Ketika Semua Orang Bohong, Kita Jadi Bingung: Panduan Menjadi Waras di Negeri Post-Truth

Ada satu hal yang sangat menarik dari manusia modern: kita hidup di zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh, tetapi justru semakin sulit mengetahui mana yang benar.

Dahulu, orang harus pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi. Sekarang cukup membuka ponsel sambil rebahan. Dahulu orang harus membaca koran. Sekarang sebuah video berdurasi 37 detik sudah cukup untuk membuat seseorang merasa telah memahami geopolitik, ekonomi, filsafat, kedokteran, psikologi, bahkan isi kepala tetangganya.

Masalahnya bukan informasi yang kurang.

Masalahnya informasi terlalu banyak.

Dan sebagian di antaranya bahkan datang dengan percaya diri.

Di tengah kekacauan itu, pemikiran Hannah Arendt terasa semakin relevan. Ada gagasan yang sering dikaitkan dengannya: kebohongan yang terus-menerus tidak selalu bertujuan agar manusia mempercayai satu kebohongan tertentu. Tujuan yang lebih berbahaya adalah membuat manusia sampai pada kesimpulan:

“Ah, semuanya juga bohong.”

Nah, kalau sudah sampai sini, permainan selesai.

Karena orang yang percaya pada kebohongan masih bisa diajak berdiskusi. Tetapi orang yang sudah tidak percaya pada apa pun akan menjawab setiap fakta dengan kalimat sakti:

“Siapa tahu itu juga propaganda?”

Dan selesai.

Dari “Saya Tidak Percaya” Menjadi “Saya Percaya Apa Saja”

Bayangkan seseorang mengatakan:

“Air mendidih pada suhu tertentu dalam kondisi tertentu.”

Lalu datang orang lain:

“Bohong.”

“Kenapa?”

“Karena saya melihat video yang mengatakan air sebenarnya tidak mendidih.”

“Videonya dari mana?”

“TikTok.”

“Siapa yang membuat?”

“Tidak tahu.”

“Dasarnya?”

“Ya, kelihatan meyakinkan.”

Inilah salah satu tragedi zaman informasi: kemampuan untuk membuat video lebih cepat berkembang daripada kemampuan untuk memeriksa kebenarannya.

Dulu orang membutuhkan gelar profesor untuk berbicara dengan nada meyakinkan mengenai suatu persoalan rumit.

Sekarang cukup memiliki kamera depan, pencahayaan cukup, dan keberanian yang tidak proporsional dengan pengetahuan.

Ironisnya, semakin sering kebohongan diproduksi, masyarakat bukan selalu menjadi lebih percaya pada kebohongan. Mereka justru bisa menjadi semakin tidak percaya pada apa pun.

Politisi berkata benar? Bohong.

Media berkata benar? Bohong.

Ilmuwan berkata benar? Ada kepentingan.

Ahli berkata benar? Dibayar.

Tetangga berkata benar? Apalagi.

Akhirnya satu-satunya sumber informasi yang dipercaya adalah:

“Perasaan saya.”

Ini berbahaya.

Sebab perasaan manusia tidak pernah mendaftar sebagai lembaga pemeriksa fakta.

Ketika Kebenaran Menjadi “Salah Satu Perspektif”

Dalam dunia yang sehat, kita masih bisa berdebat mengenai tafsir.

Tetapi setidaknya kita sepakat bahwa ada kenyataan yang harus menjadi pijakan bersama.

Misalnya, jika hujan turun, kita bisa berdebat apakah hujan itu romantis, menyebalkan, atau menyebabkan jemuran gagal diselamatkan.

Tetapi kita tidak perlu mengadakan seminar nasional untuk menentukan apakah air benar-benar jatuh dari langit.

Masalah muncul ketika fakta sederhana pun diperlakukan sebagai opini.

“Apakah ini terjadi?”

“Menurut saya, tergantung perspektif.”

“Lho, ada rekamannya.”

“Rekaman bisa diedit.”

“Banyak saksi.”

“Saksi bisa dibayar.”

“Datanya ada.”

“Data bisa dimanipulasi.”

