Jembatan Mana yang Dilewati, Jembatan Mana yang Dibakar?

Seni Menyeberang Tanpa Menjadi Tukang Bakar

Ada sebuah nasihat kehidupan yang terdengar sangat bijaksana: “Hal tersulit yang harus dipelajari dalam hidup adalah jembatan mana yang harus dilewati dan jembatan mana yang harus dibakar.”

Kalimat ini indah. Puitis. Dalam. Dan, seperti kebanyakan kalimat yang terasa dalam di media sosial, biasanya langsung mendapat ribuan tanda suka sebelum sempat ditanya: “Ini sebenarnya kata siapa?”

Kali ini nama Bertrand Russell ikut dibawa-bawa.

Kasihan Bertrand Russell.

Sudah meninggal sejak 1970, tetapi masih disuruh bertanggung jawab atas banyak sekali kalimat yang beredar di internet. Kalau keadaan ini terus berlangsung, suatu hari nanti Russell mungkin akan dikutip untuk urusan memilih paket internet, resep sambal, bahkan alasan seseorang tidak membalas WhatsApp.

“Bertrand Russell pernah berkata, orang yang tidak membalas pesan adalah orang yang sedang mencari kedamaian.”

Padahal Russell mungkin tidak pernah mengatakan itu.

Tetapi begitulah kehidupan digital. Kalau sebuah kalimat terdengar cukup filosofis, tinggal tempelkan nama filsuf terkenal di bawahnya. Selesai. Kalimat biasa mendadak naik kelas menjadi kebijaksanaan.

Namun, terlepas dari siapa pengarang sebenarnya, metafora tentang jembatan itu memang menarik.

Karena hidup kita ternyata penuh jembatan.

Ada jembatan menuju pekerjaan baru. Jembatan menuju hubungan baru. Jembatan menuju keberanian. Jembatan menuju masa depan.

Dan ada pula jembatan menuju mantan.

Nah, yang terakhir ini biasanya harus dipertimbangkan dengan sangat matang.

Hidup Memang Penuh Jembatan

Sejak kecil kita diajari menyeberang.

Menyeberang jalan.

Menyeberang sungai.

Menyeberang dari kelas satu ke kelas dua.

Lalu dari sekolah ke kuliah, dari kuliah ke pekerjaan, dari pekerjaan ke cicilan, dari cicilan ke kebijaksanaan—kalau sempat.

Masalahnya, ketika dewasa, tidak semua jembatan memiliki papan petunjuk.

Tidak ada tulisan:

“Jembatan ini menuju kehidupan yang lebih baik.”

Tidak ada pula:

“Dilarang menyeberang. Setelah lewat, Anda akan menyesal selama tujuh tahun.”

Kita harus menebak sendiri.

Itulah bagian tersulit dari kehidupan: bukan karena pilihan kita sedikit, tetapi karena pilihan yang tersedia sering sama-sama terlihat masuk akal.

Pekerjaan lama membuat kita nyaman, tetapi tidak berkembang.

Pekerjaan baru menawarkan perkembangan, tetapi juga menawarkan stres.

Hubungan lama penuh kenangan, tetapi juga penuh pertengkaran.

Hubungan baru tampak menjanjikan, tetapi kita belum tahu apakah dia benar-benar pasangan hidup atau hanya orang yang kebetulan sedang rajin mengirim “selamat pagi”.

Maka hidup memang membutuhkan kebijaksanaan.

Kita harus tahu jembatan mana yang perlu diseberangi.

Dan lebih penting lagi, jembatan mana yang sebaiknya tidak perlu kita injak lagi.

Jangan Semua Jembatan Dibakar

Di sinilah manusia sering melakukan kesalahan.

Begitu membaca nasihat tentang “membakar jembatan”, sebagian orang langsung bersemangat.

Putus hubungan? Bakar jembatan!

Keluar dari pekerjaan? Bakar jembatan!

Bertengkar dengan teman? Bakar jembatan!

