Jumat, 17 Juli 2026

Cum Laude, Tapi Bingung Ganti Galon

Catatan tentang Ijazah, Kecerdasan, dan Kehidupan yang Gemar Memberi Ujian Susulan

Ada satu kepercayaan yang begitu sakral di banyak keluarga: kalau anak sudah lulus kuliah, apalagi bergelar sarjana, hidupnya akan berubah seperti sinetron episode terakhir. Orang tua tersenyum, tetangga mendadak ramah, dan calon mertua mulai melirik dengan penuh harapan.

Lalu datanglah kenyataan.

Sarjana itu berdiri di depan dispenser sambil menatap galon kosong. Lima belas menit berlalu. Galonnya tetap kosong. Yang berubah hanya ekspresi wajahnya—dari optimistis menjadi filosofis.

Di situlah kehidupan berbisik pelan, "Selamat datang di mata kuliah yang tidak pernah ada di kampus."

Begitulah ironi pendidikan modern. Bertahun-tahun kita diajari menghitung integral, memahami teori organisasi, menghafal nama ilmiah tumbuhan, bahkan menjelaskan filsafat eksistensial. Namun ketika diminta memperbaiki keran bocor, menyusun anggaran bulanan, atau menenangkan diri saat dompet tinggal berisi struk belanja, mendadak semua teori itu bersembunyi di balik toga wisuda.

Tidak heran jika muncul sindiran yang sering dikaitkan dengan Richard Feynman: jangan pernah menyamakan pendidikan dengan kecerdasan. Sebab seseorang bisa memiliki gelar doktor, tetapi tetap saja menjadi... yah, katakanlah, pelanggan tetap tutorial YouTube untuk memasang stop kontak.

Tentu, sindiran ini bukan ditujukan kepada para doktor. Mereka sudah cukup sibuk mengoreksi jurnal. Yang sedang disindir adalah keyakinan bahwa ijazah otomatis membuat seseorang bijaksana.

Padahal ijazah itu seperti SIM.

Memilikinya tidak otomatis membuat seseorang pandai menyetir. Ia hanya membuktikan bahwa pada suatu hari yang cerah, seseorang berhasil melewati serangkaian ujian.

Selebihnya? Jalan raya memiliki pendapatnya sendiri.


Universitas sering dipandang sebagai pabrik pencetak orang pintar. Sayangnya, kadang-kadang yang keluar justru manusia yang sangat ahli mengerjakan soal pilihan ganda, tetapi panik ketika kehidupan memberikan soal esai.

Di ruang kuliah kita belajar bahwa setiap soal memiliki satu jawaban benar.

Di dunia nyata, satu persoalan justru bisa memiliki sepuluh jawaban, dan semuanya salah kalau disampaikan kepada pasangan pada waktu yang tidak tepat.

Kampus melatih kita menjawab pertanyaan dosen.

Hidup melatih kita menghadapi pertanyaan anak kecil yang jauh lebih mengerikan.

"Kalau orang dewasa pintar, kenapa masih perang?"

Silakan jawab tanpa membuka Google.


Masalah lain adalah obsesi terhadap ijazah.

Ijazah perlahan berubah dari bukti belajar menjadi semacam jimat sosial. Ia dipajang rapi di ruang tamu, dibingkai dengan kaca anti silau, seolah-olah setiap tamu yang datang akan langsung berkata, "Wah, rumah ini pasti penuh kebijaksanaan."

Padahal lima menit kemudian pemilik rumah sedang berdebat sengit di grup WhatsApp keluarga tentang kabar yang ternyata berasal dari akun parodi.

Rupanya kecerdasan digital belum otomatis ikut dicetak bersama transkrip nilai.

Yang lebih lucu lagi, banyak perusahaan memang meminta ijazah sebagai syarat.

Namun setelah diterima bekerja, kehidupan kantor tidak pernah bertanya berapa IPK kita ketika printer mendadak macet lima menit sebelum rapat direksi.

Printer memiliki filosofi sendiri. Ia tidak menghormati cum laude.


Namun menyalahkan universitas sepenuhnya juga tidak adil.

Kampus ibarat pusat kebugaran.

Membayar keanggotaan tidak otomatis membuat perut menjadi kotak-kotak. Kalau setiap hari hanya berfoto di depan cermin sambil memegang botol minum, otot yang berkembang paling-paling hanya otot jempol untuk mengunggah Instagram.

Begitu pula pendidikan.

Universitas menyediakan perpustakaan, laboratorium, dosen, diskusi, bahkan kesempatan bertemu teman-teman yang kelak menjadi kolega atau sahabat seumur hidup. Tetapi berpikir tetap pekerjaan pribadi. Tidak ada dosen yang bisa mengerjakan proses itu atas nama mahasiswa.

Sayangnya, kita kadang memperlakukan kuliah seperti layanan pesan antar.

Bayar.

Datang.

Lulus.

Lalu berharap kecerdasan ikut diantar bersama map wisuda.

Padahal otak bukan aplikasi yang bisa diperbarui hanya dengan menekan tombol "Install Now."


Barangkali yang paling sering terlupakan adalah bahwa kehidupan memiliki kurikulum rahasia.

Mata kuliah "Menghadapi Kegagalan" biasanya dimulai setelah lamaran kerja ke-37 ditolak.

Praktikum "Manajemen Emosi" berlangsung ketika menghadapi pelanggan yang marah-marah padahal kesalahannya sendiri.

Sedangkan seminar "Kerendahan Hati" dibuka setiap kali kita sadar bahwa tukang servis komputer di ujung gang ternyata lebih paham teknologi daripada kita yang baru saja selesai presentasi tentang transformasi digital.

Di universitas, nilai diumumkan setiap akhir semester.

Di kehidupan, nilainya diumumkan setiap kali kita menghadapi masalah.

Tidak ada remedial.

Yang ada hanya pengalaman.


Mungkin memang sudah waktunya kita berhenti bertanya, "Lulusan mana?"

Lalu mulai bertanya, "Bisa apa?"

Bahkan lebih penting lagi, "Mau terus belajar atau merasa sudah selesai belajar?"

Sebab orang yang benar-benar cerdas biasanya justru semakin sadar bahwa masih banyak yang belum ia ketahui.

Sebaliknya, orang yang baru membaca dua utas media sosial sering kali sudah siap mengoreksi seluruh dunia.

Ironisnya, rasa percaya diri memang tumbuh jauh lebih cepat daripada pengetahuan.


Akhirnya, pendidikan formal tetaplah penting. Dokter, insinyur, guru, peneliti, dan banyak profesi lain jelas membutuhkan pendidikan yang serius dan sistematis. Dunia akan sangat kacau jika operasi jantung dilakukan oleh orang yang ilmunya diperoleh dari video berdurasi tiga menit.

Namun, kita juga perlu mengakui bahwa ijazah hanyalah tiket masuk, bukan tujuan perjalanan.

Kehidupan tidak pernah menanyakan warna toga ketika badai datang.

Ia hanya bertanya, "Sekarang, apa yang akan kamu lakukan?"

Dan sering kali jawaban terbaik tidak lahir dari hafalan, melainkan dari keberanian berpikir, kerendahan hati untuk terus belajar, serta kesediaan mengakui bahwa meskipun kita sudah bergelar panjang, kita tetap harus belajar cara mengganti galon tanpa membasahi seluruh dapur.

Begitulah hidup.

Universitas memberikan kita wisuda.

Kehidupan memberikan kita kejutan.

Anehnya, justru dari kejutan-kejutan itulah kecerdasan yang sesungguhnya mulai lulus ujian.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.