Ada sebuah kutipan yang beredar di media sosial, biasanya ditempelkan pada foto seorang lelaki berjanggut, menatap jauh ke luar jendela dengan ekspresi seolah-olah baru saja mengetahui bahwa manusia ternyata fana:
“Jangan pernah menantang seseorang yang sudah damai dengan
kesendiriannya, karena kau akan selalu kalah.”
Nama Dostoevsky pun diletakkan di bawahnya.
Selesai.
Seketika kalimat itu memperoleh aura kebijaksanaan kelas
berat. Kalau kalimat yang sama ditulis oleh akun biasa bernama
“Ujang_Baper_87”, mungkin kita hanya akan membalas dengan emoji tertawa. Tetapi
begitu di bawahnya tertulis “Fyodor Dostoevsky”, mendadak kita merasa sedang
membaca hasil kontemplasi seorang genius Rusia sambil menyeruput teh di St.
Petersburg.
Padahal, masalahnya sederhana: belum tentu Dostoevsky
pernah mengatakannya.
Dan ini justru menarik. Sebab ternyata manusia modern tidak
hanya membutuhkan kebijaksanaan. Kita juga membutuhkan nama besar untuk
meyakinkan diri bahwa kebijaksanaan itu benar.
Dostoevsky yang Tidak Instagramable
Dostoevsky memang sangat mengenal kesendirian. Ia menulis
tentang manusia yang terasing, gelisah, terpecah, penuh dosa, dan berdebat
dengan dirinya sendiri sampai pembaca ikut membutuhkan terapi.
Tetapi gaya Dostoevsky bukanlah:
“Berdamailah dengan kesendirianmu. Jangan takut kehilangan
siapa pun.”
Gaya Dostoevsky lebih kira-kira:
“Marilah kita duduk selama tiga puluh halaman membicarakan
apakah manusia bebas, lalu tokoh utama mengalami krisis spiritual, bertengkar
dengan tiga orang, sakit, merasa bersalah, kemudian membuat keputusan yang
tidak masuk akal.”
Itulah Dostoevsky.
Ia bukan penulis kutipan motivasi untuk caption Instagram.
Ia adalah spesialis kegelisahan jiwa manusia dalam ukuran novel tebal.
Karena itu, kalimat pendek, tajam, dan sangat cocok
dijadikan status WhatsApp tersebut patut dicurigai.
Kalimat itu terlalu rapi.
Terlalu bersih.
Terlalu siap dipasang di atas foto pegunungan berkabut.
Dostoevsky biasanya membuat kita berpikir. Kutipan internet
membuat kita merasa sudah selesai berpikir.
Tetapi Pesannya Memang Menarik
Meskipun atribusinya meragukan, gagasannya tidak otomatis
menjadi buruk.
Justru ada sesuatu yang sangat masuk akal di dalamnya.
Orang yang sudah nyaman dengan dirinya sendiri memang lebih
sulit dikendalikan oleh tekanan sosial.
Coba bayangkan seseorang berkata:
“Kalau kamu tidak mengikuti kemauan kami, kami tinggalkan!”
Orang yang takut sendirian akan panik.
“Jangan! Tunggu! Kita bicarakan baik-baik!”
Tetapi orang yang sudah berdamai dengan kesendirian mungkin
menjawab:
“Oh, silakan.”
Lalu pulang.
Membuat kopi.
Membaca buku.
Tidur.
Ancaman kehilangan teman mendadak kehilangan daya ledaknya.
Inilah salah satu bentuk kebebasan yang sering kita lupakan:
kemampuan untuk tidak menjadikan kehadiran orang lain sebagai syarat mutlak
bagi ketenangan batin.
Zaman Sekarang: Kesepian dengan Wi-Fi
Ironisnya, kita hidup dalam zaman yang paling terkoneksi
sepanjang sejarah.
Dulu, kalau ingin berbicara dengan seseorang di luar kota,
kita harus menulis surat.
