Konon, salah satu pekerjaan paling melelahkan di dunia bukanlah kuli bangunan, operator excavator, atau petugas parkir di pasar yang harus hafal seribu wajah. Pekerjaan paling melelahkan justru adalah menjadi orang lain selama dua puluh empat jam sehari.
Masalahnya, besok standar "enak dilihat" berubah
lagi.
Kalau mengikuti semua pendapat orang, kita akan hidup seperti aplikasi yang setiap lima menit meminta update. Belum selesai mengunduh versi terbaru, sudah muncul notifikasi, "Update tersedia."
Media sosial memperparah keadaan.
Dulu kita hanya punya satu RT yang suka mengomentari hidup
kita.
Sekarang kita punya seluruh planet.
Ada orang yang baru bangun tidur langsung membuka media
sosial bukan untuk mencari berita, tetapi memastikan apakah cara ia minum kopi
sudah mendapat persetujuan publik.
Kalau ternyata memegang cangkir dengan tangan kiri dianggap
kurang estetik, besok ia pindah tangan kanan.
Kalau tangan kanan dianggap terlalu kapitalis, ia mencoba
dua tangan.
Kalau dua tangan dianggap kurang natural, ia membeli mug
baru.
Begitulah. Hidup perlahan berubah menjadi audisi yang tak pernah selesai.
Tweet berbahasa Spanyol itu sebenarnya sederhana.
Jangan malu berbeda.
Kalimatnya pendek.
Tetapi dampaknya bisa membuat banyak orang berkeringat.
Sebab menjadi berbeda itu memang gampang diucapkan, tetapi
sulit dipraktikkan.
Semua orang ingin menjadi "unik", tetapi dengan
syarat keunikannya mendapat minimal lima ribu tanda suka.
Kalau tidak viral, rasanya kurang autentik.
Ironis sekali.
Bahkan keberanian pun sekarang menunggu validasi.
Kita hidup di zaman ketika orang lebih takut kehilangan
pengikut daripada kehilangan dirinya sendiri.
Ada yang mengganti hobi karena tidak banyak peminat.
Mengganti cara berpakaian karena algoritma.
Mengganti pendapat karena kolom komentar.
Mengganti prinsip karena takut tidak diajak nongkrong.
Kalau begini terus, lama-lama KTP masih atas nama sendiri, tetapi sistem operasinya milik orang lain.
Ada satu jenis olahraga yang sangat populer tetapi tidak
pernah dipertandingkan di Olimpiade.
Namanya: People Pleasing Marathon.
Pesertanya selalu tersenyum.
Selalu berkata, "Terserah."
Selalu menjawab, "Aku ikut saja."
Padahal di dalam hati sedang berteriak,
"Saya tidak mau ke restoran itu! Sambalnya membuat
saya bertobat setiap minggu!"
Namun demi menjaga suasana, ia tetap mengangguk.
Lama-kelamaan bukan hanya lidahnya yang kepedasan.
Harga dirinya ikut melepuh.
Psikolog menyebutnya people pleasing.
Nenek kita menyebutnya,
"Kamu itu kebanyakan nggak enakan."
Bedanya hanya istilah.
Penderitanya tetap sama-sama kelelahan.
Karena setiap hari harus memainkan karakter baru sesuai
penonton.
Bayangkan seorang aktor yang bahkan lupa wajah aslinya
setelah terlalu lama memakai topeng.
Begitulah nasib orang yang terlalu sibuk memenuhi ekspektasi semua orang.
Lucunya, masyarakat memiliki kemampuan luar biasa dalam
membuat standar yang saling bertabrakan.
Kalau bekerja terlalu keras, dibilang ambisius.
Kalau santai sedikit, dibilang tidak punya masa depan.
Kalau menikah cepat, katanya terburu-buru.
Kalau menikah lambat, katanya memilih-milih.
Kalau banyak bicara, cerewet.
Kalau diam, sombong.
Kesimpulannya sederhana.
