Ketika Pikiran Minta Hening, Gawai Menjawab: “Tonton Dulu yang Ini!”
Ada sebuah lelucon modern yang sangat serius: manusia zaman sekarang memiliki teknologi untuk terhubung dengan seluruh dunia, tetapi sering kali tidak sanggup duduk diam selama lima menit tanpa merasa hidupnya sedang mengalami gangguan jaringan.
Kita bangun pagi, tangan meraba ponsel sebelum kaki menyentuh lantai. Mata masih setengah terbuka, tetapi jempol sudah bekerja lembur. Ada notifikasi WhatsApp, Instagram, Facebook, email, berita, video pendek, promosi diskon, dan entah apa lagi. Bahkan sebelum kita sempat bertanya, “Hari ini saya mau menjadi manusia seperti apa?”, algoritma sudah menjawab:
“Tidak penting. Nih, video kucing jatuh dari sofa.”
Begitulah zaman kita.
Dan yang menarik, puluhan tahun sebelum manusia menemukan cara untuk menggulir layar tanpa akhir, filsuf Jerman-Austria Günther Anders sudah mencium bau masalahnya.
Anders dan Kotak Ajaib yang Tidak Pernah Diam
Pada 1950-an, ketika televisi masih menjadi benda ajaib yang membuat keluarga berkumpul di ruang tamu, Anders melihat sesuatu yang agak mengerikan.
Televisi, menurutnya, bukan hanya alat untuk membawa dunia ke rumah. Ia juga bisa membawa versi dunia yang sudah dipilih, dikemas, dihias, diberi musik, kemudian disodorkan kepada kita dengan pesan:
“Silakan duduk. Jangan terlalu banyak berpikir.”
Dunia yang sebenarnya penuh dengan perang, kemiskinan, penderitaan, ketidakadilan, dan persoalan rumit kemudian diubah menjadi gambar bergerak yang nyaman ditonton sambil makan kacang.
Masalahnya bukan sekadar kita menonton televisi.
Masalahnya adalah kita mulai terbiasa mengalami dunia melalui layar.
Kita tidak lagi bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Kita bertanya, “Ada video berapa menit?”
Anders menyebut dunia yang hadir melalui media sebagai semacam “fantom”: sesuatu yang terasa nyata, tetapi tidak sepenuhnya kita alami secara langsung.
Ada perang di televisi.
Ada kelaparan di televisi.
Ada bencana di televisi.
Ada orang menangis di televisi.
Kita melihat semuanya sambil duduk nyaman di sofa.
Kemudian iklan muncul:
“Setelah ini, resep ayam crispy yang wajib Anda coba!”
Peradaban manusia rupanya telah menemukan cara paling elegan untuk memindahkan kita dari tragedi kemanusiaan ke ayam goreng dalam waktu kurang dari tiga puluh detik.
Dari Televisi ke Smartphone: Naik Kelas, Turun Konsentrasi
Kalau Anders hidup di zaman sekarang, mungkin ia akan melihat smartphone dan berkata:
“Ah, jadi ini televisi yang berhasil masuk ke saku manusia.”
Tetapi smartphone lebih hebat.
Televisi dulu menunggu kita menyalakannya.
Smartphone tidak.
Ia ikut tidur bersama kita.
Ia makan bersama kita.
Ia menemani kita ke toilet.
Ia bahkan kadang-kadang ikut ke tempat tidur dan menjadi benda terakhir yang kita lihat sebelum tidur.
Televisi membutuhkan listrik.
Smartphone membutuhkan perhatian.
Dan perhatian manusia ternyata jauh lebih mahal daripada listrik.
Inilah yang kemudian disebut sebagai ekonomi perhatian. Perusahaan digital tidak hanya ingin menjual barang kepada kita. Mereka juga ingin memperoleh waktu, tatapan, klik, emosi, dan kebiasaan kita.
Sebab selama kita menatap layar, sesuatu sedang bekerja.
Algoritma sedang belajar.
Iklan sedang menunggu.
Data sedang bergerak.
Dan jempol kita sedang melakukan olahraga ringan yang tidak pernah diminta dokter.
Kita menggulir.
Gulir lagi.
Gulir lagi.
Sampai suatu saat kita sadar sudah satu jam berlalu.
Lalu kita bertanya:
“Saya tadi sebenarnya mau melakukan apa?”
Jawabannya sering kali:
“Tidak tahu.”
Tetapi setidaknya kita sekarang tahu bahwa seorang influencer membeli blender baru.
Kebisingan: Musuh Baru yang Tidak Perlu Menodongkan Pistol
Anders sangat tertarik pada gagasan bahwa manusia tidak perlu dipaksa secara kasar untuk kehilangan kebebasannya.
Cukup dibuat sibuk.
Cukup dibuat terhibur.
Cukup dibuat terus menerima rangsangan.
