Selasa, 14 Juli 2026

Medioker Naik Takhta: Ketika Isi Kepala Kalah oleh Isi FYP

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa zaman sekarang seseorang bisa terkenal hanya karena berhasil membuka tutup botol dengan alis? Atau karena mampu mengulas kehidupan dengan kalimat sedalam, "Yang penting vibes-nya positif." Entah harus kagum atau mencari colokan untuk mencabut internet.

Kalau filsuf Kanada Alain Deneault masih sering membuka media sosial, mungkin beliau akan menutup aplikasi itu sambil menghela napas sepanjang Sungai St. Lawrence. Dalam bukunya La Médiocratie, ia berpendapat bahwa kita sedang hidup di era ketika mediokritas bukan lagi sekadar tamu yang numpang lewat. Ia sudah menjadi pemilik rumah, mengganti gorden, bahkan mengatur playlist ruang tamu.

Dulu orang menjadi terkenal karena menemukan teori gravitasi. Sekarang cukup menemukan sudut kamera yang membuat dagu tampak satu.

Begitulah hidup berkembang.

Atau mungkin... menyusut.

Deneault bukan sedang marah kepada orang yang biasa-biasa saja. Ia sedang mengkritik sebuah sistem yang membuat "biasa-biasa saja" menjadi standar emas. Dalam sistem ini, yang penting bukan lagi apakah gagasan Anda benar, melainkan apakah thumbnail-nya mencolok. Isi boleh kosong, asal judulnya pakai huruf kapital semua dan disertai tiga tanda seru.

Bayangkan sebuah restoran.

Dulu orang datang karena masakannya enak. Kini sebagian pengunjung lebih sibuk memotret makanannya daripada memakannya. Bahkan ada makanan yang dingin karena terlalu lama menjadi model pemotretan. Soto akhirnya pensiun sebagai makanan dan beralih profesi menjadi properti fotografi.

Begitulah nasib gagasan di era digital.

Kadang-kadang ide hanya dipakai sebagai garnish.

Media sosial sebenarnya seperti pasar malam raksasa. Semua orang berteriak bersamaan menawarkan dagangannya. Ada yang menjual ilmu, ada yang menjual pengalaman, ada yang menjual kursus menjadi miliarder sebelum umur dua puluh lima, padahal usianya sendiri baru dua puluh empat dan masih menumpang Wi-Fi tetangga.

Di pasar seramai itu, suara yang paling nyaring sering terdengar paling benar.

Padahal toa dan kebijaksanaan bukan saudara kandung.

Algoritma juga makhluk yang lucu. Ia tidak pernah bertanya, "Apakah ini benar?" Yang ia tanyakan hanyalah, "Apakah orang akan berhenti menggulir layar selama lima detik?"

Jika jawabannya ya, silakan lewat.

Kalau tidak, meskipun isinya hasil perenungan tiga puluh tahun, mohon antre di belakang video kucing yang gagal meloncat ke meja.

Ironisnya, kita sering ikut bermain dalam perlombaan ini. Kita membuka media sosial dengan niat mencari ilmu, lalu dua jam kemudian justru hafal kisah perceraian orang yang tidak pernah kita kenal. Otak kita seperti pergi membeli buku ke perpustakaan, tetapi pulang membawa balon dan jagung bakar.

Deneault menyebut keadaan ini sebagai kemenangan mediokritas. Saya membayangkannya seperti lomba lari maraton yang dimenangkan oleh peserta yang naik ojek. Bukan karena ia paling kuat, tetapi karena aturan perlombaannya diam-diam sudah berubah.

Namun, mari kita berlaku adil.

Tidak semua yang ringan itu dangkal.

Secangkir teh tidak harus mengandung teori relativitas agar bisa dinikmati. Humor tidak wajib disertai catatan kaki. Video memasak tidak harus mengutip Aristoteles sebelum menumis bawang.

Masalahnya muncul ketika semua hal dipaksa menjadi hiburan instan. Ketika diskusi harus dipadatkan menjadi lima belas detik. Ketika membaca buku dianggap terlalu melelahkan, tetapi menghabiskan empat jam menonton drama komentar justru disebut "healing."

Kita akhirnya hidup seperti restoran cepat saji intelektual.

Semua serba cepat.

Cepat membaca.

Cepat menyimpulkan.

Cepat marah.

Cepat lupa.

Yang lambat tinggal satu: berpikir.

Ada pula gejala baru yang menarik. Orang kini lebih takut kehilangan sinyal daripada kehilangan rasa ingin tahu. Baterai ponsel tinggal satu persen bisa memicu kepanikan nasional dalam diri seseorang, tetapi rasa penasaran terhadap sebuah buku sering kali meninggal dunia bahkan sebelum halaman pertama dibuka.

Padahal pengetahuan itu seperti menanam pohon mangga. Ia tumbuh perlahan, akarnya diam-diam bekerja, buahnya baru muncul setelah sabar dipelihara.

Media sosial lebih suka menjual biji mangga yang sudah diberi label: "Panen dalam tiga menit."

Sayangnya, yang tumbuh biasanya bukan mangga.

Melainkan kekecewaan.

Meski begitu, saya tidak sepenuhnya sepesimis Deneault. Di balik lautan konten receh, masih banyak orang yang diam-diam membaca, menulis, berdiskusi, dan berpikir. Mereka mungkin tidak viral. Tidak muncul di halaman rekomendasi. Tidak diundang menjadi bintang tamu acara gosip.

Tetapi mereka seperti akar pohon.

Jarang difoto.

Jarang dipuji.

Namun justru merekalah yang menjaga pohon tetap berdiri.

Mungkin memang beginilah zaman bekerja. Dunia selalu gaduh, hanya pengeras suaranya yang berganti model. Dahulu gosip menyebar lewat sumur kampung. Kini ia bepergian dengan kecepatan internet. Dulu orang berdebat di warung kopi. Kini mereka berdebat di kolom komentar dengan keberanian yang hanya muncul karena foto profilnya bergambar pemandangan.

Yang perlu kita jaga bukanlah nostalgia terhadap masa lalu, melainkan kemampuan untuk tetap waras di tengah kebisingan. Tidak semua yang ramai layak dipercaya. Tidak semua yang sepi tidak berharga.

Sebab kualitas sering kali berjalan kaki.

Popularitas biasanya naik motor.

Dan algoritma... ia hanya menjadi polisi lalu lintas yang lebih suka memberi jalan kepada kendaraan yang paling berisik membunyikan klakson.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah dunia dipenuhi orang medioker. Medioker selalu ada sejak manusia pertama kali membandingkan hasil berburu sambil membual.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita rela membiarkan diri ikut hanyut?

Karena menjadi dangkal itu seperti mi instan—cepat matang, aromanya menggoda, tetapi kalau dimakan setiap hari, lama-lama tubuh protes.

Sebaliknya, menjadi manusia yang terus belajar ibarat memasak rendang.

Butuh waktu.

Butuh kesabaran.

Kadang membuat mata pedih karena bawangnya.

Tetapi ketika matang, aromanya bertahan jauh lebih lama daripada sensasi FYP yang umurnya bahkan kalah panjang dari baterai ponsel.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.