Ada nasihat yang terdengar kejam sekaligus puitis:
"Jangan pernah kembali ke tempat di mana kamu pernah
bahagia."
Kalimat itu beredar di media sosial dengan mencatut nama
Roberto De Niro. Benar atau tidak beliau pernah mengucapkannya, mungkin hanya
Tuhan, De Niro, dan admin akun penggemarnya yang tahu. Internet memang seperti
tetangga yang gemar menyebarkan gosip dengan penuh keyakinan. Kadang sumbernya
tidak jelas, tetapi suaranya terdengar sangat meyakinkan.
Namun, sebagaimana pepatah lama mengatakan bahwa jam rusak
pun benar dua kali sehari, sebuah kutipan tetap bisa mengandung kebijaksanaan
meski alamat pengarangnya nyasar.
Yang menarik justru bukan siapa yang mengucapkannya,
melainkan mengapa kalimat itu terasa begitu menusuk.
Nostalgia: Photoshop Paling Canggih di Dunia
Otak manusia adalah editor profesional.
Ia menghapus bagian yang memalukan, mengaburkan bagian yang
menyakitkan, lalu menaikkan saturasi warna pada kenangan bahagia. Masa lalu
dipoles seperti foto liburan yang sudah diberi lima lapis filter.
Akibatnya, kita sering rindu pada sesuatu yang sebenarnya
tidak pernah benar-benar ada.
Kita berkata,
"Ah... zaman kuliah enak sekali."
Padahal saat kuliah dulu kita setiap minggu mengeluh uang
habis tanggal tujuh, tugas menumpuk, skripsi macet, dosen sulit ditemui, dan
nasi goreng menjadi makanan empat musim.
Yang kita rindukan ternyata bukan keadaan itu.
Yang kita rindukan adalah diri kita ketika masih mampu
tertawa di tengah semua kekacauan tersebut.
Kenangan ternyata bukan mesin waktu.
Ia hanyalah editor video yang hanya menyimpan adegan
terbaik.
Tempat Tidak Pernah Bersalah
Banyak orang pulang ke kampung halaman dengan harapan
menemukan masa kecilnya.
Yang ditemukan justru minimarket.
Lapangan tempat bermain sepak bola berubah menjadi ruko.
Warung tempat membeli es lilin kini menjual paket data.
Pohon mangga tempat memanjat telah menjadi garasi.
Lalu kita berkata,
"Kampungku sudah berubah."
Padahal sebenarnya bukan hanya kampung yang berubah.
Kitalah yang datang membawa ekspektasi setinggi drone.
Tempat tidak pernah berjanji akan tetap sama.
Yang berjanji hanya ingatan kita.
Sayangnya, ingatan adalah notaris yang sering memalsukan
dokumen.
Heraclitus Sudah Mengingatkan
Filsuf Yunani Heraclitus pernah mengatakan bahwa seseorang
tidak bisa menginjak sungai yang sama dua kali.
Karena airnya sudah mengalir.
Dan kaki kita pun sudah berbeda.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun kalau dipikir-pikir, bahkan sandal yang kita pakai
mungkin juga sudah berbeda.
Masalah manusia adalah kita sering mengira perubahan hanya
terjadi di luar.
Padahal perubahan terbesar justru terjadi di dalam.
Orang yang kembali ke sekolah lamanya bukan lagi murid kelas
dua.
Ia datang membawa cicilan rumah, tekanan pekerjaan,
kolesterol, dan grup WhatsApp keluarga yang tidak pernah sepi.
Bagaimana mungkin pengalaman yang sama bisa terulang?
Melankoli Itu Penjual Barang Antik
Melankoli adalah pedagang yang sangat pandai.
Ia menjual masa lalu dengan harga mahal.
Padahal barangnya bekas.
Ia membisikkan,
"Kalau saja kamu kembali ke sana, semuanya akan
seperti dulu."
Kita percaya.
Lalu datang.
Dan menemukan bahwa bangkunya masih ada.
Tetapi orang yang dulu duduk di sebelah kita sudah entah
menjadi direktur, petani, ustaz, influencer, atau bahkan sudah tidak ada lagi.
