Ada satu pekerjaan yang kelihatannya gampang, tetapi kalau dicoba ternyata lebih melelahkan daripada memindahkan lemari sendirian: menulis sesuatu yang sederhana tetapi terasa istimewa.
Semua orang bisa menulis, “Hari ini saya sedih.”
Masalahnya, kalau ingin menjadi penulis, kalimat itu harus
dibuat sedemikian rupa sehingga pembaca berhenti sebentar, menatap layar, lalu
berkata, “Wah, ini persis yang saya rasakan.”
Padahal kata-katanya cuma hari, ini, saya,
dan sedih. Tidak ada satu pun yang merupakan kata milik pribadi penulis.
Bahkan “saya” pun sudah dipakai miliaran manusia sejak manusia menemukan cara
mengeluh tentang kehidupannya.
Maka muncul ungkapan yang sangat indah:
Il faut avec les mots de tout le monde écrire comme
personne.
Kurang lebih: “Dengan kata-kata milik semua orang,
menulislah seperti tidak seorang pun.”
Kalimat ini sering dikaitkan dengan Colette. Masalahnya,
seperti banyak kutipan indah di internet, ia juga mengalami nasib yang sangat
modern: identitasnya tidak jelas, tetapi pengikutnya banyak.
Kata-Kata Itu Milik Siapa?
Bayangkan bahasa sebagai sebuah pasar tradisional.
Di sana tersedia “cinta”, “rindu”, “marah”, “sedih”,
“bahagia”, “pulang”, “kehilangan”, “hujan”, “ibu”, “malam”, dan “kenangan”.
Semua orang boleh mengambil.
Tidak ada penjaga yang berkata:
“Maaf, kata rindu sudah dipakai Chairil Anwar.
Silakan cari kata lain.”
Kalau ada penyair yang mencoba menulis puisi tentang hujan,
hujan mungkin sudah tersinggung karena terlalu sering dijadikan metafora.
Hujan sudah menjadi simbol kesedihan.
Hujan sudah menjadi simbol kerinduan.
Hujan sudah menjadi simbol kenangan.
Bahkan sekarang hujan bisa menjadi alasan seseorang mengirim
pesan:
“Hujan nih. Jadi inget kamu.”
Padahal lima menit sebelumnya dia tidak ingat. Algoritma
cuaca yang mengingatkan.
Inilah keajaiban sekaligus kutukan bahasa: kita semua
menggunakan bahan yang sama.
Namun seorang penulis yang baik mampu membuat bahan yang
sama terasa berbeda.
Dua orang melihat hujan.
Yang pertama menulis:
“Hari ini hujan.”
Yang kedua menulis:
“Hujan turun ketika aku sedang berusaha melupakanmu.”
Tiba-tiba hujan mempunyai pekerjaan tambahan. Ia bukan lagi
air yang jatuh dari langit. Ia sekarang menjadi pegawai bagian nostalgia.
Keunikan Tidak Berarti Harus Aneh
Ada kesalahpahaman umum di kalangan penulis pemula: kalau
ingin terdengar pintar, gunakan kata-kata yang sulit.
Kalimat sederhana:
“Aku sedih.”
Diubah menjadi:
“Eksistensiku mengalami turbulensi emosional akibat
dislokasi afektif yang bersifat multidimensional.”
Pembaca membaca sekali.
Diam.
Membaca kedua kali.
Lalu membuka Google.
Setelah lima menit mencari arti “dislokasi afektif”, pembaca
akhirnya berkata:
“Jadi dia sedih?”
Iya.
“Kenapa nggak bilang dari tadi?”
Inilah penyakit yang kadang menyerang tulisan: penulis
ingin terlihat sedang berpikir, padahal pembaca sedang tersesat.
Bahasa yang indah bukan bahasa yang membuat pembaca merasa
bodoh. Bahasa yang indah justru membuat pembaca berkata:
“Lho, kok kalimat sesederhana ini bisa menjelaskan sesuatu
yang selama ini sulit saya ungkapkan?”
Itulah kehebatan.
Bukan membuat kata menjadi sulit, melainkan membuat yang
biasa menjadi terasa baru.
Colette dan Seni Membuat yang Biasa Menjadi Istimewa
Jika ungkapan tersebut memang cocok dengan gaya Colette,
alasannya cukup masuk akal.
Colette tidak perlu menciptakan bahasa baru untuk
menggambarkan tubuh, alam, cinta, usia, kesepian, atau hasrat manusia.
Semua sudah tersedia.
Tetapi cara ia melihatnya berbeda.
Dan di situlah sebenarnya letak keunikan seorang penulis.
Penulis bukan produsen kata.
