Mati Perlahan di Balik Tirai: Ketika Pernikahan Berubah Menjadi Grup WhatsApp Keluarga

Konon, cinta itu buta. Tetapi setelah sepuluh tahun menikah, ternyata yang buta bukan lagi cinta, melainkan semangat untuk bertanya, "Sayang, hari ini bagaimana?" Sebab jawabannya sudah bisa ditebak bahkan sebelum pertanyaan selesai diucapkan.

Begitulah nasib sebagian pasangan modern. Mereka masih tinggal serumah, tetapi jiwanya sudah pindah kontrakan. Badannya masih duduk bersebelahan di sofa, tetapi pikirannya masing-masing sedang berkelana ke galaksi yang berbeda. Kalau dulu mereka saling memandang dengan mata berbinar, sekarang saling memandang seperti membaca syarat dan ketentuan aplikasi. Panjang, membosankan, dan ujung-ujungnya tetap diklik "Setuju."

Ada masa ketika pesan singkat berbunyi, "Lagi apa?" mampu membuat jantung berdetak lebih cepat. Kini pesannya berubah menjadi, "Gas habis." Romantis memang telah berevolusi. Shakespeare mungkin menulis soneta. Kita menulis daftar belanja.

Lucunya, hubungan seperti ini sering kali sangat sukses... di media sosial.

Di Instagram mereka kompak memakai baju warna senada. Di Facebook mereka mengunggah foto ulang tahun pernikahan dengan caption, "Selalu bersamamu adalah anugerah." Padahal lima menit sebelumnya mereka berdebat sengit mengenai siapa yang lupa mematikan dispenser.

Media sosial memang luar biasa. Ia mampu mengubah rumah tangga yang nyaris seperti rapat RT menjadi trailer film romantis berdurasi lima belas detik.

Yang paling menarik justru percakapannya.

"Bapak sudah makan?"

"Sudah."

"Ibu?"

"Sudah."

Selesai.

Percakapan ini berlangsung selama tiga menit karena dua menit lima puluh detiknya dipakai mencari emotikon jempol.

Kalau ada penghargaan Nobel untuk efisiensi komunikasi, mungkin pasangan seperti ini layak masuk nominasi. Mereka berhasil mengurangi penggunaan kata hingga titik paling minimal. Bahkan kadang seekor kucing peliharaan terdengar lebih komunikatif.

Ironisnya, mereka hafal segalanya tentang pasangan.

Mereka tahu jam berapa pasangannya akan bersin.

Tahu suara langkah kaki ketika sedang marah.

Tahu nada membuka pintu yang berarti, "Waduh, gajinya belum masuk."

Tahu batuk yang artinya hanya masuk angin, dan batuk yang artinya tagihan sekolah datang.

Tetapi mereka tidak lagi tahu isi hati masing-masing.

Manusia memang makhluk unik. Kita bisa mengetahui password Wi-Fi tetangga, tetapi lupa password menuju hati pasangan sendiri.

Ada sebuah ironi besar dalam kehidupan rumah tangga.

Orang yang paling sering kita lihat justru bisa menjadi orang yang paling jarang benar-benar kita lihat.

Kita melihat wajahnya setiap hari, tetapi tidak lagi membaca lelahnya.

Kita mendengar suaranya setiap pagi, tetapi tidak lagi mendengarkan isi kalimatnya.

Kita hafal kebiasaannya, tetapi lupa mimpinya.

Barangkali inilah yang dimaksud para filsuf ketika mengatakan bahwa kedekatan fisik tidak menjamin kedekatan batin. Buktinya jelas. Charger dan stopkontak selalu berdekatan, tetapi tetap saja suka longgar.

Lalu muncul pertanyaan klasik.

"Mengapa mereka tidak berpisah saja?"

Nah, di sinilah hidup berhenti menjadi sinetron.

Di sinetron, perceraian selesai dalam tiga episode.

