Tentang Firasat, Logika, dan Hobi Menitipkan Kata-Kata kepada Orang Terkenal
Ada satu tradisi umat manusia yang tampaknya lebih awet
daripada tradisi mudik: kalau menemukan kalimat yang terdengar bijak, kita
buru-buru mencarikan bapak angkatnya. Kalau kalimatnya terdengar ilmiah,
tempelkan nama Einstein. Kalau terdengar pemberontak, panggil Nietzsche. Kalau
terdengar sedih sambil menatap hujan di jendela, serahkan kepada Dostoevsky.
Seolah-olah kutipan juga butuh surat adopsi.
Begitulah nasib kalimat tentang "indra keenam"
yang beredar di media sosial. Isinya kurang lebih mengajak kita mempercayai
firasat: jika hati berkata "jangan", maka jangan. Jika tiba-tiba
ingin diam, diamlah. Jika merasa harus menjauh, menjauhlah.
Masalahnya hanya satu.
Dostoevsky tampaknya tidak pernah mengucapkannya.
Kasihan juga orang Rusia itu. Sudah wafat lebih dari seabad,
masih terus dikaryakan oleh netizen. Ia mungkin sedang tenang di alam sana,
lalu suatu hari mendengar namanya dipakai untuk membenarkan keputusan seseorang
membatalkan kencan karena "feeling-ku nggak enak."
Padahal, kalau membaca novel-novelnya, kita justru menemukan orang-orang yang terlalu percaya pada isi kepalanya sendiri hingga hidup mereka berubah menjadi seminar psikologi selama enam ratus halaman.
Media sosial memang memiliki kemampuan ajaib mengubah
kebijaksanaan menjadi makanan instan. Kalau filsafat ibarat rendang yang
dimasak delapan jam, media sosial mengubahnya menjadi mi instan rasa
eksistensial: cukup seduh tiga menit, tambahkan nama filsuf, lalu sajikan.
Anehnya, semakin pendek kutipannya, semakin panjang nama
tokoh yang ditempelkan.
Kita tampaknya percaya bahwa sebuah kalimat akan lebih benar
jika diboncengi nama besar. Kalimat "jangan lupa minum air putih"
mungkin terdengar biasa. Tapi kalau ditulis:
Mendadak ribuan orang membagikannya sambil menulis caption, "Masyaallah,
dalam sekali..."
Padahal Dostoevsky sendiri mungkin lebih sibuk memikirkan dosa, kebebasan, dan penderitaan manusia daripada kadar cairan tubuh.
Lalu, apakah intuisi memang tidak boleh dipercaya?
Oh, jangan buru-buru membuang firasat ke tempat sampah
bersama brosur kredit tanpa agunan.
Intuisi itu nyata. Hanya saja ia bukan paranormal yang
selalu benar.
Ia lebih mirip satpam kompleks.
Kadang ia sigap. Ada orang asing masuk gang, ia langsung
meniup peluit. Kadang ia juga salah sasaran. Tukang galon baru lewat pun
dicurigai sebagai agen internasional.
Psikologi modern menjelaskan bahwa intuisi adalah hasil otak
mengolah ribuan pengalaman tanpa kita sadari. Otak melihat pola lebih cepat
daripada kesadaran kita sempat menyusun kalimat.
Karena itulah seorang dokter senior kadang berkata,
"Ada yang aneh dengan pasien ini," sebelum hasil laboratorium keluar.
Seorang montir berpengalaman bisa mendengar suara mesin lalu langsung tahu baut
mana yang mulai menyerah pada kehidupan.
Tetapi coba berikan intuisi yang sama kepada orang yang baru
menonton dua video motivasi di TikTok.
Besok ia merasa semua orang "toxic", semua rekan
kerja "manipulatif", semua mantan "narsistik", dan semua
tetangga "memberi energi negatif."
Yang negatif sebenarnya mungkin cuma tagihan listrik.
Masalah terbesar intuisi bukanlah ia sering salah.
Masalahnya adalah manusia memiliki bakat luar biasa untuk
menganggap semua firasatnya wahyu.
Begitu dugaan kita benar sekali, kita berkata, "Kan,
firasatku nggak pernah meleset."
Sementara sembilan puluh sembilan firasat yang gagal
diam-diam kita kubur di belakang rumah bersama resolusi tahun baru.
Ini seperti orang yang pernah sekali menang undian lalu merasa dirinya ahli investasi.
Yang lucu, kita hidup di zaman yang sangat memuja logika
sekaligus sangat mengidolakan firasat.
Pagi hari kita meminta kecerdasan buatan membantu menghitung
data. Siang hari kita membaca riset ilmiah. Sore hari kita menentukan masa
depan berdasarkan kalimat, "Entah kenapa feeling-ku bilang begitu."
Logika duduk di kursi depan membawa peta.
Intuisi duduk di sebelahnya sambil berkata, "Belok
kiri."
Kalau keduanya sepakat, perjalanan biasanya lancar.
Kalau berbeda pendapat, manusia sering melakukan hal yang sangat kreatif: mematikan GPS lalu menyalahkan takdir ketika tersesat.
Mungkin memang di sinilah pelajaran paling menarik.
Kebijaksanaan bukan memilih antara logika atau intuisi.
Kebijaksanaan adalah tahu kapan harus mendengarkan
masing-masing.
Kalau firasat berkata jangan masuk ke gang gelap tengah
malam, dengarkan.
Kalau firasat berkata semua investasi kripto pasti naik
karena semalam bermimpi melihat naga emas, mungkin sebaiknya ajak juga logika
ikut rapat.
Begitu pula ketika hendak mengirim pesan saat emosi. Intuisi berkata, "Kirim sekarang!" Logika berkata, "Tidurlah dulu." Pengalaman biasanya datang belakangan sambil membawa kopi dan berkata, "Untung tadi tidak jadi."
Dan bagaimana dengan kutipan palsu yang mengatasnamakan
Dostoevsky?
Mungkin kita tidak perlu terlalu marah. Anggap saja ia
seperti orang yang datang ke pesta memakai jas pinjaman. Jasnya memang bukan
miliknya, tetapi setidaknya kita jadi belajar memeriksa label sebelum memuji
penjahitnya.
Lagipula, Dostoevsky yang asli tidak pernah menjual jawaban
cepat. Ia justru mengajak pembacanya berkeringat bersama pertanyaan-pertanyaan
yang tidak nyaman. Membaca novelnya bukan seperti meminum vitamin motivasi,
melainkan seperti diajak bercermin di kaca yang terlalu jujur.
Tidak selalu menyenangkan.
Tetapi hampir selalu mencerahkan.
Pada akhirnya, indra keenam memang layak didengar. Namun,
jangan lupa mengajak indra yang lain ikut musyawarah. Mata untuk melihat fakta.
Telinga untuk mendengar nasihat. Otak untuk berpikir. Dan, yang paling sering
terlupakan di era media sosial, jari telunjuk untuk mengecek sumber sebelum
menekan tombol bagikan.
Sebab, di zaman sekarang, mungkin indra yang paling langka
bukanlah indra keenam.
Melainkan indra ketujuh: kemampuan berkata,
"Sebentar, saya cek dulu apakah ini benar."
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.