Rabu, 05 Agustus 2026

Menjadi Diri Sendiri Itu Mahal, Apalagi Kalau Tetangga Ikut Rapat

Konon, salah satu pekerjaan paling melelahkan di dunia bukanlah kuli bangunan, operator excavator, atau petugas parkir di pasar yang harus hafal seribu wajah. Pekerjaan paling melelahkan justru adalah menjadi orang lain selama dua puluh empat jam sehari.

Gajinya tidak ada.
THR-nya nihil.
Bonusnya paling banter hanya komentar, "Nah, gitu dong. Sekarang kamu lebih enak dilihat."

Masalahnya, besok standar "enak dilihat" berubah lagi.

Hari ini disuruh pendiam supaya dewasa.
Besok disuruh cerewet supaya komunikatif.

Hari ini disuruh hemat.
Besok dibilang pelit.

Hari ini disuruh tampil sederhana.
Besok dikira gagal.

Kalau mengikuti semua pendapat orang, kita akan hidup seperti aplikasi yang setiap lima menit meminta update. Belum selesai mengunduh versi terbaru, sudah muncul notifikasi, "Update tersedia."


Media sosial memperparah keadaan.

Dulu kita hanya punya satu RT yang suka mengomentari hidup kita.

Sekarang kita punya seluruh planet.

Ada orang yang baru bangun tidur langsung membuka media sosial bukan untuk mencari berita, tetapi memastikan apakah cara ia minum kopi sudah mendapat persetujuan publik.

Kalau ternyata memegang cangkir dengan tangan kiri dianggap kurang estetik, besok ia pindah tangan kanan.

Kalau tangan kanan dianggap terlalu kapitalis, ia mencoba dua tangan.

Kalau dua tangan dianggap kurang natural, ia membeli mug baru.

Begitulah. Hidup perlahan berubah menjadi audisi yang tak pernah selesai.


Tweet berbahasa Spanyol itu sebenarnya sederhana.

Jangan malu berbeda.

Kalimatnya pendek.

Tetapi dampaknya bisa membuat banyak orang berkeringat.

Sebab menjadi berbeda itu memang gampang diucapkan, tetapi sulit dipraktikkan.

Semua orang ingin menjadi "unik", tetapi dengan syarat keunikannya mendapat minimal lima ribu tanda suka.

Kalau tidak viral, rasanya kurang autentik.

Ironis sekali.

Bahkan keberanian pun sekarang menunggu validasi.


Kita hidup di zaman ketika orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan dirinya sendiri.

Ada yang mengganti hobi karena tidak banyak peminat.

Mengganti cara berpakaian karena algoritma.

Mengganti pendapat karena kolom komentar.

Mengganti prinsip karena takut tidak diajak nongkrong.

Kalau begini terus, lama-lama KTP masih atas nama sendiri, tetapi sistem operasinya milik orang lain.


Ada satu jenis olahraga yang sangat populer tetapi tidak pernah dipertandingkan di Olimpiade.

Namanya: People Pleasing Marathon.

Pesertanya selalu tersenyum.

Selalu berkata, "Terserah."

Selalu menjawab, "Aku ikut saja."

Padahal di dalam hati sedang berteriak,

"Saya tidak mau ke restoran itu! Sambalnya membuat saya bertobat setiap minggu!"

Namun demi menjaga suasana, ia tetap mengangguk.

Lama-kelamaan bukan hanya lidahnya yang kepedasan.

Harga dirinya ikut melepuh.


Psikolog menyebutnya people pleasing.

Nenek kita menyebutnya,

"Kamu itu kebanyakan nggak enakan."

Bedanya hanya istilah.

Penderitanya tetap sama-sama kelelahan.

Karena setiap hari harus memainkan karakter baru sesuai penonton.

Bayangkan seorang aktor yang bahkan lupa wajah aslinya setelah terlalu lama memakai topeng.

Begitulah nasib orang yang terlalu sibuk memenuhi ekspektasi semua orang.


Lucunya, masyarakat memiliki kemampuan luar biasa dalam membuat standar yang saling bertabrakan.

Kalau bekerja terlalu keras, dibilang ambisius.

