Rabu, 08 Juli 2026

Kalau Cinta Selalu Berat Sebelah, Mungkin Bukan Hubungan—Mungkin Gerobak Bakso

Tentang Orang yang Selalu Mencintai Lebih Dulu, Lebih Dalam, dan Lebih Lama

Di internet, ada dua hal yang menyebar lebih cepat daripada diskon tanggal kembar.

Yang pertama: resep es teh yang katanya bikin awet muda.

Yang kedua: kutipan yang ditempeli nama tokoh besar.

Hari ini namanya Dostoevsky. Besok mungkin Socrates. Lusa bisa jadi Albert Einstein berkata, "Kalau dia balas chat cuma 'wkwk', berarti dia bukan jodoh."

Padahal Einstein sibuk menghitung relativitas, bukan centang biru WhatsApp.

Begitulah nasib tokoh besar. Setelah wafat, mereka tidak hanya meninggalkan karya, tetapi juga menjadi bapak angkat bagi ribuan kutipan yang tidak pernah mereka tulis.

Namun, lucunya, meskipun kutipan itu mungkin bukan karya Dostoevsky, isinya tetap berhasil membuat banyak orang menatap langit sambil berkata lirih,

"Ini aku banget..."

Padahal lima menit sebelumnya ia baru saja mengunggah foto kopi dengan caption, Healing.


Penyakit yang Tidak Masuk BPJS: Terlalu Mencintai

Ada orang yang kalau jatuh cinta seperti menanam cabai.

Disiram.
Dipupuk.
Dijaga dari hama.

Ada juga yang jatuh cinta seperti menyewa payung.

Dipakai sebentar.
Hujan reda.
Lalu ditinggal.

Masalah muncul ketika dua spesies ini bertemu.

Yang satu menganggap hubungan adalah rumah.

Yang satunya menganggap hubungan adalah ruang tunggu.

Yang satu sudah membayangkan nama anak.

Yang satunya bahkan masih menyimpan aplikasi kencan.

Tidak heran kalau akhirnya yang satu menangis, sedangkan yang lain berkata,

"Kamu terlalu baik buat aku."

Kalimat ini adalah versi romantis dari surat penolakan kerja.

Bahasanya sopan.
Isinya tetap menyakitkan.

Honeymoon Phase: Saat Dopamin Sedang Rajin Lembur

Ilmu psikologi menjelaskan bahwa di awal hubungan, otak sedang pesta.

Dopamin menyalakan kembang api.

Oksitosin menyetel lagu romantis.

Serotonin sibuk membagikan bunga.

Pokoknya seluruh penghuni kepala sedang mengadakan konser.

Akibatnya, semua terlihat indah.

Suara ngorok terdengar seperti musik alam.

Telat membalas chat dianggap sedang fokus bekerja.

Lupa ulang tahun dianggap sedang melatih kesabaran.

Semua dimaafkan.

Masalahnya, pesta tidak berlangsung selamanya.

Suatu hari dopamin pulang.

Oksitosin izin.

Realitas masuk tanpa mengetuk pintu.

Barulah kita sadar bahwa orang yang dulu tampak seperti puisi ternyata juga bisa lupa mengangkat jemuran.

Di sinilah hubungan diuji.

Apakah cintanya benar-benar matang?

Atau selama ini cuma efek samping hormon yang sedang rajin?


Cinta Tidak Diukur dari Banyaknya Emoji Hati

Lucunya manusia modern, ukuran cinta sering kali sangat ilmiah.

"Dia kirim emoji merah."

"Dia ngetik tiga menit."

"Dia lihat story jam 02.13."

Sherlock Holmes pun mungkin menyerah menghadapi metode investigasi seperti ini.

Padahal cinta tidak selalu pandai bicara.

Ada orang yang pandai merangkai kata-kata, tetapi sulit bertahan ketika masalah datang.

Ada pula yang hampir tidak pernah berkata, "Aku cinta kamu," tetapi diam-diam memastikan motor kita selalu penuh bensin.

Masalahnya, kita sering mengira cinta harus terdengar.

Padahal kadang cinta lebih suka bekerja lembur tanpa membuat pengumuman.


Sindrom "Aku Selalu yang Lebih"

Banyak orang merasa dirinya selalu menjadi pihak yang mencintai lebih dalam.

Mungkin benar.

Mungkin juga tidak sepenuhnya.

