Ada satu kebiasaan manusia yang nyaris setua umur peradaban: menyusun skenario hidup sedetail mungkin, lalu marah kepada kehidupan karena lupa membaca naskahnya.
Kita berharap hidup itu seperti drama Korea: pemeran utama
memang sengsara, tetapi tetap ganteng, tetap wangi, dan episode terakhir selalu
diiringi musik yang membuat penonton ingin membeli tisu. Sayangnya, hidup lebih
sering menyerupai sinetron listrik padam. Adegan penting baru dimulai, eh...
"Maaf, jaringan sedang bermasalah."
Di situlah letak kelucuan manusia. Kita sering mengira
masalah terbesar adalah kerasnya kehidupan. Padahal, bisa jadi yang lebih keras
adalah kepala kita sendiri yang bersikeras bahwa semua harus berjalan sesuai
ekspektasi.
Sejak kecil kita dijejali berbagai cerita. Putri cantik
bertemu pangeran. Anak miskin tiba-tiba kaya. Tokoh utama selalu menemukan
jalan keluar lima menit sebelum film selesai. Tidak ada dongeng yang berbunyi,
"Pangeran akhirnya diterima cicilan rumah selama tiga puluh tahun."
Dongeng juga jarang menceritakan bahwa naga ternyata menang karena lawannya
sedang salah tidur.
Akhirnya kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup memiliki
kewajiban moral untuk menghadiahkan "happy ending". Ketika kenyataan
datang membawa tagihan, penolakan kerja, ban bocor, dan paket yang tertulis
"sedang dikirim" selama seminggu, kita merasa semesta telah melakukan
pelanggaran kontrak.
Padahal semesta tidak pernah menandatangani kontrak apa pun.
Media sosial memperparah keadaan. Kita melihat teman
mengunggah foto liburan di pegunungan. Yang tidak terlihat adalah tiga bulan
sebelumnya ia lembur setiap malam, makan mi instan dengan penuh penghayatan,
dan berdebat dengan aplikasi pinjaman online yang terus mengingatkan tanggal
jatuh tempo.
Internet adalah museum prestasi, bukan gudang kegagalan.
Tidak ada orang yang bangga mengunggah foto dengan
keterangan, "Hari ini saya ditolak lagi. Penolakan ke-17. Mohon doanya
agar genap menjadi 20." Padahal justru koleksi penolakan itulah yang
sering menjadi fondasi keberhasilan.
Akibatnya, kita membandingkan film dokumenter kehidupan
sendiri dengan trailer kehidupan orang lain. Tentu hasilnya menyedihkan.
Trailer memang dibuat agar tampak menarik. Tidak ada trailer yang
memperlihatkan adegan tokohnya mencari sandal sebelah selama dua puluh menit.
Di sinilah metafora tentang lensa menjadi sangat menarik.
Ekspektasi ternyata seperti kacamata. Masalahnya, banyak
dari kita membeli kacamata di toko fantasi. Lensanya dilengkapi fitur pembesar
kekecewaan. Kesalahan kecil tampak sebesar gunung. Kritik ringan terdengar
seperti deklarasi perang. Chat yang tidak dibalas lima menit langsung
diterjemahkan menjadi, "Dia pasti membenciku."
Padahal, sangat mungkin lawan bicara hanya sedang mandi.
Atau lebih tragis lagi, sedang tidur sambil memeluk ponsel
yang kehabisan baterai.
Lensa seperti itu membuat dunia tampak jauh lebih kejam
daripada kenyataannya. Hidup sebenarnya hanya memberikan soal matematika
sederhana, tetapi kacamata kita menerjemahkannya menjadi ujian filsafat tingkat
doktoral.
Sebaliknya, lensa yang realistis tidak membuat hidup menjadi
lebih mudah. Ia hanya membuat kita berhenti kaget terhadap hal-hal yang memang
sudah menjadi sifat kehidupan.
Orang baik bisa dikhianati.
Orang rajin bisa gagal.
Orang pintar bisa salah.
Dan orang yang baru saja mengepel lantai hampir pasti akan
didatangi seseorang dengan kaki penuh lumpur. Entah bagaimana hukum alam
mengatur peristiwa ini.
Ketika kita menerima kenyataan itu, sesuatu yang menarik
terjadi.
Kita berhenti menghabiskan energi untuk bertanya,
"Mengapa ini terjadi padaku?"
Sebagai gantinya, kita mulai bertanya, "Baiklah,
sekarang saya harus bagaimana?"
Perubahan satu kalimat itu kecil, tetapi dampaknya sebesar
perubahan dari orang yang sibuk mengutuk hujan menjadi orang yang akhirnya
membeli payung.
Kedewasaan rupanya bukan kemampuan untuk menghindari badai,
melainkan kemampuan membawa jas hujan tanpa menyalahkan awan.
Lucunya lagi, manusia sering menganggap realistis berarti
pesimis. Padahal keduanya berbeda sejauh warung kopi dengan kantor pajak.
Pesimis berkata, "Tidak ada gunanya mencoba."
Optimis naif berkata, "Pasti berhasil."
Optimis realistis berkata, "Bisa saja gagal. Maka mari
kita siapkan rencana cadangan."
Yang terakhir mungkin terdengar kurang puitis, tetapi
biasanya lebih panjang umur.
Pada akhirnya, hidup bukan sedang memusuhi kita. Ia hanya
tidak bekerja sebagai layanan pelanggan yang siap memenuhi semua permintaan.
Kehidupan tidak mengenal menu "komplain" dengan tombol "bicara
dengan supervisor semesta."
Ia bekerja dengan cara yang lebih sederhana: siapa yang
belajar akan bertambah bijak, siapa yang bertahan akan bertambah kuat, dan
siapa yang mau mengganti lensanya akan melihat bahwa banyak hal yang dulu
tampak sebagai bencana ternyata hanyalah belokan.
Mungkin memang sudah saatnya kita berhenti meminta kehidupan
berubah menjadi dongeng.
Lagipula, kalau semua berjalan mulus, apa yang akan kita
ceritakan kepada cucu nanti?
Masa iya kita berkata, "Nak, Kakek dulu hidupnya sangat
membosankan. Semua sesuai rencana. Tidak ada drama, tidak ada salah belok,
tidak ada nasi goreng gosong, bahkan sinyal internet selalu penuh."
Cucu kita mungkin akan mengangguk sopan.
Lalu diam-diam berpikir, "Kasihan sekali Kakek.
Hidupnya tidak pernah punya bahan cerita."
Karena sesungguhnya, yang membuat hidup layak dikenang
bukanlah banyaknya adegan yang sesuai harapan, melainkan kemampuan kita
menertawakan adegan-adegan yang sama sekali tidak ada di naskah. Di situlah
kebijaksanaan sering datang—bukan dengan mengetuk pintu, melainkan dengan
menyelinap lewat jendela sambil membawa secangkir kopi dan berkata,
"Lihat? Ternyata dunia tidak rusak. Yang perlu diganti hanya
kacamatamu."
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.