatakan memiliki
avoidant attachment.
Buku bisa memperluas wawasan.
Tetapi buku juga bisa menjadi senjata untuk membangun
kesombongan intelektual.
Karena itu, bukan berapa banyak buku yang kita baca yang
paling penting.
Pertanyaannya:
Apa yang terjadi pada diri kita setelah membaca buku-buku
itu?
Apakah kita menjadi lebih memahami manusia?
Atau justru semakin yakin bahwa semua manusia bodoh kecuali
diri sendiri?
Dan Inilah Ironinya
Kutipan palsu tentang Dostoevsky tersebut justru mengajarkan
sesuatu yang sangat benar tentang zaman kita.
Kita hidup dalam era ketika gagasan lebih cepat viral
daripada verifikasi.
Kalimat yang indah tidak membutuhkan akta kelahiran.
Ia hanya membutuhkan nama besar.
Begitu nama Dostoevsky ditempelkan, orang merasa memperoleh
izin untuk merenung.
Padahal sebenarnya kita bisa saja menghapus nama Dostoevsky
dan tetap mengatakan:
“Ini gagasan menarik.”
Tidak perlu meminjam reputasi orang mati untuk membuat
pikiran kita terdengar dalam.
Dostoevsky sudah cukup sibuk dengan urusan kemanusiaan.
Jangan ditambah pekerjaan menjadi admin quote card.
Cinta yang Sesungguhnya
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan apakah seseorang
banyak membaca atau sedikit membaca.
Bukan pula apakah ia menemukan “jiwa kembar” yang menyerupai
dirinya dalam setiap detail.
Cinta yang matang mungkin justru muncul ketika kita
menemukan seseorang yang tidak sepenuhnya seperti kita, tetapi cukup
bersedia memahami kita.
Seseorang yang tidak selalu mengerti buku yang kita baca,
tetapi mau mendengarkan kita membicarakannya.
Seseorang yang tidak memahami seluruh filsafat hidup kita,
tetapi tetap menemani ketika hidup sedang tidak filosofis sama sekali.
Seseorang yang mungkin tidak tahu siapa Raskolnikov, tetapi
tahu kapan kita sedang sedih.
Seseorang yang tidak bisa menjelaskan teori tentang cinta,
tetapi tahu bahwa kita belum makan.
Barangkali itulah bentuk cinta yang paling sederhana
sekaligus paling sulit.
Bukan menemukan manusia yang identik dengan kita.
Melainkan menemukan manusia yang berbeda dari kita, lalu
berkata:
“Baiklah. Mari kita belajar hidup bersama.”
Dan kalau akhirnya hubungan itu gagal?
Jangan langsung menyalahkan Dostoevsky.
Kemungkinan besar ia memang tidak pernah menulis kutipan
tersebut.
Ia bahkan mungkin sedang sibuk di makamnya, bertanya-tanya
mengapa namanya terus dipakai untuk membenarkan hubungan asmara orang-orang di
abad ke-21.
Sementara kita masih sibuk mencari soulmate.
Padahal mungkin yang kita perlukan bukan jiwa kembar,
melainkan seseorang yang sanggup bertahan menghadapi kita ketika kita sedang
menjadi versi paling tidak masuk akal dari diri sendiri.
Karena membaca membuat kita mengenal ribuan tokoh.
Tetapi mencintai seseorang berarti bersedia mengenal satu
manusia nyata, berulang-ulang, setiap hari—termasuk ketika ia sedang tidak
puitis sama sekali.
Dan itulah bagian cinta yang tidak pernah masuk quote card.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.