Ada dua jenis manusia di dunia. Pertama, orang yang percaya bahwa kerja keras pasti berbuah manis. Kedua, orang yang pernah membuka aplikasi mobile banking tanggal 25, lalu saldonya berkata, "Kita berteman saja, ya."
John Williams, melalui novelnya Stoner, tampaknya
lebih akrab dengan golongan kedua.
Yang menarik, Stoner bukan novel yang penuh ledakan,
pembunuhan, konspirasi, atau pahlawan yang menyelamatkan dunia lima menit
sebelum kiamat. Novel ini justru berani mengangkat tokoh yang prestasi
terbesarnya mungkin hanya berhasil datang mengajar tepat waktu. Di dunia sastra
modern yang dipenuhi tokoh eksentrik, William Stoner tampil seperti dosen yang
lupa membawa spidol tetapi tetap mengajar dua jam penuh. Membosankan? Justru di
situlah keajaibannya.
John Williams seolah berkata bahwa tragedi terbesar manusia
bukan selalu perang atau bencana. Kadang tragedi terbesar adalah tetap hidup
setiap hari sambil pura-pura semuanya baik-baik saja.
Depresi Besar dalam novel itu bukan sekadar krisis ekonomi.
Itu adalah pesta pora kehancuran harga diri. Orang kehilangan pekerjaan bukan
hanya kehilangan penghasilan, tetapi juga kehilangan jawaban ketika ditanya,
"Sekarang kerja di mana?"
Pertanyaan sederhana itu bisa lebih menakutkan daripada
tagihan listrik.
Williams menggambarkan orang-orang yang dulunya berjalan
tegap kini datang ke pintu belakang rumah meminta pekerjaan dengan langkah
seperti sedang menuju ruang sidang terakhir. Bayangkan betapa kejamnya hidup
ketika seseorang tidak lagi takut pada kemiskinan, melainkan takut bertemu
tetangga.
Karena kadang rasa malu jauh lebih mahal daripada harga
beras.
Yang lucu—atau lebih tepatnya lucu getir—adalah manusia
selalu mengaitkan identitasnya dengan profesi.
Begitu bertemu orang baru, kita tidak bertanya, "Apakah
Anda bahagia?"
Yang ditanya justru, "Kerjanya apa?"
Seolah-olah kalau jawabannya "sedang mencari jati
diri", percakapan otomatis selesai.
Padahal jati diri memang sering hilang bersamaan dengan
kartu akses kantor.
Di tengah kekacauan itu berdirilah William Stoner. Seorang
profesor sastra yang nyaris tidak pernah menjadi pusat perhatian. Ia bukan
tokoh revolusioner. Ia tidak memimpin demonstrasi. Ia juga tidak mendirikan
startup yang menjanjikan "mengubah dunia dengan kecerdasan buatan."
Ia hanya membaca buku.
Di zaman sekarang, aktivitas itu sendiri sudah cukup
revolusioner.
Posisinya sebagai dosen tetap membuatnya berada di wilayah
yang aneh. Ia tidak kaya, tetapi juga tidak sepenuhnya tenggelam. Ia seperti
penumpang kapal yang masih mendapat kursi ketika sebagian besar orang sudah
berdiri berdesakan.
Dan, seperti biasa, manusia punya bakat luar biasa dalam
mengubah rasa iri menjadi filsafat.
"Dia enak karena kerja di kampus."
"Dia enak karena PNS."
"Dia enak karena punya usaha."
"Dia enak karena..." dan daftar itu tidak pernah
selesai.
Lucunya, setiap orang merasa rumput tetangganya lebih hijau,
padahal tetangganya sedang bingung membayar cicilan pupuk.
Williams memahami sesuatu yang sering dilupakan motivator:
manusia tidak hidup hanya dengan uang.
Kalau uang memang segalanya, orang kaya tidak akan mengalami
depresi.
Kalau jabatan memang sumber kebahagiaan, rapat koordinasi
pasti menjadi acara paling menyenangkan di muka bumi.
Faktanya tidak demikian.
Manusia membutuhkan makna sebagaimana ikan membutuhkan air.
Ketika makna itu hilang, rekening mungkin masih terisi, tetapi jiwa sudah
seperti baterai ponsel yang bertahan di angka satu persen sambil terus
memunculkan notifikasi Low Power Mode.
Yang membuat Stoner begitu mengganggu adalah
kesunyiannya.
John Williams tidak berteriak.
Ia berbisik.
Dan justru bisikan sering lebih sulit diabaikan daripada
teriakan.
Ia tidak memaksa pembaca menangis. Ia hanya menunjukkan
seseorang yang kehilangan dirinya sedikit demi sedikit, seperti sandal yang
sebelah hilang di masjid. Awalnya kita yakin pasti ketemu. Lama-lama kita
pulang memakai sandal pinjaman sambil mempertanyakan takdir.
Begitulah identitas manusia kadang menghilang: bukan
sekaligus, melainkan perlahan.
Novel ini juga menampar mitos favorit dunia modern: kalau
kita rajin, disiplin, dan bekerja keras, hidup pasti membalas dengan adil.
Ah, hidup rupanya tidak pernah menandatangani kontrak itu.
Hidup lebih mirip panitia lomba yang kadang lupa mengumumkan
pemenangnya.
Ada yang bekerja siang malam tetap pas-pasan.
Ada yang tidur siang malah jadi influencer.
Logika ekonomi sering kali kalah cepat dibanding algoritma.
Namun di sinilah Stoner menawarkan pelajaran yang diam-diam
menyembuhkan.
Martabat ternyata tidak selalu bergantung pada tepuk tangan.
Makna hidup juga tidak selalu datang bersama promosi
jabatan.
Kadang kemenangan terbesar adalah tetap menjadi manusia yang
waras ketika dunia sibuk mengukur nilai seseorang dari angka gaji, jumlah
pengikut media sosial, atau ukuran mobil di garasi.
Stoner memilih sastra.
Bukan karena sastra membuat kaya—kalau itu tujuannya,
mungkin ia sudah pindah profesi sejak halaman pertama—melainkan karena sastra
membuat manusia tetap ingat bahwa dirinya bukan mesin pencetak uang.
Ia tetap membaca, mengajar, berpikir, dan menyaksikan dunia
dengan mata yang belum sepenuhnya mati.
Barangkali itulah keberanian terbesar.
Bukan mengalahkan dunia.
Melainkan tidak ikut berubah menjadi dunia yang kehilangan
belas kasih.
Pada akhirnya, Stoner mengajarkan sesuatu yang
terdengar sederhana tetapi sulit dipraktikkan: melihat.
Melihat orang yang sedang jatuh tanpa buru-buru menghakimi.
Melihat mereka yang kehilangan pekerjaan tanpa menganggap
mereka malas.
Melihat penderitaan tanpa menjadikannya tontonan.
Karena di zaman ketika semua orang ingin menjadi pusat
perhatian, mungkin menjadi saksi yang jujur justru merupakan bentuk
kepahlawanan yang paling langka.
Dan jika suatu hari hidup terasa seperti novel Stoner—sunyi,
biasa-biasa saja, tanpa tepuk tangan—jangan buru-buru kecewa.
Sebab boleh jadi, kehidupan memang bukan panggung pencarian
popularitas. Ia lebih mirip perpustakaan tua: sepi, berdebu, kadang
membosankan, tetapi di rak-raknya selalu tersembunyi jawaban bagi mereka yang
cukup sabar untuk membuka satu halaman lagi.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.