Karena manusia memiliki bakat luar biasa dalam mengingat pengorbanannya sendiri dan sedikit amnesia terhadap pengorbanan orang lain.

Kalau kita memberi hadiah tiga kali, kita hafal tanggalnya.

Kalau pasangan memberi perhatian sembilan kali, kita berkata,

"Ya itu kan memang sudah seharusnya."

Hati manusia memang seperti bendahara.

Pemasukan milik sendiri dicatat dengan tinta emas.

Pemasukan orang lain kadang lupa dibukukan.

Karena itu, sebelum menyimpulkan bahwa kita selalu mencintai lebih besar, ada baiknya sesekali bertanya,

"Jangan-jangan timbangan cintaku sedang rusak?"


Ironi Media Sosial

Media sosial mempunyai kemampuan ajaib.

Ia bisa membuat semua orang terlihat sedang dicintai habis-habisan.

Foto makan berdua.

Foto sunset.

Foto tangan bergandengan.

Caption:

"Forever."

Dua minggu kemudian semua foto hilang.

Ternyata "forever" di media sosial kadang durasinya lebih pendek daripada masa garansi rice cooker.

Kita pun mulai membandingkan hubungan sendiri dengan hubungan orang lain.

Padahal kita sedang membandingkan kehidupan nyata dengan bagian trailer.

Tidak ada yang mengunggah foto sedang diam-diam bertengkar soal siapa yang lupa membeli gas.


Kalau Benar Ini Dostoevsky...

Seandainya benar Dostoevsky membaca semua unggahan yang mengatasnamakan dirinya, mungkin beliau hanya menghela napas.

Lalu berkata,

"Aku menulis ratusan halaman tentang pergulatan jiwa manusia...

...kenapa yang viral justru kutipan yang bahkan bukan tulisanku?"

Tetapi mungkin beliau juga akan tersenyum.

Karena memang sejak dulu manusia tidak berubah.

Yang berubah hanyalah medianya.

Dulu orang patah hati menulis surat tiga belas halaman.

Sekarang cukup menghapus foto profil bersama.

Dulu menangis di bawah salju.

Sekarang membuat playlist lagu galau.

Teknologinya berubah.

Dadanya tetap sesak.


Barangkali Masalahnya Bukan Terlalu Mencintai

Ada kemungkinan yang jarang kita pikirkan.

Barangkali masalahnya bukan karena kita terlalu mencintai.

Melainkan karena kita berharap semua orang memiliki kapasitas mencintai yang sama.

Padahal setiap hati memiliki ukuran gelas yang berbeda.

Ada yang sebesar ember.

Ada yang sebesar cangkir espresso.

Kalau kita menuangkan satu ember kasih sayang ke dalam cangkir kecil, yang terjadi bukan hubungan harmonis.

Yang terjadi adalah banjir.

Bukan semua orang jahat.

Kadang mereka memang hanya tidak sanggup menampung sebanyak itu.


Jangan Berhenti Menjadi Orang yang Tulus

Pada akhirnya, yang paling menyedihkan bukanlah mencintai lebih dalam.

Yang paling menyedihkan adalah membiarkan pengalaman pahit mengubah kita menjadi orang yang tidak lagi mampu mencintai.

Luka memang guru.

Tetapi jangan biarkan ia menjadi kepala sekolah.

Biarkan ia mengajar seperlunya, lalu persilakan hidup melanjutkan pelajaran berikutnya.

Kalau suatu hari nanti ada orang yang benar-benar bertahan, ia tidak akan bertahan karena kita sempurna.

Ia bertahan karena memilih tetap tinggal ketika fase kembang api sudah selesai, ketika hormon sudah pensiun, ketika wajah baru bangun tidur lebih sering muncul daripada foto yang memakai filter.

Karena cinta yang dewasa bukanlah soal siapa yang paling pandai mengucapkan, "Aku mencintaimu."

Melainkan siapa yang masih mengambilkan obat saat kita demam, masih mengingatkan makan ketika kita sibuk, dan masih memilih duduk di samping kita ketika dunia menawarkan kursi yang tampak lebih nyaman.

Dan kalau setelah membaca semua ini Anda masih merasa selalu menjadi pihak yang lebih mencintai, tenang saja.

Minimal sekarang Anda tahu satu hal.

Anda tidak sendirian.

Internet penuh dengan orang-orang yang juga sedang mengangguk pelan sambil berkata,

"Waduh... kok seperti sedang membaca riwayat hidup sendiri?"

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.