Kamis, 02 Juli 2026

# Menjadi Modern Tanpa Kehilangan Diri: Jangan Sampai Budaya Impor Masih Berbungkus Plastik

Konon, ada dua tipe orang ketika pertama kali mencoba makanan asing. Tipe pertama langsung berkata, "Wah, mulai sekarang saya hanya makan ini!" Tipe kedua mencicipi sedikit, lalu bersumpah bahwa masakan leluhurnya adalah satu-satunya yang layak masuk surga kuliner. Yang lucu, dua-duanya sama-sama belum sempat membaca daftar bahannya.

Begitulah sering kali bangsa-bangsa bersikap terhadap peradaban.

Di awal abad ke-20, seorang intelektual Jepang bernama Natsume Sōseki berangkat ke London dengan misi mulia: belajar dari pusat peradaban modern. Pemerintah Jepang berharap ia pulang membawa ilmu. Barangkali mereka membayangkan ia akan pulang sambil membawa koper penuh gagasan cemerlang.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Sōseki merasa kesepian, asing, bahkan menggambarkan dirinya seperti "anjing kurus di tengah kawanan serigala." Ternyata modernitas tidak selalu menyambut tamunya dengan karpet merah. Kadang ia menyambut dengan udara dingin, tatapan acuh, dan harga sewa kamar yang membuat dompet ikut mengalami depresi eksistensial.

Pengalaman itu melahirkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar bagaimana cara naik kereta bawah tanah di London: bagaimana belajar dari dunia tanpa kehilangan diri sendiri?

Pertanyaan ini ternyata tidak pernah pensiun.

Hari ini kita hidup di zaman ketika budaya datang bukan lewat kapal uap, melainkan lewat Wi-Fi. Dahulu orang harus berbulan-bulan berlayar untuk mengimpor kebiasaan Barat. Sekarang cukup menonton video berdurasi tiga puluh detik, besok pagi kita sudah merasa perlu minum kopi dengan nama yang sulit dieja sambil mengatakan "literally" di setiap dua kalimat.

Modernitas kini bekerja seperti parfum di pusat perbelanjaan. Awalnya hanya ingin lewat, tiba-tiba seluruh tubuh sudah wangi ide-ide impor.

Yang menarik, Sōseki seolah mengingatkan bahwa ada dua penyakit yang sama-sama berbahaya.

Penyakit pertama adalah demam peniruan. Apa pun yang datang dari luar dianggap otomatis lebih baik. Seolah-olah kebijaksanaan lokal hanya berlaku sampai bandara internasional. Jika sebuah gagasan memakai istilah bahasa Inggris, langsung terdengar ilmiah. Kalau memakai bahasa ibu sendiri, dianggap kurang keren. Padahal kadang isinya sama saja, hanya bungkusnya berbeda. Pisang goreng tetap pisang goreng, meski diberi nama banana crispy artisan.

Penyakit kedua adalah alergi terhadap segala hal baru.

Kelompok ini juga tidak kalah kreatif. Mereka menganggap setiap inovasi adalah konspirasi. Teknologi dipandang sebagai ancaman, perubahan dianggap pengkhianatan, dan masa lalu dipercaya selalu lebih indah. Padahal kalau benar masa lalu selalu sempurna, nenek moyang kita tentu masih memakai batu sebagai ponsel dan mengirim emoji lewat asap unggun.

Dua kubu ini sebenarnya seperti dua orang yang sama-sama gagal memasak.

Yang satu memakan bahan mentah tanpa dimasak.

Yang satu lagi menolak makan apa pun karena takut kompornya berasal dari luar negeri.

Di sinilah Jepang sering dipuji karena mencoba jalan yang lebih masuk akal.

Mereka tidak sekadar menelan modernitas mentah-mentah. Mereka mencoba mencerna.

Metafora ini luar biasa indah.

Tubuh manusia mengajarkan filsafat yang sering diabaikan para politisi. Makanan terbaik sekalipun tidak berguna jika hanya berhenti di mulut. Ia harus dikunyah, dicerna, diserap, lalu diubah menjadi bagian dari tubuh kita sendiri.

Begitu pula peradaban.

Teknologi asing tidak seharusnya dipasang seperti stiker di atas identitas lama. Ia harus diproses menjadi sesuatu yang cocok dengan "metabolisme budaya" kita. Kalau tidak, hasilnya seperti mengenakan jas musim dingin di tengah siang bolong Jakarta: mahal, bergengsi, tetapi tetap membuat penggunanya berkeringat tanpa memperoleh manfaat.

Namun, kisah Jepang juga tidak boleh dibaca seperti brosur agen perjalanan.

Negeri itu memang berhasil melompat menjadi kekuatan modern melalui Restorasi Meiji, tetapi setiap lompatan selalu meninggalkan jejak di tanah. Ada tradisi yang memudar, tekanan sosial yang meningkat, bahkan kemudian muncul jalan gelap menuju militerisme yang membawa Jepang ke dalam tragedi **Perang Dunia II>.

Artinya, tidak ada resep instan bernama "Model Jepang".

Kalau ada seminar yang menjanjikan "Menjadi Jepang dalam Lima Langkah Mudah", mungkin yang paling cepat berkembang justru rekening penyelenggaranya.

Setiap bangsa mempunyai sistem pencernaan sejarah yang berbeda.

Indonesia, misalnya, punya kebiasaan unik.

Kita sering bergantian menjadi penggemar fanatik dan pembenci fanatik. Hari ini mengidolakan segala sesuatu dari luar negeri. Besok marah karena terlalu banyak pengaruh luar negeri. Lusa bingung sendiri karena ponsel yang dipakai untuk mengeluh ternyata juga hasil teknologi luar negeri.

Kita seperti orang yang memarahi hujan sambil berteduh di bawah payung.

Yang sebenarnya dibutuhkan bukanlah rasa minder terhadap dunia, juga bukan rasa curiga terhadap dunia.

Yang dibutuhkan adalah rasa percaya diri.

Percaya diri sebuah bangsa bukan berarti merasa paling hebat. Justru ia seperti pohon besar. Semakin kuat akarnya, semakin berani ia membiarkan angin dari berbagai arah meniup daunnya. Angin tidak akan mencabut pohon yang akarnya mengenal tanahnya sendiri.

Sebaliknya, pohon plastik memang selalu tampak rapi. Daunnya tidak pernah gugur. Warnanya selalu hijau. Sayangnya, ia juga tidak pernah benar-benar hidup.

Mungkin itulah pelajaran paling berharga dari kegelisahan Sōseki.

Modernitas bukanlah perlombaan mengganti pakaian tradisional dengan jas Barat, atau mengganti pepatah nenek moyang dengan kutipan motivator internet. 

Peradaban yang matang bukanlah fotokopi bangsa lain.

Ia lebih mirip secangkir teh.

Airnya mungkin berasal dari hujan yang sama. Teknologinya mungkin menggunakan ketel yang sama. Namun, rasa akhirnya ditentukan oleh daun yang tumbuh di tanahnya sendiri.

Dan bangsa yang berhasil bukanlah bangsa yang paling banyak mengimpor air mendidih, melainkan bangsa yang tidak pernah lupa merawat kebun tehnya sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.