Ada kebiasaan unik manusia modern. Kalau bertemu orang pintar, pertanyaan pertama biasanya bukan, "Apa yang bisa saya pelajari darimu?" melainkan, "Lulus dari kampus mana?"
Kalau bertemu dokter, ditanya ijazahnya.
Kalau bertemu insinyur, ditanya proyeknya.
Kalau bertemu tukang bakso yang baksonya enak, bahkan
ditanya, "Ini pakai resep siapa?"
Seolah-olah kehebatan selalu harus memiliki riwayat
pendidikan yang panjang, daftar seminar yang menggunung, dan sertifikat yang
cukup banyak untuk dijadikan wallpaper ruang tamu.
Lalu sejarah menghadirkan seorang pribadi yang tidak belajar
di universitas, tidak membuka perpustakaan pribadi, tidak pernah mengikuti
lokakarya kepemimpinan, tetapi mampu mengubah arah peradaban dunia.
Di titik itulah logika kita mulai berkeringat.
Dalam tradisi tasawuf, Nabi Muhammad SAW bukan hanya
dipandang sebagai manusia yang baik. Itu terlalu sederhana. Beliau dipahami
sebagai insan kamil, manusia yang mencapai kesempurnaan sebagai hamba
Allah. Bukan sempurna karena ototnya besar, bukan pula karena pidatonya paling
viral, melainkan karena seluruh dimensi dirinya berada dalam harmoni.
Kalau manusia modern sering mengalami "buffering"
antara pikiran, hati, dan tindakan, pada diri Nabi semuanya seperti internet
berkecepatan cahaya.
Hati memahami.
Akal membenarkan.
Lisan menyampaikan.
Perbuatan membuktikan.
Tidak ada rapat koordinasi internal yang molor.
Lucunya, kita hidup pada zaman spesialisasi.
Ada orang yang IQ-nya mengagumkan, tetapi lupa menaruh kunci
motor yang sedang dipegangnya.
Ada yang sangat piawai berbicara tentang kesehatan mental,
tetapi panik ketika sinyal Wi-Fi hilang selama lima menit.
Ada pula yang hafal ribuan teori kepemimpinan, tetapi
kesulitan mengatur antrean parkir di acara keluarga.
Manusia memang sering unggul di satu sisi sambil jungkir
balik di sisi lainnya.
Nabi Muhammad justru digambarkan memiliki keseimbangan yang
mengagumkan.
Kecerdasannya bukan hanya rasional, tetapi juga spiritual.
Keberaniannya bukan sekadar fisik, tetapi juga moral.
Kasih sayangnya bukan hanya kepada sahabat, melainkan juga
kepada musuh yang suatu hari bisa berubah menjadi saudara.
Beliau seperti orkestra yang seluruh alat musiknya bermain selaras. Tidak ada genderang yang merasa dirinya lebih penting daripada seruling.
Dalam kitab-kitab sirah dan tasawuf diceritakan berbagai
keistimewaan beliau.
Beliau dapat melihat apa yang berada di belakang ketika
shalat tanpa harus menoleh.
Perjalanan Isra' Mi'raj memperlihatkan pengalaman yang
melampaui hukum kebiasaan.
Bahkan dalam riwayat disebutkan beliau pernah mengalahkan
pegulat tangguh bernama Rukanah.
Membaca kisah-kisah seperti ini kadang membuat kita
tersenyum kecil.
Bukan karena ingin membandingkan, melainkan karena menyadari
betapa manusia modern sering menganggap dirinya hebat hanya karena berhasil
menyelesaikan target sepuluh ribu langkah di aplikasi kesehatan.
Kita baru berjalan dua kilometer sudah mengunggahnya ke
media sosial lengkap dengan tangkapan layar.
Nabi berjalan untuk mengubah sejarah, tetapi tidak pernah membuat unggahan, "Alhamdulillah, hari ini langkah saya 12.000."
Yang paling menarik justru bukan mukjizatnya.
Yang lebih memikat adalah kerendahan hatinya.
Bayangkan.