Bangku itu tetap diam.
Yang berubah adalah cerita yang pernah menempatinya.
Melankoli membuat kita membeli tiket menuju tempat yang
sebenarnya sudah tidak memiliki alamat emosional.
Reuni dan Eksperimen Ilmiah
Reuni sekolah sebenarnya adalah eksperimen sosial.
Ia menguji satu pertanyaan sederhana:
"Apakah kita benar-benar merindukan teman-teman
lama, atau hanya merindukan umur kita yang dulu?"
Sering kali jawabannya mengejutkan.
Setelah tiga puluh menit berbasa-basi, topik pembicaraan
berubah menjadi tekanan darah, biaya sekolah anak, harga minyak goreng, dan
tips mengatasi nyeri pinggang.
Tak ada yang salah.
Hanya saja kita sadar bahwa waktu diam-diam telah mengganti
seluruh pemeran tanpa meminta izin kepada penonton.
Dunia Digital Memperumit Segalanya
Dulu kenangan hanya hidup di kepala.
Sekarang ia tinggal di cloud.
Setiap tahun media sosial dengan polos mengirim notifikasi:
"Lihat kembali kenangan Anda lima tahun lalu."
Seolah-olah algoritma berkata,
"Halo. Mau sedih hari ini?"
Kita membuka foto itu.
Lalu menghela napas.
Ada wajah-wajah yang kini asing.
Ada rumah yang sudah dijual.
Ada orang yang sudah wafat.
Ada tubuh yang dulu langsing.
Yang terakhir biasanya paling menyakitkan.
Teknologi ternyata mampu menyimpan gambar.
Tetapi tidak mampu menyimpan waktu.
Islam Mengajarkan Bergerak
Dalam banyak ajaran spiritual, termasuk dalam Islam, hidup
selalu digambarkan sebagai perjalanan.
Bukan perkemahan.
Nabi Ibrahim meninggalkan kampungnya.
Nabi Musa meninggalkan Mesir.
Nabi Muhammad berhijrah dari Makkah ke Madinah.
Bahkan surga sendiri dalam Al-Qur'an lebih sering
digambarkan sebagai tujuan perjalanan, bukan nostalgia masa lalu.
Seolah Allah sedang mengajarkan bahwa iman tumbuh ketika
manusia berjalan.
Bukan ketika ia terus-menerus menoleh ke belakang.
Orang yang terlalu sering memandangi kaca spion biasanya
sulit menikmati pemandangan di depan.
Kenangan Bukan Tempat Tinggal
Kenangan memiliki fungsi yang mulia.
Ia adalah perpustakaan.
Bukan apartemen.
Kita boleh berkunjung.
Membaca.
Tersenyum.
Menangis sedikit.
Lalu pulang.
Masalah muncul ketika kita ingin menetap di sana.
Padahal masa lalu tidak menyediakan listrik, air, ataupun
jaringan internet untuk ditinggali.
Ia hanya museum.
Museum memang indah.
Tetapi tidak ada orang waras yang pindah rumah ke museum.
Hidup Selalu Menulis Bab Berikutnya
Barangkali nasihat itu bukan berarti kita dilarang pulang.
Bukan berarti kita harus melupakan semua kenangan.
Melainkan agar kita tidak menuntut masa lalu mengulang
pertunjukannya.
Karena hidup bukan bioskop yang memutar film lama sesuai
permintaan penonton.
Ia adalah penulis novel yang keras kepala.
Setiap hari ia memaksa kita membuka bab berikutnya.
Dan mungkin, justru di situlah rahmatnya.
Kalau semua kebahagiaan hanya ada di belakang, berarti Tuhan
terlalu pelit untuk menciptakan kebahagiaan baru.
Padahal setiap pagi matahari selalu terbit dari arah depan
perjalanan, bukan dari halaman album kenangan.
Maka simpanlah masa lalu seperti kita menyimpan surat dari
sahabat lama.
Sesekali dibuka untuk menghangatkan hati.
Bukan untuk dijadikan alamat pulang.
Sebab rumah terbaik manusia ternyata bukan kemarin.
Melainkan hari esok yang masih diberi kesempatan untuk kita
bangun.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.