Penulis adalah pengubah sudut pandang.
Semua orang memiliki kata “ibu”.
Tetapi seorang anak yang baru kehilangan ibunya mungkin bisa
membuat kata itu tiba-tiba terasa lebih berat daripada sebuah perpustakaan.
Semua orang mengenal kata “pulang”.
Tetapi bagi seseorang yang sudah bertahun-tahun meninggalkan
rumah, “pulang” bisa menjadi sebuah kata yang bahkan terlalu berat untuk
dilakukan.
Semua orang tahu kata “sendiri”.
Tetapi seorang penulis yang baik bisa membuat kita menyadari
bahwa ada perbedaan antara sendirian dan merasa sendirian di tengah banyak
orang.
Kata-katanya sama.
Pengalamannya berbeda.
Dan pengalaman itulah yang memberi kata sebuah jiwa.
Masalah Besar Penulis Zaman Sekarang
Dulu, seorang penulis mungkin takut kehabisan ide.
Sekarang masalahnya justru kebalikannya.
Ide terlalu banyak.
Setiap detik internet menghasilkan ribuan opini.
Ada orang menulis tentang cinta.
Orang lain menulis tentang self-love.
Yang lain menulis tentang healing.
Lalu muncul tulisan tentang pentingnya healing from
healing karena terlalu banyak melakukan healing juga melelahkan.
Besok mungkin ada buku:
“Cara Menyembuhkan Diri dari Kelelahan Menyembuhkan
Diri.”
Kemudian dibuat seminar.
Kemudian podcast.
Kemudian kelas daring.
Kemudian sertifikat.
Dan akhirnya seseorang menjual mug bertuliskan:
HEALING BUT MAKE IT PRODUCTIVE.
Di tengah banjir seperti ini, menulis sesuatu yang
benar-benar memiliki suara sendiri menjadi semakin sulit.
Bukan karena kata-kata habis.
Melainkan karena kalimat-kalimat yang terdengar seperti
kalimat orang lain sudah terlalu banyak.
Musuh Terbesar: Klise
Klise adalah kalimat yang dulunya indah, tetapi terlalu
sering dipakai sampai kehilangan tenaga.
Misalnya:
“Hidup adalah perjalanan.”
Betul.
Tetapi hidup juga bisa macet di jalan tol.
“Setiap luka akan membuatmu lebih kuat.”
Kadang iya.
Kadang luka cuma membuat kita ingin tidur dan tidak membalas
WhatsApp siapa pun.
“Waktu akan menyembuhkan.”
Waktu memang membantu, tetapi tagihan listrik tetap datang
setiap bulan.
Masalahnya bukan bahwa kalimat-kalimat itu selalu salah.
Masalahnya adalah kita sudah terlalu sering mendengarnya.
Tugas penulis bukan selalu menemukan gagasan yang belum
pernah ada.
Itu hampir mustahil.
Cinta sudah dibahas sejak manusia pertama kali menyadari
bahwa orang lain bisa membuat jantungnya bekerja tidak masuk akal.
Kematian sudah dibahas sejak manusia pertama kali kehilangan
seseorang.
Kesepian juga bukan penemuan terbaru.
Tugas penulis adalah mengatakan sesuatu yang lama dengan
cara yang membuat pembaca merasa baru saja menemukannya.
Dan Kemudian Muncullah Kutipan Palsu
Di sinilah kisah kutipan tersebut menjadi lucu.
Kalimat tentang menulis secara unik ternyata sendiri
memiliki sejarah yang agak… tidak unik.
Ia sering dinisbatkan kepada Colette, tetapi atribusinya
diragukan. Bentuk yang mirip bahkan telah muncul lebih awal dalam pembicaraan
tentang Voltaire: menulis dengan bahasa semua orang, tetapi seperti tidak
seorang pun.
Kemudian, beberapa dekade setelahnya, kalimat tersebut
muncul dengan nama Colette.
Internet kemudian melakukan apa yang paling disukainya:
menyalin dengan percaya diri.
Satu akun mengutip.
Akun lain mengutip akun pertama.
Akun ketiga menambahkan foto Colette dengan tatapan serius.
Akun keempat membuat desain tipografi.
Akun kelima menulis:
“Colette understood life.”
Sementara Colette mungkin sedang berada di alam baka sambil
berkata:
“Sebentar. Saya pernah bilang itu?”
Inilah ironi terbesar.
Kutipan tentang orisinalitas justru menjadi contoh
bagaimana sebuah kalimat dapat kehilangan jejak asal-usulnya karena terlalu
banyak diwariskan.
Namun mungkin justru di situlah keindahannya.
