Ada dua jenis orang ketika gajian tiba. Yang pertama langsung membuka aplikasi belanja sambil berkata, "Aku pantas bahagia." Yang kedua membuka aplikasi perbankan, melihat saldo, lalu menutupnya lagi karena takut kebahagiaan itu ternyata sedang cuti.
Kita hidup di zaman ketika ukuran sukses bisa diringkas
menjadi tiga huruf: SUV. Kalau rumah belum tiga lantai, kopi belum seharga
makan siang, dan liburan belum di tempat yang nama pantainya sulit dieja,
rasanya hidup kurang afdal. Seolah-olah kebahagiaan adalah barang elektronik:
semakin mahal, semakin canggih.
Lalu datanglah Roberto Benigni membawa pernyataan yang
membuat para motivator keuangan mendadak tersedak espresso.
"Hadiah terindah dari orang tua saya adalah
kemiskinan."
Kalimat itu terdengar seperti seseorang berkata,
"Makanan terenak adalah nasi yang lupa dimasak." Kita spontan ingin
memastikan, "Pak Roberto, apakah mikrofon Anda rusak atau kami yang salah
dengar?"
Namun Benigni bukan sedang meromantisasi penderitaan. Ia
sedang mengingatkan bahwa ada perbedaan besar antara tidak punya banyak
dan tidak pernah merasa cukup. Yang pertama adalah keadaan ekonomi. Yang
kedua adalah keadaan jiwa.
Ketika Kasur Menjadi Kerajaan
Benigni mengenang masa kecilnya yang serba sederhana. Satu
tempat tidur dipakai bersama. Rumah kecil. Harta sedikit. Tetapi anehnya,
kenangan itu justru dipenuhi tawa.
Anak-anak memang punya bakat luar biasa dalam mengubah
keterbatasan menjadi petualangan.
Orang dewasa melihat kardus bekas.
Anak kecil melihat kapal bajak laut.
Orang dewasa melihat halaman sempit.
Anak kecil melihat stadion Piala Dunia.
Orang dewasa melihat hujan sebagai ancaman jemuran.
Anak kecil melihat hujan sebagai undangan bermain.
Mungkin karena anak-anak belum mengenal cicilan.
Benigni tumbuh dalam keluarga petani miskin. Ayahnya pernah
mengalami kekejaman kamp kerja paksa Nazi. Kalau ada orang yang berhak mengeluh
kepada kehidupan, keluarganya memenuhi seluruh persyaratan administratif.
Tetapi yang diwariskan bukan dendam. Bukan rasa pahit.
Yang diwariskan justru kemampuan tertawa.
Barangkali di situlah letak kekayaan yang sebenarnya. Ada
orang yang memiliki rekening gemuk tetapi senyumnya kurus. Ada pula yang isi
dompetnya hanya cukup membuat dompet merasa kesepian, tetapi tawanya mampu
memenuhi satu rumah.
Penyakit Modern Bernama "Kurang Sedikit Lagi"
Masalah terbesar manusia modern bukan selalu miskin.
Masalahnya adalah selalu merasa tinggal kurang satu
barang lagi untuk bahagia.
Kurang satu ponsel baru.
Kurang satu mobil baru.
Kurang satu kenaikan jabatan.
Kurang satu liburan.
Kurang satu angka nol di rekening.
Lucunya, setelah semua "kurang satu" itu
terpenuhi, muncul lagi daftar baru yang lebih panjang.
Keinginan manusia itu seperti aplikasi di ponsel. Baru
selesai diperbarui, langsung muncul notifikasi pembaruan berikutnya.
Akibatnya, banyak orang hidup seperti hamster di roda putar.
Sibuk berlari mengejar masa depan, tetapi lupa menyapa masa kini yang lewat
sambil melambai-lambai.
Orang Tua yang Mengajarkan Mata, Bukan Dompet
Benigni mengaku orang tuanya buta huruf.
Namun ternyata mereka sangat fasih membaca kehidupan.
Mereka mungkin tidak mampu menjelaskan teori filsafat Stoik.
Tetapi mereka mengajarkan cara tetap tersenyum ketika dapur
hanya menghasilkan menu bernama "apa adanya."
Mereka mungkin tidak pernah membaca buku psikologi positif.
Namun mereka tahu bahwa anak-anak lebih membutuhkan pelukan
daripada pidato motivasi.
Banyak orang tua hari ini sibuk menabung untuk masa depan
anak.
Itu tentu baik.
Tetapi lebih baik lagi bila anak juga mewarisi kemampuan
menikmati hidup yang sederhana. Sebab uang bisa habis karena inflasi. Sedangkan
rasa syukur tidak pernah kehilangan nilai tukarnya.
Orang Kaya yang Sebenarnya Miskin
Benigni menyodorkan ironi yang cukup menyengat.
Ada orang miskin yang tidur nyenyak.
Ada orang kaya yang tidur ditemani grafik investasi.
Ada yang rumahnya megah, tetapi ruang makannya sunyi karena
setiap anggota keluarga sibuk menatap layar masing-masing.
Sebaliknya, ada rumah kecil yang sempit, tetapi dipenuhi
suara tawa yang bahkan tetangga ikut hafal punchline-nya.
Kadang-kadang manusia berhasil membeli rumah yang lebih
besar, tetapi kehilangan alasan untuk berkumpul di ruang tamunya.
Dunia Tidak Bisa Dibeli, Tetapi Bisa Dinikmati
Kalimat Benigni yang paling indah mungkin adalah:
"Ketika kamu menjadi bagian dari dunia, dunia
menjadi milikmu."
Kalimat itu terdengar puitis, tetapi juga sangat praktis.
Matahari tidak pernah meminta bukti transfer sebelum terbit.
Angin tidak pernah mengenakan biaya langganan.
Senja tidak menjual tiket VIP.
Suara burung tidak memiliki paket premium.
Langit tidak pernah membedakan siapa yang datang memakai
mobil mewah dan siapa yang datang naik sepeda tua.
Alam rupanya demokratis. Manusialah yang sering membuat
tarif untuk segala hal.
Jangan Sampai Dompet Semakin Tebal, Tetapi Hidup
Semakin Tipis
Esai ini tentu bukan ajakan untuk memuliakan kemiskinan atau
menganggap kekurangan sebagai cita-cita. Kemiskinan nyata tetap menghadirkan
penderitaan yang harus diatasi, bukan dipuja. Roberto Benigni pun tidak sedang
berkata bahwa lapar itu romantis atau kesulitan ekonomi adalah impian.
Yang ia syukuri adalah hadiah yang lahir di tengah
kemiskinan: daya tahan, imajinasi, rasa syukur, kedekatan keluarga, dan
kemampuan menemukan kebahagiaan tanpa menunggu saldo bertambah.
Barangkali itulah ironi terbesar zaman kita.
Kita begitu sibuk mempertebal dompet hingga lupa memperluas
hati.
Padahal, kalau suatu hari rekening mendadak kosong, semoga
kita masih memiliki sesuatu yang tidak bisa disita oleh inflasi, tidak bisa
dicuri pencuri, dan tidak bisa turun nilainya karena krisis ekonomi: kemampuan
tertawa bersama orang-orang yang kita cintai.
Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan mengumpulkan
barang sebanyak mungkin.
Hidup lebih mirip piknik.
Bekal memang penting.
Tetapi kalau sepanjang perjalanan kita hanya sibuk
menghitung isi keranjang, jangan-jangan matahari sudah tenggelam sebelum sempat
kita nikmati.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.