Selasa, 14 Juli 2026

Menunggu Diri Sendiri di Bangku Taman: Ketika Jiwa Ketinggalan Kereta Ekspres Kesuksesan

Konon ada dua jenis orang di taman kota. Yang pertama datang untuk olahraga. Yang kedua datang untuk memberi makan burung merpati. Lalu ada jenis ketiga yang jauh lebih misterius: seorang kakek yang setiap sore duduk diam di bangku tua sambil memandangi matahari tenggelam. Tidak membaca koran, tidak bermain ponsel, tidak membuat konten "healing sore hari" lengkap dengan musik piano yang membuat penonton ikut merasa sedang mencicil cicilan.

Seorang pemuda yang penuh semangat akhirnya bertanya, "Kakek sedang menunggu siapa?"

Jawaban sang kakek terdengar seperti kalimat yang salah kirim dari grup filsafat.

"Aku sedang menunggu diriku sendiri."

Pemuda itu mungkin sempat mengecek apakah bangku itu terlalu panas sehingga memengaruhi kewarasan penghuninya. Tetapi kakek itu melanjutkan dengan tenang. Sepanjang hidup ia terlalu sibuk berlari mengejar uang, jabatan, kesuksesan, dan segala sesuatu yang katanya penting. Ia berlari begitu cepat hingga jiwanya tertinggal jauh di belakang. Sekarang, setelah napas mulai lebih pendek daripada daftar penyesalan, ia memilih duduk diam, berharap jiwanya akhirnya berhasil menyusul.

Ironisnya, cerita ini terasa lucu karena terlalu dekat dengan kehidupan kita.

Hari ini manusia modern bangun bukan karena ayam berkokok, melainkan karena alarm yang bunyinya seperti petugas penagih utang. Begitu mata terbuka, tangan otomatis mencari ponsel. Belum sempat mengucek mata, sudah melihat teman SMA membeli rumah, teman kuliah liburan ke Islandia, tetangga membuka bisnis baru, dan seseorang yang entah siapa mendadak menjadi miliarder hanya karena menjual minuman rasa stroberi dengan nama yang panjangnya mengalahkan doa bala.

Akhirnya kita pun ikut berlari.

Masalahnya, kita sering lupa bertanya: sebenarnya lombanya siapa?

Lucunya lagi, manusia adalah satu-satunya makhluk yang rela mengorbankan kesehatan demi mencari uang, lalu menghabiskan uang demi mengembalikan kesehatan. Kita bekerja lembur supaya suatu hari bisa menikmati hidup, tetapi ketika hari itu datang, dokter malah berkata, "Silakan kurangi stres."

Stresnya sudah menjadi penghuni tetap.

Budaya hustle memang menjanjikan kehidupan yang gemerlap. Slogannya terdengar gagah: kerja keras sekarang, nikmati hasilnya nanti.

Sayangnya, kata "nanti" itu elastis seperti karet gelang.

Saat masih muda, kita berkata, "Nanti setelah lulus."

Sesudah lulus berubah menjadi, "Nanti setelah dapat pekerjaan."

Lalu berganti lagi menjadi, "Nanti setelah promosi."

Berikutnya, "Nanti setelah punya rumah."

Kemudian, "Nanti setelah anak besar."

Pada akhirnya, kata "nanti" pensiun lebih lambat daripada pemiliknya.

Parabel tentang bangku taman itu sebenarnya sedang mengolok-olok kebiasaan kita memperlakukan masa depan seperti restoran mewah yang selalu menerima reservasi. Kita yakin kebahagiaan tersedia di sana, tinggal datang sesuai jadwal. Padahal ketika tiba, restorannya ternyata sedang direnovasi.

Di sinilah letak kelucuannya.

Kita begitu sibuk membangun kehidupan sampai lupa menghuninya.

Rumah megah selesai dibangun, tetapi penghuninya selalu rapat.

Mobil sudah berganti tiga kali, tetapi jalan-jalan selalu ditunda.

Kopi mahal dibeli agar bisa bekerja lebih lama, bukan agar bisa menikmati aromanya.

Bahkan liburan pun berubah menjadi proyek. Alih-alih menikmati pantai, kita sibuk mencari sudut terbaik agar orang lain percaya bahwa kita sedang menikmati pantai.

Jangan-jangan matahari terbenam sekarang merasa minder. Ia harus bersaing dengan kamera depan.

Secara psikologis, kisah sang kakek sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius: alienasi diri. Tubuh hadir di ruang rapat, pikiran sudah berada di target bulan depan, hati masih tertinggal di masa lalu, sementara jiwa entah sedang macet di jalan mana.

Lengkap sudah. Satu orang dihuni empat zona waktu.

Para filsuf menyebutnya keterasingan. Orang Jawa mungkin cukup berkata, "Ora nggenah."

Kita menjadi asing bagi diri sendiri. Kita hafal target tahunan perusahaan, tetapi lupa kapan terakhir kali tertawa tanpa alasan. Kita tahu harga saham naik turun, tetapi tidak tahu kapan terakhir kali duduk tanpa merasa bersalah karena sedang tidak produktif.

Produktivitas memang penting. Namun jika setiap menit harus menghasilkan sesuatu, kapan hidup sempat bernapas?

Bayangkan kalau bunga matahari dipaksa berbunga dua puluh empat jam sehari. Mungkin ia akan protes kepada Tuhan sambil membawa surat dari serikat pekerja tanaman.

Manusia pun demikian.

Istirahat bukan kemalasan. Ia adalah bengkel tempat jiwa mengganti oli.

Barangkali itulah sebabnya sang kakek memilih bangku taman. Bangku tidak pernah terburu-buru. Ia tidak iri kepada kursi direktur. Ia tidak bermimpi menjadi sofa premium. Ia cukup menjadi tempat orang berhenti sejenak.

Betapa bijaksananya sepotong kayu dibanding sebagian manusia.

Pada akhirnya, cerita ini bukan mengajak kita berhenti bekerja, apalagi mengubah taman kota menjadi tempat pensiunan filosof berkumpul sambil mengeluh tentang harga cabai. Pesannya jauh lebih sederhana.

Berlarilah jika memang harus berlari.

Bercita-citalah setinggi langit.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.

Tetapi sesekali, lihatlah ke belakang.

Pastikan ada sesuatu yang ikut berlari bersama kita.

Kalau ternyata yang tertinggal bukan dompet, bukan ponsel, melainkan jiwa sendiri, mungkin sudah waktunya mencari bangku taman terdekat.

Duduklah sebentar.

Tarik napas.

Nikmati angin.

Dan bila suatu hari seseorang bertanya, "Sedang menunggu siapa?"

Semoga kita bisa menjawab sambil tersenyum, "Tidak sedang menunggu siapa-siapa. Syukurlah, kali ini aku dan jiwaku datang bersama."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.