Konon, jalan menuju kesuksesan itu banyak. Ada yang lewat pendidikan, ada yang lewat kerja keras, ada yang lewat koneksi, dan ada pula yang lewat konten "Bangun Jam 4 Pagi Biar Jadi Miliarder". Carl Gustav Jung datang dengan wajah tenang lalu berkata, "Maaf, semua itu boleh saja, tetapi jalan yang paling penting tetap satu: jalanmu sendiri."
Masalahnya, manusia memang memiliki bakat luar biasa dalam
berjalan ke mana-mana kecuali ke arah dirinya sendiri.
Kita hafal jadwal diskon e-commerce, tahu gosip artis yang
baru putus, bahkan bisa menjelaskan strategi klub sepak bola favorit dengan
semangat seorang analis profesional. Namun ketika ditanya, "Sebenarnya
kamu ingin hidup seperti apa?" mendadak sinyal batin berubah menjadi
"Connecting..."
Jung mungkin akan menghela napas panjang.
Ia menulis The Red Book bukan ketika hidupnya sedang
santai menikmati kopi di teras rumah. Ia menulisnya saat dirinya sendiri sedang
mengalami badai batin. Setelah berpisah jalan dengan Sigmund Freud, ia seperti
orang yang keluar dari rombongan pendaki gunung. Di depan berkabut, di belakang
sudah tidak ada teman seperjalanan. Dalam keadaan seperti itulah ia menemukan
sesuatu yang sering kita hindari: kesendirian ternyata bukan hukuman, melainkan
ruang tunggu menuju perkenalan dengan diri sendiri.
Sayangnya, manusia modern alergi terhadap ruang tunggu.
Lima detik menunggu lift saja sudah membuka ponsel. Dua
menit mengantre kopi sudah melihat media sosial. Sepuluh menit tanpa notifikasi
terasa seperti kehilangan kewarganegaraan digital.
Ironisnya, kita lebih sering bertemu algoritma daripada
bertemu isi kepala sendiri.
Jung berkata bahwa hanya ada satu keselamatan: keselamatanmu
sendiri. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi efeknya lebih mengejutkan
daripada tagihan listrik setelah sebulan menyalakan pendingin ruangan tanpa
henti.
Sebab diam-diam kita berharap ada orang lain yang
mengerjakan hidup kita.
Kita ingin orang tua menentukan masa depan, atasan
menentukan arah karier, motivator menentukan mimpi, influencer menentukan gaya
hidup, bahkan aplikasi menentukan kapan kita harus tidur, minum air, berjalan
kaki, bernapas, dan mungkin suatu hari nanti menentukan kapan kita boleh galau.
Kalau memungkinkan, kita juga ingin ada fitur "Auto
Living Version 2.0".
Tinggal tekan tombol.
Hidup selesai.
Sayangnya, semesta belum mengeluarkan pembaruan perangkat
lunak itu.
Jung mengingatkan bahwa tidak ada orang yang bisa menjalani
hidup kita selain kita sendiri. Orang lain boleh memberi peta, tetapi tidak
bisa menggantikan kaki kita berjalan. Bahkan Google Maps pun kadang berkata,
"Anda telah keluar dari rute," tetapi ia tetap membiarkan kita yang
memutuskan mau putar balik atau nekat masuk gang sempit.
Begitulah hidup.
Bedanya, di kehidupan nyata tidak ada suara perempuan ramah
yang berkata, "Dalam lima meter, beloklah menuju jati diri."
Yang ada justru suara tetangga.
"Kerja di mana sekarang?"
"Kapan nikah?"
"Anaknya belum?"
"Kok belum beli rumah?"
Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali lebih menyerupai ujian
nasional daripada basa-basi.
Lalu kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan katalog
kehidupan orang lain.
Media sosial membuat semuanya tampak mudah. Semua orang
tampak bahagia, produktif, romantis, rajin berolahraga, sukses berbisnis, fasih
memasak, pandai mengasuh anak, sambil sesekali mendaki gunung dan minum kopi
estetik.
Aneh sekali.
Kalau semua orang benar-benar sebahagia itu, mengapa kolom
komentar justru sering lebih panas daripada permukaan wajan?