Tidak cocok dengan tetangga? Bakar jembatan!

Bos tidak membalas chat? Bakar kantor sekalian!

Padahal membakar jembatan bukanlah tanda keberanian jika dilakukan setiap kali emosi datang.

Ada perbedaan antara keberanian meninggalkan sesuatu dan ketidakmampuan mengendalikan emosi.

Kadang-kadang kita mengira sedang membakar jembatan, padahal sebenarnya sedang membakar rumah sendiri.

Besok pagi baru sadar:

“Waduh, ternyata jembatan itu masih diperlukan.”

Mau kembali?

Sudah habis.

Tinggal asap.

Dan kita berdiri di tepi sungai sambil berkata:

“Seharusnya tadi saya pikir-pikir dulu.”

Itulah sebabnya kemampuan memilih jauh lebih penting daripada keberanian bertindak.

Keberanian tanpa kebijaksanaan hanya menghasilkan asap.

Ada Jembatan yang Memang Harus Ditinggalkan

Namun demikian, ada pula jembatan yang memang sebaiknya dibakar—atau setidaknya ditutup rapat.

Misalnya kebiasaan buruk.

Kita tahu begadang membuat tubuh kacau, tetapi setiap malam masih berkata:

“Besok saya tidur cepat.”

Besok datang.

Kita begadang lagi.

Kemudian pagi hari kita membuka mata dengan wajah seperti orang yang baru saja kalah perang melawan bantal.

Ada juga kebiasaan menunda.

Kita tahu pekerjaan harus diselesaikan hari ini.

Tetapi otak berkata:

“Tenang. Masih ada waktu.”

Kemudian pukul sebelas malam kita berubah menjadi filsuf eksistensialis:

“Apakah hidup ini memiliki makna?”

Padahal masalahnya cuma tugas yang belum dikerjakan.

Dalam kasus seperti ini, jembatan memang perlu dibakar.

Bukan karena kita membenci masa lalu, tetapi karena kita ingin mencegah diri sendiri kembali ke sana.

Jembatan yang Paling Sulit Dibakar

Anehnya, jembatan yang paling sulit dibakar sering kali bukan milik orang lain.

Melainkan milik kita sendiri.

Kita sulit meninggalkan ego.

Sulit meninggalkan gengsi.

Sulit meninggalkan keinginan untuk selalu dianggap benar.

Sulit mengakui bahwa keputusan kita dulu ternyata keliru.

Dan yang paling sulit: sulit meninggalkan versi diri kita yang sudah tidak cocok dengan kehidupan sekarang.

Kita kadang mempertahankan sesuatu hanya karena sudah terlalu lama menjalaninya.

“Sudah sepuluh tahun saya begini.”

Lalu?

Sepuluh tahun bukan alasan untuk meneruskan kesalahan.

Kalau seseorang salah naik bus selama dua jam, solusi terbaik bukan berkata:

“Karena sudah dua jam, saya sekalian saja sampai terminal terakhir.”

Itu bukan konsistensi.

Itu kesetiaan kepada kesalahan.

Jangan Membakar Jembatan Karena Sedang Marah

Ada satu nasihat tambahan yang mungkin perlu ditempel di bawah kutipan tadi:

Jangan mengambil keputusan permanen ketika sedang mengalami emosi sementara.

Karena kemarahan itu sering membuat kita merasa sangat filosofis.

Saat marah, kita tiba-tiba menemukan prinsip hidup:

“Saya tidak membutuhkan siapa pun!”

Dua jam kemudian:

“Kenapa dia belum menghubungi saya?”

Begitulah manusia.

Pukul delapan malam ingin memutuskan hubungan dengan seluruh umat manusia.

Pukul sepuluh malam membuka WhatsApp untuk melihat apakah seseorang sudah online.

Karena itu, sebelum membakar jembatan, sebaiknya pastikan kita tidak sedang memegang korek api sambil emosi.

Tenangkan diri.

Pikirkan konsekuensinya.

Tanyakan:

Apakah jembatan ini memang harus dibakar?