Kalimat itu akhirnya menjadi milik semua orang.
Persis seperti yang dikatakannya.
Kesederhanaan Itu Mahal
Ada satu hal lagi yang sering tidak disadari.
Tulisan sederhana bukan berarti tulisan yang dibuat dengan
sedikit usaha.
Justru sering sebaliknya.
Kalimat panjang bisa ditulis dalam lima menit.
Kalimat pendek kadang membutuhkan lima jam.
Menulis:
“Aku mencintaimu.”
mudah.
Menulis satu paragraf tentang cinta tanpa memakai kata
“cinta” sama sekali—itu baru olahraga.
Seperti memasak.
Memasak nasi goreng dengan dua puluh bumbu belum tentu lebih
hebat daripada membuat telur dadar yang membuat orang berkata:
“Ini telur kenapa enak sekali?”
Rahasianya bukan pada jumlah bahan.
Melainkan pada tangan yang mengolahnya.
Begitu pula tulisan.
Kita memiliki alfabet yang sama.
Kamus yang sama.
Tanda baca yang sama.
Tetapi tidak memiliki cara melihat dunia yang sama.
Itulah modal utama seorang penulis.
Di Zaman AI, Masalah Ini Semakin Menarik
Sekarang muncul kecerdasan buatan yang bisa menulis artikel
dalam hitungan detik.
Ia dapat membuat kalimat yang rapi.
Ia bisa menyusun paragraf.
Ia bahkan bisa membuat tulisan terdengar puitis.
Tetapi justru di sinilah manusia mendapatkan pertanyaan
baru:
Kalau mesin bisa merangkai kata-kata milik semua orang,
apa yang membuat tulisan manusia menjadi milik seseorang?
Jawabannya mungkin bukan kosakata.
Bukan tata bahasa.
Bukan panjang tulisan.
Melainkan pengalaman yang berada di belakang kata-kata.
AI bisa menulis tentang kehilangan.
Tetapi manusia pernah duduk di kamar seseorang yang sudah
meninggal dan melihat barang-barangnya masih berada di tempat semula.
AI bisa menulis tentang kerinduan.
Tetapi manusia pernah menunggu pesan yang tidak pernah
datang.
AI bisa menulis tentang kesepian.
Tetapi manusia pernah makan sendirian di restoran sambil
pura-pura sibuk memainkan ponsel agar tidak terlihat sedang menunggu seseorang.
Pengalaman itulah yang membuat kata-kata memiliki berat.
Pada Akhirnya, Kita Semua Meminjam Bahasa
Mungkin seorang penulis yang hebat bukanlah orang yang
memiliki kata-kata sendiri.
Tidak ada kata yang benar-benar milik kita.
Kita meminjamnya dari orang-orang yang hidup sebelum kita.
Kita menggunakannya.
Kita memberinya pengalaman kita.
Kemudian kita serahkan kepada orang-orang yang datang
setelah kita.
Begitulah bahasa hidup.
Seperti estafet yang tidak pernah selesai.
Kita menerima kata “cinta” dari generasi sebelumnya,
mengisinya dengan pengalaman kita, lalu menyerahkannya kepada generasi
berikutnya.
Kita menerima kata “sedih”, “bahagia”, “rindu”, “pulang”,
“mati”, “hidup”.
Semuanya sudah tua.
Tetapi setiap manusia mempunyai kesempatan untuk membuatnya
terasa baru.
Maka mungkin tugas penulis sebenarnya sangat sederhana:
Jangan berusaha menemukan kata yang belum pernah dipakai
siapa pun.
Carilah cara melihat yang belum pernah Anda ungkapkan.
Gunakan kata-kata yang sama.
Tetapi masukkan ke dalamnya mata Anda, pengalaman Anda,
kegagalan Anda, cinta Anda, kehilangan Anda, bahkan kebodohan Anda.
Karena pada akhirnya, keunikan seorang penulis tidak
terletak pada kamus yang ia miliki.
Keunikan terletak pada dunia yang hanya bisa ia lihat
dengan caranya sendiri.
Dan kalau suatu hari kutipan ini kembali beredar di internet
dengan nama Colette, Voltaire, Shakespeare, Einstein, atau mungkin nanti
dikaitkan dengan Elon Musk karena segala sesuatu di internet pada akhirnya bisa
dikaitkan dengan Elon Musk, kita tidak perlu terlalu marah.
Anggap saja itu bagian dari perjalanan sebuah kalimat.
Sebab kalimat tersebut sudah menjalani prinsip yang ia
ajarkan:
menggunakan kata-kata milik semua orang, lalu hidup
dengan cara yang tidak lagi dimiliki siapa pun.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.