Tentang Istiqomah, Adab, dan Kebiasaan Manusia Menjadi Juri Kehidupan Orang Lain
Di zaman media sosial, manusia memiliki bakat baru yang
tampaknya tidak diajarkan di sekolah mana pun: menjadi juri profesional bagi
kehidupan orang lain.
Belum sempat seseorang mengucapkan salam, sudah dinilai
kualitas imannya. Baru sekali ceramah, langsung diputuskan apakah ia wali atau
sekadar "motivator islami". Baru beberapa bulan rajin mengaji, sudah
ada yang bertanya, "Mana karamahnya?"
Seolah-olah surga membuka cabang kantor rekrutmen di kolom
komentar.
Kita memang hidup di zaman ketika segala sesuatu harus
tampak spektakuler. Kopi harus viral. Liburan harus estetik. Sedekah harus
direkam. Bahkan kesalehan pun kadang dianggap belum lengkap kalau belum
disertai kisah melihat cahaya hijau, mimpi bertemu nabi, atau minimal bisa
mengetahui isi dompet orang lain tanpa membuka resletingnya.
Padahal, Ibn Atha'illah As-Sakandari dalam Al-Hikam
justru mengajak kita berjalan ke arah yang berlawanan.
Beliau seolah berkata,
"Kalau bertemu orang yang puluhan tahun istiqomah
beribadah tetapi kelihatannya biasa saja, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa
ia belum sampai ke mana-mana. Bisa jadi justru engkau yang belum sampai pada
adab."
Kalimat itu sederhana, tetapi daya ledaknya mampu meruntuhkan gedung pencakar langit bernama kesombongan spiritual.
Kita Terlalu Suka Memberi Nilai
Lucunya, manusia memiliki kebiasaan unik.
Kalau melihat pohon mangga yang belum berbuah, kita masih
sabar menunggu.
Kalau melihat padi baru ditanam, kita mengerti bahwa panen
membutuhkan waktu.
Tetapi ketika melihat seorang muslim yang istiqomah shalat,
rajin wirid, tekun belajar, namun tidak tampak memiliki "keistimewaan
spiritual", kita langsung gelisah.
"Sudah lama kok belum jadi wali?"
Seolah-olah Allah memiliki target produksi karamah setiap
triwulan.
Padahal Allah tidak pernah mengumumkan bahwa indikator
keberhasilan ibadah adalah kemampuan berjalan di atas air.
Kalau memang itu syaratnya, bebek sudah lebih dahulu menjadi wali daripada kita.
Wirid Itu Seperti Menyikat Gigi
Ada orang yang menganggap wirid membosankan.
Setiap hari membaca bacaan yang sama.
Jumlahnya sama.
Waktunya sama.
Rasanya begitu-begitu saja.
Tetapi bukankah menyikat gigi juga begitu?
Tidak ada orang yang setelah menyikat gigi selama lima belas
tahun lalu berkata,
"Aduh, bosan. Hari ini saya ingin mencoba tidak
menyikat gigi supaya lebih kreatif."
Kita memahami bahwa kesehatan lahir membutuhkan rutinitas.
Aneh sekali kalau kesehatan hati justru ingin dicapai dengan
cara yang serba spontan.
Dalam tasawuf, wirid bukan pertunjukan kembang api.
Ia lebih mirip tetesan air yang perlahan melubangi batu.
Tidak heboh.
Tidak viral.
Tetapi mengubah sesuatu yang tampaknya mustahil.
Istiqomah memang jarang membuat orang bertepuk tangan.
Namun justru karena itu ia sering lebih dicintai Allah.
Penyakit Baru: CV Spiritual
Kadang kita memperlakukan perjalanan menuju Allah seperti
melamar pekerjaan.
Ada yang sibuk menyusun CV spiritual.
- Sudah
khatam sekian kitab.
- Sudah
ikut sekian majelis.
- Sudah
khalwat sekian hari.
- Pernah
mimpi bertemu sekian tokoh.
- Pernah
menangis sekian liter.
Seolah-olah nanti di akhirat ada wawancara.
"Silakan ceritakan pengalaman spiritual Anda selama
lima tahun terakhir."
Padahal Allah tidak membutuhkan portofolio.
Allah mengetahui isi hati bahkan ketika kita sendiri belum
selesai memahami diri kita.
Yang sering menjadi masalah justru bukan kurangnya amal.
Melainkan terlalu banyaknya kebanggaan terhadap amal.
Semua Orang Sedang Memainkan Peran Berbeda
Ibn Atha'illah mengingatkan bahwa Allah membagikan maqam
sebagaimana seorang konduktor membagikan alat musik dalam sebuah orkestra.
Tidak semua memegang biola.
Tidak semua memainkan piano.
Bayangkan jika pemain segitiga berkata,
"Kenapa saya cuma ting... ting...? Saya juga ingin solo
seperti pemain biola."
Konser itu akan berakhir menjadi kekacauan.
Begitu pula kehidupan.
Ada orang yang diberi maqam ilmu.
