Tentang Orang Tua, Anak, dan Seni Tidak Menjadi Furniture
Ada satu kesalahan yang tampaknya diwariskan turun-temurun
oleh umat manusia, selain mewariskan resep opor dan pertanyaan "kapan
nikah?". Kesalahan itu adalah keyakinan bahwa setelah membesarkan anak
dengan penuh pengorbanan, kelak kita akan menikmati masa pensiun berupa
pelayanan bintang lima dari mereka.
Bayangannya indah. Pagi disuguhi teh hangat. Sore diajak
jalan-jalan. Malam dipijat sambil mendengarkan cucu mengaji. Hidup terasa
seperti paket "All Inclusive Resort" yang dibayar dengan popok, uang
sekolah, dan begadang selama dua puluh tahun.
Sayangnya, kenyataan sering lebih mirip kos-kosan mahasiswa:
sempit, sibuk, dan semua orang berharap orang lain yang mencuci piring.
Di sinilah Diego masuk panggung.
Diego adalah ayah teladan. Ia bekerja keras, memeras
keringat, menukar masa mudanya dengan masa depan anak-anaknya. Jika hidup
adalah pertandingan sepak bola, Diego rela menjadi rumput yang diinjak agar
anak-anaknya bisa menjadi pencetak gol.
Masalahnya, rumput kadang lupa bahwa setelah pertandingan
selesai, stadion akan ditutup.
Ketika anak-anaknya dewasa, Diego menjual rumahnya dan
pindah ke rumah anak laki-lakinya. Ia datang membawa koper penuh kenangan dan
hati penuh harapan.
Yang menyambut bukan orkestra cinta keluarga.
Melainkan Wi-Fi yang lemot, kamar tamu yang berubah menjadi
gudang, dan ekspresi wajah yang mengatakan, "Ayah... sebenarnya kapan
pulangnya?"
Begitulah hidup. Kadang kita merasa menjadi pahlawan dalam
cerita sendiri, padahal di cerita orang lain kita hanya karakter pendukung yang
kebetulan lupa mengetuk pintu.
Untunglah Diego bertemu Confucius.
Saya membayangkan Confucius bukan sedang duduk di singgasana
kebijaksanaan, melainkan menikmati teh sambil memandangi kolam ikan. Sebab
orang yang benar-benar bijak biasanya tidak sibuk membuat podcast tentang
kebijaksanaan.
Diego mengeluh panjang lebar.
Confucius tidak memberi seminar tiga jam. Ia hanya
menunjukkan tiga benda sederhana.
Segelas air.
Dua batang pohon.
Segenggam pasir.
Sungguh luar biasa. Orang bijak memang hemat properti. Kalau
zaman sekarang mungkin motivator membutuhkan layar LED, drone, dan musik
sinematik agar pesannya terdengar mendalam. Confucius cukup membawa gelas.
"Gelas yang penuh," katanya, "tidak bisa
diisi lagi."
Betapa sering kita menjadi teko yang keras kepala. Kita
terus menuangkan diri ke tempat yang sudah tak punya ruang. Lalu ketika air
meluap, kita marah kepada gelas, padahal fisika sudah memberi peringatan sejak
zaman dahulu.
Lalu dua pohon.
Pohon yang terlalu rapat bukan saling menguatkan. Cabangnya
berebut matahari. Akarnya saling mengganggu. Keduanya tumbuh bengkok karena
terlalu sibuk hidup dalam bayang-bayang satu sama lain.
Ironis sekali.
Manusia sering mengira cinta berarti menempel terus seperti
perangko. Padahal bahkan pohon yang diam saja tahu bahwa tumbuh memerlukan
jarak.
Kemudian pasir.
Semakin kuat digenggam, semakin cepat ia lolos di sela-sela
jari.
Hubungan antarmanusia memang aneh. Kucing saja tahu kapan
harus datang dan kapan harus pergi. Tetapi manusia sering mengira kasih sayang
bisa diamankan seperti deposito.
Tidak bisa.
Cinta bukan borgol.
Ia lebih mirip burung. Semakin kita cekik agar tidak
terbang, semakin cepat ia mati.
