Ada satu kebiasaan manusia yang tampaknya sudah diwariskan sejak zaman batu: kalau berhasil, itu karena kerja keras. Kalau gagal, itu karena takdir. Kalau nilai ujian jelek, soal terlalu sulit. Kalau dompet tipis di akhir bulan, ekonomi sedang lesu. Kalau mantan menikah duluan, ya... mungkin semesta sedang bercanda.
Takdir, rupanya, telah menjadi pegawai serbaguna. Apa pun
yang sulit dijelaskan, langsung diserahkan kepadanya. Ia bekerja tanpa cuti,
tanpa THR, dan tanpa pernah diberi kesempatan membela diri.
Di sinilah Carl Gustav Jung datang membawa kabar yang kurang
menyenangkan bagi para penggemar kambing hitam metafisik. Ia berkata,
"Sampai kamu menjadikan yang tidak sadar menjadi sadar, ia akan
mengarahkan hidupmu, dan kamu akan menyebutnya takdir."
Kalimat itu terdengar elegan. Namun, jika diterjemahkan ke
bahasa warung kopi, kira-kira bunyinya begini: "Jangan buru-buru
menyalahkan semesta. Bisa jadi yang sedang mengerjai hidupmu adalah dirimu
sendiri, hanya saja kamu belum sadar."
Itulah ironi manusia. Kita begitu pandai mengamati kesalahan
pemerintah, tetangga, pasangan, algoritma media sosial, bahkan cuaca. Tetapi
ketika diminta mengamati isi kepala sendiri selama lima menit, kita mendadak
sibuk mencari charger.
Padahal, menurut Jung, di dalam diri setiap orang ada
penghuni lama yang diam-diam mengatur lalu lintas kehidupan. Namanya alam bawah
sadar. Ia bekerja seperti operator di balik panggung teater. Penonton sibuk
memperhatikan aktor di depan, sementara seluruh lampu, musik, dan efek dramatis
dikendalikan oleh seseorang yang bahkan tidak pernah muncul menerima tepuk
tangan.
Celakanya, operator ini bukan pegawai baru. Ia sudah bekerja
sejak kita kecil. Ia menyimpan semua pengalaman memalukan, luka batin, rasa
takut, rasa minder, hingga kalimat-kalimat yang pernah kita dengar seperti,
"Kamu memang tidak berbakat," atau "Jangan bermimpi terlalu
tinggi."
Masalahnya, alam bawah sadar tidak mengenal konsep pensiun.
Ia terus menjalankan program lama, bahkan ketika pemilik tubuhnya sudah
berganti pekerjaan, menikah, punya anak, dan rajin membayar cicilan.
Akibatnya, banyak orang menjalani hidup seperti aplikasi
yang tidak pernah diperbarui. Tampilan luarnya modern, telepon genggamnya
keluaran terbaru, tetapi sistem operasinya masih menggunakan versi "Aku
Tidak Layak Bahagia 1.0."
Lalu kita heran mengapa setiap hubungan selalu berakhir
dengan drama yang sama.
Mengapa setiap kali ada kesempatan bagus, kita justru mundur
perlahan seperti kepiting yang sedang sopan.
Mengapa setiap kali ingin berubah, tiba-tiba muncul suara
dari dalam kepala yang berkata, "Nanti saja Senin."
Padahal hari itu sudah Senin.
Bayangan (shadow), kata Jung, adalah gudang seluruh
sisi diri yang kita sembunyikan. Ia seperti gudang belakang rumah. Awalnya kita
hanya berniat menaruh satu kardus. Lama-lama seluruh barang yang tidak ingin
dilihat dilempar ke sana.
Masalahnya, gudang itu tidak pernah benar-benar tertutup.
Sesekali isinya keluar sendiri.
Kadang berupa kemarahan yang meledak hanya karena sendok
hilang.
Kadang berupa kecemburuan kepada orang yang bahkan tidak
tahu kita ada.
Kadang berupa komentar pedas di media sosial yang ditulis
sambil mengaku, "Ini hanya kritik yang membangun."
Padahal yang dibangun hanyalah jumlah notifikasi.
Jung menawarkan solusi yang terdengar sederhana, tetapi
praktiknya jauh lebih berat daripada diet setelah Lebaran: sadari dirimu
sendiri.
Ini bukan sekadar bercermin sambil berkata, "Aku
hebat."
Melainkan duduk diam dan bertanya dengan jujur,
"Mengapa aku selalu bereaksi seperti ini?"
Pertanyaan itu ternyata lebih menegangkan daripada melihat
saldo rekening sehari sebelum tanggal gajian.
Sebab jawaban yang muncul sering kali tidak menyenangkan.
Bisa jadi selama ini kita marah bukan karena orang lain
kasar, tetapi karena ego kita terlalu mudah tersinggung.
Bisa jadi kita takut gagal bukan karena dunia kejam,
melainkan karena sejak lama kita percaya bahwa nilai diri bergantung pada
pujian orang lain.
Dan bisa jadi kita menyebut semuanya sebagai takdir karena
lebih nyaman daripada mengakui bahwa ada pekerjaan rumah psikologis yang belum
pernah kita sentuh.
Namun justru di situlah kabar baiknya.
Kalau masalahnya ada di dalam diri, berarti pintu keluarnya
juga ada di sana.
Kesadaran memang tidak menghapus semua persoalan hidup.
Tagihan listrik tetap datang. Macet tetap ada. Harga cabai tetap memiliki
kehidupan spiritualnya sendiri yang sulit ditebak.
Tetapi kesadaran membuat kita berhenti menjadi boneka yang
talinya ditarik oleh luka masa lalu.
Kita mulai memilih, bukan sekadar bereaksi.
Mulai memahami, bukan sekadar menyalahkan.
Mulai bertumbuh, bukan sekadar mengulang.
Barangkali inilah makna terdalam dari pesan Jung. Takdir
bukan selalu sesuatu yang jatuh dari langit. Kadang ia hanyalah kebiasaan lama
yang belum pernah diperiksa.
Dan lucunya, manusia rela membaca ramalan zodiak sepanjang
halaman, tetapi enggan membaca isi hatinya sendiri yang bahkan tidak sampai dua
puluh menit.
Padahal, kalau benar ingin mengetahui masa depan, mungkin
kita tidak perlu bertanya kepada bintang-bintang.
Cukup beranikan diri menyalakan lampu di ruang paling gelap
dalam diri sendiri.
Siapa tahu, yang selama ini kita sebut "takdir"
ternyata hanyalah alam bawah sadar yang sudah terlalu lama menjadi sopir,
sementara kita asyik tidur di kursi penumpang.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.