Ada dua jenis manusia ketika memasuki bulan Ramadan.
Golongan pertama sibuk menghitung jadwal buka puasa. Lima
belas menit sebelum azan, mereka sudah berdiri di depan kolak seperti satpam
yang sedang menjaga aset negara.
Golongan kedua mulai bertanya, "Bagaimana agar hati ini
lebih dekat kepada Allah?"
Golongan pertama biasanya masih berdebat apakah es buah
termasuk pembatal kesabaran. Golongan kedua mulai membahas sesuatu yang
terdengar sangat eksklusif: ma'rifatullah.
Untunglah para guru tasawuf tidak pernah menyuruh kita naik
gunung sambil memeluk pohon untuk mencarinya. Kalau begitu caranya, pendaki
gunung sudah pasti lebih sufi daripada ustaz.
Kyai justru mengingatkan sesuatu yang sederhana
tetapi sering terlupakan: perjalanan menuju Allah dimulai dari hati yang
dibersihkan, bukan dari lokasi yang dipindahkan.
Burung yang Tak Bisa Terbang Karena Kebanyakan Notifikasi
Dalam kajian ini, ruh manusia diibaratkan seekor burung.
Masalahnya, burung zaman sekarang tampaknya sedang kesulitan
terbang. Bukan karena sayapnya patah, melainkan karena terlalu banyak membawa
beban.
Di sayap kirinya menggantung cicilan.
Di sayap kanannya menempel komentar netizen.
Di punggungnya ada target KPI.
Di kepalanya ada pertanyaan, "Kenapa status WhatsApp
dia cuma dilihat, tapi tidak dibalas?"
Mana sempat terbang menuju langit kalau setiap lima menit
turun lagi mengecek notifikasi.
Padahal, kata para arifin, burung ruh membutuhkan empat
sayap yang jauh lebih ringan: takut, harap, cinta, dan rindu kepada Allah.
Bukan takut saldo habis.
Bukan berharap diskon tanggal kembar.
Bukan cinta kepada algoritma.
Dan bukan rindu kepada mantan yang bahkan sudah lupa nama
kita.
Takut yang Naik Kelas
Selama ini banyak orang beragama seperti murid yang hanya
takut pada guru piket.
Kalau guru lewat, langsung rapi.
Begitu guru pergi, kembali ramai.
Padahal kaum arifin memiliki ketakutan yang jauh lebih
halus.
Mereka tidak sibuk menghitung berapa siksa yang akan
diterima, melainkan gelisah jika Allah tidak lagi meridhai mereka.
Bayangkan seorang anak kecil.
Ia bukan menangis karena kehilangan permen.
Ia menangis karena ibunya diam dan tidak lagi memeluknya.
Begitulah rasa takut yang lahir dari cinta.
Takut kehilangan kedekatan jauh lebih menyakitkan daripada
takut menerima hukuman.
Harapan yang Tidak Lagi Berbelanja
Sebagian dari kita kadang memperlakukan doa seperti aplikasi
belanja daring.
"Ya Allah, saya pesan kesehatan, rezeki, rumah, mobil,
bonus kalau bisa sekalian."
Tidak salah.
Allah memang Maha Memberi.
Namun para arifin ternyata naik satu tingkat.
Mereka tidak lagi sibuk menghitung isi hadiah.
Mereka justru ingin dekat dengan Sang Pemberi hadiah.
Logikanya sederhana.
Kalau berteman hanya karena traktiran, itu namanya
pelanggan, bukan sahabat.
Kaum Sufi Ternyata Tetap Bekerja
Ada stereotip bahwa orang yang mendalami tasawuf harus duduk
di gua, memandangi rembulan, lalu berbicara dengan kupu-kupu.
Ternyata tidak.
Dalam kajian ini dijelaskan bahwa kaum arifin tetap
berdagang, bekerja, mengurus keluarga, bahkan aktif di masyarakat.
Tangannya sibuk mengetik laporan.
Hatinya sibuk berdzikir.
Tangannya menghitung laba.
Hatinya menghitung nikmat.
Tangannya berjabat dengan manusia.
Hatinya bersandar kepada Allah.
Ini mungkin multitasking paling elegan yang pernah
ditemukan.
Laptop tetap menyala.
Excel tetap terbuka.
Tetapi hati tidak pernah logout dari Tuhan.
Menolong Orang Zalim Itu Ternyata Bukan Menjadi Tim Hore
Hadis yang dibahas di awal kajian cukup mengejutkan.
"Tolonglah saudaramu, baik yang zalim maupun yang
dizalimi."
Kalau dipotong sampai di situ, bisa-bisa muncul komunitas
baru bernama Persatuan Pendukung Kezaliman Nusantara.
Untung Nabi menjelaskan maksudnya.
Menolong orang zalim adalah menghentikan kezalimannya.
Artinya, ketika teman hendak melakukan kesalahan, tugas kita
bukan menjadi penonton sambil berkata, "Gas terus, Bro!"
Justru kita menarik lengannya.
Karena kadang bentuk kasih sayang paling tulus bukan tepuk
tangan, melainkan rem.
Cinta yang Tidak Musiman
Ada orang yang sangat rajin beribadah di bulan Ramadan.
Begitu Syawal datang, semangatnya ikut mudik dan tidak
kembali-kembali.
Padahal cinta sejati tidak mengenal kalender.
Kaum arifin tidak mencintai Allah seperti orang mengikuti
tren media sosial.
Hari ini viral.
Besok lupa.
Lusa pindah topik.
Cinta mereka seperti matahari.
Kadang tertutup awan, tetapi tidak pernah berhenti bersinar.
Dunia Itu Jalan Tol, Bukan Tempat Parkir
Tasawuf sering disalahpahami seolah mengajak orang membenci
dunia.
Padahal dunia itu seperti jalan tol.
Gunanya untuk dilalui.
Bukan dijadikan tempat mendirikan rumah permanen.
Kalau seseorang berhenti terlalu lama di tengah jalan tol,
yang datang bukan malaikat, melainkan petugas derek.
Begitu pula hidup.
Harta boleh dimiliki.
Jabatan boleh diraih.
Prestasi boleh dikejar.
Asalkan semuanya tetap mengarah kepada Allah, bukan
menggantikan posisi-Nya di hati.
Burung Itu Sudah Ada Dalam Diri Kita
Yang paling menarik dari kajian ini adalah bahwa ma'rifat
ternyata bukan perlombaan menjadi manusia paling misterius.
Bukan soal wajah selalu serius.
Bukan soal suara dibuat pelan seolah setiap kalimat sedang
direkam untuk film dokumenter.
Ma'rifat adalah perjalanan membersihkan orientasi hati.
Tetap bekerja, tetapi tidak diperbudak pekerjaan.
Tetap memiliki harta, tetapi tidak dimiliki harta.
Tetap hidup di bumi, tetapi pandangan tidak pernah lepas
dari langit.
Mungkin kita belum menjadi kaum arifin.
Tidak apa-apa.
Burung pun tidak langsung pandai terbang.
Ia berkali-kali mengepakkan sayap, jatuh, mencoba lagi, lalu
akhirnya mampu melintasi langit.
Begitu pula perjalanan ruhani.
Yang penting bukan seberapa tinggi kita sudah terbang hari
ini, melainkan jangan sampai sayap hati patah hanya karena terlalu sibuk
mengejar hal-hal yang, lima tahun lagi, bahkan tidak lagi kita ingat.
Sebab pada akhirnya, perjalanan menuju Allah bukanlah
perlombaan siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap istiqamah
mengepakkan sayap cintanya hingga akhir hayat.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.