Ada satu penyakit yang diam-diam menjadi wabah zaman modern. Bukan flu, bukan demam berdarah, apalagi alergi melihat mantan menikah. Penyakit itu bernama "sindrom nanti kalau sudah..."
"Nanti kalau sudah kaya, aku bahagia."
"Nanti kalau sudah naik jabatan, hidupku tenang."
"Nanti kalau sudah punya rumah, mobil, lima rekening,
tujuh kartu kredit, dan kopi buatan barista yang hafal nama panggilanku,
barulah hidup terasa lengkap."
Masalahnya, kata "nanti" itu seperti horizon.
Dikejar secepat apa pun, ia selalu mundur beberapa langkah sambil tertawa
kecil.
Leo Tolstoy tampaknya sudah mengenali gejala ini jauh
sebelum manusia sibuk mengejar flash sale dan followers. Ia
menyindir empat benda yang sering dipuja manusia: kerakusan, syahwat,
kekuasaan, dan kemuliaan duniawi. Kalau diterjemahkan ke bahasa masa kini,
mungkin bunyinya begini: makan sampai aplikasi diet menyerah, mengejar sensasi
tanpa henti, berebut kursi yang empuk, lalu sibuk memastikan semua orang tahu
bahwa kursi itu memang empuk.
Manusia memang makhluk kreatif. Kita bahkan mampu mengubah
hidup menjadi perlombaan yang hadiahnya belum tentu kita inginkan.
Lucunya, setelah menang pun kita sering bingung.
Seperti anjing yang berhasil mengejar mobil. Setelah mobil
berhenti, ia mendadak berpikir, "Sekarang diapakan?"
Begitulah banyak ambisi bekerja. Kita mengejarnya
mati-matian, lalu ketika berhasil, ternyata kebahagiaan hanya mampir sebentar
seperti tamu yang salah alamat.
Tolstoy tidak sedang melarang manusia makan enak, mencintai
pasangan, bekerja keras, atau sukses. Kalau semua itu dilarang, restoran akan
bangkrut, pernikahan tinggal kenangan, dan motivator kehilangan mata
pencaharian.
Yang ia persoalkan adalah ketika semua itu berubah menjadi
agama baru.
Hari ini kita punya "kiblat" yang jumlahnya lebih
banyak daripada pusat perbelanjaan. Ada yang menyembah angka di rekening, ada
yang beribadah kepada jumlah likes, ada yang khusyuk memandangi grafik
investasi setiap lima menit seolah-olah layar ponsel bisa memberi wahyu.
Ironisnya, semakin banyak fasilitas yang mempermudah hidup,
semakin sedikit waktu yang kita miliki untuk benar-benar hidup.
Ponsel pintar membuat kita lupa bahwa pemiliknya kadang
tidak ikut menjadi pintar.
Jam tangan kini bisa mengukur detak jantung, kadar oksigen,
kualitas tidur, bahkan mengingatkan kita untuk berdiri. Sayangnya, belum ada
jam tangan yang bergetar sambil berkata, "Maaf, ego Anda mulai membesar.
Mohon segera diperbarui."
Padahal, itulah yang dimaksud Tolstoy dengan mengolah jiwa.
Mengolah jiwa bukan berarti harus pindah ke gunung, memakai
jubah putih, lalu berbicara pelan kepada kupu-kupu.
Mengolah jiwa justru dimulai dari hal-hal yang sangat
membumi.
Bisa tersenyum ketika orang lain berhasil.
Bisa meminta maaf tanpa mencari seribu alasan.
Bisa berhenti berdebat meski sebenarnya kita sudah
menyiapkan dua belas tangkapan layar sebagai bukti.
Bisa makan secukupnya tanpa merasa prasmanan adalah
pertandingan balas dendam kepada pemilik katering.
Jiwa ternyata tidak tumbuh karena banyak dipuji.
Ia tumbuh karena sering dikoreksi.
Tolstoy sendiri berbicara dari pengalaman. Ia bukan orang
yang iri melihat orang kaya dari balik pagar. Ia sendiri adalah orang kaya. Ia
sudah mencicipi ketenaran, kekuasaan sosial, penghormatan, dan segala kemewahan
yang bisa dibeli uang. Anehnya, justru setelah memiliki semuanya, ia menemukan
bahwa hatinya tetap bisa kosong.
Ini seperti membeli koper paling mahal, lalu sadar bahwa
koper itu kosong karena memang belum pernah diisi perjalanan yang bermakna.
Zaman sekarang, kekosongan itu sering disamarkan dengan
kesibukan.
Kalender penuh.
Notifikasi ramai.
Grup WhatsApp tidak pernah tidur.
Email berdatangan.
Tetapi ketika listrik padam dan sinyal hilang, kita mendadak
berhadapan dengan seseorang yang sudah lama tidak diajak bicara: diri sendiri.
Dan ternyata percakapan itu sering terasa canggung.
Barangkali karena selama ini kita lebih mengenal algoritma
daripada isi hati.
Lebih hafal kata sandi Wi-Fi daripada alasan mengapa kita
bekerja sekeras ini.
Lebih sering memperbarui aplikasi daripada memperbarui niat.
Di sinilah Tolstoy tersenyum tipis dari abad ke-19 sambil
berkata, "Saya sudah bilang."
Jiwa itu seperti kebun.
Kalau tidak dirawat, bukan berarti ia kosong.
Yang tumbuh justru ilalang.
Kesombongan tumbuh sendiri.
Iri hati tumbuh sendiri.
Ketamakan tumbuh sendiri.
Sedangkan kebijaksanaan, kesabaran, dan kasih sayang harus
disiram setiap hari.
Tidak ada versi instannya.
Tidak ada tombol "upgrade premium".
Tidak ada paket langganan bulanan.
Barangkali inilah lelucon terbesar kehidupan.
Kita rela menghabiskan waktu berjam-jam membandingkan harga
ponsel agar tidak salah membeli barang yang dipakai lima tahun.
Namun, kita hampir tidak pernah membandingkan keadaan jiwa
hari ini dengan jiwa kita lima tahun lalu.
Padahal, ponsel yang lemot masih bisa diganti.
Jiwa yang dibiarkan berkarat jauh lebih sulit diperbaiki.
Akhirnya, pesan Tolstoy sederhana, tetapi justru karena
sederhana ia sulit dijalankan.
Dunia boleh terus berlari.
Diskon boleh datang setiap tanggal kembar.
Media sosial boleh terus memproduksi alasan agar kita merasa
kurang.
Tetapi jangan sampai kita ikut menjadi hamster yang berlari
di roda: napas habis, kaki pegal, tetapi posisi hidup tetap di tempat.
Sesekali, berhentilah.
Tarik napas.
Matikan layar.
Lalu tanyakan pertanyaan yang mungkin membuat algoritma
kebingungan:
"Hari ini, apakah hartaku bertambah?"
Itu pertanyaan bagus.
Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
"Apakah jiwaku juga ikut bertumbuh, atau justru
tertinggal di keranjang belanja?"
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.