Ada yang diberi maqam melayani orang tua.
Ada yang diberi maqam mendidik anak.
Ada yang diberi maqam berdagang dengan jujur.
Ada tukang kebun yang setiap hari menyiram bunga sambil
menjaga shalatnya.
Ada guru desa yang tidak dikenal siapa pun, tetapi setiap
hari mengajarkan Al-Qur'an.
Ada petani yang tak pernah berceramah, tetapi tidak pernah
meninggalkan Subuh berjamaah.
Boleh jadi, langit lebih mengenal nama mereka daripada nama
orang-orang yang setiap hari muncul di layar ponsel kita.
Karena algoritma media sosial dan algoritma langit bekerja
dengan logika yang sangat berbeda.
Yang satu mengejar perhatian.
Yang satu lagi melihat keikhlasan.
Adab: Ilmu yang Tidak Bisa Dipamerkan
Ironisnya, semakin tinggi seseorang mendaki gunung
spiritual, semakin besar godaan untuk melihat ke bawah.
Dari atas sana, orang lain tampak kecil.
Padahal sebenarnya bukan mereka yang mengecil.
Kitalah yang sedang berada di tempat yang rawan membuat
kepala berputar.
Di sinilah adab menjadi rem.
Adab mengingatkan bahwa semakin dekat seseorang kepada
Allah, semakin kecil pula perasaannya terhadap dirinya sendiri.
Padi yang berisi akan menunduk.
Yang kosong justru berdiri tegak sambil berisik diterpa
angin.
Mungkin itulah sebabnya orang yang benar-benar dekat kepada
Allah sering tidak sibuk menjelaskan bahwa dirinya dekat kepada Allah.
Ia terlalu sibuk memperbaiki dirinya.
Bahaya Kolektor Karamah
Ada orang yang mengoleksi cerita karamah seperti anak kecil
mengoleksi kartu permainan.
Hari ini mendengar kisah wali berjalan di atas air.
Besok mendengar orang mengetahui isi hati.
Lusa mendengar seseorang bisa hadir di dua tempat sekaligus.
Semakin aneh kisahnya, semakin cepat menyebar.
Padahal, kalau dipikir-pikir, kemampuan paling langka bukan
berjalan di atas air.
Kemampuan paling langka justru tetap sabar menghadapi
tetangga yang meminjam tangga selama tiga bulan tetapi lupa mengembalikannya.
Kemampuan paling langka adalah tetap jujur ketika tidak ada
CCTV.
Tetap lembut ketika sedang marah.
Tetap shalat Subuh ketika kasur terasa lebih religius
daripada sajadah.
Itulah karamah yang setiap hari bisa kita perjuangkan.
Dan justru karena tampak biasa, sering kali nilainya luar biasa.
Istiqomah Adalah Mukjizat yang Tidak Berisik
Mungkin kita terlalu sering mencari petir, sehingga lupa
menghargai matahari.
Petir memang menggelegar.
Tetapi mataharilah yang setiap hari menghidupkan dunia.
Begitulah istiqomah.
Ia tidak membuat orang berdecak kagum.
Ia hanya hadir setiap hari.
Diam-diam.
Setia.
Tanpa publisitas.
Tanpa tepuk tangan.
Tanpa sertifikat.
Namun dari situlah pohon-pohon iman bertumbuh.
Dan mungkin, Allah memang lebih menyukai cahaya matahari daripada kilatan petir.
Jangan Sibuk Menjadi Tim Penilai Langit
Pada akhirnya, hikmah Ibn Atha'illah bukan sekadar melarang
kita meremehkan orang lain.
Ia sedang membebaskan kita dari pekerjaan yang memang bukan
tugas manusia.
Kita terlalu sering menjadi panitia penilaian yang tidak
pernah diminta.
Menimbang kadar iman.
Menghitung maqam.
Mengukur kedekatan seseorang kepada Allah dengan penggaris
buatan ego.
Padahal Allah tidak pernah membuka lowongan sebagai
"juri kehidupan orang lain."
Tugas kita jauh lebih sederhana, tetapi justru lebih sulit.
Menjaga wirid.
Memperbaiki adab.
Merawat istiqomah.
Bersyukur atas jalan yang Allah pilihkan.
Sebab boleh jadi, yang setiap hari tampak biasa di mata
manusia, justru sedang menjadi pemandangan yang paling indah di langit.
Lagipula, jika suatu hari kita benar-benar bertemu Allah,
sangat mungkin pertanyaan pertama bukanlah,
"Mengapa engkau tidak memiliki karamah?"
Melainkan,
"Mengapa engkau begitu sibuk mengukur orang lain,
sementara pekerjaan mengukur dirimu sendiri belum juga selesai?"
Dan di situlah kita menyadari sebuah ironi yang menggelikan
sekaligus menenangkan: ternyata perjalanan menuju Allah bukan perlombaan
mencari keistimewaan, melainkan perjalanan panjang belajar menjadi manusia yang
tidak merasa istimewa.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.