Senin, 20 Juli 2026

Tidak Ada Tombol Pause: Tragedi Orang Dewasa yang Tetap Harus Bayar Tagihan

Ada satu momen sakral yang dialami hampir semua orang dewasa. Bukan saat wisuda. Bukan ketika menikah. Apalagi ketika pertama kali berhasil memasak mi instan tanpa gosong.

Momen sakral itu adalah ketika kita sadar bahwa hidup ternyata tidak memiliki tombol pause.

Game punya pause. Film di Netflix bisa dihentikan. Lagu di Spotify bisa di-skip. Bahkan pertandingan sepak bola bisa dihentikan karena hujan atau lampu stadion mati. Tetapi kehidupan? Maaf, hidup memakai sistem layanan 24 jam. Tidak ada libur nasional. Tidak ada cuti emosional. Yang ada hanya notifikasi bertubi-tubi.

"Hati sedang remuk?"

Silakan, tapi rapat dimulai lima menit lagi.

"Baru patah hati?"

Silakan, tapi cicilan jatuh tempo besok.

"Lagi kehilangan semangat hidup?"

Silakan, tapi gas elpiji tetap harus dibeli.

Konon, ada sebuah kutipan yang sering beredar di media sosial dan dikaitkan dengan Ernest Hemingway: pelajaran tersulit orang dewasa adalah terus berjalan meski di dalam sudah hancur berkeping-keping.

Masalahnya, kemungkinan besar Hemingway sendiri sedang geleng-geleng kepala dari alam sana.

Bayangkan beliau sedang menikmati ketenangan abadi, lalu tiba-tiba diberi tahu, "Pak Ernest, Anda baru saja menulis kutipan tentang burnout, overthinking, dan orang yang tetap masuk kerja meski jiwanya sudah logout."

Beliau mungkin menjawab, "Saya menulis novel, bukan status WhatsApp."

Fenomena ini sebenarnya cukup lucu. Media sosial memiliki bakat luar biasa dalam menjodohkan siapa pun dengan kalimat apa pun. Besok-besok jangan kaget kalau muncul kutipan, "Jangan lupa minum air putih delapan gelas sehari." — Socrates.

Atau, "Kalau diskon 70 persen, beli dua." — Ibnu Khaldun.

Nama besar ternyata berfungsi seperti penyedap rasa. Kalimat biasa menjadi tampak filosofis hanya karena ditempeli nama tokoh terkenal. Seolah-olah kebijaksanaan tidak sah kalau tidak memakai jas sastra Eropa.

Namun, anehnya, walaupun mungkin bukan ditulis Hemingway, isi kutipan itu tetap terasa benar.

Di situlah ironi bekerja.

Sering kali yang palsu justru mengungkapkan sesuatu yang asli.

Orang dewasa memang memiliki profesi sampingan yang tidak pernah dicantumkan di kartu nama: aktor.

Pagi hari ia tersenyum kepada tetangga.

Siang hari memimpin rapat.

Sore hari mengantar anak les.

Malam hari memandangi langit-langit kamar sambil bertanya, "Sebenarnya aku sedang menjalani hidup atau sedang menjadi staf administrasi bagi semesta?"

Hebatnya lagi, semua itu dilakukan sambil berkata, "Alhamdulillah, baik."

Kalimat "baik" dalam kamus orang dewasa memiliki rentang makna yang sangat luas. Kadang berarti benar-benar baik. Kadang berarti baru saja kehilangan arah hidup. Kadang berarti sedang menghitung apakah saldo rekening cukup sampai akhir bulan.

Sungguh kata yang bekerja lembur.

Yang lebih lucu lagi adalah dunia sama sekali tidak peduli.

Matahari tetap terbit tanpa bertanya apakah kita sudah siap menghadapi hari.

Alarm tetap berbunyi walaupun semalam kita baru tidur dua jam.

Email kantor tetap masuk walaupun hati sedang ingin mengajukan pensiun dini dari kehidupan sosial.

Tagihan listrik bahkan tidak pernah berkata, "Kami memahami kondisi emosional Anda."

Tidak.

Ia hanya berkata, "Jatuh tempo."

Di sinilah letak kejeniusan kehidupan. Ia tidak kejam karena membenci kita. Ia hanya terlalu sibuk berputar.

Seperti kipas angin. Mau kita sedang galau, bahagia, atau baru sadar harga cabai naik lagi, kipas tetap berputar dengan penuh dedikasi.

Barangkali inilah yang disebut filsuf sebagai absurditas.

Camus mengajak manusia membayangkan Sisyphus terus mendorong batu ke atas bukit.

Kalau Camus hidup sekarang, mungkin ia akan memperbarui ilustrasinya.

Bayangkan seorang pegawai yang setiap Senin membuka laptop, menutup spreadsheet, membuka spreadsheet lagi, menghadiri rapat yang sebenarnya bisa menjadi email, lalu pulang dengan tekad untuk tidur cepat, tetapi malah menggulir media sosial sampai pukul satu dini hari.

Itulah Sisyphus versi Wi-Fi.

Media sosial sendiri mempunyai bakat istimewa mengubah penderitaan menjadi konten.

Seseorang menulis bahwa hidupnya berantakan.

Sepuluh ribu orang menyukai.

Seribu orang membagikan.

Lima ratus orang berkomentar, "Aku banget."

Seratus orang menyimpan unggahan itu agar bisa dibaca lagi saat overthinking berikutnya.

Kesedihan ternyata juga memiliki algoritma.

Semakin universal lukanya, semakin besar peluang masuk beranda.

Meski demikian, ada sesuatu yang indah di balik semua kekonyolan itu.

Kita ternyata saling menemukan lewat cerita-cerita retak.

Bukan karena hidup kita sempurna, melainkan karena kita sama-sama pernah merasa ingin menyerah tetapi tetap bangun pagi untuk membeli sabun cuci piring.

Heroisme orang dewasa ternyata tidak selalu berupa menyelamatkan dunia.

Kadang heroisme itu hanya berupa tetap mencuci pakaian meski suasana hati sedang mendung.

Tetap menyapa orang lain dengan ramah ketika isi kepala sedang seperti grup WhatsApp keluarga yang tidak pernah berhenti berbunyi.

Tetap tertawa meski dompet mengeluarkan suara jangkrik.

Pada akhirnya, mungkin pelajaran terbesar menjadi dewasa bukanlah belajar menjadi kuat.

Melainkan belajar bahwa kita boleh rapuh tanpa harus berhenti hidup.

Kita boleh lelah tanpa merasa gagal.

Dan kita boleh sesekali menangis, asalkan setelah itu masih ingat mematikan kompor.

Sebab, berbeda dengan novel, kehidupan tidak pernah menunggu bab berikutnya selesai ditulis.

Ia terus berjalan.

Dan kita, dengan segala retak, kusut, kantung mata, daftar belanja, cicilan, serta humor yang tersisa, tetap ikut berjalan di belakangnya.

Kalau beruntung, sambil tertawa.

Kalau tidak beruntung...

Ya, setidaknya sambil membawa payung. Karena hidup, seperti grup WhatsApp RT, selalu punya kejutan yang datang tanpa permisi.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.