Ini menarik karena manusia modern sebenarnya sangat bangga dengan kebebasannya.
Kita berkata:
“Saya bebas memilih apa yang ingin saya tonton.”
Benar.
Kita bebas memilih.
Tetapi kemudian muncul 500 video yang sudah dipilihkan untuk kita.
Kita memilih satu.
Lalu algoritma berkata:
“Kalau Anda suka ini, saya punya 499 lagi.”
Inilah bentuk baru kebebasan yang agak lucu.
Kita bebas memilih dari menu yang tidak kita buat.
Dan setelah memilih, kita diberi menu baru.
Lalu menu baru lagi.
Sampai malam.
Sampai tidur.
Besok pagi mulai lagi.
Jika kebebasan adalah kemampuan untuk memilih, maka manusia modern mungkin sedang mengalami bentuk kebebasan yang sangat melelahkan.
Kita bebas memilih video.
Bebas memilih komentar.
Bebas memilih kemarahan.
Bebas memilih orang yang kita benci.
Bebas memilih berita yang mengonfirmasi keyakinan kita.
Dan tentu saja bebas memilih video “10 tanda bahwa pasangan Anda diam-diam membenci Anda”.
Musik Latar dan Kematian Keheningan
Salah satu bagian paling menarik dari kritik Anders adalah soal kebisingan.
Ia menyadari bahwa manusia membutuhkan keheningan untuk berpikir.
Masalahnya, manusia modern tampaknya sangat takut terhadap keheningan.
Naik kendaraan: musik.
Makan: YouTube.
Bekerja: podcast.
Membersihkan rumah: video.
Berjalan: earphone.
Menunggu lima menit: buka Instagram.
Bahkan ketika tidak ada yang perlu didengar, kita menciptakan sesuatu untuk didengar.
Keheningan kini terasa mencurigakan.
Begitu suasana hening selama tiga detik, tangan langsung mencari ponsel.
“Jangan-jangan ada yang terjadi.”
Tidak ada.
Justru itu masalahnya.
Tidak ada apa-apa.
Dan dalam “tidak ada apa-apa” itulah pikiran sebenarnya mempunyai kesempatan untuk berbicara.
Tetapi pikiran kita sudah lama tidak terbiasa berbicara dengan dirinya sendiri.
Begitu ia mulai berkata:
“Bagaimana sebenarnya hidup saya?”
Kita buru-buru membuka TikTok.
Pikiran mencoba lagi:
“Apakah saya bahagia?”
Kita buka WhatsApp.
Pikiran:
“Ke mana arah kehidupan saya?”
Kita buka marketplace.
Pikiran akhirnya menyerah:
“Ya sudah. Terserah.”
Kita Takut Bosan, Padahal Kebosanan Bisa Menyelamatkan Kita
Ada sesuatu yang agak tragis dalam kehidupan modern: kita menganggap kebosanan sebagai musuh.
Sedikit bosan, langsung cari hiburan.
Padahal kebosanan kadang-kadang adalah ruang tunggu bagi pikiran.
Ketika tidak ada rangsangan, otak mulai menghubungkan hal-hal.
Mengingat masa lalu.
Memikirkan masa depan.
Menyadari kesalahan.
Mempertanyakan keputusan.
Mungkin bahkan menemukan ide.
Tetapi kita tidak memberi kesempatan.
Begitu muncul kebosanan:
“Swipe!”
Begitu muncul kegelisahan:
“Scroll!”
Begitu muncul kesunyian:
“Putar podcast!”
Akhirnya kita tidak lagi hidup dalam keheningan, melainkan hidup dalam background noise permanen.
Kita bahkan bisa merasa sendirian sambil dikelilingi oleh jutaan manusia digital.
Inilah paradoks yang mungkin membuat Anders tersenyum pahit.
Kita menjadi sangat terhubung, tetapi semakin sulit bertemu dengan diri sendiri.
Dari Tragedi Dunia Menjadi Konten
Ada persoalan yang lebih serius.
Ketika semua hal menjadi konten, tragedi pun kehilangan kedalaman.
Perang muncul di layar.
Kita menonton.
Beberapa detik kemudian muncul video memasak.
Kemudian komedi.
Kemudian politik.
Kemudian kucing.
Kemudian perang lagi.
Otak manusia dipaksa berpindah dari penderitaan jutaan manusia ke resep sambal matah dalam waktu yang sangat singkat.
Akibatnya, segala sesuatu memperoleh bobot yang hampir sama.
Perang?
Scroll.
Krisis iklim?
Scroll.
Korupsi?
Scroll.
Orang terkenal menikah?
Berhenti dulu. Ini penting.
Di sinilah kritik Anders terasa sangat tajam.
Masalahnya bukan kita tidak mendapatkan informasi.
Justru sebaliknya.
Kita mendapatkan terlalu banyak informasi tanpa cukup waktu untuk memahami apa yang berarti.