Seandainya manusia zaman sekarang diberi kemampuan luar
biasa, kemungkinan besar bio media sosialnya akan berubah menjadi tiga halaman.
"Visioner."
"Master."
"Mentor."
"Founder."
"Spiritual Coach."
"Certified Everything."
Untung kolom biodata memiliki batas karakter.
Nabi Muhammad justru mengajarkan kalimat yang sangat
membumi:
"Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian."
Kalimat itu tampak sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan
pelajaran kepemimpinan yang sangat mahal.
Pemimpin sejati tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya tahu
segalanya.
Ia justru menciptakan ruang agar orang lain bertumbuh.
Ia tidak memonopoli kecerdasan.
Ia menumbuhkan kecerdasan.
Sayangnya, sebagian dari kita justru menganut teori yang
berkebalikan.
Semakin sedikit tahu, semakin keras volume suaranya.
Semakin banyak belajar, semakin banyak bertanya.
Barangkali karena ilmu memang membuat seseorang sadar bahwa lautan pengetahuan jauh lebih luas daripada ember yang dibawanya.
Tasawuf sebenarnya mengajak kita melihat kejeniusan dari
sudut yang berbeda.
Kejeniusan bukan sekadar cepat menghitung.
Bukan sekadar pandai berdebat.
Bukan pula kemampuan menghafal seluruh isi buku sambil minum
kopi tanpa gula.
Kejeniusan adalah ketika akal menjadi pelayan kebijaksanaan.
Ilmu menjadi pelayan akhlak.
Kekuatan menjadi pelayan kasih sayang.
Kalau ilmu diibaratkan mesin mobil, maka akhlak adalah
setirnya.
Mesin tanpa setir memang bisa melaju.
Masalahnya, kita tidak pernah tahu akan berhenti di taman kota atau di kolam tetangga.
Di zaman yang mengukur manusia dengan angka—nilai rapor,
jumlah pengikut, omzet, peringkat, dan statistik—kisah Nabi mengingatkan bahwa
kualitas manusia jauh lebih luas daripada apa yang dapat dihitung.
Ada kecerdasan hati.
Ada kejernihan niat.
Ada kelembutan budi.
Ada kemampuan memaafkan ketika memiliki kesempatan membalas.
Hal-hal semacam itu tidak pernah masuk dalam lembar nilai,
tetapi justru menentukan nilai seseorang.
Mungkin inilah ironi terbesar kehidupan modern.
Kita memiliki kalkulator yang semakin canggih, tetapi sering
kehilangan kemampuan menghitung nikmat.
Kita memiliki peta digital yang mampu menunjukkan jalan tercepat ke mana pun, tetapi kadang lupa jalan pulang menuju hati yang tenang.
Pada akhirnya, memuliakan Nabi Muhammad SAW bukanlah
perlombaan membuktikan betapa luar biasanya mukjizat beliau.
Mukjizat tentu memiliki tempatnya dalam keimanan.
Namun yang lebih penting adalah membiarkan akhlak beliau
menular ke dalam kehidupan kita.
Karena tidak semua orang bisa menjadi cerdas seperti Nabi.
Tidak semua orang bisa menjadi pemberani seperti Nabi.
Tetapi setiap orang bisa mulai belajar menjadi lebih jujur,
lebih lembut, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat.
Barangkali itulah pelajaran tasawuf yang paling membumi.
Shalawat bukan sekadar rangkaian kalimat yang meluncur dari
bibir.
Ia adalah kompas yang mengingatkan bahwa semakin seseorang
mencintai Nabi, semakin ia terdorong untuk meneladani akhlaknya.
Dan boleh jadi, ukuran keberhasilan hidup bukanlah seberapa
sering kita berhasil membuat orang berkata, "Hebat sekali!"
Melainkan seberapa sering kehadiran kita membuat orang lain
merasa, "Untung ada dia."
Kalau itu mulai tumbuh dalam diri kita, mungkin kita memang
belum menjadi manusia sempurna.
Tetapi setidaknya, kita sudah berjalan ke arah yang
benar—dan itu jauh lebih penting daripada sekadar sibuk menghitung berapa
langkah yang telah kita tempuh.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.