Senin, 03 Agustus 2026

Voltaire, Senin Pagi, dan Nasib Orang yang Terlalu Banyak Rebahan

Ada dua jenis manusia pada Senin pagi.

Golongan pertama bangun dengan semangat, menyeduh kopi, membuka laptop, lalu berkata, "Hari ini aku akan produktif."

Golongan kedua membuka mata, melihat jam, memeluk bantal lebih erat, lalu bernegosiasi dengan alam semesta, "Kalau hari ini langsung Jumat, aku janji akan jadi orang baik."

Voltaire, filsuf Prancis abad ke-18, kemungkinan besar termasuk golongan pertama. Ia pernah menulis kalimat yang hingga kini masih mondar-mandir di media sosial setiap Senin pagi:

"Kerja menjauhkan kita dari tiga malapetaka besar: kebosanan, keburukan, dan kemiskinan."

Kalimat itu biasanya ditemani gambar secangkir kopi, matahari terbit, dan font elegan yang membuat orang merasa produktif padahal lima menit kemudian kembali menggulir media sosial selama satu jam.

Voltaire rupanya sudah memahami tabiat manusia jauh sebelum ditemukan Wi-Fi.

Musuh Terbesar Bernama "Nanti"

Dalam novel Candide, Voltaire mengisahkan seorang tokoh yang sudah keliling dunia, menyaksikan perang, bencana, pengkhianatan, penipuan, dan berbagai bentuk kekacauan manusia.

Setelah perjalanan yang panjang itu, Candide bertemu seorang petani Turki.

Petani ini tidak memberikan ceramah motivasi.

Tidak membuka seminar "Tujuh Langkah Menjadi Sultan Sebelum Usia 30."

Tidak menjual kelas daring berharga jutaan rupiah.

Ia hanya bekerja di kebunnya.

Sederhana sekali.

Ketika ditanya rahasia hidupnya, jawabannya kurang lebih begini:

"Kalau kami sibuk bekerja, kami tidak sempat bosan, tidak sempat berbuat macam-macam, dan tidak sempat kelaparan."

Candide seperti mendapat tamparan lembut.

Ternyata setelah berkeliling dunia mencari jawaban filosofis, solusi hidup malah ditemukan pada seseorang yang lebih sibuk mencangkul daripada berdebat.

Kadang memang begitu.

Orang yang paling banyak teori tentang kehidupan justru paling jarang menyiram tanaman di halaman rumahnya.

Kebosanan Adalah Ibu dari Scroll Tanpa Tujuan

Voltaire menyebut musuh pertama manusia adalah kebosanan.

Kalau beliau hidup sekarang, mungkin definisinya diperbarui.

Kebosanan bukan lagi duduk melamun di bawah pohon.

Melainkan membuka media sosial "cuma lima menit" lalu sadar matahari sudah tenggelam, baterai tinggal tiga persen, dan yang diingat hanya seekor kucing yang bisa memainkan piano.

Manusia modern memiliki kemampuan luar biasa.

Mengeluh tidak punya waktu, sambil menghabiskan tiga jam menonton video berjudul:

"Pria Ini Memotong Semangka Menggunakan Sendok. Hasilnya Mengejutkan."

Setelah selesai menonton, yang mengejutkan sebenarnya hanyalah fakta bahwa kita masih menontonnya sampai habis.

Voltaire pasti mengangguk pelan.

"Sudah kubilang, bekerja lebih sehat."

Kemalasan Sangat Kreatif

Musuh kedua adalah keburukan.

Ini menarik.

Karena banyak keburukan ternyata lahir bukan dari kesibukan, tetapi dari orang yang terlalu banyak waktu luang.

Coba perhatikan grup keluarga.

Penyebar hoaks paling aktif biasanya bukan orang yang sedang memasang genteng di bawah terik matahari.

Mereka punya waktu untuk membaca berita yang belum tentu berita, memeriksa fakta menggunakan perasaan, lalu meneruskannya ke lima belas grup dengan keyakinan penuh.

Sebaliknya, tukang bakso keliling tidak sempat membuat teori konspirasi.

Ia sibuk mengejar pelanggan.

Petani tidak sempat berdebat tentang apakah bumi datar.

Ia lebih khawatir sawahnya kekurangan air.

Kadang pekerjaan adalah vaksin terbaik terhadap penyakit bernama "terlalu banyak mikir hal yang tidak perlu."