Atau saya hanya sedang kesal karena tadi tidak dibalas?

Pertanyaan sederhana semacam itu kadang menyelamatkan kita dari penyesalan bertahun-tahun.

Tetapi Jangan Juga Takut Menyeberang

Sebaliknya, jangan sampai kita terlalu takut mengambil keputusan.

Ada orang yang sepanjang hidup berdiri di depan jembatan.

Dia melihat ke seberang.

Kemudian berkata:

“Sepertinya menarik.”

Besok datang lagi.

“Sepertinya masih menarik.”

Lima tahun kemudian:

“Sepertinya dulu saya harus menyeberang.”

Inilah penyakit manusia yang bernama terlalu banyak berpikir tetapi terlalu sedikit berjalan.

Kita ingin kepastian seratus persen sebelum mengambil keputusan.

Padahal kehidupan tidak menyediakan garansi seperti barang elektronik.

Tidak ada toko yang berkata:

“Silakan mencoba menikah selama tiga bulan. Jika tidak cocok, uang kembali.”

Tidak ada pekerjaan yang memberikan:

“Jika karier Anda tidak berkembang dalam dua tahun, kami kembalikan usia Anda.”

Maka sebagian keputusan memang harus dibuat dalam ketidakpastian.

Kita menyeberang sambil berharap jembatannya cukup kuat.

Dan kalau ternyata tidak kuat, kita belajar berenang.

Seni Kehidupan Bukan Memiliki Banyak Jembatan

Pada akhirnya, kehidupan yang baik mungkin bukan kehidupan yang memiliki banyak pilihan.

Melainkan kehidupan yang memiliki kemampuan membedakan.

Kita harus tahu kapan bertahan.

Kapan pergi.

Kapan berbicara.

Kapan diam.

Kapan membuka pintu.

Dan kapan mengunci pintu lalu membuang kuncinya ke sungai.

Tetapi sekali lagi, jangan terlalu cepat membuang kunci.

Barangkali besok kita sadar bahwa yang kita buang bukan kunci pintu masa lalu, melainkan kunci gudang tempat sepeda disimpan.

Hidup memang membutuhkan sedikit filsafat dan sedikit kehati-hatian.

Jangan semua jembatan diseberangi.

Jangan semua jembatan dibakar.

Ada jembatan yang cukup kita lewati.

Ada jembatan yang cukup kita tinggalkan.

Dan ada jembatan yang sebaiknya kita rawat karena suatu hari nanti mungkin orang lain membutuhkan jalan untuk menyeberang.

Sebab kedewasaan bukanlah kemampuan untuk membakar sebanyak mungkin jembatan.

Kedewasaan adalah kemampuan mengetahui jembatan mana yang layak diperjuangkan, mana yang harus ditinggalkan, dan mana yang sebaiknya tidak disentuh karena ternyata itu jembatan milik tetangga.

Dan kalau benar Bertrand Russell tidak pernah mengatakan kalimat tersebut, kita tetap bisa mengambil pelajarannya.

Sebab sebuah nasihat tidak selalu menjadi bijaksana hanya karena berasal dari seorang filsuf.

Kadang-kadang kalimat yang bukan berasal dari filsuf pun bisa membuat kita berpikir.

Dan kadang-kadang kalimat yang benar-benar berasal dari filsuf pun bisa kita salah pahami.

Barangkali itulah jembatan terakhir yang perlu kita seberangi:

jembatan dari sekadar percaya kepada kemampuan untuk memeriksa.

Karena di zaman internet, sebelum bertanya:

“Jembatan mana yang harus saya bakar?”

ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

“Ini benar-benar jembatan, atau cuma foto jembatan dengan kutipan palsu di bawahnya?”

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Jembatan Mana yang Dilewati, Jembatan Mana yang Dibakar? Jembatan Mana yang Dilewati, Jembatan Mana yang Dibakar? Reviewed by banyu bening Ajibarang on 8/31/2026 12:09:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list