Tentang Penuaan, Ilusi, dan Keengganan Manusia Berdamai dengan Cermin
Ada usia ketika kita mulai curiga kepada dunia.
Bukan karena dunia semakin jahat, tetapi karena dunia
tampaknya ikut-ikutan usil.
Tangga yang dulu cuma sepuluh anak tangga sekarang rasanya
seperti jalur pendakian Gunung Semeru. Huruf koran mengecil tanpa izin. Nomor
telepon mendadak ditulis memakai semut sebagai font resmi. Kereta selalu
berangkat lebih cepat, padahal kita yakin dulu masinis masih sempat ngopi
sebelum meniup peluit.
Dunia ini jelas sedang mengerjai kita.
Begitulah, setidaknya menurut seorang kakek dalam monolog
humor Prancis yang dipopulerkan Philippe Noiret. Ia menyusun daftar panjang
"kejahatan dunia" terhadap dirinya dengan kesungguhan seorang jaksa
yang sedang membacakan dakwaan.
Sayangnya...
...terdakwa yang sebenarnya duduk diam di balik kaca cermin.
Manusia memang makhluk yang luar biasa kreatif.
Kalau masih muda, kita menyalahkan orang tua.
Kalau sudah tua, kita menyalahkan gravitasi.
Padahal gravitasi sejak zaman Nabi Adam tidak pernah
mengajukan revisi aturan.
Yang berubah hanyalah lutut kita.
Lucunya, menerima bahwa dunia berubah terasa lebih mudah
daripada menerima bahwa pinggang kita sekarang mengeluarkan bunyi
"krek" ketika berdiri.
Ego manusia rupanya seperti aplikasi yang selalu menolak
pembaruan sistem.
"Remind me tomorrow."
Besoknya muncul lagi.
"Remind me next week."
Lalu bertahun-tahun kemudian kita masih memakai versi lama sambil mengeluh mengapa hidup terasa lambat.
Penuaan sebenarnya bukan pencuri.
Ia lebih mirip petugas perpustakaan.
Datang perlahan, mengambil sedikit demi sedikit tenaga,
ketajaman mata, kecepatan langkah, lalu meninggalkan kita dengan sesuatu yang
lebih berharga: kesempatan memahami hidup.
Masalahnya, kita sering lebih sibuk menghitung buku yang
hilang daripada membaca kebijaksanaan yang masih tersisa.
Kita sibuk berkata,
"Dulu saya kuat naik tiga lantai."
Padahal yang lebih menarik adalah pertanyaan,
"Sekarang saya naik tiga lantai untuk apa?"
Usia memang mengurangi tenaga, tetapi seharusnya menambah alasan.
Ada satu bagian yang paling lucu sekaligus paling menyayat.
Narator itu melihat teman seusianya.
"Ya ampun... dia tua sekali."
Kalimat itu terdengar biasa.
Tetapi sesungguhnya itulah punchline terbaik.
Karena hanya manusia yang bisa memandang cermin dari
kejauhan tanpa sadar bahwa bayangan itu sedang melambai kepadanya.
Kita mudah melihat uban di kepala orang lain.
Yang di kepala sendiri kita sebut "efek
pencahayaan."
Perut tetangga disebut buncit.
Perut sendiri disebut "rezeki."
Teman mulai pikun.
Kalau kita lupa, alasannya karena sedang banyak pikiran.
Betapa murah hati manusia terhadap dirinya sendiri.
Psikologi menyebutnya denial.
Bahasa sehari-hari menyebutnya "belum siap."
Kita belum siap menerima bahwa sekarang membaca menu
restoran membutuhkan cahaya matahari, lampu LED, dan posisi tangan sejauh satu
meter.
Belum siap mengakui bahwa suara "kretek" ketika
jongkok ternyata bukan suara kursi.
Itu lutut.
Belum siap menerima bahwa tidur salah posisi sekarang bisa
menjadi topik pembicaraan selama tiga hari.
Ketika muda, kita bangun tidur langsung berlari.
Sekarang bangun tidur saja perlu rapat koordinasi antar-persendian.
Yang menarik, penuaan selalu datang dengan sopan.
Ia tidak mengetuk pintu sambil berteriak,
"Halo! Saya tua!"
Tidak.
Ia datang diam-diam.
Awalnya kita mulai memilih kursi yang ada sandarannya.
Lalu mulai memperhatikan tempat parkir yang dekat pintu.
Kemudian mulai mengeluh AC terlalu dingin.
Sesudah itu...
Kita mulai mengatakan kalimat legendaris.
"Dulu di sini belum ada apa-apa."
Kalimat itu adalah sertifikat tidak resmi bahwa seseorang telah hidup cukup lama untuk menjadi saksi sejarah.
Ironinya, manusia modern rela menghabiskan jutaan rupiah
untuk tampak sepuluh tahun lebih muda.
Krim wajah.
Vitamin.
Kolagen.
Laser.
Botox.
Filter kamera.
Aplikasi penghalus wajah.
Pokoknya semua dicoba.
Sementara umur tetap berjalan santai sambil menyeruput kopi.
Waktu mungkin melihat semua itu sambil tertawa kecil.
"Silakan saja mengecat pagar. Matahari tetap terbit
dari timur."
Tidak ada salahnya merawat diri.
Tetapi ada bedanya antara merawat rumah dengan berpura-pura rumah itu baru dibangun kemarin.
Sesungguhnya yang membuat tua terasa berat bukan keriput.
Melainkan perasaan bahwa kita harus tetap menjadi orang yang
sama seperti dua puluh tahun lalu.
Padahal sungai yang sehat justru selalu mengalir.
Bayangkan jika sungai berkata,
"Saya ingin tetap menjadi air yang sama seperti
kemarin."
Itu bukan sungai.
Itu kolam.
Manusia pun demikian.
Yang membuat kita hidup bukan karena tidak berubah, melainkan karena mampu berubah tanpa kehilangan arah.
Penuaan adalah guru yang mengajar tanpa papan tulis.
Pelajarannya sederhana.
Tubuh boleh melambat.
Hati jangan.
Langkah boleh pendek.
Pandangan sebaiknya semakin jauh.
Tenaga boleh berkurang.
Syukur semestinya bertambah.
Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan siapa yang
paling lama tampak muda.
Melainkan siapa yang paling anggun menerima bahwa setiap
musim memiliki keindahannya sendiri.
Bunga sakura tidak iri kepada pohon beringin.
Matahari senja tidak malu karena tidak seterang matahari
pagi.
Mengapa manusia justru sering malu menjadi tua, padahal itu adalah satu-satunya tanda bahwa ia berhasil terus hidup?
Mungkin suatu hari nanti kita juga akan berkata,
"Entah kenapa tangga sekarang tinggi sekali."
Anak-anak kita akan tersenyum kecil.
Lalu diam-diam menawarkan lengan mereka.
Dan semoga, pada saat itu, kita tidak sibuk menyalahkan
arsitek.
Kita cukup tertawa.
Karena akhirnya kita mengerti bahwa tangga itu tidak pernah
bertambah tinggi.
Yang bertambah adalah cerita yang dibawa lutut kita setiap
kali menaikinya.
Dan bukankah hidup memang seperti itu?
Semakin panjang perjalanan, semakin banyak bunyi
"krek" yang ternyata bukan tanda kehancuran, melainkan tepuk tangan
halus dari waktu yang berkata,
"Selamat... Anda sudah sampai sejauh ini."
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.