Ada satu profesi yang jumlah pegawainya paling banyak di dunia, tetapi anehnya tidak pernah membuka lowongan. Mereka tidak digaji, tidak berseragam, tidak punya kartu identitas, namun dedikasinya luar biasa. Mereka adalah anggota Tim Investigasi Kehidupan Orang Lain.
Mereka selalu hadir di saat yang tepat. Ketika mendengar
seseorang sedang tertimpa musibah, mereka muncul lebih cepat daripada ambulans.
Ketika ada kabar perceraian, PHK, utang, gagal menikah, atau anak yang
tiba-tiba menghilang dari media sosial, radar mereka langsung berbunyi.
"Eh, sebenarnya kenapa sih?"
Kalimat itu terdengar seperti pembuka doa, padahal sering
kali hanya pembuka gosip.
Ahmed Khaled Tawfik, penulis Mesir yang terkenal dengan
lidah setajam pisau bedah, pernah menyindir sifat manusia yang menurutnya
sangat menjijikkan: ingin mengetahui seluruh isi hidup seseorang hanya karena
penasaran, padahal sejak awal sudah tahu dirinya tidak akan membantu apa pun.
Kalimat itu pendek, tetapi efeknya seperti sandal yang dilempar ibu dari dapur—tidak panjang, tetapi tepat sasaran.
Lucunya, manusia memang makhluk yang aneh.
Kalau melihat tetangga membawa koper besar, otak langsung
bekerja seperti detektif profesional.
"Mau ke mana?"
"Berapa hari?"
"Naik apa?"
"Siapa saja?"
"Biayanya berapa?"
Yang bertanya bahkan lebih lengkap daripada petugas bandara.
Namun setelah semua informasi diperoleh, kontribusinya hanya
satu kalimat legendaris.
"Oh..."
Lalu pulang.
Informasi sudah dikumpulkan, rasa penasaran sudah kenyang, tetapi tidak ada satu gram pun manfaat yang dihasilkan. Seolah-olah hidup orang lain adalah serial televisi yang wajib diikuti setiap episodenya.
Media sosial memperparah kebiasaan ini.
Sekarang penderitaan memiliki tombol "Like."
Kesedihan memiliki kolom komentar.
Kebangkrutan memiliki emoji menangis.
Perceraian memiliki ribuan penonton.
Kita hidup pada zaman ketika tragedi berubah menjadi konten.
Ada seseorang yang menulis panjang lebar tentang
perjuangannya melawan penyakit. Ribuan orang berkomentar,
"Semangat ya."
"Aamiin."
"Stay strong."
Kalimat-kalimat itu tentu tidak salah. Bahkan bisa menjadi
penguat. Tetapi sering kali semuanya berhenti di sana.
Empati berubah menjadi stiker digital.
Kepedulian cukup dibayar dengan emoji.
Seolah-olah hati manusia kini memiliki paket data: aktif selama lima detik, lalu habis masa berlakunya.
Yang lebih lucu lagi adalah kemampuan manusia menyimpan
informasi yang tidak berguna.
Kita lupa tanggal membayar listrik.
Lupa ulang tahun pasangan.
Lupa meletakkan kunci motor.
Tetapi kita hafal bahwa sepupu teman SMA pernah bertengkar
dengan mertuanya pada tahun 2019 gara-gara masalah pagar.
Otak manusia rupanya memiliki lemari arsip khusus bernama
"Informasi yang Tidak Ada Gunanya tetapi Sayang Kalau Dibuang."
Ilmu pengetahuan mungkin menyebutnya memori jangka panjang.
Ibu-ibu kompleks menyebutnya "buat jaga-jaga."
Fenomena ini sebenarnya sudah tua.
Dulu orang berkumpul di sumur.
Lalu pindah ke warung kopi.
Kemudian ke grup WhatsApp.
Sekarang ke kolom komentar.
Teknologinya berubah.
Rasa penasarannya tetap sama.
Yang berganti hanya kecepatan internet.
Mengapa kita begitu ingin tahu kehidupan orang lain?
Psikolog mungkin menjawab dengan teori perbandingan sosial.
Kita merasa lebih nyaman ketika mengetahui bahwa ternyata hidup orang lain juga
berantakan.
Ada hiburan kecil dalam kalimat,
"Oh... ternyata bukan saya saja."
Ironisnya, kebahagiaan seperti ini mirip orang yang melihat
kapal lain bocor agar dirinya lupa bahwa perahunya sendiri juga kemasukan air.
Padahal dua-duanya tetap akan sibuk menimba.
Dalam tradisi Islam ada larangan tajassus—mencari-cari
aib orang lain.
Larangan ini menarik.
Bukan karena Tuhan ingin manusia berhenti penasaran.
Mustahil.
Rasa ingin tahu adalah bawaan pabrik.
Yang dilarang adalah ketika rasa ingin tahu berubah menjadi
hobi mengintip kehidupan orang lain tanpa membawa manfaat sedikit pun.
Kalau penasaran itu seperti garam, secukupnya membuat
hubungan menjadi akrab.
Tetapi kalau satu karung ditumpahkan ke dalam sayur, yang lahir bukan keakraban, melainkan gagal ginjal sosial.
Namun Tawfik juga mengingatkan sesuatu yang lebih dalam.
Tidak semua orang yang bertanya benar-benar peduli.
Sebagian hanya mengumpulkan data.
Manusia ternyata memiliki bakat menjadi arsip nasional
penderitaan orang lain.
Sayangnya, ketika diminta menjadi relawan untuk membantu,
mendadak sinyalnya hilang.
Mereka seperti aplikasi gratis.
Rajin meminta akses ke kamera, mikrofon, lokasi, kontak,
galeri foto, bahkan daftar belanja.
Tetapi ketika diminta menjalankan fungsi utama, muncul
tulisan:
"Fitur ini belum tersedia di wilayah Anda."
Untungnya, dunia tidak sepenuhnya dipenuhi manusia seperti
itu.
Masih ada orang-orang yang tidak banyak bertanya, tetapi
diam-diam mengirim makanan.
Tidak sibuk mencari kronologi, melainkan mencari alamat.
Tidak penasaran dengan nominal utang, tetapi datang membawa
beras.
Mereka jarang muncul di kolom komentar.
Sebab kebaikan sejati memang lebih suka bekerja lembur
daripada berfoto.
Mereka mengerti bahwa telinga yang baik bukan hanya pandai mendengar cerita, melainkan juga mampu mendengar kebutuhan yang tidak diucapkan.
Barangkali ukuran kepedulian bukanlah seberapa banyak
pertanyaan yang kita ajukan, melainkan seberapa ringan beban yang ditinggalkan
setelah kita pulang.
Karena rasa ingin tahu tanpa empati ibarat turis yang datang
ke daerah bencana: memotret, mengangguk prihatin, membeli es teh, lalu pulang
membawa cerita.
Sementara para korban tetap sibuk membereskan puing-puing.
Maka lain kali ketika jari kita gatal ingin mengetik,
"Sebenarnya ada apa?", mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri
sendiri terlebih dahulu:
"Kalau dia menjawab, apakah aku siap membantu?"
Kalau jawabannya belum, mungkin yang perlu dipuaskan bukan
rasa penasaran, melainkan rasa kemanusiaan.
Sebab dunia tidak sedang kekurangan orang yang ingin tahu.
Dunia jauh lebih kekurangan orang yang mau ikut memikul.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.