Sekarang kita bisa mengirim pesan dalam dua detik.
Dulu menunggu balasan surat bisa berbulan-bulan.
Sekarang orang belum membalas selama tujuh menit saja kita
sudah mulai melakukan investigasi:
“Dia online.”
“Dia sudah melihat story saya.”
“Dia upload lagu.”
“Kenapa belum balas?”
“Apakah saya salah?”
“Apakah dia berubah?”
“Apakah ada orang lain?”
“Apakah saya perlu menghapus pesan?”
Begitulah teknologi mengubah manusia menjadi detektif
emosional.
Kita memiliki ribuan koneksi, tetapi satu centang biru saja
mampu menghancurkan kedamaian batin.
Kita menyebutnya konektivitas.
Kadang-kadang sebenarnya itu kecemasan dengan jaringan
internet.
Like sebagai Mata Uang Baru
Media sosial juga menciptakan ekonomi baru: ekonomi
validasi.
Dulu orang bertanya:
“Berapa uangmu?”
Sekarang pertanyaannya lebih halus:
“Berapa yang menyukai postinganmu?”
Dulu seseorang pulang dari perjalanan membawa oleh-oleh.
Sekarang pulang membawa 47 foto yang harus segera diunggah
sebelum momen kehilangan nilai sosial.
Makan tidak cukup.
Harus difoto.
Jalan-jalan tidak cukup.
Harus diunggah.
Bahagia tidak cukup.
Harus dibuktikan kepada publik.
Bahkan kesendirian pun sekarang kadang dipublikasikan:
“Enjoying my solitude.”
Dengan foto kopi, laptop, buku, dan tanaman monstera.
Ini tentu menimbulkan pertanyaan filosofis:
Kalau kita benar-benar menikmati kesendirian, mengapa kita
membutuhkan 1.200 orang untuk mengetahuinya?
Mungkin karena kesendirian modern pun membutuhkan penonton.
Berdamai dengan Kesendirian Bukan Berarti Membenci
Manusia
Di sinilah kita perlu hati-hati.
Menjadi nyaman sendirian bukan berarti menjadi manusia yang
membenci manusia.
Ada perbedaan antara solitude dan isolation.
Solitude adalah kemampuan menikmati keheningan.
Isolation adalah terputus dari hubungan.
Yang pertama bisa menyembuhkan.
Yang kedua bisa melukai.
Seseorang bisa makan sendirian di restoran dan merasa damai.
Orang lain bisa makan sendirian di restoran yang sama dan
merasa dunia telah meninggalkannya.
Secara fisik sama-sama sendiri.
Secara batin, dua dunia yang berbeda.
Maka kekuatan bukan terletak pada kemampuan berkata, “Saya
tidak membutuhkan siapa pun.”
Itu kadang bukan kekuatan.
Kadang itu luka yang sudah diberi jas dan dasi.
Kekuatan yang lebih matang justru berbunyi:
“Saya mampu berdiri sendiri, tetapi saya tetap memilih
untuk bersama orang lain.”
Itu jauh lebih sulit.
Orang yang Tidak Takut Sendirian Sulit Diperas Secara
Emosional
Dalam banyak hubungan yang tidak sehat, senjata utama bukan
kemarahan.
Senjatanya adalah ketakutan.
“Kalau kamu pergi, kamu akan sendirian.”
“Kalau kamu tidak mengikuti saya, semua orang akan
meninggalkanmu.”
“Kalau kamu tidak menerima saya, tidak akan ada orang lain
yang mencintaimu.”
Kalimat-kalimat seperti ini hanya efektif jika seseorang
percaya bahwa sendirian adalah bencana.
Tetapi ketika seseorang telah berdamai dengan dirinya
sendiri, ancaman tersebut kehilangan kekuatan.
Ia bisa berkata:
“Kalau hubungan ini sehat, mari kita rawat.”