Kita mengetahui banyak hal, tetapi memahami sedikit.
Kita tahu siapa bertengkar dengan siapa.
Kita tahu siapa cerai.
Kita tahu siapa viral.
Kita tahu siapa makan apa.
Tetapi mungkin kita semakin jarang bertanya:
“Apakah semua ini penting?”
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi sangat revolusioner.
Algoritma Tidak Perlu Membenci Kita
Namun ada satu hal yang perlu diluruskan.
Tidak perlu membayangkan sebuah ruangan gelap tempat sekelompok orang jahat duduk sambil berkata:
“Bagaimana cara membuat manusia bodoh hari ini?”
Kenyataannya jauh lebih banal.
Sistem ekonomi perhatian tidak harus mempunyai niat jahat.
Ia hanya perlu mempunyai tujuan:
buat pengguna tetap tinggal.
Semakin lama kita tinggal, semakin banyak peluang untuk iklan, interaksi, data, dan keuntungan.
Maka konten yang membuat kita marah, penasaran, takut, tertawa, iri, atau penasaran lagi akan memiliki daya tarik besar.
Algoritma tidak bertanya:
“Apakah ini membuat manusia menjadi lebih bijaksana?”
Pertanyaannya lebih sederhana:
“Apakah dia akan menonton video berikutnya?”
Dan kita menjawab dengan sangat loyal:
“Ya.”
Revolusi Kecil: Mematikan Ponsel
Lalu apa yang harus dilakukan?
Haruskah kita membuang smartphone ke laut?
Tidak perlu.
Kasihan ikan.
Kita hanya perlu sesekali mematikannya.
Bukan untuk menjadi pertapa.
Bukan untuk membenci teknologi.
Bukan pula untuk kembali hidup seperti manusia zaman batu sambil mencari api dengan dua batu.
Teknologi bukan musuh.
Masalahnya adalah ketika alat yang kita ciptakan mulai menentukan bagaimana kita menggunakan perhatian kita.
Sesekali makan tanpa layar.
Berjalan tanpa earphone.
Duduk tanpa membuka aplikasi.
Membaca buku tanpa memeriksa notifikasi setiap tiga halaman.
Dan yang paling ekstrem:
duduk diam selama sepuluh menit tanpa melakukan apa-apa.
Ini mungkin terdengar sederhana.
Tetapi bagi manusia modern, sepuluh menit tanpa notifikasi bisa terasa seperti retret spiritual tingkat lanjut.
Pada menit ketiga kita mulai gelisah.
Menit kelima tangan meraba kantong.
Menit ketujuh muncul pertanyaan:
“Jangan-jangan ada pesan penting?”
Padahal tidak ada.
Yang ada hanya kita.
Dan ternyata itu cukup menegangkan.
Barangkali Pikiran Kita Tidak Hilang, Hanya Terlalu Berisik
Günther Anders tidak hidup untuk melihat TikTok, Instagram Reels, algoritma rekomendasi, atau manusia yang tidur sambil menggenggam smartphone.
Tetapi kekhawatirannya menemukan bentuk baru yang jauh lebih canggih.
Dulu manusia duduk di depan televisi.
Sekarang televisi duduk di dalam saku manusia.
Dulu siaran berhenti.
Sekarang tidak ada tombol “selesai”.
Dulu kita menunggu acara berikutnya.
Sekarang acara berikutnya menunggu kita.
Dan mungkin persoalan terbesar bukanlah bahwa teknologi membuat kita bodoh.
Teknologi justru membuat kita terlalu sibuk untuk mengetahui apakah kita sedang menjadi bodoh.
Itulah bagian yang paling lucu sekaligus paling menyeramkan.
Kita takut kehilangan koneksi internet, tetapi jarang takut kehilangan koneksi dengan pikiran sendiri.
Kita mengisi baterai ponsel setiap malam.
Tetapi lupa mengisi ulang kesadaran.
Kita membersihkan layar dari sidik jari.
Tetapi jarang membersihkan kepala dari kebisingan.
Maka mungkin tindakan paling radikal di zaman ini bukanlah memproduksi lebih banyak konten.
Bukan pula membuat komentar paling cerdas di media sosial.
Mungkin tindakan paling radikal adalah:
meletakkan ponsel, diam, lalu membiarkan pikiran menyelesaikan satu kalimat tanpa dipotong notifikasi.
Misalnya:
“Sebetulnya, hidup saya mau ke mana?”
Dan jangan buru-buru mencari jawabannya di Google.
Karena mungkin, untuk sekali ini, jawabannya memang harus datang dari kita sendiri.
Sebab di tengah dunia yang terus berkata “lihat ini!”, kemampuan untuk berkata “tidak, saya ingin berpikir dulu” mungkin merupakan salah satu bentuk kebebasan terakhir yang masih kita miliki.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
8/29/2026 02:39:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.