Tentang Jean Benamour, Kedewasaan, dan Seni Berhenti Mengejar Hal yang Tidak Mengejar Kita
Ada dua kelompok manusia yang paling sulit menerima
kenyataan.
Kelompok pertama adalah mereka yang masih percaya harga
cabai akan segera turun.
Kelompok kedua adalah mereka yang berusia enam puluh tahun
tetapi masih tersinggung karena komentar akun anonim bergambar telur di media
sosial.
Jean Benamour tampaknya memilih keluar dari kedua kelompok
itu.
Dalam puisinya tentang usia tua, ia tidak mengeluh soal
rambut yang memutih atau lutut yang mulai berbunyi seperti pintu gudang
peninggalan Belanda. Ia justru mengatakan sesuatu yang mengejutkan: tanda
dirinya menua bukanlah keriput, melainkan ketika ia mulai berhenti.
Bukan berhenti hidup.
Bukan berhenti berkarya.
Melainkan berhenti melakukan berbagai pekerjaan batin yang
selama puluhan tahun ternyata hanya menguras bensin jiwa.
Dan di situlah letak humornya.
Selama muda kita diajari bahwa hidup adalah perlombaan maraton. Setelah tua kita baru sadar ternyata sebagian besar peserta bahkan salah stadion.
Manusia modern sebenarnya memiliki pekerjaan sampingan yang
tidak pernah tercantum dalam kontrak kerja.
Profesi itu bernama "manajer persepsi orang lain."
Setiap hari kita lembur memikirkan apa kata tetangga.
Apa komentar teman.
Apa pendapat mantan.
Apa isi hati atasan.
Apa isi pikiran warganet.
Lucunya, orang-orang yang kita pikirkan itu sedang sibuk
memikirkan dirinya sendiri.
Kita seperti satpam yang menjaga rumah kosong.
Benamour akhirnya pensiun dari profesi itu.
Ia berhenti membujuk orang yang ingin pergi.
Berhenti ingin selalu benar.
Berhenti merasa harus memenangkan semua perdebatan.
Sungguh keputusan yang sangat revolusioner.
Sebab dalam budaya media sosial, banyak orang lebih rela
kehilangan teman daripada kehilangan kesempatan mengetik, "Saya sudah
bilang dari dulu."
Padahal tidak semua pertengkaran layak dimenangkan.
Ada debat yang nilainya sama seperti memperdebatkan rasa
kerupuk dengan ayam di warung pecel lele pukul sebelas malam.
Menang pun tetap masuk angin.
Bagian yang paling menyentuh dari tulisan Benamour justru
ketika ia berbicara tentang tubuhnya.
Kita hidup di zaman ketika tubuh diperlakukan seperti
aplikasi.
Harus selalu diperbarui.
Harus selalu tampak muda.
Harus selalu bebas keriput.
Kalau bisa, umur enam puluh tetapi wajah tetap dua puluh
lima.
Padahal kalau wajah tetap dua puluh lima sementara
pengalaman hidup sudah enam puluh tahun, orang akan bingung apakah kita manusia
atau bug dalam sistem.
Benamour memilih jalan berbeda.
Ia menyebut tubuh sebagai rumah.
Rumah yang telah menyimpan tangisan, tawa, patah hati,
kelahiran, kehilangan, doa-doa panjang, dan mimpi-mimpi yang sebagian berhasil,
sebagian berubah menjadi bahan cerita.
Betapa indah cara pandang itu.
Keriput bukan lagi kerusakan.
Ia adalah arsip.
Uban bukan kegagalan pigmen.
Ia adalah salju yang turun di pegunungan pengalaman.
Bekas luka bukan cacat.
Ia adalah tanda bahwa kehidupan pernah datang membawa palu,
tetapi kita masih berdiri.
Tubuh ternyata bukan showroom.
Ia adalah perpustakaan.
Setiap lipatan kulit adalah halaman yang telah dibaca waktu.
Semakin tua, Benamour semakin sedikit membawa koper.
Bukan karena maskapai menaikkan tarif bagasi.
Melainkan karena ia mulai sadar bahwa sebagian besar beban
hidup ternyata tidak pernah diminta Tuhan untuk dipikul.
Kita yang memungutnya sendiri.
Pendapat orang kita pikul.
Ekspektasi keluarga kita pikul.
Persaingan sosial kita pikul.
Keinginan membalas komentar Facebook tahun 2017 pun masih
kita pikul.
