Kamis, 16 Juli 2026

Stoner, Slip Gaji, dan Ilusi Bahwa Hidup Akan Baik-Baik Saja

Ada dua jenis manusia di dunia. Pertama, orang yang percaya bahwa kerja keras pasti berbuah manis. Kedua, orang yang pernah membuka aplikasi mobile banking tanggal 25, lalu saldonya berkata, "Kita berteman saja, ya."

John Williams, melalui novelnya Stoner, tampaknya lebih akrab dengan golongan kedua.

Yang menarik, Stoner bukan novel yang penuh ledakan, pembunuhan, konspirasi, atau pahlawan yang menyelamatkan dunia lima menit sebelum kiamat. Novel ini justru berani mengangkat tokoh yang prestasi terbesarnya mungkin hanya berhasil datang mengajar tepat waktu. Di dunia sastra modern yang dipenuhi tokoh eksentrik, William Stoner tampil seperti dosen yang lupa membawa spidol tetapi tetap mengajar dua jam penuh. Membosankan? Justru di situlah keajaibannya.

John Williams seolah berkata bahwa tragedi terbesar manusia bukan selalu perang atau bencana. Kadang tragedi terbesar adalah tetap hidup setiap hari sambil pura-pura semuanya baik-baik saja.

Depresi Besar dalam novel itu bukan sekadar krisis ekonomi. Itu adalah pesta pora kehancuran harga diri. Orang kehilangan pekerjaan bukan hanya kehilangan penghasilan, tetapi juga kehilangan jawaban ketika ditanya, "Sekarang kerja di mana?"

Pertanyaan sederhana itu bisa lebih menakutkan daripada tagihan listrik.

Williams menggambarkan orang-orang yang dulunya berjalan tegap kini datang ke pintu belakang rumah meminta pekerjaan dengan langkah seperti sedang menuju ruang sidang terakhir. Bayangkan betapa kejamnya hidup ketika seseorang tidak lagi takut pada kemiskinan, melainkan takut bertemu tetangga.

Karena kadang rasa malu jauh lebih mahal daripada harga beras.

Yang lucu—atau lebih tepatnya lucu getir—adalah manusia selalu mengaitkan identitasnya dengan profesi.

Begitu bertemu orang baru, kita tidak bertanya, "Apakah Anda bahagia?"

Yang ditanya justru, "Kerjanya apa?"

Seolah-olah kalau jawabannya "sedang mencari jati diri", percakapan otomatis selesai.

Padahal jati diri memang sering hilang bersamaan dengan kartu akses kantor.

Di tengah kekacauan itu berdirilah William Stoner. Seorang profesor sastra yang nyaris tidak pernah menjadi pusat perhatian. Ia bukan tokoh revolusioner. Ia tidak memimpin demonstrasi. Ia juga tidak mendirikan startup yang menjanjikan "mengubah dunia dengan kecerdasan buatan."

Ia hanya membaca buku.

Di zaman sekarang, aktivitas itu sendiri sudah cukup revolusioner.

Posisinya sebagai dosen tetap membuatnya berada di wilayah yang aneh. Ia tidak kaya, tetapi juga tidak sepenuhnya tenggelam. Ia seperti penumpang kapal yang masih mendapat kursi ketika sebagian besar orang sudah berdiri berdesakan.

Dan, seperti biasa, manusia punya bakat luar biasa dalam mengubah rasa iri menjadi filsafat.

"Dia enak karena kerja di kampus."

"Dia enak karena PNS."

"Dia enak karena punya usaha."

"Dia enak karena..." dan daftar itu tidak pernah selesai.

Lucunya, setiap orang merasa rumput tetangganya lebih hijau, padahal tetangganya sedang bingung membayar cicilan pupuk.

Williams memahami sesuatu yang sering dilupakan motivator: manusia tidak hidup hanya dengan uang.

Kalau uang memang segalanya, orang kaya tidak akan mengalami depresi.

Kalau jabatan memang sumber kebahagiaan, rapat koordinasi pasti menjadi acara paling menyenangkan di muka bumi.

Faktanya tidak demikian.

Manusia membutuhkan makna sebagaimana ikan membutuhkan air. Ketika makna itu hilang, rekening mungkin masih terisi, tetapi jiwa sudah seperti baterai ponsel yang bertahan di angka satu persen sambil terus memunculkan notifikasi Low Power Mode.

Yang membuat Stoner begitu mengganggu adalah kesunyiannya.

John Williams tidak berteriak.

Ia berbisik.

Dan justru bisikan sering lebih sulit diabaikan daripada teriakan.

Ia tidak memaksa pembaca menangis. Ia hanya menunjukkan seseorang yang kehilangan dirinya sedikit demi sedikit, seperti sandal yang sebelah hilang di masjid. Awalnya kita yakin pasti ketemu. Lama-lama kita pulang memakai sandal pinjaman sambil mempertanyakan takdir.

Begitulah identitas manusia kadang menghilang: bukan sekaligus, melainkan perlahan.

Novel ini juga menampar mitos favorit dunia modern: kalau kita rajin, disiplin, dan bekerja keras, hidup pasti membalas dengan adil.

Ah, hidup rupanya tidak pernah menandatangani kontrak itu.

Hidup lebih mirip panitia lomba yang kadang lupa mengumumkan pemenangnya.

Ada yang bekerja siang malam tetap pas-pasan.

Ada yang tidur siang malah jadi influencer.

Logika ekonomi sering kali kalah cepat dibanding algoritma.

Namun di sinilah Stoner menawarkan pelajaran yang diam-diam menyembuhkan.

Martabat ternyata tidak selalu bergantung pada tepuk tangan.

Makna hidup juga tidak selalu datang bersama promosi jabatan.

Kadang kemenangan terbesar adalah tetap menjadi manusia yang waras ketika dunia sibuk mengukur nilai seseorang dari angka gaji, jumlah pengikut media sosial, atau ukuran mobil di garasi.

Stoner memilih sastra.

Bukan karena sastra membuat kaya—kalau itu tujuannya, mungkin ia sudah pindah profesi sejak halaman pertama—melainkan karena sastra membuat manusia tetap ingat bahwa dirinya bukan mesin pencetak uang.

Ia tetap membaca, mengajar, berpikir, dan menyaksikan dunia dengan mata yang belum sepenuhnya mati.

Barangkali itulah keberanian terbesar.

Bukan mengalahkan dunia.

Melainkan tidak ikut berubah menjadi dunia yang kehilangan belas kasih.

Pada akhirnya, Stoner mengajarkan sesuatu yang terdengar sederhana tetapi sulit dipraktikkan: melihat.

Melihat orang yang sedang jatuh tanpa buru-buru menghakimi.

Melihat mereka yang kehilangan pekerjaan tanpa menganggap mereka malas.

Melihat penderitaan tanpa menjadikannya tontonan.

Karena di zaman ketika semua orang ingin menjadi pusat perhatian, mungkin menjadi saksi yang jujur justru merupakan bentuk kepahlawanan yang paling langka.

Dan jika suatu hari hidup terasa seperti novel Stoner—sunyi, biasa-biasa saja, tanpa tepuk tangan—jangan buru-buru kecewa.

Sebab boleh jadi, kehidupan memang bukan panggung pencarian popularitas. Ia lebih mirip perpustakaan tua: sepi, berdebu, kadang membosankan, tetapi di rak-raknya selalu tersembunyi jawaban bagi mereka yang cukup sabar untuk membuka satu halaman lagi.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.