Minggu, 05 Juli 2026

Jangan Berdebat dengan Tembok—Nanti Tembok Merasa Menang

Tentang Seni Memilih Pertarungan

Ada satu profesi yang tampaknya semakin populer di zaman media sosial: petarung komentar. Mereka bangun pagi bukan untuk jogging atau berzikir, melainkan mengecek siapa yang semalam berani berbeda pendapat. Sarapan mereka bukan nasi goreng, melainkan notifikasi. Minuman favoritnya? Kopi hitam dicampur screenshot.

Di tengah hiruk-pikuk itu, beredar sebuah kutipan yang dikaitkan dengan Helen Mirren. Entah benar beliau yang mengucapkannya atau kutipan itu hanya sedang numpang tenar di nama seorang aktris terkenal, pesannya tetap menarik. Sebelum berdebat, tanyakan dulu: apakah orang yang kita ajak bicara cukup dewasa untuk memahami sudut pandang lain?

Kalau jawabannya "tidak", maka mungkin yang kita lakukan bukan diskusi, melainkan memberi kuliah filsafat kepada dispenser air.

Masalahnya, banyak orang mengira semua percakapan adalah pertandingan tinju. Padahal tidak semua kalimat membutuhkan sarung tinju. Ada kalanya cukup membutuhkan secangkir teh dan kemampuan berkata, "Baiklah, semoga harimu menyenangkan."

Sayangnya, manusia modern memiliki penyakit yang cukup unik. Kita sering mengira bahwa kalau argumen kita panjang, lengkap, memakai data, grafik, jurnal ilmiah, tiga kutipan filsuf Yunani, dan bonus infografik berwarna pastel, lawan bicara pasti tercerahkan.

Padahal sering kali yang terjadi justru sebaliknya.

Kita mengirim esai sepanjang lima belas paragraf.

Lawan menjawab, "Wkwkwk."

Lima belas menit menyusun argumen, dikalahkan oleh empat huruf dan dua tawa digital.

Di situlah kita mulai sadar bahwa internet adalah tempat di mana logika sering datang membawa koper, tetapi emosi sudah lebih dulu duduk di kursi paling depan.

Perdebatan memang memiliki dua wajah.

Wajah pertama adalah diskusi. Ini seperti bermain bulu tangkis bersama teman. Tujuannya bukan menghancurkan lawan, melainkan membuat reli semakin indah. Setiap pukulan membuat kedua pemain semakin terampil. Seusai pertandingan, mereka masih bisa makan bakso bersama.

Wajah kedua adalah pertengkaran.

Ini bukan lagi bermain bulu tangkis. Ini seperti bermain catur dengan seekor merpati.

Merpati itu akan mengacak-acak papan, menjatuhkan bidak, mengepakkan sayap ke mana-mana, lalu berjalan mondar-mandir sambil merasa dirinya juara dunia.

Yang lebih lucu, penonton memberi "like".

Di sinilah letak kebijaksanaan yang sering terlupakan. Menang tidak selalu berarti membuat lawan diam. Kadang kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil menjaga tekanan darah tetap normal.

Bukankah aneh kalau kita rela kehilangan ketenangan demi meyakinkan seseorang yang bahkan tidak berniat mendengarkan?

Itu seperti menyiram tanaman plastik setiap pagi. Airnya habis, tenaga terkuras, tetapi bunganya tetap sama: cantik karena pabrik, bukan karena kehidupan.

Media sosial membuat kita percaya bahwa setiap pendapat wajib ditanggapi. Padahal dunia ini penuh dengan pendapat yang nasib terbaiknya memang dibiarkan lewat begitu saja.

Bayangkan seorang nelayan.

Ia tahu tidak semua riak air berarti ada ikan.

Kalau setiap gelembung dikejar, bukan ikan yang didapat, melainkan pegal.

Begitu pula hidup.

Tidak semua komentar adalah undangan berdiskusi. Sebagian hanyalah umpan yang dilempar agar kita menggigitnya. Dan ironisnya, banyak orang menggigit umpan itu dengan penuh semangat, lalu marah karena ternyata itu memang kail.

Tentu saja, bukan berarti kita harus selalu menghindari perdebatan.

Kalau semua orang memilih diam setiap kali melihat ketidakadilan, dunia akan menjadi ruang tunggu yang sangat sopan menuju kekacauan.

Ada saatnya kita harus berbicara.

Ada saatnya kita harus membela kebenaran.

Ada saatnya kita harus mengatakan, "Ini keliru."

Tetapi bahkan seorang pemadam kebakaran pun memilih api mana yang harus dipadamkan lebih dahulu. Ia tidak membawa selang untuk memadamkan lilin ulang tahun.

Begitulah kebijaksanaan bekerja.

Bukan dengan menghindari semua konflik, melainkan dengan memilih konflik yang layak menghabiskan tenaga.

Masalah terbesar justru muncul ketika kita merasa diri paling dewasa.

Ironis sekali.

Kutipan itu meminta kita menilai apakah orang lain cukup matang untuk berdiskusi. Tetapi bukankah orang lain mungkin sedang bertanya hal yang sama tentang kita?

Jangan-jangan kita juga pernah menjadi "tembok" bagi orang lain.

Hanya saja tembok itu kebetulan bisa mengetik.

Kesadaran semacam ini penting. Sebab kerendahan hati adalah rem yang menjaga kecerdasan agar tidak melaju seperti truk tanpa rem di jalan menurun.

Mungkin karena itulah orang-orang yang benar-benar bijaksana tidak tampak sibuk memenangkan semua perdebatan.

Mereka lebih sibuk menjaga pikirannya tetap lapang.

Mereka tahu bahwa setiap energi memiliki harga.

Setiap kemarahan memungut bunga.

Setiap pertengkaran mengambil sedikit ruang dalam hati.

Dan hati, seperti baterai ponsel, tidak pernah benar-benar berkapasitas 100 persen sepanjang usia.

Maka gunakanlah ia dengan hemat.

Pada akhirnya, hidup terlalu pendek untuk berdebat dengan semua orang.

Kita masih punya keluarga yang harus dipeluk.

Teman yang harus didengar.

Buku yang belum selesai dibaca.

Doa yang belum khusyuk dipanjatkan.

Dan secangkir kopi yang jauh lebih layak mendapat perhatian daripada komentar seseorang yang bahkan tidak akan mengingat nama kita minggu depan.

Jadi, bila suatu hari Anda menemukan seseorang yang mengajak bertengkar di internet, tarik napas, tersenyumlah, lalu tanyakan pada diri sendiri:

"Apakah ini sebuah percakapan... atau hanya pertandingan adu keras kepala?"

Kalau jawabannya yang kedua, tidak perlu merasa kalah ketika memilih pergi.

Sebab kadang-kadang, langkah paling cerdas bukan maju menyerang.

Melainkan menutup aplikasi, meletakkan ponsel, lalu menikmati langit sore yang sama sekali tidak peduli siapa pemenang debat hari ini.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.