Ada satu penemuan manusia modern yang tampaknya lebih berpengaruh daripada listrik: tombol "Skip Ad." Sejak saat itu kita seolah percaya bahwa semua hal dalam hidup juga memiliki tombol serupa. Belajar? Skip. Latihan? Skip. Proses? Skip. Langsung ke sukses, kalau bisa sebelum makan siang.
Sayangnya, kehidupan bukan YouTube Premium.
Kutipan yang dikaitkan dengan Denzel Washington justru
mengingatkan sesuatu yang sangat tidak disukai generasi serba cepat: hal-hal
yang benar-benar berharga itu lambat. Kalimat itu terdengar sederhana,
tetapi bagi orang yang setiap lima menit mengecek apakah unggahan Instagram-nya
sudah mendapat tambahan satu "like", kalimat tersebut bisa terdengar
seperti ancaman.
Zaman ini memang lucu. Kita hidup di era ketika kopi harus
instan, mie harus instan, belanja cukup satu klik, bahkan jatuh cinta pun
kadang cukup lewat emoji api dan hati merah. Akibatnya, kita diam-diam berharap
karakter juga bisa diunduh seperti aplikasi.
Padahal karakter bukan aplikasi. Ia lebih mirip rendang.
Semakin lama dimasak, semakin matang. Kalau dipaksa cepat, hasilnya cuma daging
rebus yang kebetulan berwarna cokelat.
Kita sering iri melihat orang lain "terbang".
Media sosial adalah kebun binatang tempat semua orang memamerkan sayapnya. Ada
yang baru umur dua puluh sudah membeli rumah. Ada yang baru lulus kuliah sudah
menjadi CEO. Ada pula yang baru membuat konten tiga minggu sudah mengajar
seminar tentang "cara menjadi sukses sebelum usia 25."
Yang tidak pernah dipamerkan adalah cicilan, kegagalan,
utang tidur, kecemasan, dan momen ketika mereka menangis gara-gara file
presentasi hilang lima menit sebelum rapat. Media sosial adalah museum
keberhasilan; gudang kegagalannya disimpan di ruang belakang yang tidak boleh
dikunjungi tamu.
Denzel—atau siapa pun yang pertama kali merangkai kalimat
itu—mengingatkan bahwa masalahnya bukan terbang tinggi. Burung memang
diciptakan untuk terbang. Masalahnya adalah terbang tanpa akar.
Ya, tanpa akar.
Ini memang terdengar aneh karena burung tidak punya akar.
Tetapi manusia juga sering hidup seperti pohon yang bercita-cita menjadi drone.
Ingin melayang setinggi mungkin, tetapi malas menancapkan akar sedalam mungkin.
Padahal badai tidak pernah bertanya, "Maaf, followers
Anda sudah berapa?"
Ia langsung meniup.
Yang bertahan bukan pohon yang paling viral, melainkan yang
paling dalam akarnya.
Di sinilah letak kelucuan manusia modern. Kita menghabiskan
lebih banyak waktu memilih foto profil daripada membangun kepribadian. Kita
rela dua jam mengatur pencahayaan agar wajah tampak bercahaya, tetapi hanya dua
menit untuk bercermin ke dalam diri.
Barangkali karena kamera depan memang lebih ramah daripada
hati nurani.
Kutipan itu juga mengatakan bahwa kalau kita harus memaksa
masuk ke suatu tempat, mungkin memang itu bukan tempat kita.
Ini menarik.
Banyak orang mengira setiap pintu yang tertutup harus
didobrak. Akibatnya hidup berubah seperti sales asuransi yang mengetuk semua
rumah sambil berharap ada yang iba.
Kadang kita lupa bahwa tidak semua pintu yang terkunci
adalah tantangan. Ada yang memang tulisan di depannya sudah jelas: "Maaf,
bukan untuk Anda."
Masalahnya, ego manusia memiliki kemampuan membaca yang
sangat selektif.
