Tentang Orang-Orang yang Memilih Bertengkar dengan Kertas
Ada dua jenis orang yang mengatakan, "Aku ingin menjadi
penulis."
Jenis pertama mengucapkannya setelah membaca novel pemenang
Nobel sambil menyeruput kopi di kafe estetik. Jenis kedua mengucapkannya pukul
dua dini hari ketika kepalanya penuh kata-kata yang tidak mau tidur.
Yang pertama biasanya membeli notebook kulit seharga
setengah gaji. Yang kedua biasanya menulis di balik struk belanja karena takut
ide itu kabur duluan.
Paul Auster tampaknya hanya percaya pada jenis yang kedua.
Sebab nasihatnya terkenal kejam sekaligus menyegarkan:
"Jangan menjadi penulis."
Bayangkan. Nasihat itu datang bukan dari tukang parkir yang
gagal menerbitkan puisi, melainkan dari seorang penulis kelas dunia. Rasanya
seperti mendengar koki bintang lima berkata, "Kalau masih punya pilihan,
jangan buka restoran."
Kalimat itu memang terdengar seperti sabotase terhadap
cita-cita. Padahal sebenarnya ia sedang membersihkan karat romantisme yang
menempel di kepala kita.
Karena banyak orang jatuh cinta pada bayangan menjadi penulis, bukan pada pekerjaan menulis.
Masyarakat memang memiliki imajinasi yang luar biasa tentang
kehidupan penulis.
Dalam film, penulis selalu tinggal di apartemen mungil yang
artistik. Ada jendela besar, hujan turun pelan, seekor kucing tidur di dekat
mesin tik, lalu tiba-tiba lahirlah mahakarya.
Yang tidak pernah diperlihatkan kamera adalah penulis yang
menatap layar kosong selama tiga jam hanya untuk menghapus satu kalimat yang
ditulisnya sendiri.
Kalau inspirasi itu benar-benar seperti burung, sebagian
penulis pasti sudah memasang perangkap, sangkar, bahkan CCTV.
Faktanya, inspirasi sering berperilaku seperti kucing
tetangga. Dipanggil tidak datang. Ketika kita sedang mandi atau naik motor,
barulah ia muncul sambil berkata, "Eh, aku punya ide bagus."
Begitu kita duduk di depan laptop...
Hilang.
Seperti janji politik menjelang pemilu.
Auster lalu menyebut tiga teman akrab penulis: kemiskinan,
kesendirian, dan kegelapan.
Kalau profesi lain menawarkan paket tunjangan kesehatan,
profesi penulis kadang menawarkan paket "semoga kuat."
Kemiskinan bukan sekadar isi dompet yang tipis.
Ia adalah kemampuan ajaib untuk mengubah mie instan menjadi
makanan bertema sastra.
Kesendirian juga bukan sekadar tidak punya teman.
Kesendirian penulis adalah ketika semua orang mengira ia
sedang santai karena hanya duduk menatap layar.
Padahal di dalam kepalanya sedang terjadi perang saudara
antara paragraf pertama dan paragraf terakhir.
Sedangkan kegelapan?
Itu adalah momen ketika kita membaca tulisan sendiri lalu
bertanya dengan penuh filosofi,
"Ini sebenarnya bagus atau aku cuma kurang
tidur?"
Tidak ada jawaban.
Bahkan kursor pun hanya berkedip seperti sedang mengejek.
Namun musuh terbesar penulis ternyata bukan editor.
Bukan penerbit.
Bukan bahkan pembaca yang meninggalkan ulasan satu bintang
dengan komentar, "Bukunya terlalu banyak kata."
Musuh terbesar penulis adalah ego.
Ego itu makhluk lucu.
Ia selalu membisikkan hal-hal yang terdengar mulia.
"Bayangkan bukumu difilmkan."
"Bayangkan diundang ke festival sastra."
"Bayangkan tanda tanganmu diperebutkan orang."
Masalahnya, ego tidak pernah membisikkan kemungkinan lain.
Misalnya...
"Bayangkan bukumu dibeli ibumu sendiri karena
kasihan."
Atau...
"Bayangkan satu-satunya orang yang memberi ulasan
adalah temanmu, dan itu pun karena kamu yang memintanya."
Ego selalu menjual trailer.
