Ada satu kebiasaan manusia modern yang cukup menggelikan. Kalau listrik mati lima menit saja, kita langsung panik mencari senter. Namun ketika hati sudah gelap bertahun-tahun, kita justru berkata, "Santai saja, nanti juga terang sendiri."
Padahal hati bukan kamar kos yang akan terang hanya karena
tetangga menyalakan lampu. Hati punya instalasi listrik yang berbeda. Kabelnya
bernama keikhlasan, saklarnya bernama taubat, dan sumber energinya bukan PLN,
melainkan Allah. Celakanya, banyak dari kita lebih rajin mengisi daya ponsel
daripada mengisi daya jiwa. Baterai ponsel tinggal 3% langsung mencari colokan.
Baterai iman tinggal 0%, malah membuka media sosial.
Di sinilah kajian ini datang seperti teknisi listrik yang sabar. Ia tidak menawarkan
lampu LED spiritual, apalagi paket "cepat tercerahkan dalam tujuh
hari". Ia justru mengajak kita memahami bahwa cahaya bukan sesuatu yang
dibeli, melainkan sesuatu yang diterima oleh hati yang siap menerimanya.
Lucunya, manusia memang selalu ingin yang instan. Kalau
bisa, hari Senin baru mulai wirid, hari Rabu sudah ingin dipanggil "orang
yang makrifat". Baru dua kali mengikuti kajian tasawuf, sudah mulai
berbicara dengan nada pelan, sesekali memejamkan mata sambil berkata,
"Semua ini hanyalah ilusi dunia."
Padahal yang ilusi justru perasaan bahwa dirinya sudah
sampai.
Kajian tentang bab Nur dalam Al-Hikam mengingatkan
bahwa ada dua macam cahaya. Yang pertama adalah Nûr al-Tawajjuh, cahaya
yang menemani orang yang sedang berjalan menuju Allah. Cahaya ini ibarat lampu
depan kendaraan ketika melewati jalan pegunungan pada malam hari. Lampunya
tidak menerangi seluruh perjalanan sekaligus. Ia hanya cukup menerangi beberapa
meter di depan. Namun justru itulah yang membuat perjalanan bisa diteruskan.
Sebagian orang keberatan.
"Masa cuma kelihatan lima meter?"
Padahal hidup memang begitu. Allah jarang menunjukkan
seluruh peta kehidupan sekaligus. Kalau semua masa depan diperlihatkan sejak
awal, mungkin kita bukan menjadi hamba yang tawakal, melainkan penonton spoiler
kehidupan.
Jenis cahaya kedua adalah Nûr al-Muwâjahah, cahaya
bagi mereka yang telah sampai. Di sini hati bukan lagi sekadar pejalan, tetapi
telah menjadi cermin yang memantulkan cahaya Ilahi.
Masalahnya, manusia sering tertukar.
Baru membeli sepatu gunung, sudah merasa berhasil
menaklukkan Everest.
Baru membeli sajadah mahal, sudah merasa dekat dengan
langit.
Baru hafal beberapa istilah Arab, sudah berbicara
seolah-olah malaikat Jibril adalah teman lama.
Padahal perjalanan spiritual bukan lomba mengoleksi istilah.
Ia lebih mirip membersihkan kaca jendela.
Semakin bersih kacanya, semakin jelas cahaya masuk.
Tidak ada kaca yang menjadi terang karena membanggakan
dirinya sebagai kaca.
Yang membuatnya bercahaya justru karena ia berhenti dipenuhi
debu.
Inilah salah satu metafora paling indah dalam Ayat An-Nur.
Hati manusia diibaratkan seperti kaca. Kalau kaca itu bening, cahaya akan
memancar. Tetapi kalau penuh debu kesombongan, kerak iri hati, sidik jari
kemarahan, dan noda pamer amal, jangan salahkan matahari. Cahaya tidak pernah
bermasalah. Yang bermasalah adalah kacanya.
Ironisnya, manusia lebih rajin membersihkan layar ponsel
daripada membersihkan layar hati.
Layar ponsel sedikit buram langsung dibelai dengan kain
mikrofiber.
Hati buram karena dendam bertahun-tahun malah dianggap
sebagai "prinsip hidup".
Padahal dendam itu seperti menempelkan lumpur pada kaca lalu
mengeluh mengapa matahari tidak kelihatan.
