Tentang Harga Diri, Penjual Fijl, dan Penyakit Modern Bernama "Terlalu Percaya Komentar Orang"
Ada profesi yang memang mulia. Ada yang berguna. Ada pula
yang sangat dibutuhkan umat manusia.
Misalnya penjual lobak.
Tanpa mereka, mungkin banyak orang kesulitan membuat acar.
Namun sejarah belum pernah mencatat bahwa penjual lobak juga merangkap sebagai
penguji disertasi, kurator museum, pelatih atlet Olimpiade, atau penentu
kualitas puisi.
Sayangnya, manusia modern sering melakukan keajaiban logika.
Kita meminta pendapat tentang cita-cita kepada orang yang
tidak pernah memiliki cita-cita.
Kita meminta penilaian tentang karya kepada orang yang hobi
berkata, "Yang penting cuan."
Kita meminta validasi kepada orang yang bahkan tidak mampu
memvalidasi parkir motornya sendiri.
Lalu ketika mereka berkata, "Ah, itu tidak ada
nilainya," kita pulang sambil mengubur mimpi.
Begitulah cara banyak masa depan pensiun dini.
Kisah lama dari Samarra sebenarnya sangat sederhana.
Seorang pelajar miskin lapar.
Sangat lapar.
Lapar yang membuat teori filsafat berubah menjadi bayangan
ayam goreng.
Ia hanya memiliki setengah fils, sementara roti dan seikat
lobak berharga satu fils.
Karena sedang dikelilingi ilmu, bukan modal usaha, ia
mencoba membayar kekurangan itu dengan sebuah persoalan ilmiah.
Bayangkan saja.
Seorang mahasiswa datang ke warung.
"Pak, saya punya analisis epistemologi Imam Syafi'i.
Bisa ditukar setengah porsi bakwan?"
Pedagang tentu akan berpikir ada dua kemungkinan.
Pertama, pembelinya genius.
Kedua, pembelinya belum sarapan selama tiga hari.
Penjual lobak itu tertawa.
"Kalau ilmumu berguna, mestinya bisa beli lobak."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi kadang sebuah kalimat pendek lebih tajam daripada
tagihan pinjaman online.
Seketika sang pelajar kehilangan kepercayaan diri.
Ia merasa bertahun-tahun belajar ternyata kalah oleh seikat
sayuran.
Ironis sekali.
Seluruh masa depannya hampir dikalahkan oleh umbi-umbian.
Di sinilah Abu al-Hasan muncul.
Guru sejati memang sering datang ketika murid mulai
menganggap hidupnya gagal hanya karena satu komentar.
Sang guru tidak memberikan motivasi ala seminar.
Beliau tidak berkata, "Kamu pasti bisa!"
Tidak pula menyuruh muridnya membuat vision board.
Beliau hanya memberikan sebuah cincin.
Cincin itu dijual kepada tukang emas.
Harganya seribu dinar.
Lalu Abu al-Hasan bertanya,
"Mengapa kau menjualnya kepada tukang emas, bukan
kepada penjual lobak?"
Pertanyaan itu seperti tamparan yang dibungkus sutra.
Jawabannya sederhana.
Karena tukang emas tahu nilai emas.
Selesai.
Seluruh filsafat penilaian manusia runtuh hanya oleh satu pertanyaan.
Masalah terbesar manusia ternyata bukan kekurangan bakat.
Masalahnya adalah salah memilih tim penilai.
Ikan merasa bodoh karena diwawancarai burung.
Burung merasa gagal karena dibandingkan dengan kapal selam.
Penyair merasa tidak berguna karena dinilai akuntan.
Akuntan merasa hidupnya membosankan karena dibandingkan
influencer.
Sementara influencer diam-diam iri kepada petani yang tidur
nyenyak.
Semua orang sibuk menjadi peserta lomba yang jurinya salah ruangan.
Media sosial membuat kisah Samarra menjadi jauh lebih ramai.
Kalau dahulu hanya ada satu penjual lobak, sekarang ada
jutaan.
Masing-masing memiliki akun.
Masing-masing memiliki foto profil.
Masing-masing memiliki keberanian yang luar biasa untuk
mengomentari hal-hal yang tidak pernah mereka pelajari.
Anehnya, semakin sedikit pengetahuan seseorang, kadang
semakin besar huruf kapital yang ia gunakan.
"ITU SALAH!"