Hidup justru memberikan film dokumenternya.
Di zaman media sosial, ego memperoleh vitamin tambahan.
Hari ini banyak orang ingin menjadi penulis karena ingin
punya bio yang berbunyi:
"Author."
Padahal yang lebih sering dikerjakan justru menghitung
jumlah "like."
Ada yang lebih sering menyegarkan notifikasi daripada
memperbaiki naskah.
Kalau algoritma sedang baik hati, ia merasa dirinya Tolstoy.
Kalau unggahan sepi, mendadak merasa seluruh dunia membenci
sastra.
Padahal algoritma hanyalah satpam pusat perbelanjaan
digital.
Tugasnya mengatur lalu lintas manusia.
Bukan menentukan kualitas jiwa.
Sayangnya kita sering menyerahkan harga diri kepada mesin yang bahkan tidak tahu cara menikmati puisi.
Auster lalu memberikan syarat yang terdengar seperti mantra
kuno:
Menulislah hanya jika kau terbakar.
Bukan terbakar karena iri melihat teman menerbitkan buku.
Bukan terbakar karena ingin terkenal.
Tetapi terbakar karena kata-kata di dalam kepalamu sudah
seperti jagung dalam panci berisi pasir panas.
Kalau tidak segera dituangkan, semuanya akan meletup ke
mana-mana.
Penulis sejati memang aneh.
Ia menulis bahkan ketika tidak ada yang membaca.
Ia menulis ketika bukunya tidak laku.
Ia menulis ketika listrik padam.
Kalau perlu, ia akan menulis di belakang kuitansi bengkel.
Karena baginya, menulis bukan pekerjaan.
Menulis adalah cara otaknya bernapas.
Lalu tibalah nasihat paling pahit:
"Dunia tidak berutang apa pun kepadamu."
Kalimat ini rasanya seperti es batu yang dilempar ke wajah
orang yang sedang berkhayal memenangkan penghargaan sastra.
Dunia tidak pernah bangun pagi sambil berkata,
"Hari ini mari kita membuat Burhan terkenal."
Tidak.
Dunia sibuk membayar cicilan.
Dunia sibuk mengantar anak sekolah.
Dunia sibuk mencari sinyal internet.
Tulisan kita hanyalah setetes hujan di tengah badai
informasi.
Tetapi justru di situlah kebebasannya.
Begitu kita berhenti meminta tepuk tangan, kita mulai
mendengar suara sendiri.
Begitu kita berhenti mengejar pujian, kalimat-kalimat
menjadi lebih jujur.
Tulisan tidak lagi berdandan untuk pesta.
Ia pulang ke rumah.
Mungkin inilah paradoks paling lucu dalam dunia kepenulisan.
Semakin keras seseorang mengejar gelar "penulis
hebat", semakin besar kemungkinan ia kelelahan.
Sebaliknya, mereka yang sekadar sibuk menulis sering kali
diam-diam menghasilkan karya yang bertahan lebih lama daripada umur notifikasi.
Kata-kata ternyata seperti pohon.
Ia tidak tumbuh karena diteriaki.
Ia tumbuh karena diam-diam menembus tanah.
Jadi, kalau setelah membaca semua peringatan Paul Auster
Anda masih ingin menjadi penulis, saya hanya punya dua kemungkinan.
Pertama, Anda memang keras kepala.
Kedua, Anda memang terpanggil.
Dan anehnya, sejarah sastra menunjukkan bahwa sering kali
kedua hal itu adalah orang yang sama.
Silakan menulis.
Tetapi jangan berharap dunia memasang karpet merah.
Dunia bahkan kadang lupa mengembalikan buku yang dipinjam.
Menulislah karena tanpa menulis, kepala terasa seperti
gudang penuh nyamuk yang berdengung tanpa henti.
Menulislah karena kata-kata adalah cara jiwa merapikan
kekacauan.
Dan bila suatu hari ada pembaca yang menemukan dirinya di
dalam tulisan Anda, anggaplah itu bonus yang indah—bukan tujuan utama.
Sebab pada akhirnya, penulis bukanlah orang yang berhasil
menerbitkan buku.
Penulis adalah orang yang tetap menulis, bahkan ketika
satu-satunya tepuk tangan berasal dari suara keyboardnya sendiri.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.