Kajian ini juga menyampaikan satu gagasan yang sering
terlupakan: cahaya harus dibagikan.
Ini menarik.
Kalau seseorang punya uang seratus ribu lalu diberikan lima
puluh ribu, uangnya tinggal separuh.
Tetapi kalau seseorang punya ilmu lalu membaginya, ilmunya
justru semakin hidup.
Kalau seseorang punya senyum lalu membaginya, wajahnya tidak
menjadi setengah.
Kalau seseorang punya doa lalu menghadiahkannya kepada orang
lain, doanya tidak berkurang.
Ternyata hanya ego yang takut berkurang.
Cahaya tidak.
Barangkali karena cahaya memiliki sifat matahari. Matahari
tidak pernah kehilangan sinarnya hanya karena menerangi jutaan rumah. Yang
kehilangan justru orang yang memilih menutup jendelanya rapat-rapat.
Begitu pula pengalaman hidup.
Kajian ini menjelaskan bahwa masa lalu yang gelap bukanlah
kesalahan produksi dari Allah. Bahkan pengalaman jatuh, tersesat, atau penuh
dosa sering kali menjadi sekolah yang paling jujur. Orang yang pernah berjalan
dalam gelap biasanya lebih menghargai sebatang lilin daripada mereka yang sejak
kecil hidup di bawah lampu kristal.
Bekas luka sering kali lebih pandai bersyukur daripada kulit
yang belum pernah tergores.
Karena itu, terlalu lama menangisi masa lalu sama lucunya
dengan seseorang yang terus memeluk peta setelah ia menemukan jalan pulang.
Peta memang berjasa.
Tetapi rumah tetap harus dimasuki.
Yang juga menggelitik adalah penjelasan tentang frasa Lâ
syarqiyyah wa lâ gharbiyyah—tidak timur dan tidak barat. Di zaman sekarang,
kalimat itu seperti mengingatkan kita agar tidak sibuk memberi label pada
cahaya.
Sebagian orang merasa semua yang datang dari Barat pasti
sesat.
Sebagian lagi merasa semua yang datang dari Timur pasti
mistis.
Padahal cahaya Allah tidak mengenal paspor.
Ia tidak mengurus visa.
Ia juga tidak membutuhkan cap imigrasi.
Yang ia cari hanyalah hati yang bersedia dibersihkan.
Sayangnya, manusia lebih suka memperdebatkan arah mata angin
daripada arah hatinya sendiri.
Yang paling lucu, kita sering membayangkan cahaya spiritual
sebagai kilatan spektakuler.
Harus ada sinar biru.
Harus ada aura keemasan.
Harus ada sensasi merinding.
Padahal bisa jadi cahaya terbesar dalam hidup seseorang
justru berupa kemampuan meminta maaf lebih dulu.
Atau kemampuan diam ketika marah.
Atau kemampuan tetap jujur ketika tidak ada yang mengawasi.
Barangkali cahaya Ilahi memang lebih sering bekerja seperti
matahari pagi daripada kembang api malam tahun baru.
Ia tidak berisik.
Tidak dramatis.
Tetapi perlahan-lahan menghangatkan kehidupan.
Pada akhirnya, perjalanan menuju Allah bukanlah perlombaan
menjadi manusia paling bercahaya di mata orang lain. Sebab cahaya yang sibuk
dipamerkan biasanya berubah menjadi lampu panggung. Terang memang, tetapi hanya
selama pertunjukan berlangsung.
Cahaya sejati lebih menyerupai pelita di rumah nenek di
kampung. Tidak pernah masuk berita, tidak viral, tidak menghasilkan jutaan
penonton, tetapi cukup menerangi siapa saja yang datang mengetuk pintu.
Mungkin itulah makna terdalam dari Nûrun 'alâ Nûr—cahaya
di atas cahaya.
Bukan ketika kepala kita dipenuhi istilah-istilah tasawuf
yang rumit.
Melainkan ketika hati menjadi begitu bening sehingga
kehadiran kita membuat orang lain merasa lebih tenang, lebih jujur, lebih
sabar, dan sedikit lebih dekat kepada Allah.
Kalau itu sudah terjadi, kita tidak perlu mengumumkan bahwa
kita telah menemukan cahaya.
Orang lain akan merasakannya, sebagaimana orang tidak perlu
diberi tahu bahwa matahari telah terbit. Mereka cukup melihat gelap yang
perlahan mengundurkan diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.