Musik memang aneh. Ia satu-satunya tamu yang bisa masuk ke kepala tanpa mengetuk pintu, memindahkan perabot emosi, lalu pulang tanpa diminta ganti rugi. Tidak ada orang yang tiba-tiba berkata, "Wah, lagu ini buruk sekali. Saya putar lagi tujuh belas kali untuk memastikan." Tapi anehnya, itulah yang sering terjadi. Lagu yang katanya membosankan justru diam-diam menjadi soundtrack perjalanan ke kantor, ke dapur, bahkan ke kamar mandi.
Para ilmuwan rupanya punya kabar yang cukup menghibur bagi
kita yang sering dianggap "terlalu banyak mendengarkan musik".
Ternyata otak memang bereaksi terhadap musik seperti panitia hajatan yang
mendadak diberi tahu bahwa tamu sudah datang. Semua sibuk. Korteks motorik
buru-buru menyuruh kaki mengetuk lantai. Hipokampus membuka album kenangan yang
sudah berdebu. Amigdala, si direktur emosi, tiba-tiba lembur tanpa dibayar.
Sementara dopamin keluar membawa spanduk bertuliskan, "Selamat datang,
kebahagiaan sementara!"
Kalau dipikir-pikir, otak kita memang tidak jauh beda dengan
tetangga yang hobinya mengintip dari balik gorden. Ia selalu ingin tahu apa
yang akan terjadi berikutnya. Musik memahami kelemahan ini dengan licik. Ia
memberi sedikit petunjuk, lalu berhenti. Kita dibuat menunggu. Ketika nada yang
ditunggu akhirnya datang, otak bersorak seperti penonton sinetron yang akhirnya
melihat tokoh antagonis tertangkap. Padahal yang berubah hanya beberapa nada.
Drama itu terjadi seluruhnya di dalam kepala.
Barangkali karena itulah kita rela mendengarkan lagu yang
sama berkali-kali. Bukan karena memorinya rusak, tetapi karena otaknya memang
menikmati permainan tebak-tebakan. Musik adalah pesulap yang kita tahu triknya,
tetapi tetap saja kita bertepuk tangan setiap kali pertunjukan dimulai.
Kalau ditarik lebih jauh ke masa lalu, nenek moyang kita
mungkin tidak pernah mengenal Spotify, YouTube Music, atau playlist bertajuk Galau
Akhir Bulan. Yang mereka dengarkan adalah suara ranting patah di tengah
hutan. Masalahnya sederhana: apakah itu angin, rusa, atau harimau yang sedang
mencari makan? Salah menebak, tamat riwayat.
Dari situlah otak belajar membaca pola bunyi. Evolusi
membangun sistem pendeteksi suara yang sangat canggih demi bertahan hidup. Lalu
ribuan tahun kemudian manusia menggunakan kemampuan luar biasa itu... untuk
menghafal lirik lagu yang bahkan tidak tahu artinya.
Inilah salah satu ironi paling lucu dalam sejarah evolusi.
Perangkat biologis yang dahulu menyelamatkan manusia dari taring harimau kini
dipakai untuk memastikan kapan penyanyi favorit akan masuk ke bagian reff yang
paling nikmat. Harimau mungkin menggelengkan kepala jika masih sempat hidup
sampai sekarang.
Musik juga memiliki bakat yang tidak dimiliki debat media
sosial: menyatukan orang. Di konser, ribuan manusia melompat bersamaan,
bernyanyi bersamaan, bahkan lupa kalau mereka berbeda pilihan politik, berbeda
klub sepak bola, dan berbeda merek mi instan favorit. Selama lagu diputar,
semuanya sepakat pada satu hal: bagian reff wajib dinyanyikan lebih keras
daripada vokalisnya.
Coba bandingkan dengan rapat kantor. Lima belas orang
berkumpul selama dua jam untuk memutuskan warna map proposal. Sementara lima
puluh ribu orang di stadion bisa kompak berteriak dalam hitungan detik hanya
karena gitar mulai berbunyi.
Mungkin benar, sebelum manusia menemukan pidato, mereka
lebih dulu menemukan irama. Sebelum pandai berdebat, mereka sudah pandai
bertepuk tangan mengikuti ketukan. Bahasa menyampaikan pikiran, tetapi musik
sering kali langsung mengambil jalan pintas menuju perasaan.
Yang lebih mengejutkan, musik ternyata bukan cuma ahli
menghibur. Ia juga diam-diam bekerja paruh waktu di dunia kesehatan. Pada
pasien Parkinson, irama membantu langkah kaki menemukan ritmenya kembali. Pada
sebagian penderita Alzheimer, lagu lama mampu membuka laci kenangan yang sudah
lama macet. Bahkan terapi musik kini menjadi teman bagi banyak pasien yang
sedang berjuang melawan depresi atau gangguan neurologis.
Tentu saja musik bukan penyihir. Mendengarkan lagu favorit
tidak otomatis membuat kolesterol turun, utang lunas, atau grup WhatsApp
keluarga berhenti mengirim hoaks. Ilmu pengetahuan tetap mengingatkan kita agar
tidak berlebihan. Tidak semua penyakit selesai dengan gitar akustik dan
secangkir kopi.
Namun justru di situlah keindahannya. Musik tidak
menjanjikan mukjizat. Ia hanya menawarkan sesuatu yang sering diremehkan:
kesempatan bagi otak untuk bernapas, bagi emosi untuk berbicara, dan bagi
kenangan untuk sesekali keluar berjalan-jalan.
Ada juga kebiasaan manusia yang membuat musik tampak semakin
jenaka. Ketika sedang jatuh cinta, semua lagu terasa ditulis khusus untuk
dirinya. Ketika patah hati, lagu yang sama berubah menjadi laporan hasil
investigasi kehidupan pribadi. Penyanyinya mungkin bahkan tidak mengenal kita,
tetapi kita merasa ia pasti mengintip isi buku harian.
Musik memang seperti cermin yang bandel. Yang dipantulkannya
bukan wajah, melainkan suasana hati. Lagu tidak berubah; yang berubah adalah
orang yang mendengarkannya.
Pada akhirnya, mungkin kita memang bukan makhluk yang
sekadar berpikir. Kita adalah makhluk yang berirama. Di dalam kepala kita
tinggal miliaran neuron yang sesekali lupa sedang mengurus logika karena sibuk
ikut karaoke.
Barangkali itulah sebabnya dunia terasa sedikit lebih
manusiawi ketika ada musik. Sebab hidup sendiri sering terdengar seperti mesin
fotokopi: bekerja terus, berisik, tetapi tidak selalu bermakna. Musik datang
seperti secangkir teh hangat di tengah hujan—ia tidak menghentikan badai,
tetapi membuat kita berhenti mengeluh sebentar, lalu berkata, "Ah,
ternyata hidup masih enak didengarkan."
Jadi, jika suatu hari Anda melihat seseorang tersenyum
sendiri sambil memakai earphone, jangan buru-buru mengira ia sedang menghindari
kenyataan. Bisa jadi, ia sedang menghadiri konser paling megah yang pernah
ada—sebuah pertunjukan rahasia di dalam tengkoraknya sendiri, tempat jutaan
neuron berjoget tanpa perlu membeli tiket VIP.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.