Sabtu, 25 Juli 2026

Lensa Diskon: Ketika Hidup Tidak Mau Mengikuti Skenario yang Sudah Kita Tulis

Ada satu kebiasaan manusia yang nyaris setua umur peradaban: menyusun skenario hidup sedetail mungkin, lalu marah kepada kehidupan karena lupa membaca naskahnya.

Kita berharap hidup itu seperti drama Korea: pemeran utama memang sengsara, tetapi tetap ganteng, tetap wangi, dan episode terakhir selalu diiringi musik yang membuat penonton ingin membeli tisu. Sayangnya, hidup lebih sering menyerupai sinetron listrik padam. Adegan penting baru dimulai, eh... "Maaf, jaringan sedang bermasalah."

Di situlah letak kelucuan manusia. Kita sering mengira masalah terbesar adalah kerasnya kehidupan. Padahal, bisa jadi yang lebih keras adalah kepala kita sendiri yang bersikeras bahwa semua harus berjalan sesuai ekspektasi.

Sejak kecil kita dijejali berbagai cerita. Putri cantik bertemu pangeran. Anak miskin tiba-tiba kaya. Tokoh utama selalu menemukan jalan keluar lima menit sebelum film selesai. Tidak ada dongeng yang berbunyi, "Pangeran akhirnya diterima cicilan rumah selama tiga puluh tahun." Dongeng juga jarang menceritakan bahwa naga ternyata menang karena lawannya sedang salah tidur.

Akhirnya kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup memiliki kewajiban moral untuk menghadiahkan "happy ending". Ketika kenyataan datang membawa tagihan, penolakan kerja, ban bocor, dan paket yang tertulis "sedang dikirim" selama seminggu, kita merasa semesta telah melakukan pelanggaran kontrak.

Padahal semesta tidak pernah menandatangani kontrak apa pun.

Media sosial memperparah keadaan. Kita melihat teman mengunggah foto liburan di pegunungan. Yang tidak terlihat adalah tiga bulan sebelumnya ia lembur setiap malam, makan mi instan dengan penuh penghayatan, dan berdebat dengan aplikasi pinjaman online yang terus mengingatkan tanggal jatuh tempo.

Internet adalah museum prestasi, bukan gudang kegagalan.

Tidak ada orang yang bangga mengunggah foto dengan keterangan, "Hari ini saya ditolak lagi. Penolakan ke-17. Mohon doanya agar genap menjadi 20." Padahal justru koleksi penolakan itulah yang sering menjadi fondasi keberhasilan.

Akibatnya, kita membandingkan film dokumenter kehidupan sendiri dengan trailer kehidupan orang lain. Tentu hasilnya menyedihkan. Trailer memang dibuat agar tampak menarik. Tidak ada trailer yang memperlihatkan adegan tokohnya mencari sandal sebelah selama dua puluh menit.

Di sinilah metafora tentang lensa menjadi sangat menarik.

Ekspektasi ternyata seperti kacamata. Masalahnya, banyak dari kita membeli kacamata di toko fantasi. Lensanya dilengkapi fitur pembesar kekecewaan. Kesalahan kecil tampak sebesar gunung. Kritik ringan terdengar seperti deklarasi perang. Chat yang tidak dibalas lima menit langsung diterjemahkan menjadi, "Dia pasti membenciku."

Padahal, sangat mungkin lawan bicara hanya sedang mandi.

Atau lebih tragis lagi, sedang tidur sambil memeluk ponsel yang kehabisan baterai.

Lensa seperti itu membuat dunia tampak jauh lebih kejam daripada kenyataannya. Hidup sebenarnya hanya memberikan soal matematika sederhana, tetapi kacamata kita menerjemahkannya menjadi ujian filsafat tingkat doktoral.

Sebaliknya, lensa yang realistis tidak membuat hidup menjadi lebih mudah. Ia hanya membuat kita berhenti kaget terhadap hal-hal yang memang sudah menjadi sifat kehidupan.

Orang baik bisa dikhianati.

Orang rajin bisa gagal.

Orang pintar bisa salah.

Dan orang yang baru saja mengepel lantai hampir pasti akan didatangi seseorang dengan kaki penuh lumpur. Entah bagaimana hukum alam mengatur peristiwa ini.

Ketika kita menerima kenyataan itu, sesuatu yang menarik terjadi.

Kita berhenti menghabiskan energi untuk bertanya, "Mengapa ini terjadi padaku?"

Sebagai gantinya, kita mulai bertanya, "Baiklah, sekarang saya harus bagaimana?"

Perubahan satu kalimat itu kecil, tetapi dampaknya sebesar perubahan dari orang yang sibuk mengutuk hujan menjadi orang yang akhirnya membeli payung.

Kedewasaan rupanya bukan kemampuan untuk menghindari badai, melainkan kemampuan membawa jas hujan tanpa menyalahkan awan.

Lucunya lagi, manusia sering menganggap realistis berarti pesimis. Padahal keduanya berbeda sejauh warung kopi dengan kantor pajak.

Pesimis berkata, "Tidak ada gunanya mencoba."

Optimis naif berkata, "Pasti berhasil."

Optimis realistis berkata, "Bisa saja gagal. Maka mari kita siapkan rencana cadangan."

Yang terakhir mungkin terdengar kurang puitis, tetapi biasanya lebih panjang umur.

Pada akhirnya, hidup bukan sedang memusuhi kita. Ia hanya tidak bekerja sebagai layanan pelanggan yang siap memenuhi semua permintaan. Kehidupan tidak mengenal menu "komplain" dengan tombol "bicara dengan supervisor semesta."

Ia bekerja dengan cara yang lebih sederhana: siapa yang belajar akan bertambah bijak, siapa yang bertahan akan bertambah kuat, dan siapa yang mau mengganti lensanya akan melihat bahwa banyak hal yang dulu tampak sebagai bencana ternyata hanyalah belokan.

Mungkin memang sudah saatnya kita berhenti meminta kehidupan berubah menjadi dongeng.

Lagipula, kalau semua berjalan mulus, apa yang akan kita ceritakan kepada cucu nanti?

Masa iya kita berkata, "Nak, Kakek dulu hidupnya sangat membosankan. Semua sesuai rencana. Tidak ada drama, tidak ada salah belok, tidak ada nasi goreng gosong, bahkan sinyal internet selalu penuh."

Cucu kita mungkin akan mengangguk sopan.

Lalu diam-diam berpikir, "Kasihan sekali Kakek. Hidupnya tidak pernah punya bahan cerita."

Karena sesungguhnya, yang membuat hidup layak dikenang bukanlah banyaknya adegan yang sesuai harapan, melainkan kemampuan kita menertawakan adegan-adegan yang sama sekali tidak ada di naskah. Di situlah kebijaksanaan sering datang—bukan dengan mengetuk pintu, melainkan dengan menyelinap lewat jendela sambil membawa secangkir kopi dan berkata, "Lihat? Ternyata dunia tidak rusak. Yang perlu diganti hanya kacamatamu."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.