"Kalau dia suka, pasti kelihatan." Kalimat itu kini menjadi semacam hukum gravitasi baru di media sosial. Bedanya, kalau gravitasi membuat apel jatuh ke tanah, kalimat ini membuat banyak orang jatuh ke jurang overthinking.
Media sosial memang luar biasa. Dahulu orang patah hati cukup memandangi hujan dari balik jendela. Sekarang, patah hati ditemani status "online", last seen, centang biru, dan notifikasi yang tak kunjung berbunyi. Teknologi berhasil mengubah kisah Romeo dan Juliet menjadi kisah "dibaca pukul 20.13, dibalas tiga hari kemudian."
Belakangan beredar sebuah kutipan yang dinisbatkan kepada penyair romantis Gustavo Adolfo Bécquer. Intinya sederhana: kalau seseorang benar-benar tertarik kepadamu, ia tidak akan bisa menyembunyikannya. Akan ada perhatian, pesan, senyum, dan keinginan bertemu. Sebaliknya, jika yang datang hanyalah keheningan, mungkin yang sedang kau peluk bukan cinta, melainkan ilusi yang memakai parfum harapan.
Nasihat itu terdengar masuk akal. Bahkan terlalu masuk akal sehingga para korban ghosting membacanya sambil mengangguk pelan, lalu menangis elegan di balik layar ponsel.
Masalahnya, kehidupan tidak pernah sesederhana algoritma media sosial.
Ada orang yang kalau jatuh cinta langsung mengirim lima puluh stiker, tiga puluh emoji hati, dan tujuh belas foto kucing dalam sehari. Ada pula yang mencintai seseorang selama lima tahun, tetapi setiap kali bertemu hanya sanggup berkata, "Eh... cuacanya panas, ya."
Yang pertama terlihat seperti penyiar radio yang sedang siaran dua puluh empat jam. Yang kedua lebih mirip modem zaman dulu: perasaannya ada, tetapi proses koneksinya membutuhkan bunyi "tiiit... kreeek... ngiiing..." sebelum akhirnya gagal tersambung.
Kalau semua ukuran cinta hanya dihitung dari jumlah pesan yang masuk, para admin toko daring mungkin adalah makhluk paling romantis di dunia. Mereka selalu membalas cepat, ramah, penuh emotikon, bahkan memanggil kita "Kak". Padahal setelah transfer selesai, hubungan itu pun berakhir tanpa acara lamaran.
Begitulah ironi zaman digital. Kita semakin pandai mengukur perhatian, tetapi semakin sulit memahami manusia.
Padahal manusia bukan aplikasi yang memiliki indikator baterai atau sinyal. Tidak semua orang mengekspresikan kasih sayang dengan cara yang sama. Ada yang pandai berkata-kata tetapi sulit hadir ketika dibutuhkan. Ada pula yang hampir tak pernah mengirim pesan, tetapi tiba-tiba muncul ketika kita sedang pindahan rumah, membawa kardus dan tenaga tanpa banyak pidato.
Yang satu ahli mengetik "Semangat ya."
Yang satu lagi datang membawa obeng.
Kalau dipikir-pikir, obeng kadang lebih romantis daripada emoji hati.
Di Indonesia, persoalannya bahkan lebih rumit. Budaya kita mengenal malu, sungkan, dan tepo seliro. Banyak orang dibesarkan dengan keyakinan bahwa terlalu agresif dianggap kurang sopan. Akibatnya, rasa suka sering disampaikan lewat cara-cara yang nyaris tak terdeteksi radar.
Ia tidak mengirim pesan setiap jam.
Ia hanya diam-diam memastikan kita sudah makan.
Ia tidak membuat unggahan romantis.
Ia hanya rela memutar jalan agar bisa mengantar kita pulang.
Kalau ukuran cinta hanya "banjir chat", banyak kisah kasih di kampung-kampung akan gagal lolos audit.
Namun, jangan pula terjebak pada ekstrem sebaliknya. Ada orang yang sangat ahli menciptakan harapan palsu. Pesannya cepat, sapanya manis, panggilannya penuh sayang, tetapi komitmennya lebih pendek daripada masa diskon toko daring.
Mereka seperti notifikasi aplikasi.
Bunyinya ramai.
Isinya promosi.
Lalu apa pelajaran yang bisa dipetik?
Pertama, berhentilah menjadi arkeolog perasaan. Jangan setiap jeda balasan lima menit langsung dianggap sebagai artefak bahwa ia sedang kehilangan cinta. Bisa jadi ia memang sedang rapat. Bisa jadi baterainya habis. Bisa juga... iya, memang sedang tidak tertarik. Semua kemungkinan itu ada.
Kedua, jangan pula menjadi detektif yang memaksa setiap senyuman memiliki makna romantis. Kasir minimarket yang tersenyum kepada kita belum tentu sedang menyusun nama anak.
Ketiga, dan ini yang paling penting, harga diri jangan ditaruh di kolom chat.
Sering kali kita menghabiskan begitu banyak energi menunggu balasan seseorang, sampai lupa membalas pesan dari kehidupan sendiri. Kita mengejar satu pintu yang tertutup rapat, padahal di belakang ada seratus pintu lain yang mungkin sedang terbuka sambil melambai-lambaikan kesempatan.
Cinta memang membutuhkan keberanian. Tetapi keberanian terbesar bukanlah mengirim pesan lebih dulu. Keberanian terbesar adalah tahu kapan harus berhenti mengetuk pintu yang jelas-jelas sudah dipasang papan bertuliskan, "Mohon jangan diganggu."
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukanlah perlombaan siapa paling cepat membalas chat atau siapa paling banyak mengirim emoji. Hubungan yang sehat adalah tentang kehadiran yang konsisten. Tentang orang yang tetap muncul ketika sinyal sedang buruk, ketika wajah sedang kusut, ketika dompet sedang tipis, dan ketika hidup sedang tidak memasang filter.
Karena kilau di mata memang indah.
Tetapi orang yang bersedia tetap menemani saat mata kita sembab karena kehidupan, itulah cahaya yang sesungguhnya.
Dan jika hari ini ponselmu masih sepi, jangan buru-buru menyimpulkan semesta sedang memboikot kisah cintamu. Bisa jadi semesta hanya sedang mengingatkan bahwa baterai harga dirimu lebih penting untuk diisi daripada baterai ponselmu.
Lagi pula, hubungan terbaik bukan dimulai dari bunyi notifikasi.
Melainkan dari dua orang yang sama-sama tahu bahwa cinta bukan soal siapa yang paling sering berkata "aku ada", melainkan siapa yang benar-benar ada ketika kata-kata sudah tidak cukup lagi.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.