Mengapa salah?
"POKOKNYA SALAH!"
Peradaban digital ternyata berhasil menciptakan spesies
baru.
Penjual lobak virtual.
Mereka tidak menjual lobak.
Tetapi tetap merasa ahli menilai segala sesuatu.
Hari ini menjadi pakar ekonomi.
Besok menjadi dokter.
Lusa menjadi ahli geopolitik.
Malamnya menjadi komentator sepak bola.
Esok paginya mengulas tasawuf.
Istirahatnya hanya ketika sinyal internet hilang.
Padahal ilmu bekerja seperti emas.
Emas tidak pernah panik ketika disangka kuningan.
Ia tidak berubah menjadi besi hanya karena tetangganya tidak
mengerti kadar karat.
Nilai emas tidak bergantung pada pendapat orang yang sedang
membeli kangkung.
Begitu pula ilmu.
Pengetahuan sejati sering kali tumbuh seperti akar pohon.
Lama.
Sunyi.
Tidak viral.
Tetapi ketika waktunya tiba, justru akar itulah yang
menopang pohon saat badai datang.
Sebaliknya, komentar murahan lebih mirip kembang api.
Menyala sebentar.
Berisik.
Lalu tinggal asap.
Ada ironi yang sangat lucu dalam kehidupan.
Kita sering lebih percaya komentar lima detik daripada
proses lima belas tahun.
Satu ejekan mampu menghapus ribuan jam belajar.
Satu cibiran mampu mengalahkan puluhan buku yang telah
selesai dibaca.
Seolah-olah harga diri kita memang dititipkan kepada orang
yang kebetulan lewat.
Padahal kalau dipikir-pikir, itu sama anehnya dengan meminta
tukang cukur mengaudit laporan keuangan.
Bisa saja dilakukan.
Tetapi hasilnya mungkin akan membuat rambut dan neraca sama-sama habis.
Pelajaran terbesar dari kisah ini bukan sekadar agar kita
percaya diri.
Percaya diri tanpa kompetensi juga bisa berbahaya.
Yang diajarkan Abu al-Hasan adalah memilih siapa yang layak
dipercaya.
Kalau ingin belajar berenang, jangan bertanya kepada unta.
Kalau ingin belajar melukis, jangan meminta penilaian mesin
fotokopi.
Kalau ingin mengetahui nilai ilmu, datanglah kepada orang
yang mencintai ilmu.
Karena setiap bidang memiliki mata yang mampu melihat
keindahannya sendiri.
Burung mengenali langit.
Nelayan mengenali laut.
Tukang emas mengenali permata.
Dan penjual lobak...
ya, beliau mengenali lobak.
Itu pun sudah pekerjaan yang mulia.
Tidak perlu ditambah menjadi hakim seluruh alam semesta.
Mungkin itulah sebabnya orang-orang bijak selalu memilih
guru.
Bukan sekadar karena guru pandai.
Tetapi karena guru melihat kemungkinan yang bahkan belum
mampu kita lihat.
Abu al-Hasan tidak sedang memberi muridnya uang.
Beliau sedang mengembalikan timbangan.
Sebab timbangan kehidupan sering rusak bukan karena berat benda berubah, melainkan karena kita meletakkannya di atas meja yang salah.
Jadi, jika suatu hari ada orang berkata bahwa cita-citamu
tidak berguna, tulisanmu tidak ada nilainya, penelitianmu sia-sia, karya senimu
tidak akan menghasilkan apa-apa, atau usahamu terlalu kecil untuk berhasil,
jangan buru-buru patah hati.
Tanyakan dalam hati dengan sopan,
"Maaf, Bapak ini tukang emas... atau penjual
lobak?"
Kalau ternyata beliau memang penjual lobak, hormatilah
pekerjaannya.
Belilah lobaknya bila perlu.
Tetapi jangan pernah menitipkan masa depanmu di timbangan
sayur.
Karena sejarah tidak dibangun oleh mereka yang berhenti
bermimpi setelah ditertawakan.
Sejarah dibangun oleh mereka yang cukup sabar menunggu
sampai bertemu tukang emas yang benar-benar mengerti nilai sebuah permata.
Dan siapa tahu, selama ini permata itu ternyata adalah
dirimu sendiri—hanya saja kau sedang sibuk meminta penjual lobak untuk
mengeluarkan sertifikat keasliannya.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.