Tentang Orang yang Tidak Pernah Menang, tetapi Tidak Pernah Bisa Dikalahkan
Ada satu jenis manusia yang membuat dunia modern gelisah.
Bukan karena ia kaya raya, bukan pula karena ia menjadi influencer dengan
jutaan pengikut yang rajin mengunggah foto kopi sambil berpikir berat. Ia
justru mengganggu karena tidak tertarik ikut lomba yang sedang diikuti semua
orang.
Namanya Ivan.
Gelar resminya bahkan tidak keren: Ivan the Fool—Ivan
Si Bodoh.
Kalau hidup di zaman sekarang, kemungkinan besar Ivan akan
gagal lolos wawancara kerja karena terlalu jujur, gagal menjadi selebgram
karena tidak tahu angle kamera, dan gagal menjadi buzzer karena setiap kali
diminta menyerang orang lain ia malah bertanya, "Memangnya kenapa harus
marah?"
Di mata dunia, Ivan jelas proyek yang gagal. Namun di mata Tolstoy, justru dialah satu-satunya proyek yang berhasil.
Dua saudara Ivan adalah contoh manusia yang sangat cocok
menjadi pelanggan tetap seminar motivasi.
Yang satu mengejar kekuasaan.
Yang lain mengejar kekayaan.
Kalau ada webinar berjudul "Cara Menguasai Dunia
dalam Lima Langkah Mudah", mereka sudah membeli tiket VIP sejak masih
tahap early bird. Mereka percaya hidup adalah perlombaan. Siapa paling
tinggi jabatannya, paling banyak hartanya, paling sering muncul di berita,
dialah pemenangnya.
Setan tentu saja senang.
Ibarat penjual gorengan melihat hujan sore, peluang bisnis
terbuka lebar.
Menggoda mereka bahkan tidak perlu kreativitas tinggi. Cukup
bisikkan, "Tetanggamu lebih sukses."
Selesai.
Manusia akan mengerjakan sisanya sendiri.
Lalu datanglah Ivan.
Setan menggosok tangan.
Korban berikutnya.
Namun lima menit kemudian para setan mulai saling
berpandangan.
"Bingung?"
"Iya."
"Kok dia malah pergi mencangkul?"
"Coba tawarkan emas."
"Ditolak."
"Coba tawarkan jabatan."
"Katanya repot."
"Coba tawarkan ketenaran."
"Dia bertanya, 'Kalau terkenal apakah sawah otomatis
tercangkul?'"
Akhirnya salah satu setan menyerah sambil mengucapkan
kalimat yang sangat menyakitkan bagi profesinya:
"Aku tidak bisa menghadapi orang ini. Dia tidak
bermain permainan yang kami kenal."
Bayangkan menjadi setan yang pulang membawa laporan seperti
itu.
Bos besar mungkin langsung bertanya, "Targetnya
bagaimana?"
"Dia... tidak tertarik."
"Dikasih uang?"
"Dia bilang cukup."
"Dikasih kuasa?"
"Dia malah menyuruh saya ikut makan siang."
Dalam dunia iblis, kegagalan seperti ini mungkin setara sales pulang dari pameran tanpa satu pun brosur habis dibagikan.
Tolstoy rupanya sedang mengolok-olok sesuatu yang jauh lebih
besar daripada setan.
Ia sedang mengejek permainan dunia.
Permainan yang aturannya sederhana.
Kalau tetangga membeli mobil, kita ingin membeli dua.
Kalau teman mendapat promosi, kita tiba-tiba merasa hidup
gagal.
Kalau ada orang liburan ke Swiss, kita mendadak menganggap
pemandangan sawah dekat rumah sebagai kegagalan tata ruang nasional.
Permainan ini aneh.
Semua orang berlari.
Tidak semua tahu garis finisnya di mana.
Yang penting jangan kalah dari orang lain.
Ironisnya, setelah menang pun masih gelisah karena takut
besok ada yang menang lebih besar.
Rupanya kompetisi modern adalah treadmill psikologis: capeknya nyata, perpindahannya imajiner.
Ivan tidak anti uang.
Ia hanya tidak mau menjadikan uang sebagai agama.
Ia tidak anti bekerja keras.
Justru ia bekerja paling keras.
Yang ia tolak hanyalah keyakinan bahwa nilai manusia
ditentukan oleh angka di rekening, ukuran rumah, atau jumlah orang yang menekan
tombol suka.
Di zaman sekarang, sikap seperti ini sering dianggap
mencurigakan.
"Kenapa dia tidak haus jabatan?"
"Jangan-jangan malas."
"Kenapa dia tidak pamer?"
"Mungkin tidak punya apa-apa."
Padahal bisa jadi ia hanya sedang menikmati hidup tanpa harus mengumumkannya kepada seluruh penghuni internet.
Yang paling lucu dari kisah ini adalah kenyataan bahwa dunia
selalu salah memberi label.
Orang paling rakus disebut ambisius.
Orang paling sibuk disebut produktif.
Orang paling tenang disebut tidak punya target.
Dan orang yang tidak mau ikut perlombaan disebut... bodoh.
Padahal mungkin ia hanya sudah membaca buku petunjuk
kehidupan sampai halaman terakhir.
Ia tahu bahwa trofi terbesar sering kali hanyalah pajangan
yang harus dibersihkan dari debu.
Sementara tidur nyenyak setiap malam tidak membutuhkan lemari kaca.
Mungkin inilah sebabnya Tolstoy memilih tokohnya bernama
Ivan Si Bodoh, bukan Ivan Si Jenius.
Karena kebijaksanaan sering datang dengan penyamaran yang
buruk.
Ia tidak mengenakan jas mahal.
Tidak berbicara menggunakan istilah-istilah rumit.
Tidak membawa presentasi penuh grafik.
Ia hanya datang membawa cangkul, hati yang cukup, dan
kemampuan langka untuk berkata, "Sudah, segini juga baik."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi bagi dunia yang hidup dari rasa kurang, ia terdengar seperti revolusi.
Barangkali, di akhir zaman nanti, yang paling bingung
bukanlah manusia, melainkan para setan.
Mereka sudah menyiapkan godaan berupa uang, kuasa,
popularitas, dan persaingan tanpa akhir.
Lalu tiba-tiba muncul orang-orang seperti Ivan yang berkata
dengan santai,
"Terima kasih, tetapi saya sedang sibuk menanam kentang
dan menikmati hidup."
Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, bukan manusianya
yang kalah oleh godaan.
Melainkan godaannya yang pulang dengan wajah murung, sambil
mengisi formulir mutasi karena target penjualan ambisi tidak pernah tercapai.
Begitulah. Kadang-kadang, cara paling cerdas untuk
memenangkan hidup bukanlah menjadi pemain terbaik.
Melainkan cukup menjadi orang yang sopan mengatakan, "Maaf,
saya tidak ikut main."
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.