Pernahkah Anda memperhatikan bahwa zaman sekarang seseorang bisa terkenal hanya karena berhasil membuka tutup botol dengan alis? Atau karena mampu mengulas kehidupan dengan kalimat sedalam, "Yang penting vibes-nya positif." Entah harus kagum atau mencari colokan untuk mencabut internet.
Kalau filsuf Kanada Alain Deneault masih sering membuka
media sosial, mungkin beliau akan menutup aplikasi itu sambil menghela napas
sepanjang Sungai St. Lawrence. Dalam bukunya La Médiocratie, ia
berpendapat bahwa kita sedang hidup di era ketika mediokritas bukan lagi
sekadar tamu yang numpang lewat. Ia sudah menjadi pemilik rumah, mengganti
gorden, bahkan mengatur playlist ruang tamu.
Dulu orang menjadi terkenal karena menemukan teori
gravitasi. Sekarang cukup menemukan sudut kamera yang membuat dagu tampak satu.
Begitulah hidup berkembang.
Atau mungkin... menyusut.
Deneault bukan sedang marah kepada orang yang biasa-biasa
saja. Ia sedang mengkritik sebuah sistem yang membuat "biasa-biasa
saja" menjadi standar emas. Dalam sistem ini, yang penting bukan lagi
apakah gagasan Anda benar, melainkan apakah thumbnail-nya mencolok. Isi boleh
kosong, asal judulnya pakai huruf kapital semua dan disertai tiga tanda seru.
Bayangkan sebuah restoran.
Dulu orang datang karena masakannya enak. Kini sebagian
pengunjung lebih sibuk memotret makanannya daripada memakannya. Bahkan ada
makanan yang dingin karena terlalu lama menjadi model pemotretan. Soto akhirnya
pensiun sebagai makanan dan beralih profesi menjadi properti fotografi.
Begitulah nasib gagasan di era digital.
Kadang-kadang ide hanya dipakai sebagai garnish.
Media sosial sebenarnya seperti pasar malam raksasa. Semua
orang berteriak bersamaan menawarkan dagangannya. Ada yang menjual ilmu, ada
yang menjual pengalaman, ada yang menjual kursus menjadi miliarder sebelum umur
dua puluh lima, padahal usianya sendiri baru dua puluh empat dan masih
menumpang Wi-Fi tetangga.
Di pasar seramai itu, suara yang paling nyaring sering
terdengar paling benar.
Padahal toa dan kebijaksanaan bukan saudara kandung.
Algoritma juga makhluk yang lucu. Ia tidak pernah bertanya,
"Apakah ini benar?" Yang ia tanyakan hanyalah, "Apakah orang
akan berhenti menggulir layar selama lima detik?"
Jika jawabannya ya, silakan lewat.
Kalau tidak, meskipun isinya hasil perenungan tiga puluh
tahun, mohon antre di belakang video kucing yang gagal meloncat ke meja.
Ironisnya, kita sering ikut bermain dalam perlombaan ini.
Kita membuka media sosial dengan niat mencari ilmu, lalu dua jam kemudian
justru hafal kisah perceraian orang yang tidak pernah kita kenal. Otak kita
seperti pergi membeli buku ke perpustakaan, tetapi pulang membawa balon dan
jagung bakar.
Deneault menyebut keadaan ini sebagai kemenangan
mediokritas. Saya membayangkannya seperti lomba lari maraton yang dimenangkan
oleh peserta yang naik ojek. Bukan karena ia paling kuat, tetapi karena aturan
perlombaannya diam-diam sudah berubah.
Namun, mari kita berlaku adil.
Tidak semua yang ringan itu dangkal.
Secangkir teh tidak harus mengandung teori relativitas agar
bisa dinikmati. Humor tidak wajib disertai catatan kaki. Video memasak tidak
harus mengutip Aristoteles sebelum menumis bawang.
Masalahnya muncul ketika semua hal dipaksa menjadi hiburan
instan. Ketika diskusi harus dipadatkan menjadi lima belas detik. Ketika
membaca buku dianggap terlalu melelahkan, tetapi menghabiskan empat jam
menonton drama komentar justru disebut "healing."
Kita akhirnya hidup seperti restoran cepat saji intelektual.
Semua serba cepat.
Cepat membaca.
Cepat menyimpulkan.
Cepat marah.
Cepat lupa.
Yang lambat tinggal satu: berpikir.
Ada pula gejala baru yang menarik. Orang kini lebih takut
kehilangan sinyal daripada kehilangan rasa ingin tahu. Baterai ponsel tinggal
satu persen bisa memicu kepanikan nasional dalam diri seseorang, tetapi rasa
penasaran terhadap sebuah buku sering kali meninggal dunia bahkan sebelum
halaman pertama dibuka.
Padahal pengetahuan itu seperti menanam pohon mangga. Ia
tumbuh perlahan, akarnya diam-diam bekerja, buahnya baru muncul setelah sabar
dipelihara.
Media sosial lebih suka menjual biji mangga yang sudah
diberi label: "Panen dalam tiga menit."
Sayangnya, yang tumbuh biasanya bukan mangga.
Melainkan kekecewaan.
Meski begitu, saya tidak sepenuhnya sepesimis Deneault. Di
balik lautan konten receh, masih banyak orang yang diam-diam membaca, menulis,
berdiskusi, dan berpikir. Mereka mungkin tidak viral. Tidak muncul di halaman
rekomendasi. Tidak diundang menjadi bintang tamu acara gosip.
Tetapi mereka seperti akar pohon.
Jarang difoto.
Jarang dipuji.
Namun justru merekalah yang menjaga pohon tetap berdiri.
Mungkin memang beginilah zaman bekerja. Dunia selalu gaduh,
hanya pengeras suaranya yang berganti model. Dahulu gosip menyebar lewat sumur
kampung. Kini ia bepergian dengan kecepatan internet. Dulu orang berdebat di
warung kopi. Kini mereka berdebat di kolom komentar dengan keberanian yang
hanya muncul karena foto profilnya bergambar pemandangan.
Yang perlu kita jaga bukanlah nostalgia terhadap masa lalu,
melainkan kemampuan untuk tetap waras di tengah kebisingan. Tidak semua yang
ramai layak dipercaya. Tidak semua yang sepi tidak berharga.
Sebab kualitas sering kali berjalan kaki.
Popularitas biasanya naik motor.
Dan algoritma... ia hanya menjadi polisi lalu lintas yang
lebih suka memberi jalan kepada kendaraan yang paling berisik membunyikan
klakson.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah dunia dipenuhi
orang medioker. Medioker selalu ada sejak manusia pertama kali membandingkan
hasil berburu sambil membual.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita rela
membiarkan diri ikut hanyut?
Karena menjadi dangkal itu seperti mi instan—cepat matang,
aromanya menggoda, tetapi kalau dimakan setiap hari, lama-lama tubuh protes.
Sebaliknya, menjadi manusia yang terus belajar ibarat
memasak rendang.
Butuh waktu.
Butuh kesabaran.
Kadang membuat mata pedih karena bawangnya.
Tetapi ketika matang, aromanya bertahan jauh lebih lama
daripada sensasi FYP yang umurnya bahkan kalah panjang dari baterai ponsel.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.