Di dunia nyata, ada cicilan rumah, biaya sekolah, mertua, anak-anak, usaha keluarga, kucing yang lebih sayang kepada salah satu pihak, sampai rebutan siapa yang akan membawa rice cooker.

Pernikahan ternyata bukan sekadar dua hati yang menyatu.

Ia juga dua rekening, dua keluarga besar, dua lemari pakaian, tiga ribu foto digital, dan satu set panci anti lengket.

Maka tidak semua orang bertahan karena cinta.

Sebagian bertahan karena logistik.

Sebagian lagi bertahan karena kasihan kepada anak-anak.

Dan sebagian lagi... karena malas mengurus administrasi.

Di sinilah letak tragedinya.

Mereka tidak sedang saling membenci.

Mereka hanya berhenti saling menemukan.

Hubungan mereka bukan perang besar, melainkan hujan gerimis yang tidak pernah berhenti. Tidak cukup deras untuk membuat orang lari, tetapi cukup lama untuk membuat semuanya lembap.

Masalah terbesar dalam hubungan ternyata bukan pertengkaran.

Justru diam.

Pertengkaran masih menyisakan harapan karena dua orang masih peduli.

Diam adalah tanda ketika dua orang mulai menyerahkan mikrofon kepada kesunyian.

Rumah menjadi seperti perpustakaan.

Semua tenang.

Semua rapi.

Semua sopan.

Dan tidak ada yang benar-benar hidup.

Padahal rumah semestinya bukan museum tempat menyimpan kenangan. Rumah adalah bengkel tempat memperbaiki hubungan yang mulai berkarat. Lucunya, kita rajin servis sepeda motor setiap tiga bulan sekali, tetapi lupa menyervis percakapan yang sudah mogok bertahun-tahun.

Yang membuat tulisan dari @WorldWAdab terasa menyentuh bukan karena ia berbicara tentang perceraian atau kesetiaan. Ia berbicara tentang sesuatu yang lebih sunyi: dua orang yang perlahan menghilang ketika sebenarnya masih duduk bersebelahan.

Kematian emosional memang tidak memakai sirene.

Ia datang pelan-pelan.

Dimulai dari makan tanpa bicara.

Lalu tidur tanpa cerita.

Kemudian tertawa hanya ketika melihat video lucu, bukan karena saling membuat bahagia.

Akhirnya, dua orang hidup bersama seperti dua pegawai shift berbeda yang kebetulan berbagi alamat rumah.

Namun di balik semua ironi itu, selalu ada secercah harapan.

Hubungan bukan benda elektronik yang sekali rusak harus dibuang. Kadang ia hanya membutuhkan tombol "restart". Bukan restart ponsel, melainkan restart perhatian. Mengembalikan kebiasaan mendengar sebelum menjawab, memandang sebelum menilai, dan tertawa bersama tanpa harus mengunggahnya ke media sosial.

Sebab cinta yang sehat bukanlah cinta yang selalu berbunga-bunga.

Ia lebih mirip tanaman cabai.

Kalau tidak disiram, ya layu.

Kalau terlalu banyak disiram, juga mati.

Kalau dirawat dengan sabar, sesekali memang pedas, tetapi tetap memberi rasa pada kehidupan.

Mungkin itulah pelajaran paling sederhana.

Jangan sampai suatu hari nanti kita begitu sibuk membangun rumah yang indah, sampai lupa mengisinya dengan percakapan.

Sebab rumah tanpa dialog hanyalah bangunan.

Dan pernikahan tanpa kehadiran hati hanyalah kontrak kos-kosan dengan bonus album foto keluarga.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Mati Perlahan di Balik Tirai: Ketika Pernikahan Berubah Menjadi Grup WhatsApp Keluarga Mati Perlahan di Balik Tirai: Ketika Pernikahan Berubah Menjadi Grup WhatsApp Keluarga Reviewed by banyu bening Ajibarang on 8/02/2026 02:48:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list