Kalau ingin memuaskan semua orang, mungkin satu-satunya
pilihan adalah menjadi uang.
Itu pun masih ada yang mengeluh nominalnya kurang.
Tulisan itu juga mengatakan bahwa tidak ada persahabatan,
keluarga, ataupun cinta yang layak dibayar dengan kehilangan diri sendiri.
Kalimat ini memang terdengar keras.
Namun sesungguhnya ia hanya sedang mengingatkan bahwa
hubungan terbaik bukanlah hubungan yang membuat kita menjadi aktor terbaik.
Melainkan hubungan yang membuat kita boleh datang tanpa
kostum.
Bayangkan kalau setiap bertemu sahabat kita harus membawa
naskah dialog.
Capek.
Persahabatan berubah menjadi sinetron dengan episode tak berujung.
Filsuf seperti Sartre dan Heidegger mungkin akan menyebutnya
autentisitas.
Tetapi kalau diterjemahkan ke bahasa warung kopi, kira-kira
bunyinya begini:
"Jangan hidup pakai remote control yang dipegang
tetangga."
Karena aneh sekali kalau setiap keputusan hidup selalu
menunggu tombol dari orang lain.
Mau makan?
Tunggu komentar.
Mau menikah?
Tunggu polling.
Mau pindah kerja?
Lihat dulu trending topic.
Kalau begitu, hidup kita bukan lagi perjalanan.
Melainkan hasil survei.
Namun, menjadi diri sendiri bukan berarti keras kepala
seperti paku beton.
Ada orang yang salah paham.
Begitu membaca tentang autentisitas, ia merasa semua
kebiasaannya harus dipertahankan.
"Tapi saya memang begini."
Kalimat ini kadang digunakan untuk membela apa saja.
Datang terlambat.
"Saya autentik."
Tidak mau minta maaf.
"Saya sedang menjadi diri sendiri."
Padahal menjadi diri sendiri bukan berarti berhenti
bertumbuh.
Pohon tetap menjadi pohon, tetapi ia terus menambah ranting.
Kalau pohon berkata, "Saya konsisten tidak mau
tumbuh," itu bukan autentik.
Itu kayu bakar.
Yang menarik dari tweet itu adalah bagian akhirnya.
Kalau sekarang harus berjalan sendirian, teruslah berjalan.
Karena nanti akan bertemu orang-orang yang sefrekuensi.
Ini menghibur.
Sekaligus realistis.
Sebab mencari teman yang benar-benar cocok memang seperti
mencari sinyal Wi-Fi gratis.
Kadang harus berputar-putar dulu.
Kadang berdiri di sudut yang aneh.
Kadang mengangkat ponsel setinggi mungkin.
Tetapi ketika akhirnya tersambung, rasanya semua perjuangan terbayar.
Mungkin memang demikian hidup.
Kita tidak diciptakan untuk disukai semua orang.
Bahkan mi instan saja punya varian rasa yang membuat orang
berdebat puluhan tahun.
Kalau mi saja tidak bisa memuaskan semua lidah, mengapa kita
berharap bisa memuaskan seluruh umat manusia?
Itu target yang terlalu ambisius, bahkan untuk malaikat
bagian administrasi.
Pada akhirnya, keberanian menjadi diri sendiri bukan berarti
senang berbeda demi terlihat unik.
Bukan pula sengaja melawan arus agar tampak revolusioner.
Keberanian sejati adalah pulang ke rumah setiap malam tanpa
harus bertanya kepada cermin,
"Hari ini sebenarnya aku sedang menjadi siapa?"
Sebab hidup yang paling damai bukanlah hidup yang penuh
tepuk tangan.
Melainkan hidup ketika hati dapat berkata pelan,
"Syukurlah... hari ini aku masih sempat menjadi
diriku sendiri."
Dan kalau ternyata tidak semua orang menyukai itu?
Tidak apa-apa.
Lagi pula, bahkan tombol "Skip Ad" pun masih ada
yang membenci.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.