Minggu, 12 Juli 2026

Sufi di Era Wi-Fi: Ketika Keikhlasan Tak Bisa Diunggah ke Story

Konon, jika seorang sufi hidup di zaman sekarang, ia mungkin akan mengalami kebingungan yang cukup berat. Bukan karena sulit menemukan guru, melainkan karena setiap kali hendak berzikir, ponselnya bergetar memberi notifikasi, "Kenangan Anda lima tahun lalu." Padahal ia sedang berusaha melupakan dirinya sendiri, bukan justru diingatkan algoritma bahwa dulu pernah makan bakso dengan tambahan kerupuk.

Begitulah nasib spiritualitas di era digital. Jalan menuju ma'rifat kini sering macet oleh lalu lintas konten motivasi, video pendek, dan kutipan bijak yang berlomba-lomba mencari "engagement". Kadang-kadang kita lebih sibuk menghitung jumlah penonton ceramah daripada menghitung jumlah kelalaian dalam hati. Seolah-olah surga memiliki fitur analitik: berapa viewers, berapa subscriber, dan berapa persen retensi penonton.

Di sinilah kajian Menjelang Ma'rifat hadir seperti segelas teh hangat di tengah rapat Zoom yang terlalu panjang. Ia mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah tidak ditempuh dengan sinyal 5G, tetapi dengan keikhlasan yang bahkan malaikat pun tidak bisa mengukurnya secara kasat mata.

Sedekah Bukan Program Cashback

Kajian ini dimulai dari pembahasan tentang sedekah. Allah melipatgandakan pahala sedekah yang berasal dari harta yang halal dan baik. Sederhana, tetapi kemudian berkembang menjadi pelajaran yang jauh lebih dalam: semua amal bergantung pada keikhlasan.

Masalahnya, manusia modern sering kali memperlakukan ibadah seperti aplikasi belanja daring.

"Sedekah Rp100 ribu, kembali satu juta."

"Salat tahajud tujuh malam, rezeki langsung cair."

"Amalan ini dijamin membuat semua masalah selesai."

Kalau semua ibadah dihitung seperti investasi, jangan-jangan suatu hari nanti ada orang bertanya kepada malaikat, "Mohon maaf, ROI pahala saya semester ini berapa persen?"

Padahal ikhlas justru bekerja seperti akar pohon. Ia tidak terlihat, tidak dipuji, bahkan sering diinjak-injak. Tetapi justru akar itulah yang membuat pohon tetap tegak ketika badai datang. Orang sibuk memotret buahnya, sementara kehidupan pohon diselamatkan oleh sesuatu yang tidak pernah masuk kamera.

Keikhlasan memang tidak fotogenik.

Fenomena Sufi Instan

Di zaman mi instan, tampaknya muncul pula sufi instan.

Cukup memakai pakaian longgar, berbicara pelan sambil sesekali menatap langit, lalu setiap kalimat diakhiri dengan, "Ini rahasia yang belum banyak orang tahu."

Padahal yang belum banyak orang tahu biasanya bukan rahasia langit, melainkan sumber kutipannya.

Kajian ini mengingatkan bahwa tasawuf tidak pernah berdiri melawan syariat. Justru syariat adalah jalannya, sedangkan tasawuf adalah ruh yang menghidupinya. Ibarat kopi dan cangkir, keduanya saling membutuhkan. Orang yang hanya memegang cangkir tanpa kopi akan tetap haus. Sebaliknya, membawa kopi tanpa cangkir biasanya berakhir dengan baju yang penuh noda.

Karena itu, mengaku telah sampai kepada Allah sambil meninggalkan syariat sama seperti seseorang yang mengaku telah sampai ke puncak gunung padahal baru memasuki area parkir.

Semangatnya memang luar biasa.

Lokasinya saja yang masih jauh.

Ketika Ego Menjadi Barang yang Harus Dibuang

Bagian paling menarik dari kajian ini adalah penjelasan tentang sufi sejati.

Ternyata cirinya bukan bisa berjalan di atas air.

Kalau itu, bebek juga bisa.

Bukan pula bisa mengetahui isi hati orang lain.

Kalau itu, ibu-ibu di kampung sering kali lebih cepat daripada teknologi kecerdasan buatan.

Sufi sejati justru ditandai oleh sesuatu yang jauh lebih sulit: ucapan, tindakan, dan geraknya tidak dikendalikan hawa nafsu. Ia tidak mudah dipermainkan pujian, tidak tumbang karena cacian, dan tidak berubah sikap hanya karena isi rekening berubah.

Inilah yang dalam tasawuf disebut sebagai "ada tanpa merasa ada."

Kalimat ini terdengar membingungkan sampai kita melihat kipas angin. Semua orang merasakan anginnya, tetapi jarang ada yang memuji baling-balingnya. Ia bekerja tanpa meminta tepuk tangan.

Sebaliknya, ego manusia sering seperti alarm mobil. Sedikit tersenggol langsung berbunyi panjang, berharap seluruh kompleks mengetahui bahwa dirinya sedang tersakiti.

Tasawuf mengajarkan sebaliknya: semakin dekat kepada Allah, semakin pelan suara ego kita.

Dunia yang Terlalu Berisik

Kita hidup di zaman ketika semua orang berlomba menjadi pusat perhatian. Bahkan secangkir kopi pun harus difoto dari tiga sudut sebelum diminum. Kadang kopi sudah dingin, tetapi unggahannya masih hangat menerima komentar.

Dalam suasana seperti itu, keikhlasan menjadi makhluk yang langka. Ia seperti kunang-kunang di tengah kota besar. Bukan karena sudah punah, melainkan karena cahaya lampu membuat kita lupa bahwa masih ada cahaya kecil yang jauh lebih indah.

Tasawuf tidak mengajak manusia lari dari dunia. Ia hanya mengingatkan agar dunia tidak pindah ke dalam hati.

Perahu memang harus berada di atas air.

Tetapi ketika air masuk ke dalam perahu, tenggelam hanyalah soal waktu.

Begitu pula harta, jabatan, dan popularitas. Semuanya boleh berada di tangan. Yang berbahaya adalah ketika semuanya pindah menjadi penghuni tetap hati.

Menjadi Biasa Itu Luar Biasa

Mungkin inilah paradoks terbesar dalam tasawuf.

Semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah, semakin kecil keinginannya untuk terlihat tinggi di hadapan manusia.

Sufi sejati bukan orang yang sibuk membangun citra sebagai manusia langit. Ia justru sibuk menjadi manusia biasa yang diam-diam memperbaiki dirinya. Ia tidak mengejar gelar "wali", apalagi mencantumkannya di kartu nama.

Pada akhirnya, perjalanan menuju ma'rifat bukanlah perlombaan siapa yang paling banyak mengetahui rahasia langit. Ia adalah perjalanan panjang membersihkan cermin hati agar pantulan cahaya Ilahi tidak lagi terhalang oleh debu kesombongan.

Dan mungkin, di zaman ketika semua orang ingin viral, salah satu bentuk kewalian yang paling langka adalah mampu berbuat baik tanpa merasa perlu mengabarkannya kepada siapa pun.

Sebab di hadapan Allah, yang paling nyaring bukanlah suara yang paling keras, melainkan hati yang paling hening.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.