Kalau santai sedikit, dibilang tidak punya masa depan.

Kalau menikah cepat, katanya terburu-buru.

Kalau menikah lambat, katanya memilih-milih.

Kalau banyak bicara, cerewet.

Kalau diam, sombong.

Kesimpulannya sederhana.

Kalau ingin memuaskan semua orang, mungkin satu-satunya pilihan adalah menjadi uang.

Itu pun masih ada yang mengeluh nominalnya kurang.


Tulisan itu juga mengatakan bahwa tidak ada persahabatan, keluarga, ataupun cinta yang layak dibayar dengan kehilangan diri sendiri.

Kalimat ini memang terdengar keras.

Namun sesungguhnya ia hanya sedang mengingatkan bahwa hubungan terbaik bukanlah hubungan yang membuat kita menjadi aktor terbaik.

Melainkan hubungan yang membuat kita boleh datang tanpa kostum.

Bayangkan kalau setiap bertemu sahabat kita harus membawa naskah dialog.

Capek.

Persahabatan berubah menjadi sinetron dengan episode tak berujung.


Filsuf seperti Sartre dan Heidegger mungkin akan menyebutnya autentisitas.

Tetapi kalau diterjemahkan ke bahasa warung kopi, kira-kira bunyinya begini:

"Jangan hidup pakai remote control yang dipegang tetangga."

Karena aneh sekali kalau setiap keputusan hidup selalu menunggu tombol dari orang lain.

Mau makan?

Tunggu komentar.

Mau menikah?

Tunggu polling.

Mau pindah kerja?

Lihat dulu trending topic.

Kalau begitu, hidup kita bukan lagi perjalanan.

Melainkan hasil survei.


Namun, menjadi diri sendiri bukan berarti keras kepala seperti paku beton.

Ada orang yang salah paham.

Begitu membaca tentang autentisitas, ia merasa semua kebiasaannya harus dipertahankan.

"Tapi saya memang begini."

Kalimat ini kadang digunakan untuk membela apa saja.

Datang terlambat.

"Saya autentik."

Tidak mau minta maaf.

"Saya sedang menjadi diri sendiri."

Padahal menjadi diri sendiri bukan berarti berhenti bertumbuh.

Pohon tetap menjadi pohon, tetapi ia terus menambah ranting.

Kalau pohon berkata, "Saya konsisten tidak mau tumbuh," itu bukan autentik.

Itu kayu bakar.


Yang menarik dari tweet itu adalah bagian akhirnya.

Kalau sekarang harus berjalan sendirian, teruslah berjalan.

Karena nanti akan bertemu orang-orang yang sefrekuensi.

Ini menghibur.

Sekaligus realistis.

Sebab mencari teman yang benar-benar cocok memang seperti mencari sinyal Wi-Fi gratis.

Kadang harus berputar-putar dulu.

Kadang berdiri di sudut yang aneh.

Kadang mengangkat ponsel setinggi mungkin.

Tetapi ketika akhirnya tersambung, rasanya semua perjuangan terbayar.


Mungkin memang demikian hidup.

Kita tidak diciptakan untuk disukai semua orang.

Bahkan mi instan saja punya varian rasa yang membuat orang berdebat puluhan tahun.

Kalau mi saja tidak bisa memuaskan semua lidah, mengapa kita berharap bisa memuaskan seluruh umat manusia?

Itu target yang terlalu ambisius, bahkan untuk malaikat bagian administrasi.

Pada akhirnya, keberanian menjadi diri sendiri bukan berarti senang berbeda demi terlihat unik.

Bukan pula sengaja melawan arus agar tampak revolusioner.

Keberanian sejati adalah pulang ke rumah setiap malam tanpa harus bertanya kepada cermin,

"Hari ini sebenarnya aku sedang menjadi siapa?"

Sebab hidup yang paling damai bukanlah hidup yang penuh tepuk tangan.

Melainkan hidup ketika hati dapat berkata pelan,

"Syukurlah... hari ini aku masih sempat menjadi diriku sendiri."

Dan kalau ternyata tidak semua orang menyukai itu?

Tidak apa-apa.

Lagi pula, bahkan tombol "Skip Ad" pun masih ada yang membenci.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.