Jumat, 10 Juli 2026

Ketika "Pergi Sana!" Berarti "Kok Belum Telepon?"

Tentang Cinta, Amarah, dan Kebiasaan Manusia Bertengkar dengan Orang yang Paling Dirindukan

Konon, cinta adalah satu-satunya penyakit yang membuat orang sehat sengaja begadang. Lucunya, bukan karena sedang bahagia, melainkan karena baru saja bertengkar.

Malam itu status WhatsApp berbunyi, "Sudah, kita selesai!"

Paginya berubah menjadi,

"Kamu sudah makan?"

Kalau ini bukan keajaiban, entah apa lagi namanya.

Fyodor Dostoevsky, sang ahli bedah jiwa manusia yang lebih suka mengoperasi hati daripada usus, tampaknya sudah mengetahui penyakit ini jauh sebelum ditemukan fitur last seen. Ia menggambarkan seseorang yang malam hari mengutuk semua laki-laki ke neraka, tetapi pagi harinya justru merindukan suara "setan" yang semalam dikirim ke alamat tersebut.

Beginilah manusia.

Mulutnya petugas pengusiran.

Hatinya bagian penerimaan tamu.


Amarah memang makhluk yang sangat cerewet. Ia selalu berbicara menggunakan huruf kapital.

"Aku muak!"

"Cukup!"

"Jangan hubungi aku lagi!"

Masalahnya, amarah bekerja seperti pegawai honorer yang terlalu bersemangat. Ia sering mengambil keputusan sebelum sempat rapat dengan hati. Akibatnya, begitu emosinya pulang kerja, hati datang sambil membawa daftar koreksi.

"Sebentar... tadi kita ngomong apa, ya?"

Manusia rupanya memiliki kemampuan luar biasa: mengatakan sesuatu yang tidak dimaksudkan, lalu menghabiskan beberapa hari untuk menjelaskan bahwa sebenarnya yang dimaksud bukan itu.

Kalau ada olahraga resmi bernama "menarik kembali ucapan," mungkin umat manusia sudah langganan medali emas.


Cinta sendiri ternyata memiliki selera humor yang cukup aneh.

Ia bisa tinggal serumah dengan amarah.

Bayangkan saja dua penyewa kos yang terus bertengkar tetapi tidak pernah benar-benar pindah.

Hari ini marah.

Besok rindu.

Lusa marah lagi.

Malamnya menunggu notifikasi.

Hubungan asmara kadang lebih mirip cuaca di pegunungan daripada kontrak bisnis. Lima menit yang lalu badai. Lima menit berikutnya matahari muncul seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Itulah sebabnya psikolog menyebutnya ambivalensi emosi.

Orang awam menyebutnya,

"Ya... begitulah."


Yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa lawan dari cinta adalah benci.

Padahal dalam banyak hubungan, lawan cinta justru bukan kebencian.

Melainkan rasa tidak peduli.

Selama seseorang masih sempat marah karena pesan dibalas satu jam kemudian, peluang hubungan itu justru masih hidup.

Yang berbahaya adalah ketika balasan datang tiga hari kemudian dan jawabannya cuma,

"Oh."

Satu huruf "O" kadang lebih menakutkan daripada seribu kalimat kemarahan.

Karena amarah masih mengandung energi.

Ketidakpedulian hanyalah ruang kosong yang sudah ditinggalkan penghuninya.


Dostoevsky memang menulis tentang perempuan, tetapi jangan buru-buru mengira hanya perempuan yang mengalami kontradiksi semacam itu.

Laki-laki pun tidak kalah kreatif.

Ada yang berkata,

"Aku baik-baik saja."

Padahal wajahnya sudah seperti server yang kehilangan listrik.

Ada pula yang menghapus foto profil agar terlihat tegar, tetapi diam-diam membuka profil orang yang sama setiap lima belas menit.

Kalau cinta adalah universitas, maka jurusan paling ramai adalah "Malu Mengakui Rindu."

Lulusannya jutaan.

Wisudanya tidak pernah selesai.


Media sosial mempercepat semuanya.

Dulu orang bertengkar harus bertatap muka.

Sekarang cukup dengan satu kalimat.

"Oke."

Yang lebih mengerikan lagi adalah variasinya.

"Oke."

"Oke..."

"Ok."

"K."

Empat bentuk yang secara tata bahasa hampir sama, tetapi secara psikologis mampu memicu perang dunia kecil dalam kepala pasangan.

Lalu dimulailah pekerjaan paling melelahkan abad digital: menafsirkan tanda baca.

Mengapa titiknya satu?

Mengapa tidak memakai emoji?

Mengapa tidak ada kata "ya"?

Mengapa hanya huruf "K"?

Kadang hubungan modern tidak kandas karena perbedaan prinsip hidup, melainkan karena salah membaca titik.


Yang membuat kutipan Dostoevsky bertahan hingga sekarang bukan karena ia sedang membicarakan perempuan.

Ia sedang membicarakan manusia.

Makhluk yang bisa mengunci pintu sambil berharap ada yang mengetuk.

Menghapus nomor sambil hafal di luar kepala.

Memblokir akun seseorang, tetapi meminjam ponsel teman untuk melihat kabarnya.

Kita memang spesies yang unik.

Otak berkata, "Sudah selesai."

Hati menjawab, "Tunggu sebentar."

Ego berkata, "Jangan hubungi dulu."

Jempol sudah lebih dulu mengetik,

"Lagi apa?"


Mungkin beginilah cara cinta bekerja.

Ia bukan garis lurus, melainkan benang kusut yang sesekali membentuk pita indah. Ia bukan jalan tol yang mulus, melainkan gang kecil yang penuh belokan, tanjakan, dan sesekali ayam lewat tanpa melihat kanan-kiri.

Karena itu, jangan terlalu heran bila malam hari seseorang berkata, "Pergi sana!"

Lalu pagi harinya diam-diam berharap telepon berbunyi.

Bukan karena manusia munafik.

Melainkan karena hati tidak pernah belajar logika secepat mulut.

Dan mungkin itulah sebabnya Dostoevsky masih terasa relevan hingga hari ini.

Beliau tampaknya sudah memahami satu rahasia besar yang terus dibuktikan oleh jutaan pasangan setiap hari:

Dalam kamus cinta, kalimat "Aku benci kamu!" sering kali hanyalah dialek yang sangat berisik dari kalimat,

"Tolong jangan benar-benar pergi."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.