Ketika ditolak pekerjaan, kita berkata, "Saya akan
buktikan!"
Ketika ditolak gebetan, kita berkata, "Saya akan
berjuang!"
Ketika ditolak bank karena pinjaman, barulah kita berkata,
"Mungkin ini memang bukan jalan saya."
Ada juga bagian favorit saya: berjalan pelan tetapi
dengan tujuan yang jelas.
Kalimat ini terdengar membosankan di telinga dunia yang
menganggap sibuk sebagai prestasi. Sekarang ini orang bangga berkata,
"Saya lagi hectic banget."
Aneh sekali.
Tidak ada yang pernah berkata dengan bangga, "Saya lagi
makan dengan tenang, tidur cukup, hubungan dengan keluarga baik, hati
damai."
Padahal itu jauh lebih sulit dicapai daripada membalas
seratus email dalam sehari.
Kita hidup dalam perlombaan yang kadang tidak jelas garis
akhirnya. Semua berlari. Ketika ditanya mau ke mana, sebagian menjawab,
"Belum tahu. Yang penting jangan sampai ketinggalan."
Bayangkan naik bus tanpa tahu tujuan, tetapi marah-marah
karena dapat kursi belakang.
Lucu, bukan?
Namun di balik kelucuannya, ada ironi yang menyentuh. Kita
sering mengukur hidup memakai stopwatch, padahal kehidupan lebih suka
menggunakan kalender. Bahkan alam pun tidak pernah tergesa-gesa.
Mangga tidak iri kepada rambutan karena panennya lebih
cepat.
Bambu tidak minder kepada pisang karena harus menunggu
bertahun-tahun.
Gunung tidak stres karena sungai mengalir lebih cepat.
Hanya manusia yang melihat tetangganya membeli mobil baru,
lalu tiba-tiba merasa hidupnya gagal.
Tentu saja, pesan ini bukan berarti kita boleh
bermalas-malasan sambil berkata, "Kalau rezeki tidak ke mana."
Kalimat itu sering dipakai sebagai alasan untuk rebahan yang
terlalu filosofis.
Kesabaran bukanlah parkir. Kesabaran adalah tetap berjalan
meskipun tidak tergoda memotong jalan lewat jurang.
Ada orang yang memang harus berlari karena keadaan hidupnya
keras. Ada yang tidak punya kemewahan untuk melangkah santai. Karena itu,
nasihat tentang "jalan pelan" jangan dipakai untuk menghakimi mereka
yang sedang pontang-panting mencari nafkah.
Yang sebenarnya diajak pelan bukan langkah kaki, melainkan
langkah ego.
Sebab ego selalu ingin lebih cepat daripada kemampuan.
Dan kemampuan selalu meminta waktu lebih banyak daripada
yang rela diberikan ego.
Pada akhirnya, mungkin hidup memang lebih mirip menanam
pohon mangga daripada memesan makanan lewat aplikasi. Kita tidak bisa memberi
bintang satu kepada alam karena buahnya belum muncul minggu depan.
Kita hanya bisa menyiram, merawat, bersabar, lalu suatu hari
berteduh di bawah pohon yang dulu tampak tidak menghasilkan apa-apa.
Begitulah karakter.
Ia tumbuh diam-diam, nyaris membosankan, sering tidak
dipuji. Tetapi ketika badai datang, barulah kita sadar bahwa yang menyelamatkan
kita bukan tepuk tangan orang lain, melainkan akar yang selama ini bekerja
tanpa pernah minta difoto.
Dan mungkin, itulah ironi terbesar zaman ini.
Kita hidup di dunia yang tergila-gila pada kecepatan,
padahal hampir semua hal yang benar-benar layak dicintai—persahabatan, ilmu,
kebijaksanaan, kepercayaan, bahkan secangkir kopi yang enak—selalu meminta satu
harga yang sama.
Waktu.
Untungnya, waktu tidak pernah menerima pembayaran dengan
tergesa-gesa.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.