“Kalau tidak sehat, mari kita akhiri dengan baik.”
Tidak ada drama.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada status Facebook pukul dua pagi dengan lagu sedih.
Hanya keputusan.
Dan keputusan yang tenang sering kali jauh lebih kuat
daripada kemarahan.
Namun Jangan Sampai Kesendirian Menjadi Kesombongan
Ada bahaya lain.
Setelah menemukan kenyamanan dalam kesendirian, seseorang
bisa jatuh ke jebakan baru:
“Saya tidak membutuhkan siapa pun.”
Kalimat ini terdengar gagah.
Tetapi manusia bukan batu.
Kita membutuhkan percakapan, persahabatan, kasih sayang,
kerja sama, sentuhan, tawa, dan sesekali seseorang yang berkata:
“Sudah makan belum?”
Bahkan orang paling mandiri di dunia tetap membutuhkan
tukang listrik ketika stopkontaknya rusak.
Kemandirian memiliki batas.
Dan itu bukan kelemahan.
Justru mengakui keterbatasan adalah salah satu bentuk
kedewasaan.
Mungkin Inilah Pelajaran yang Sebenarnya
Barangkali pesan terdalam dari kutipan tersebut bukanlah:
“Jangan membutuhkan orang lain.”
Melainkan:
“Jangan kehilangan dirimu sendiri hanya karena takut
kehilangan orang lain.”
Ini jauh lebih sehat.
Kita boleh mencintai tanpa menjadi budak.
Kita boleh membutuhkan tanpa menjadi tergantung.
Kita boleh dekat tanpa kehilangan batas.
Kita boleh sendirian tanpa merasa gagal.
Dan kita boleh bersama orang lain tanpa menjadikan mereka
sebagai satu-satunya sumber makna hidup.
Pada titik tertentu, manusia perlu mempunyai sebuah rumah di
dalam dirinya sendiri.
Sebab jika seluruh rumah kebahagiaan kita dibangun di atas
keberadaan orang lain, maka ketika orang itu pergi, kita bukan hanya kehilangan
seseorang.
Kita kehilangan alamat.
Dan Bagaimana dengan Dostoevsky?
Mungkin Dostoevsky tidak pernah mengucapkan kalimat viral
tersebut.
Kalau benar demikian, kita perlu berhenti mengatasnamakan
beliau.
Kasihan juga.
Sudah meninggal lebih dari seabad, masih disuruh bertanggung
jawab atas kutipan internet.
Besok mungkin muncul:
Lalu ribuan orang menyukai.
Seseorang membuat poster.
Seseorang menjadikannya konten motivasi.
Dan seorang akademisi Rusia mengalami migrain dari alam
baka.
Tetapi di balik kekeliruan atribusi itu terdapat sesuatu
yang menarik: manusia modern memang sedang mencari bahasa untuk menjelaskan
kerinduan mereka terhadap kebebasan batin.
Kita lelah menjadi orang yang terus-menerus membutuhkan
persetujuan.
Lelah mengejar perhatian.
Lelah membandingkan hidup.
Lelah memeriksa siapa yang menyukai kita.
Lelah takut ditinggalkan.
Karena itu, kesendirian terasa seperti sebuah kemewahan.
Bukan karena kita membenci dunia.
Melainkan karena untuk pertama kalinya kita bisa duduk diam
dan berkata:
“Saya baik-baik saja, bahkan ketika tidak ada seorang pun
yang sedang memperhatikan.”
Dan mungkin itulah bentuk kebebasan yang paling sederhana
sekaligus paling sulit.
Bukan menjadi orang yang tidak membutuhkan siapa pun.
Tetapi menjadi orang yang tidak kehilangan dirinya ketika
seseorang pergi.
Sebab pada akhirnya, kita memang membutuhkan orang lain.
Tetapi sebelum itu, kita perlu belajar satu hal yang lebih
mendasar:
bagaimana caranya tidak meninggalkan diri sendiri.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.