Ada satu kenyataan yang menyedihkan sekaligus menggelikan dalam hidup modern: orang rela membaca seratus komentar, tetapi malas membaca dua paragraf penjelasan. Padahal, komentar biasanya ditulis dengan semangat yang lebih tinggi daripada kadar logikanya. Mungkin inilah alasan mengapa Gustave Le Bon, meski sudah wafat lebih dari seabad lalu, masih tampak seperti tetangga yang diam-diam mengamati perilaku kita dari balik pagar media sosial.
Le Bon pernah berkata bahwa siapa yang mampu memelihara khayalan massa akan menjadi tuan mereka, sedangkan siapa yang berusaha membongkar khayalan itu justru akan menjadi korban mereka. Kalimat itu terdengar seperti ramalan. Bedanya, para nabi membawa wahyu, sementara Le Bon membawa hasil pengamatan terhadap manusia yang rupanya tak banyak berubah sejak ditemukan tombol "Like".
Kalau dulu massa berkumpul di alun-alun sambil membawa obor, sekarang mereka berkumpul di kolom komentar sambil membawa emoji marah. Obornya hilang, tetapi semangat membakar orang tetap lestari.
Le Bon rupanya memahami satu rahasia besar umat manusia: kebanyakan orang tidak mencari kebenaran. Mereka mencari kenyamanan. Kebenaran sering datang membawa PR, sedangkan ilusi datang membawa hadiah. Kebenaran berkata, "Mari berpikir." Ilusi berkata, "Tenang saja, semua salah orang lain." Tidak mengherankan jika ilusi selalu punya antrean penggemar yang panjang.
Ilusi memang memiliki kelebihan pemasaran yang luar biasa. Ia tidak membutuhkan data, cukup percaya diri. Fakta harus membawa tabel, grafik, jurnal ilmiah, dan catatan kaki. Ilusi cukup membawa musik dramatis, huruf kapital, serta kalimat, "SEBARKAN SEBELUM DIHAPUS!"
Aneh tapi nyata, semakin sedikit bukti, kadang semakin besar keyakinannya.
Media sosial kemudian menjadi taman hiburan terbesar bagi psikologi massa. Algoritma tampaknya memiliki prinsip sederhana: jika sesuatu membuat orang marah, takut, atau merasa paling benar, maka itu layak disebarluaskan. Barangkali algoritma pernah membaca buku Le Bon, lalu berpikir, "Wah, ini bisa dijadikan model bisnis."
Di dunia digital, lahirlah profesi yang sangat menjanjikan: penjual ilusi. Produknya bermacam-macam. Ada yang menjual harapan kaya dalam tujuh hari. Ada yang menawarkan resep menjadi bijaksana hanya dengan menonton video tiga puluh detik. Bahkan ada yang menjual kepastian mengenai segala hal, mulai dari ekonomi dunia sampai isi hati tetangga, padahal dirinya sendiri masih bingung menentukan menu makan siang.
Yang menarik, semakin rumit persoalan, semakin sederhana solusi yang ditawarkan.
"Negara kacau? Salah kelompok itu."
"Hidup susah? Karena konspirasi."
"Gagal ujian? Energi semesta sedang tidak mendukung."
Solusi semacam itu memang nikmat. Sama seperti mie instan. Cepat, mengenyangkan sesaat, tetapi tidak bisa dijadikan menu utama kalau ingin sehat.
Sebaliknya, orang yang membawa data sering bernasib tragis. Ia datang dengan grafik, penelitian, dan penjelasan yang hati-hati. Belum selesai membuka presentasi, sudah ada komentar, "Kamu pasti dibayar!"
Padahal yang dibayar justru kuota internetnya sendiri.
Ironisnya, pembawa fakta sering diperlakukan seperti tamu yang merusak pesta. Bayangkan seseorang sedang menikmati pertunjukan sulap. Semua orang bertepuk tangan melihat kelinci keluar dari topi. Tiba-tiba ada orang berdiri dan berkata, "Itu ada ruang rahasia di bawah meja."
Alih-alih berterima kasih, penonton justru kesal.
"Sudah diam saja! Kami sedang menikmati pertunjukan."
Begitulah nasib para pembongkar ilusi. Mereka dianggap mengganggu kebahagiaan publik hanya karena terlalu rajin menjelaskan.
Namun, apakah Le Bon sepenuhnya benar?
Untungnya tidak.
Kalau seluruh manusia benar-benar tunduk selamanya kepada ilusi, perpustakaan pasti sudah berubah menjadi gudang dekorasi. Universitas cukup diganti studio podcast, laboratorium diubah menjadi tempat swafoto, dan buku-buku filsafat mungkin dijual kiloan bersama kardus bekas.
Faktanya, sejarah justru dipenuhi orang-orang yang mula-mula ditertawakan, kemudian ditentang, lalu diam-diam dibenarkan. Memang, perjalanan kebenaran tidak pernah secepat video viral. Ia lebih mirip kereta ekonomi: sering terlambat, berhenti di banyak stasiun, tetapi akhirnya sampai juga.
Sedangkan ilusi lebih mirip kendaraan odong-odong. Musiknya meriah, lampunya berkedip-kedip, penumpangnya tertawa bahagia, tetapi mutarnya hanya di tempat yang sama.
Di sinilah pelajaran terbesar dari Le Bon. Ancaman terbesar bagi masyarakat ternyata bukan hanya kebohongan, melainkan kemalasan berpikir. Ilusi menjadi kuat bukan karena ia pintar, melainkan karena manusia sering lebih suka jawaban sederhana daripada pertanyaan yang rumit.
Padahal akal manusia diciptakan bukan sekadar untuk membedakan mana tombol "Like" dan "Share", melainkan untuk membedakan mana argumentasi dan mana akrobat retorika.
Mungkin itulah tantangan kita hari ini. Jangan terlalu cepat mengagumi orang yang selalu memiliki jawaban untuk semua persoalan. Bisa jadi ia bukan seorang jenius. Bisa jadi ia hanya pedagang ilusi dengan kemampuan pemasaran yang sangat baik.
Sebab pada akhirnya, dunia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. Dunia lebih membutuhkan orang yang berani berpikir, bahkan ketika pikirannya tidak sedang menjadi tren.
Dan kalau suatu hari pendapat kita tidak mendapat seribu tanda suka, jangan buru-buru berkecil hati. Kebenaran memang tidak selalu viral. Ia hanya punya kebiasaan yang agak kuno: datang belakangan, tetapi bertahan lebih lama.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.