Konon, jika seorang sufi hidup di zaman sekarang, ia mungkin akan mengalami kebingungan yang cukup berat. Bukan karena sulit menemukan guru, melainkan karena setiap kali hendak berzikir, ponselnya bergetar memberi notifikasi, "Kenangan Anda lima tahun lalu." Padahal ia sedang berusaha melupakan dirinya sendiri, bukan justru diingatkan algoritma bahwa dulu pernah makan bakso dengan tambahan kerupuk.
Begitulah nasib spiritualitas di era digital. Jalan menuju
ma'rifat kini sering macet oleh lalu lintas konten motivasi, video pendek, dan
kutipan bijak yang berlomba-lomba mencari "engagement". Kadang-kadang
kita lebih sibuk menghitung jumlah penonton ceramah daripada menghitung jumlah
kelalaian dalam hati. Seolah-olah surga memiliki fitur analitik: berapa
viewers, berapa subscriber, dan berapa persen retensi penonton.
Di sinilah kajian Menjelang Ma'rifat hadir seperti
segelas teh hangat di tengah rapat Zoom yang terlalu panjang. Ia mengingatkan
bahwa perjalanan menuju Allah tidak ditempuh dengan sinyal 5G, tetapi dengan
keikhlasan yang bahkan malaikat pun tidak bisa mengukurnya secara kasat mata.
Sedekah Bukan Program Cashback
Kajian ini dimulai dari pembahasan tentang sedekah. Allah
melipatgandakan pahala sedekah yang berasal dari harta yang halal dan baik.
Sederhana, tetapi kemudian berkembang menjadi pelajaran yang jauh lebih dalam:
semua amal bergantung pada keikhlasan.
Masalahnya, manusia modern sering kali memperlakukan ibadah
seperti aplikasi belanja daring.
"Sedekah Rp100 ribu, kembali satu juta."
"Salat tahajud tujuh malam, rezeki langsung cair."
"Amalan ini dijamin membuat semua masalah
selesai."
Kalau semua ibadah dihitung seperti investasi, jangan-jangan
suatu hari nanti ada orang bertanya kepada malaikat, "Mohon maaf, ROI
pahala saya semester ini berapa persen?"
Padahal ikhlas justru bekerja seperti akar pohon. Ia tidak
terlihat, tidak dipuji, bahkan sering diinjak-injak. Tetapi justru akar itulah
yang membuat pohon tetap tegak ketika badai datang. Orang sibuk memotret
buahnya, sementara kehidupan pohon diselamatkan oleh sesuatu yang tidak pernah
masuk kamera.
Keikhlasan memang tidak fotogenik.
Fenomena Sufi Instan
Di zaman mi instan, tampaknya muncul pula sufi instan.
Cukup memakai pakaian longgar, berbicara pelan sambil
sesekali menatap langit, lalu setiap kalimat diakhiri dengan, "Ini rahasia
yang belum banyak orang tahu."
Padahal yang belum banyak orang tahu biasanya bukan rahasia
langit, melainkan sumber kutipannya.
Kajian ini mengingatkan bahwa tasawuf tidak pernah berdiri
melawan syariat. Justru syariat adalah jalannya, sedangkan tasawuf adalah ruh
yang menghidupinya. Ibarat kopi dan cangkir, keduanya saling membutuhkan. Orang
yang hanya memegang cangkir tanpa kopi akan tetap haus. Sebaliknya, membawa
kopi tanpa cangkir biasanya berakhir dengan baju yang penuh noda.
Karena itu, mengaku telah sampai kepada Allah sambil
meninggalkan syariat sama seperti seseorang yang mengaku telah sampai ke puncak
gunung padahal baru memasuki area parkir.
Semangatnya memang luar biasa.
Lokasinya saja yang masih jauh.
Ketika Ego Menjadi Barang yang Harus Dibuang
Bagian paling menarik dari kajian ini adalah penjelasan
tentang sufi sejati.
Ternyata cirinya bukan bisa berjalan di atas air.
Kalau itu, bebek juga bisa.
Bukan pula bisa mengetahui isi hati orang lain.
Kalau itu, ibu-ibu di kampung sering kali lebih cepat
daripada teknologi kecerdasan buatan.
Sufi sejati justru ditandai oleh sesuatu yang jauh lebih
sulit: ucapan, tindakan, dan geraknya tidak dikendalikan hawa nafsu. Ia tidak
mudah dipermainkan pujian, tidak tumbang karena cacian, dan tidak berubah sikap
hanya karena isi rekening berubah.
Inilah yang dalam tasawuf disebut sebagai "ada tanpa
merasa ada."
Kalimat ini terdengar membingungkan sampai kita melihat
kipas angin. Semua orang merasakan anginnya, tetapi jarang ada yang memuji
baling-balingnya. Ia bekerja tanpa meminta tepuk tangan.
Sebaliknya, ego manusia sering seperti alarm mobil. Sedikit
tersenggol langsung berbunyi panjang, berharap seluruh kompleks mengetahui
bahwa dirinya sedang tersakiti.
Tasawuf mengajarkan sebaliknya: semakin dekat kepada Allah,
semakin pelan suara ego kita.
Dunia yang Terlalu Berisik
Kita hidup di zaman ketika semua orang berlomba menjadi
pusat perhatian. Bahkan secangkir kopi pun harus difoto dari tiga sudut sebelum
diminum. Kadang kopi sudah dingin, tetapi unggahannya masih hangat menerima
komentar.
Dalam suasana seperti itu, keikhlasan menjadi makhluk yang
langka. Ia seperti kunang-kunang di tengah kota besar. Bukan karena sudah
punah, melainkan karena cahaya lampu membuat kita lupa bahwa masih ada cahaya
kecil yang jauh lebih indah.
Tasawuf tidak mengajak manusia lari dari dunia. Ia hanya
mengingatkan agar dunia tidak pindah ke dalam hati.
Perahu memang harus berada di atas air.
Tetapi ketika air masuk ke dalam perahu, tenggelam hanyalah
soal waktu.
Begitu pula harta, jabatan, dan popularitas. Semuanya boleh
berada di tangan. Yang berbahaya adalah ketika semuanya pindah menjadi penghuni
tetap hati.
Menjadi Biasa Itu Luar Biasa
Mungkin inilah paradoks terbesar dalam tasawuf.
Semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah, semakin
kecil keinginannya untuk terlihat tinggi di hadapan manusia.
Sufi sejati bukan orang yang sibuk membangun citra sebagai
manusia langit. Ia justru sibuk menjadi manusia biasa yang diam-diam
memperbaiki dirinya. Ia tidak mengejar gelar "wali", apalagi
mencantumkannya di kartu nama.
Pada akhirnya, perjalanan menuju ma'rifat bukanlah
perlombaan siapa yang paling banyak mengetahui rahasia langit. Ia adalah
perjalanan panjang membersihkan cermin hati agar pantulan cahaya Ilahi tidak
lagi terhalang oleh debu kesombongan.
Dan mungkin, di zaman ketika semua orang ingin viral, salah
satu bentuk kewalian yang paling langka adalah mampu berbuat baik tanpa merasa
perlu mengabarkannya kepada siapa pun.
Sebab di hadapan Allah, yang paling nyaring bukanlah suara
yang paling keras, melainkan hati yang paling hening.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.