Di sinilah nasihat Jung menjadi obat yang pahit tetapi
mujarab.
Ia meminta kita berhenti mengukur hidup memakai penggaris
milik orang lain.
Seekor ikan tidak akan pernah lulus wawancara kerja sebagai
burung.
Pohon mangga tidak pernah minder kepada pohon kelapa hanya
karena tidak bisa menghasilkan kelapa muda.
Namun manusia memiliki kemampuan unik: membandingkan apel
dengan jeruk, jeruk dengan semangka, lalu menyimpulkan dirinya gagal menjadi
durian.
Kemampuan ini sungguh mengagumkan sekaligus melelahkan.
Jung juga berbicara tentang "bayangan" atau shadow,
bagian diri yang sering kita sembunyikan.
Lucunya, kita rajin memakai filter kamera agar wajah tampak
mulus, tetapi lupa bahwa jiwa juga memerlukan keberanian untuk melihat
noda-nodanya sendiri.
Kita lebih mudah menghapus foto daripada menghapus
kesombongan.
Lebih mudah membersihkan layar daripada membersihkan iri
hati.
Lebih mudah mengganti wallpaper daripada mengganti kebiasaan
buruk.
Padahal pekerjaan paling berat memang bukan memindahkan
gunung.
Melainkan mengakui bahwa selama ini kita sering menyalahkan
gunung karena malas mendaki.
Ada bagian paling menggelitik dari pesan Jung. Ia mengatakan
bahwa hidup yang tidak dijalani akan terus menghantui kita.
Bayangkan saja, semua mimpi yang ditunda berkumpul seperti
alumni sekolah.
Suatu malam mereka datang mengetuk pintu.
"Permisi, kami adalah cita-cita yang dulu kamu parkir
karena terlalu sibuk menyenangkan semua orang."
Tidak menyeramkan seperti film horor, tetapi cukup membuat
seseorang mendadak menatap langit-langit kamar pukul dua pagi.
Lalu muncul pertanyaan yang sangat tidak sopan namun sangat
jujur:
"Kalau hidupku adalah karangan, apakah aku benar-benar
menjadi tokoh utama, atau hanya figuran yang sibuk mengikuti naskah orang
lain?"
Pertanyaan semacam itu memang tidak nyaman.
Tetapi justru ketidaknyamanan sering menjadi pintu masuk
menuju pertumbuhan.
Persis seperti olahraga.
Belum pernah ada orang menjadi lebih bugar hanya dengan
membaca motivasi sambil rebahan.
Begitu pula mengenal diri.
Tidak cukup hanya menyimpan kutipan Jung sebagai status
media sosial dengan latar belakang hutan berkabut dan secangkir kopi hitam.
Jung barangkali akan tersenyum tipis melihat kebiasaan kita
mengoleksi kutipan bijak layaknya perangko.
Banyak dimiliki.
Sedikit dipraktikkan.
Pada akhirnya, pesan Jung bukanlah ajakan menjadi penyendiri
yang memusuhi dunia. Ia hanya mengingatkan bahwa hubungan paling penting dalam
hidup adalah hubungan dengan diri sendiri. Sebab seseorang yang mengenal
dirinya tidak akan mudah terseret arus tepuk tangan maupun hujatan. Ia tahu
kapan mendengar nasihat dan kapan cukup tersenyum sambil berkata dalam hati,
"Terima kasih, tetapi jalan saya belok kiri."
Mungkin memang benar bahwa jalan menuju diri sejati terasa
sunyi.
Namun bukankah jalan yang paling ramai sering kali justru
penuh kemacetan?
Kalau semua orang berdesakan di jalan yang sama, barangkali
sesekali kita perlu berani mengambil jalan kecil yang sepi. Siapa tahu di
ujungnya bukan hanya ada pemandangan yang indah, melainkan juga seseorang yang
selama ini paling sulit kita temui.
Diri kita sendiri.
Dan kabar baiknya, untuk bertemu dengannya kita tidak perlu
membeli tiket, mendaftar seminar, atau menunggu algoritma merekomendasikannya.
Cukup satu syarat.
Berani berjalan.
Meskipun, seperti kata Jung, tidak ada yang bisa
menggantikan langkah itu selain kaki kita sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.