Lalu Confucius mengajukan pertanyaan yang membuat Diego
terdiam.
"Ketika kau menanam pohon, apakah kau menanamnya supaya
nanti pohon itu memberi bayangan hanya kepadamu?"
Pertanyaan itu seperti sandal yang dilempar ibu dari dapur:
sederhana, tetapi selalu tepat sasaran.
Bukankah kita memang menanam pohon agar dunia menjadi lebih
teduh?
Mengapa anak justru kita tanam seperti investasi obligasi
yang harus membayar dividen emosional setiap bulan?
Di sinilah letak kelucuan manusia.
Kita sering berkata bahwa cinta orang tua itu tanpa syarat.
Lalu diam-diam kita menambahkan catatan kaki kecil.
"Tanpa syarat... selama anak tetap sering menelepon,
rajin berkunjung, ingat ulang tahun, mengajak liburan, dan tidak lupa membawa
oleh-oleh."
Ternyata syaratnya bukan hilang.
Hanya ditulis dengan huruf ukuran delapan.
Setelah itu Diego berubah.
Ia tidak menghabiskan hari menghitung berapa kali anaknya
mengirim pesan.
Ia mulai membantu anak-anak sekolah membaca.
Menanam pohon.
Bercerita kepada tetangga.
Belajar menikmati matahari tanpa harus menunggu notifikasi
dari grup keluarga.
Aneh memang.
Begitu Diego berhenti mengejar perhatian, justru perhatian
datang sendiri.
Mungkin karena manusia selalu merindukan orang yang hidupnya
penuh.
Bukan orang yang seluruh dunianya hanya berputar
mengelilingi dirinya.
Namun, di tengah tepuk tangan untuk kisah Diego, kita juga
perlu sedikit bersikap adil.
Tidak semua lansia punya kemewahan untuk "memulai hidup
baru."
Ada yang sakit.
Ada yang miskin.
Ada yang benar-benar bergantung pada anak karena negara
belum sepenuhnya hadir.
Maka cerita ini jangan dibaca sebagai surat izin bagi anak
untuk berkata, "Nah, kan... Confucius saja menyuruh Ayah mandiri."
Kalau begitu, bukan Confucius yang sedang berbicara.
Itu dompet Anda.
Pesan sesungguhnya jauh lebih halus.
Orang tua jangan menggantungkan seluruh makna hidup kepada
anak.
Tetapi anak juga jangan menggantungkan seluruh alasan untuk
lupa berbakti kepada kalimat-kalimat motivasi dari internet.
Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa kebutuhan.
Melainkan hubungan yang tidak menjadikan kebutuhan sebagai
alat menyandera kasih sayang.
Barangkali inilah ironi terbesar kehidupan.
Sejak kecil kita mengajari anak berjalan agar suatu hari
mereka bisa meninggalkan rumah.
Namun ketika hari itu benar-benar datang, justru kita yang
protes karena pelajaran kita berhasil.
Seorang petani tidak menangis ketika padinya menguning.
Seorang guru tidak marah ketika muridnya lulus.
Mengapa orang tua kecewa ketika anak akhirnya benar-benar
menjadi dewasa?
Bukankah itu tujuan dari seluruh pengorbanan?
Mungkin menjadi tua bukan sekadar soal rambut memutih atau
lutut berbunyi setiap bangun dari kursi.
Menjadi tua adalah belajar mengubah peran.
Dari pusat orbit menjadi bintang penunjuk arah.
Dari nahkoda menjadi mercusuar.
Dari akar yang menggenggam menjadi tanah yang rela
melepaskan.
Karena cinta, seperti pohon yang sehat, tidak sibuk
menghitung siapa yang berteduh di bawahnya.
Ia cukup terus bertumbuh.
Dan barangkali, justru di situlah kebahagiaan yang paling
dewasa tinggal.
Bukan ketika anak terus berada di samping kita.
Melainkan ketika mereka bisa berjalan jauh dengan tenang,
sementara kita masih mampu tersenyum, menyiram bunga di halaman, lalu berkata
kepada angin,
"Pergilah. Aku tidak kehilanganmu. Aku hanya
berhasil membesarkanmu."
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.