Tidak heran hidup terasa berat.
Kita berjalan sambil menggendong lemari.
Dalam dunia tasawuf dikenal istilah takhalli—mengosongkan
diri dari sifat-sifat yang memberatkan jiwa sebelum menghiasinya dengan
kebajikan.
Benamour tidak memakai istilah Arab.
Tetapi praktiknya persis.
Ia membersihkan ruang batin sebagaimana orang membersihkan
gudang.
Barang yang rusak dibuang.
Barang yang tidak dipakai disedekahkan.
Barang yang hanya membuat sesak dilepaskan.
Sebab rumah yang penuh barang belum tentu kaya.
Bisa jadi hanya sulit mengepel.
Begitu pula hati.
Psikolog Erik Erikson pernah mengatakan bahwa pada akhir
kehidupan manusia akan berhadapan dengan dua pilihan.
Menjadi damai.
Atau menjadi penyesal profesional.
Pilihan pertama melahirkan kebijaksanaan.
Pilihan kedua melahirkan kebiasaan membuka kalimat dengan,
"Seandainya dulu..."
Kalimat itu tampaknya menjadi makanan favorit banyak orang.
Seandainya dulu mengambil jurusan lain.
Seandainya dulu menikah dengan orang lain.
Seandainya dulu membeli tanah, bukan membeli ikan cupang.
Hidup berubah menjadi museum penyesalan.
Benamour menolak membuka museum itu.
Ia memilih membuka taman.
Tempat semua kenangan boleh datang tanpa harus diadili.
Sebab masa lalu bukan pengadilan.
Ia perpustakaan.
Kita datang bukan untuk menghukum buku-buku lama, melainkan untuk memahami cerita yang telah membentuk kita.
Yang menarik, pesan Benamour ternyata sangat akrab dengan
kearifan Nusantara.
Orang Jawa mengenal nrima ing pandum.
Bukan menyerah.
Bukan pasrah tanpa usaha.
Melainkan kemampuan menerima kenyataan tanpa kehilangan
martabat.
Mirip air sungai.
Ia tidak marah karena batu menghalangi.
Ia mengalir mencari jalan lain.
Sementara kita kadang lebih mirip notifikasi aplikasi.
Sedikit saja terganggu langsung berbunyi.
Ironisnya, banyak orang ingin menjadi tua tetapi tidak ingin
menjadi dewasa.
Umur bertambah.
Ego tetap balita.
Rambut memutih.
Perasaan masih mudah tersinggung.
Cucu sudah tiga.
Masih sibuk membuktikan diri kepada teman SMP.
Padahal kedewasaan bukan soal jumlah lilin di kue ulang
tahun.
Kedewasaan adalah jumlah pertengkaran yang berhasil kita
hindari.
Jumlah dendam yang berhasil kita kuburkan.
Jumlah beban yang akhirnya kita letakkan.
Mungkin memang begitulah usia tua bekerja.
Ia bukan pencuri masa muda.
Ia petugas kebersihan.
Sedikit demi sedikit ia mengambil barang-barang yang
ternyata tidak kita perlukan.
Ambisi yang berlebihan.
Keinginan selalu dipuji.
Hasrat memenangkan semua debat.
Ketakutan terhadap penilaian orang.
Kalau kita mengizinkannya bekerja, hidup menjadi lapang.
Kalau kita terus menghalanginya, usia bertambah tetapi hati
tetap penuh sesak seperti gudang diskon akhir tahun.
Pada akhirnya, kalimat Jean Benamour yang paling indah
bukanlah tentang umur.
Melainkan tentang kebebasan.
"Aku milik diriku sendiri... dan untuk pertama kalinya,
itu sudah cukup."
Mungkin itulah definisi dewasa yang paling sederhana.
Bukan ketika kita berhasil mengumpulkan banyak orang yang
menyukai kita.
Melainkan ketika kita akhirnya berhenti meminta izin kepada
dunia untuk menjadi diri sendiri.
Dan kalau suatu hari kita bisa tidur nyenyak tanpa penasaran
siapa yang belum membalas pesan WhatsApp, siapa yang tidak memberi tanda suka
pada unggahan kita, atau siapa yang menang dalam perdebatan politik semalam...
Selamat.
Barangkali uban memang belum banyak.
Tetapi jiwa kita sudah mulai berumur dengan cara yang paling
anggun.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.