Konon, ada nasihat yang sering dikaitkan dengan Socrates: "Kalau ada orang setuju denganmu, jangan buru-buru merasa kalian berdua benar. Bisa jadi kalian berdua sama-sama sedang berbagi kebodohan."
Kalimat ini terdengar menyakitkan. Rasanya seperti baru
selesai presentasi dengan penuh percaya diri, semua peserta rapat mengangguk,
lalu tiba-tiba muncul satu orang yang berkata, "Maaf, proyektornya tadi
mati. Kami mengangguk karena mengantuk."
Begitulah hidup. Persetujuan ternyata belum tentu prestasi.
Masalahnya, manusia memang punya hobi mengoleksi orang yang
setuju. Kalau ada lima orang mengangguk, kita merasa seperti menemukan lima
saksi ahli. Kalau ada lima ribu like, kita merasa sudah memperoleh
sertifikat kebenaran dari semesta.
Padahal media sosial itu kadang lebih mirip warung kopi
daripada laboratorium ilmiah. Di warung kopi, siapa yang paling keras suaranya
sering dianggap paling benar. Di media sosial, yang paling viral sering
dianggap paling pintar. Padahal belum tentu. Kadang yang viral hanya karena
algoritma sedang bosan.
Bayangkan kalau logika "banyak yang setuju berarti
benar" diterapkan di dapur.
Sepuluh orang sepakat bahwa garam adalah gula.
Lalu mereka kompak memasukkan garam ke dalam teh.
Apakah tehnya berubah menjadi manis?
Tidak.
Yang berubah hanyalah ekspresi wajah sepuluh orang tersebut.
Itulah masalah besar yang ingin diingatkan oleh "Socrates". Alam semesta tidak pernah mengubah hukum fisika hanya karena hasil polling memenangkan opsi yang salah.
Media sosial memperparah keadaan lewat sesuatu yang sekarang
terkenal dengan nama echo chamber, atau dalam bahasa yang lebih membumi,
"grup WA sedunia."
Di dalam ruang gema itu, semua orang saling mengamini.
"Betul!"
"Tepat!"
"Sangat mencerahkan!"
"Ini baru intelektual!"
Padahal belum tentu yang tercerahkan adalah pikirannya. Bisa
jadi hanya layarnya yang sedang mode terang.
Algoritma media sosial bekerja seperti teman yang terlalu
sopan.
Kalau kita suka kucing, besok ditunjukkan video kucing.
Lusa masih kucing.
Minggu depan kucing lagi.
Sebulan kemudian kita mulai yakin bahwa seluruh peradaban
manusia dibangun oleh kucing.
Begitulah cara ruang gema bekerja. Lama-kelamaan kita tidak lagi membedakan antara "banyak melihat" dan "itu memang kenyataan."
Yang lucu, manusia sebenarnya sangat kreatif dalam mencari
pembenaran.
Kalau pendapat kita didukung profesor, kita berkata,
"Nah, kan!"
Kalau didukung artis, kita berkata, "Lihat, semua orang
juga tahu."
Kalau didukung tetangga, kita berkata, "Ini suara
rakyat."
Kalau didukung ibu sendiri, kita berkata, "Sudah
final."
Pokoknya selama ada yang setuju, kita merasa seperti
memperoleh stempel halal dari Departemen Kebenaran.
Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa manusia bisa
salah secara berjamaah.
Dulu orang menganggap bumi pusat alam semesta.
Orang juga pernah mengira merokok itu menyehatkan.
Bahkan ada masa ketika sandal jepit dipakai ke pesta
dianggap modis. Untung sejarah cepat bertobat.
Jadi memang jumlah pendukung tidak pernah otomatis menaikkan kadar kebenaran.
Socrates sendiri justru terkenal karena kebiasaannya
bertanya.
Beliau mungkin akan menjadi pengguna media sosial paling
menyebalkan.
Setiap ada unggahan, beliau tidak akan menulis,
"Mantap!"
Beliau akan bertanya,
"Mengapa mantap?"
"Lalu apa definisi mantap?"
"Apakah mantap itu bersifat universal?"
Lima menit kemudian seluruh kolom komentar bubar karena
kehabisan kuota berpikir.
Socrates paham bahwa pertanyaan jauh lebih berguna daripada
tepuk tangan.
Sebab tepuk tangan bisa diberikan bahkan ketika orang terpeleset di panggung—asal penontonnya sedang salah paham.
Di Indonesia, penyakit "asal setuju" punya banyak
variasi.
Ada yang setuju karena sungkan.
Ada yang setuju karena takut.
Ada yang setuju karena malas membaca.
Ada pula yang setuju karena grupnya memang sudah sepakat
untuk selalu setuju.
Rapat berlangsung dua jam.
Semua mengangguk.
Tidak ada yang bertanya.
Begitu keputusan dijalankan, semua berkata,
"Saya sebenarnya dari awal sudah ragu."
Lho, kemarin yang angguk sampai lehernya hampir copot siapa?
Budaya mengangguk ini kadang lebih kuat daripada budaya
berpikir.
Padahal mengangguk hanya menggerakkan otot leher. Berpikir menggerakkan isi kepala. Yang kedua memang lebih melelahkan.
Maka, mungkin ukuran kecerdasan bukanlah seberapa sering
orang berkata, "Saya sependapat."
Ukuran kecerdasan justru ketika kita masih mampu berkata,
"Jangan-jangan saya keliru."
Kalimat itu memang tidak akan viral.
Tidak akan mendapat ribuan emoji api.
Tidak akan membuat pengikut bertambah drastis.
Tetapi setidaknya, peluang kita menjadi bodoh secara
berjamaah menjadi sedikit lebih kecil.
Karena kebodohan kolektif sering kali dimulai bukan dari
niat jahat, melainkan dari terlalu banyak orang yang saling mengangguk tanpa
ada satu pun yang berani bertanya, "Eh, kita sebenarnya sedang menuju ke
mana?"
Dan kalau semua orang di ruangan tiba-tiba setuju dengan
kita, jangan langsung bangga.
Coba lihat lagi.
Siapa tahu mereka memang sepakat.
Siapa tahu mereka tidak mendengar.
Atau, sesuai peringatan sang filsuf, siapa tahu kita sedang
mengikuti lomba lari menuju jurang—dan kebetulan seluruh peserta memakai nomor
dada yang sama.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.