“Lalu apa yang Anda percaya?”

“Tidak tahu.”

Nah.

Di sinilah kebohongan sistematis memperoleh kemenangan yang paling sempurna.

Bukan ketika kita mempercayai kebohongan.

Tetapi ketika kita kehilangan kemampuan untuk mengatakan:

“Ini benar, dan itu salah.”

Kebohongan yang Terlalu Banyak Akhirnya Membuat Kita Malas Berpikir

Kebohongan yang terus-menerus memiliki efek samping yang sangat manusiawi: kelelahan.

Bayangkan setiap hari kita harus memeriksa sepuluh klaim.

Lalu dua puluh.

Lalu lima puluh.

Lalu seratus.

Akhirnya otak berkata:

“Sudahlah. Aku mau lihat video kucing saja.”

Dan sesungguhnya ini bukan keputusan yang sepenuhnya tidak masuk akal.

Otak manusia memang memiliki kapasitas terbatas.

Masalahnya, ketika masyarakat sudah terlalu lelah menghadapi kebohongan, mereka bisa masuk ke dalam keadaan sinis:

“Percuma.”

“Semua politisi sama.”

“Semua media bohong.”

“Semua ahli punya kepentingan.”

“Semua orang punya agenda.”

Kalimat-kalimat tersebut terdengar kritis.

Tetapi jika digunakan tanpa pemeriksaan, ia justru bisa menjadi bentuk kemalasan intelektual.

Sebab mengatakan “semuanya bohong” sama tidak bergunanya dengan mengatakan “semuanya benar”.

Keduanya sama-sama tidak perlu berpikir.

Padahal berpikir adalah pekerjaan yang cukup melelahkan.

Jauh lebih mudah menekan tombol “share”.

Akal Sehat: Barang Murah yang Sering Hilang

Arendt juga mengingatkan pentingnya apa yang dalam tradisi pemikiran politik disebut common sense—akal sehat bersama.

Akal sehat bukan berarti semua orang harus sepakat.

Justru sebaliknya.

Kita boleh berbeda pendapat.

Tetapi perbedaan pendapat membutuhkan lantai bersama tempat kita berdiri.

Kalau saya mengatakan:

“Menurut saya, kebijakan ini buruk.”

Anda bisa menjawab:

“Menurut saya, kebijakan itu baik.”

Bagus.

Kita bisa berdiskusi.

Tetapi kalau saya berkata:

“Menurut saya, kebijakan itu buruk.”

Dan Anda menjawab:

“Tidak ada kebijakan. Tidak ada pemerintah. Semua itu simulasi.”

Nah, diskusi menjadi agak sulit.

Mungkin kita membutuhkan psikolog, filsuf, teknisi komputer, dan satu orang yang membawa kopi.

Akal sehat diperlukan karena kehidupan bersama tidak mungkin berlangsung kalau setiap orang memiliki realitas pribadinya sendiri.

Bayangkan lalu lintas tanpa kesepakatan bahwa lampu merah berarti berhenti.

Satu orang berkata:

“Menurut perspektif saya, merah berarti jalan.”

Pengendara lain:

“Menurut perspektif saya, trotoar adalah jalur ekspres.”

Lalu semuanya menabrak.

Demokrasi juga bisa seperti itu.

Media Sosial dan Pabrik Kebingungan

Media sosial sebenarnya bukan penjahat tunggal.

Ia hanya menyediakan mesin yang sangat efisien untuk menyebarkan apa pun yang menarik perhatian.

Masalahnya, kebenaran sering membutuhkan waktu.

Kebohongan tidak.

Untuk menjelaskan persoalan ekonomi secara benar, seseorang mungkin membutuhkan dua puluh halaman.

Untuk membuat hoaks, cukup:

“TERNYATA SELAMA INI KITA DIBOHONGI!!!”

Tambahkan tiga tanda seru.

Tambahkan gambar orang terkenal.

Tambahkan panah merah.

Selesai.

Algoritma pun berkata:

“Ini menarik.”

Dan internet mengantarnya ke jutaan orang.

Kebenaran kemudian datang terlambat sambil membawa dokumen setebal skripsi.

