Diskon 70%, Empati Habis: Catatan dari Masyarakat yang Sedang Cuci Gudang Moral

"Kalau semua hubungan dihitung untung-ruginya, jangan kaget kalau akhirnya kita hidup di pasar, bukan di masyarakat."

—Yevgeny Trubetskoy (kurang lebih begitu semangatnya)

Ada zaman ketika tetangga datang membawa semangkuk sayur karena melihat dapur sebelah belum mengepul. Sekarang tetangga datang membawa tautan pinjaman online dengan bunga kompetitif. Kemajuan memang luar biasa. Bahkan kepedulian sudah berhasil di-upgrade menjadi fitur premium.

Kita hidup di era ketika hampir semua hal bisa diukur. Langkah kaki dihitung jam tangan pintar. Tidur dinilai aplikasi. Produktivitas dipantau grafik. Bahkan kebahagiaan pun seolah menunggu validasi dari jumlah likes. Tinggal satu yang belum berhasil dibuat aplikasinya: hati nurani. Mungkin karena servernya sering sibuk.

Di tengah suasana inilah seorang filsuf Rusia bernama Yevgeny Trubetskoy mengangkat tangan—tentu bukan untuk ikut lelang NFT, melainkan untuk mengingatkan bahwa masyarakat yang dibangun hanya atas dasar manfaat akhirnya akan berubah menjadi arena pertarungan. Bukan karena manusia suka bertengkar, tetapi karena semua orang mulai melihat sesamanya sebagai "aset" atau "liabilitas."

Kalau Anda terdengar seperti laporan keuangan, berarti ada yang salah.

Trubetskoy hidup pada masa Rusia sedang jungkir balik. Revolusi datang silih berganti, perang menyapu benua, dan ideologi bertabrakan lebih keras daripada komentar warganet di kolom politik. Dari semua kekacauan itu ia menarik kesimpulan sederhana: sebelum gedung-gedung roboh, biasanya hati manusia sudah roboh lebih dulu.

Sayangnya, dunia modern justru mengambil kesimpulan yang berbeda. Kita malah membuat seminar berjudul "Cara Memaksimalkan Semua Relasi Menjadi Peluang." Kata "teman" berubah menjadi "network". Kata "silaturahmi" berubah menjadi "membangun koneksi strategis". Bahkan ada orang yang hadir ke acara reuni bukan karena rindu teman lama, melainkan siapa tahu ada investor.

Dulu orang bertanya, "Apa kabarmu?"

Sekarang lebih sering, "Ada proyek?"

Begitulah pelan-pelan manusia berubah menjadi kartu nama yang bisa berbicara.

Trubetskoy rupanya sudah menduga gejala ini jauh sebelum LinkedIn lahir. Menurutnya, masyarakat membutuhkan tiga vitamin moral: rahmah, wafa, dan 'adl.

Rahmah adalah kemampuan melihat orang lain sebagai manusia, bukan sebagai peluang bisnis. Wafa adalah kesetiaan yang tidak langsung menghilang begitu ada tawaran yang lebih menarik. Sedangkan 'adl adalah keadilan yang tidak bergantung pada jumlah pengikut media sosial atau isi rekening.

Sayangnya, ketiga vitamin ini tampaknya sedang mengalami kelangkaan.

Rahmah sering kalah oleh algoritma.

Wafa dikalahkan promo "upgrade ke pilihan yang lebih menguntungkan."

Dan 'adl? Ia masih mengisi formulir antrean.

Media sosial memperlihatkan ironi yang mengagumkan. Kita memiliki ribuan teman, tetapi bingung harus menelepon siapa ketika ban kendaraan bocor tengah malam. Kita mengetahui menu sarapan orang yang tinggal ribuan kilometer jauhnya, tetapi lupa nama satpam kompleks sendiri.

Teknologi memang berhasil mendekatkan layar. Belum tentu mendekatkan hati.

Di kantor, hubungan kerja semakin efisien. Semua serba KPI, target, dashboard, dan evaluasi berkala. Tidak ada yang salah dengan itu. Masalah muncul ketika manusia ikut diperlakukan seperti printer: selama masih bisa mencetak, dipakai. Begitu mulai sering macet, langsung dicari model terbaru.

Lucunya, kita menyebut semua ini sebagai "pengembangan sumber daya manusia."

Padahal yang sering berkembang hanyalah targetnya.

Dalam urusan percintaan, logika untung-rugi juga mulai rajin ikut campur. Ada yang bertanya, "Pasanganmu penyayang?"

Jawabannya, "Lumayan. Gajinya stabil."

Romantisme akhirnya kalah oleh simulasi cicilan rumah.

Kalau Romeo hidup sekarang, kemungkinan besar ia diminta memperbaiki skor kredit dulu sebelum memanjat balkon Juliet.

Sebagai seorang filsuf Kristen Ortodoks, Trubetskoy percaya bahwa manusia berharga bukan karena produktivitasnya, melainkan karena martabatnya. Nilai seseorang tidak naik ketika bonus tahunan cair, dan tidak turun ketika ia kehilangan pekerjaan.

Pandangan ini terdengar sangat sederhana.

Justru karena sederhana, ia sulit dijual dalam webinar motivasi.

Bukankah kita sering memperlakukan orang berdasarkan manfaatnya? Selama seseorang berguna, ia disebut sahabat. Ketika tidak lagi menguntungkan, statusnya berubah menjadi "kontak lama."

Persahabatan pun memiliki masa berlaku seperti kupon belanja.

Padahal masyarakat tidak dibangun oleh transaksi.

Ia dibangun oleh kepercayaan.

Pasar mungkin bisa mengatur harga cabai. Namun ia tidak pernah berhasil menentukan harga sebuah pelukan tulus.

Tidak ada aplikasi yang bisa mengukur nilai kesetiaan seorang ibu.

Tidak ada indeks saham yang mampu menghitung harga sebuah pengorbanan.

Dan syukurlah memang begitu.

Sebab jika kasih sayang sudah diperdagangkan per kilogram, kemungkinan besar akan muncul diskon akhir tahun.

Mungkin inilah pesan terbesar Trubetskoy. Bahwa peradaban tidak runtuh ketika uang habis. Ia mulai retak ketika manusia berhenti memandang manusia sebagai sesama.

Gedung pencakar langit masih bisa berdiri megah.

Internet tetap melaju dengan kecepatan gigabit.

Kecerdasan buatan semakin pintar.

Tetapi bila rahmah, wafa, dan 'adl keluar dari ruang tamu kehidupan kita, maka semua kemajuan itu hanyalah dekorasi mewah di rumah yang fondasinya mulai keropos.

Karena pada akhirnya, masyarakat bukanlah sekumpulan orang yang saling memanfaatkan.

Masyarakat adalah sekumpulan orang yang masih bersedia saling memanusiakan.

Kalau yang tersisa hanya hitung-hitungan untung-rugi, mungkin kita memang berhasil menjadi ekonomi yang efisien.

Hanya saja, kita lupa menjadi manusia.

Dan itu, sayangnya, tidak pernah masuk laporan laba-rugi.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Diskon 70%, Empati Habis: Catatan dari Masyarakat yang Sedang Cuci Gudang Moral Diskon 70%, Empati Habis: Catatan dari Masyarakat yang Sedang Cuci Gudang Moral Reviewed by banyu bening Ajibarang on 7/29/2026 03:00:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list