Ada dua jenis manusia di dunia. Yang pertama bercita-cita punya tabungan darurat. Yang kedua bercita-cita punya pusat finansial internasional. Indonesia, tampaknya, memilih menjadi golongan kedua.
Dengan disahkannya Undang-Undang Pusat Finansial
Internasional Indonesia (UU PFII), negeri ini sedang berkata kepada dunia,
"Silakan mampir. Kopinya hangat, regulasinya sedang dipoles, dan semoga
investasinya betah."
Ambisinya memang tidak kecil. Kalau biasanya orang bermimpi
punya rumah dua lantai, Indonesia langsung bermimpi punya "alamat
tetap" di peta keuangan global. Ini ibarat seorang pemain futsal kampung
yang mendadak memasang target ikut Liga Champions. Terdengar nekat? Tentu. Tapi
bukankah semua pencapaian besar memang selalu diawali oleh keberanian yang
sedikit membuat tetangga mengernyitkan dahi?
UU PFII dibangun di atas tiga tiang utama: modal, inovasi,
dan daya saing. Bahasa sederhananya, Indonesia ingin menjadi rumah yang nyaman
bagi uang, ide, dan orang-orang pintar. Sebab uang, sama seperti kucing, hanya
betah tinggal di tempat yang terasa aman. Investor pun demikian. Mereka tidak
hanya melihat angka keuntungan, tetapi juga bertanya, "Kalau ada masalah
nanti, siapa yang menyelesaikan? Pengadilannya jelas, kan?"
Karena itu dibentuklah berbagai mekanisme hukum, arbitrase,
dan tata kelola yang lebih modern. Dunia keuangan ternyata mirip hubungan
asmara. Yang dicari bukan hanya rayuan manis, tetapi juga kepastian. Tidak ada
investor yang ingin kisah cintanya dengan sebuah negara berakhir dengan status,
"Hubungan ini rumit."
Target pertumbuhan ekonomi delapan persen pun terdengar
gagah. Angka ini seperti target seseorang yang baru membeli sepatu lari lalu
langsung mendaftar maraton. Sepatunya memang baru, semangatnya menyala, tetapi
tetap saja latihan sehari-hari yang menentukan apakah garis finis bisa dicapai
atau hanya menjadi latar belakang foto swafoto.
Tentu saja, setiap pesta optimisme selalu ditemani tamu
bernama "kehati-hatian". Sejumlah pengamat mengingatkan agar pusat
finansial ini tidak berubah menjadi tempat persembunyian uang yang lebih lihai
daripada cicak bersembunyi di balik kalender. Jangan sampai fasilitas kelas
dunia justru dimanfaatkan untuk menghindari pajak atau mempermainkan aturan.
Sebab pusat finansial yang hebat bukanlah tempat uang bisa menghilang dengan
elegan, melainkan tempat uang bekerja dengan jujur.
Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Membuat
undang-undang memang penting, tetapi menjaganya agar tetap hidup jauh lebih
sulit. Membuat akuarium mewah tidak otomatis membuat ikan bahagia jika airnya
keruh. Begitu pula pusat finansial internasional. Gedung-gedung megah, regulasi
modern, dan istilah-istilah berbahasa Inggris tidak akan banyak berarti bila
integritas hanya dipajang di spanduk peresmian.
Sesungguhnya, kepercayaan adalah mata uang paling mahal
dalam dunia keuangan. Ia tidak bisa dicetak oleh mesin, tidak bisa diimpor
lewat kapal, dan tidak bisa dipinjam dari negara tetangga. Ia hanya bisa
dibangun sedikit demi sedikit melalui konsistensi, transparansi, dan keberanian
menegakkan aturan, bahkan ketika aturan itu menyulitkan orang-orang yang paling
berkuasa.
Mungkin suatu hari nanti Indonesia benar-benar menjadi salah
satu pusat finansial dunia. Para analis global akan menyebut Jakarta dengan
nada kagum, para investor berdatangan, dan grafik ekonomi menari ke atas
seperti layang-layang yang mendapat angin sore.
Namun, sampai hari itu tiba, ada satu nasihat sederhana yang
layak diingat: membangun pusat finansial bukan sekadar mengundang uang datang.
Yang lebih penting adalah memastikan uang itu pulang membawa cerita baik, bukan
membawa pengacara.
Karena pada akhirnya, kemajuan ekonomi bukan diukur dari
seberapa banyak modal yang masuk, melainkan dari seberapa banyak rakyat yang
ikut merasakan manfaatnya. Jika itu berhasil, barulah Indonesia bukan hanya
menjadi pusat finansial internasional, tetapi juga pusat harapan bahwa ambisi
besar masih bisa berjalan beriringan dengan keadilan.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.