Orang-orang sudah pergi.

Mereka sedang menonton video berikutnya.

Puncak Kesuksesan Kebohongan

Kebohongan paling sukses bukanlah ketika seseorang berkata:

“Saya percaya kebohongan itu.”

Kebohongan paling sukses adalah ketika seseorang berkata:

“Saya tidak peduli lagi mana yang benar.”

Kalimat itu jauh lebih berbahaya.

Sebab selama manusia masih peduli pada kebenaran, masih ada kemungkinan untuk mengoreksi kesalahan.

Tetapi jika kebenaran dianggap tidak penting, maka manipulasi menjadi sangat mudah.

Siapa pun bisa mengatakan apa saja.

Dan masyarakat hanya mengangkat bahu.

“Ya, mungkin.”

“Entahlah.”

“Semua punya versi masing-masing.”

Akhirnya fakta tidak lagi kalah oleh kebohongan.

Fakta kalah oleh kelelahan.

Kita Tidak Harus Menjadi Detektif Setiap Saat

Tentu saja kita tidak mungkin memeriksa seluruh informasi yang masuk ke kepala kita.

Kita bukan lembaga investigasi.

Kita juga punya pekerjaan, keluarga, tagihan, cucian, dan grup WhatsApp keluarga yang tidak pernah tidur.

Namun kita masih bisa melakukan beberapa hal sederhana.

Pertama, jangan terlalu cepat percaya.

Kedua, jangan terlalu cepat menolak.

Ketiga, periksa sumber.

Keempat, bedakan fakta dengan opini.

Kelima, kalau tidak tahu, berani mengatakan:

“Saya tidak tahu.”

Kalimat terakhir ini sebenarnya salah satu bentuk kecerdasan yang paling langka.

Di internet, semua orang tampaknya tahu.

Yang tidak tahu justru sering paling keras berbicara.

Penutup: Menjadi Waras Adalah Bentuk Perlawanan

Peringatan Hannah Arendt pada akhirnya bukan sekadar tentang politik.

Ia berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar: kemampuan manusia untuk mempertahankan hubungan dengan kenyataan.

Sebab tanpa kenyataan bersama, kita tidak hanya kehilangan kemampuan untuk menentukan apa yang benar.

Kita juga kehilangan kemampuan untuk menentukan apa yang baik.

Dan setelah itu, kita kehilangan kemampuan untuk bertindak.

Maka melawan kebohongan sistematis tidak berarti kita harus menjadi manusia yang curiga kepada segala sesuatu.

Jangan sampai setelah membaca Arendt kita berubah menjadi orang yang mencurigai tukang sayur karena harga kangkung naik.

Bukan begitu.

Yang diperlukan adalah kewaspadaan tanpa paranoia, skeptisisme tanpa sinisme, dan keterbukaan tanpa kebodohan.

Kita perlu tetap mampu berkata:

“Buktikan.”

Tetapi juga:

“Kalau bukti itu kuat, saya bersedia mengubah pendapat.”

Sebab mungkin inilah bentuk kewarasan yang paling sederhana di zaman post-truth:

Tidak percaya begitu saja. Tidak menolak begitu saja. Berpikir.

Dan mungkin, di zaman ketika semua orang berlomba menjadi komentator, influencer, pakar, analis, dan pemilik kebenaran pribadi, kemampuan untuk berhenti sejenak lalu berkata,

“Sebentar. Apa benar begitu?”

adalah bentuk kecil dari keberanian.

Bahkan mungkin itu sudah cukup revolusioner.

Sebab ketika kebohongan berusaha membuat kita tidak percaya pada apa pun, mempertahankan kemampuan untuk membedakan benar dan salah adalah cara sederhana untuk mengatakan:

“Maaf, otak saya masih saya pakai.”

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Ketika Semua Orang Bohong, Kita Jadi Bingung: Panduan Menjadi Waras di Negeri Post-Truth Ketika Semua Orang Bohong, Kita Jadi Bingung: Panduan Menjadi Waras di Negeri Post-Truth Reviewed by banyu bening Ajibarang on 8/25/2026 03:18:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list