Ada dua hal yang selalu membuat orang Indonesia mendadak menjadi ahli ekonomi. Yang pertama, harga cabai naik. Yang kedua, mendengar angka Rp240 triliun. Begitu angka itu muncul, sebagian orang langsung mengambil kalkulator, sebagian lagi mengambil napas, dan sisanya mengambil kesimpulan—meski belum tentu membaca penjelasannya.
Program Koperasi Desa Merah Putih datang membawa angka yang membuat alis naik beberapa sentimeter. Dua ratus empat puluh triliun! Jumlah yang kalau diwujudkan dalam uang seratus ribuan mungkin bisa membuat semut berpikir dua kali untuk menyeberanginya.
Untungnya, pemerintah tidak berniat menumpuk uang sebanyak itu di balai desa sambil berkata, "Silakan dijaga, Pak Ketua Koperasi." Sebab kalau itu terjadi, yang pertama kali datang mungkin bukan anggota koperasi, melainkan orang-orang yang mendadak mengaku masih saudara jauh sejak zaman Majapahit.
Yang menarik justru cara pembiayaannya. Dana itu tidak digelontorkan sekaligus, melainkan dicicil sekitar Rp40 triliun per tahun melalui perbankan Himbara selama enam tahun. Mirip orang membeli rumah dengan KPR. Bedanya, kalau cicilan rumah telat, yang ditelepon bank. Kalau program sebesar ini meleset, yang menelepon bisa seluruh rakyat.
Skema bertahap ini menunjukkan bahwa mengelola negara rupanya tidak boleh seperti mengelola uang THR. Baru tanggal dua sudah habis karena tergoda diskon "beli satu gratis rasa bersalah".
Selama ini desa sering diperlakukan seperti pemain cadangan dalam pertandingan ekonomi. Padahal, pemain inti kita justru banyak tinggal di sana. Petani menanam padi, nelayan menangkap ikan, UMKM membuat berbagai produk, tetapi keuntungan terbesar sering kali berhenti di tengah jalan karena rantai distribusi lebih panjang daripada antrean saat pembagian sembako.
Di sinilah koperasi diharapkan menjadi "mak comblang ekonomi". Ia mempertemukan produsen kecil dengan pasar yang lebih luas tanpa harus melalui terlalu banyak perantara. Harapannya, yang semakin gemuk bukan hanya laporan penjualan, tetapi juga dompet anggotanya.
Namun koperasi bukanlah tongkat sihir. Memberi modal kepada koperasi tanpa membangun tata kelola ibarat menghadiahkan mobil sport kepada orang yang belum bisa membedakan pedal gas dan rem. Kendaraan memang melaju, tetapi arah akhirnya masih misteri.
Karena itu, transparansi menjadi syarat utama. Dana triliunan punya sifat yang unik. Ia tidak bisa berjalan sendiri, tetapi entah mengapa kadang-kadang bisa "hilang jalan". Maka laporan keuangan harus lebih rajin daripada status media sosial. Bedanya, laporan keuangan sebaiknya memang sesuai kenyataan.
Indonesia juga punya satu keunikan yang sering membuat para perencana pembangunan menggaruk kepala. Kita suka membuat resep yang sama untuk dapur yang berbeda.
Padahal desa bukan fotokopi satu sama lain. Desa penghasil kopi tentu berbeda kebutuhannya dengan desa nelayan. Desa wisata berbeda dengan desa pertanian. Memberi strategi yang sama kepada semuanya sama saja seperti menyuruh semua orang memakai ukuran sandal nomor 41. Ada yang pas, ada yang longgar, ada pula yang hanya bisa dipakai sebagai pajangan.
Karena itu, pendekatan lokal bukan sekadar slogan. Desa harus diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Sebab potensi desa bukan sesuatu yang harus diciptakan, melainkan ditemukan dan dikelola.
Lalu ada urusan yang sering dianggap sepele, padahal justru menentukan: kualitas manusia.
Teknologi digital memang penting. Aplikasi pelaporan keuangan bisa dibuat secanggih apa pun. Namun aplikasi tidak akan banyak membantu kalau kata sandinya ditulis di balik bungkus mi instan lalu hilang ketika dapur dibersihkan.
Pelatihan pengurus koperasi jauh lebih berharga daripada sekadar membeli komputer baru. Sebab komputer tidak pernah membuat keputusan. Yang menentukan arah koperasi tetap manusia yang duduk di depannya—entah sedang fokus bekerja atau sibuk mencari colokan charger.
Program ini pada akhirnya mengajarkan satu pelajaran sederhana: uang memang penting, tetapi uang hanyalah pemain pendukung. Pemeran utamanya tetap kepercayaan, integritas, dan kemampuan mengelola.
Triliunan rupiah bisa menjadi pupuk yang menyuburkan ekonomi desa. Namun pupuk sebanyak apa pun tidak akan membuat panen berhasil jika sawahnya dibiarkan penuh gulma. Sebaliknya, lahan yang dikelola dengan baik akan membuat setiap butir pupuk bekerja lebih maksimal.
Mungkin itulah filosofi tersembunyi dari Koperasi Desa Merah Putih. Ia bukan sekadar proyek memindahkan angka dari kas negara ke rekening koperasi. Ia adalah ujian nasional bagi kemampuan kita bekerja sama.
Kalau berhasil, desa akan membuktikan bahwa kemajuan tidak selalu lahir dari gedung pencakar langit. Kadang ia tumbuh pelan, dari balai desa, dari rapat koperasi yang diselingi teh hangat dan pisang goreng, lalu menjalar menjadi kesejahteraan yang benar-benar terasa.
Dan semoga, untuk sekali ini, yang paling cepat berkembang bukan hanya grup WhatsApp pengurus koperasi, melainkan juga ekonomi desanya.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.