Dompet Juga Punya Filosofi

Musuh ketiga menurut Voltaire adalah kemiskinan.

Di sinilah semua orang mengangguk.

Kerja memang menghasilkan uang.

Walaupun kadang uangnya baru mampir sebentar sebelum berpamitan kepada cicilan, tagihan listrik, kuota internet, dan diskon tanggal kembar yang entah mengapa selalu terasa mendesak.

Gaji datang seperti tamu kehormatan.

Disambut meriah.

Difoto.

Lalu menghilang dalam dua hari.

Sisanya tinggal notifikasi:

"Terima kasih telah melakukan pembayaran."

Namun setidaknya, bekerja memberi peluang untuk hidup lebih baik.

Dompet kosong memang tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kebijaksanaan.

Tetapi dompet yang sedikit lebih tebal jelas membuat filosofi terasa lebih mudah dipahami.

Sayangnya, Tidak Semua Kerja Itu Surga

Di sinilah kita perlu sedikit membela generasi modern.

Voltaire hidup pada abad ke-18.

Beliau belum mengenal rapat daring yang sebenarnya bisa selesai lewat tiga pesan singkat.

Beliau belum pernah menerima email bertuliskan "urgent" pukul sebelas malam.

Beliau juga belum tahu rasanya diminta "sebentar saja" mengerjakan revisi yang ternyata membutuhkan waktu tiga hari.

Kalau beliau mengalami semua itu, mungkin kutipannya menjadi sedikit lebih panjang.

"Kerja menjauhkan kita dari kebosanan, keburukan, dan kemiskinan... asalkan bosnya masih ingat bahwa karyawan juga manusia."

Karena memang tidak semua pekerjaan memerdekakan.

Ada pekerjaan yang justru membuat seseorang pulang dalam keadaan tubuh lelah, pikiran kusut, dan jiwa bertanya-tanya mengapa password kantor harus diganti setiap dua minggu.

Bekerja memang penting.

Tetapi bekerja secara manusiawi jauh lebih penting.

Mengolah Kebun Sendiri

Pada akhir Candide, Voltaire menulis kalimat yang mungkin lebih terkenal daripada kutipan tentang kerja:

"Kita harus mengolah kebun kita sendiri."

Ini bukan ajakan mendadak membeli cangkul.

Bukan pula promosi berkebun hidroponik.

"Kebun" adalah metafora.

Ia bisa berarti keluarga.

Pekerjaan.

Ilmu.

Keimanan.

Persahabatan.

Atau bahkan kesehatan mental.

Sayangnya, manusia modern sering lebih sibuk mengomentari kebun tetangga.

Rumput tetangga terlalu hijau.

Pohon tetangga terlalu rindang.

Pot bunga tetangga terlalu estetik.

Sementara halaman sendiri sudah berubah menjadi habitat rumput liar dan sandal jepit yang hilang sebelah.

Media sosial membuat kita ahli menjadi pengamat kehidupan orang lain.

Padahal yang perlu dipupuk justru kehidupan kita sendiri.

Kerja, Tapi Jangan Lupa Hidup

Barangkali Voltaire tidak sedang memuja kerja tanpa batas.

Ia sedang memuji hidup yang memiliki tujuan.

Sebab pekerjaan yang bermakna membuat manusia bangun pagi dengan alasan yang lebih baik daripada sekadar mengejar tanggal gajian.

Namun beliau mungkin juga akan tersenyum melihat zaman sekarang.

Ketika orang berkata ingin work-life balance, tetapi tetap membuka laptop saat liburan.

Ketika seseorang mengaku sedang "healing", tetapi sibuk mengedit foto healing agar terlihat benar-benar healing.

Dan ketika sebagian dari kita merasa sangat lelah, padahal energi terbesar hari itu dihabiskan untuk memindahkan ibu jari dari bawah ke atas layar ponsel.

Mungkin, kalau Voltaire hidup di era digital, ia tidak akan mengubah isi pesannya.

Ia hanya akan menambahkan satu kalimat kecil:

"Silakan bekerja dengan tekun. Tetapi sesekali tutuplah aplikasi yang membuatmu lupa bahwa hidupmu sendiri juga perlu diolah."

Karena pada akhirnya, kebun yang paling penting bukanlah yang paling banyak mendapat "like", melainkan yang benar-benar kita rawat dengan tangan sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.