Ada dua jenis orang di dunia. Yang pertama, kalau lampu lalu lintas merah jam dua pagi di jalan kosong, tetap berhenti. Yang kedua, berhenti sebentar hanya untuk memastikan tidak ada polisi, lalu melaju sambil berbisik, "Yang penting disiplin... situasional."
Di antara dua golongan itulah mungkin arwah perdebatan Lee
Kuan Yew melayang-layang sambil menghela napas.
Mendiang bapak modernisasi Singapura itu pernah berkata
bahwa negara lebih membutuhkan disiplin daripada demokrasi untuk berkembang.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi efeknya seperti melempar petasan ke
ruang diskusi politik. Separuh orang bertepuk tangan, separuh lagi langsung
membuka buku teori demokrasi, sementara sisanya sibuk berdebat di media sosial
dengan semangat yang luar biasa demokratis—yakni saling memblokir.
Lee bukan sedang bercanda. Baginya, demokrasi tanpa disiplin
hanyalah rapat RT yang berlangsung tiga jam untuk memutuskan warna pagar. Semua
bebas berbicara, semua merasa benar, tetapi pagarnya tetap belum dicat.
Sebaliknya, disiplin memungkinkan keputusan diambil cepat.
Jalan dibangun. Pelabuhan selesai. Pendidikan diperbaiki. Korupsi dipersempit
ruang geraknya. Negara bergerak seperti kereta cepat, bukan seperti rombongan
keluarga yang hendak piknik tetapi satu jam masih mencari sandal milik paman.
Dan, harus diakui, Singapura memang memberikan bukti yang
sulit dibantah.
Pulau kecil yang dulu nyaris tanpa sumber daya berubah
menjadi pusat keuangan dunia. Kotanya bersih sampai-sampai daun gugur pun
tampaknya meminta izin sebelum menyentuh trotoar. Kereta datang tepat waktu.
Pelayanan publik efisien. Korupsi rendah. Bahkan antrean di sana tampak lebih
rapi daripada barisan semut menuju gula.
Melihat semua itu, banyak negara berkembang spontan
berpikir, "Mungkin memang yang kita butuhkan bukan lebih banyak debat,
melainkan lebih banyak peluit."
Namun, di sinilah letak jebakan logikanya.
Menganggap disiplin otomatis menghasilkan kemakmuran sama
seperti mengira semua orang yang memakai jas pasti ekonom hebat. Kadang yang
memakai jas hanyalah MC resepsi.
Keberhasilan Singapura tidak lahir hanya karena disiplin. Ia
juga lahir karena kepemimpinan yang sangat kompeten, birokrasi yang
profesional, hukum yang ditegakkan tanpa pandang bulu, serta budaya meritokrasi
yang dibangun puluhan tahun.
Masalahnya, pemimpin seperti Lee Kuan Yew tidak tumbuh
setiap musim hujan.
Kalau resep sebuah negara adalah, "Cari saja pemimpin
jenius, jujur, visioner, tegas, antikorupsi, sekaligus tidak haus
kekuasaan," maka resep itu kurang lebih setara dengan saran dokter,
"Supaya sehat, jangan pernah sakit."
Secara teori benar.
Secara praktik... ya, semoga beruntung.
Di situlah demokrasi, meski sering tampak berantakan,
memiliki kegunaan yang sering diremehkan.
Demokrasi memang ribut. Kadang terlalu ribut.
Ia seperti grup WhatsApp keluarga besar menjelang Idulfitri.
Semua orang punya pendapat. Ada yang mengirim stiker, ada yang mengirim hoaks,
ada yang tiba-tiba membahas harga cabai padahal topiknya jadwal halal bihalal.
Melelahkan?
Tentu.
Tetapi justru karena semua boleh berbicara, kesalahan lebih
mudah ditemukan. Kebijakan bisa dikritik. Pemimpin bisa dikoreksi. Pers dapat
bertanya tanpa harus berbisik. Sistem memiliki rem ketika sopir mulai terlalu
percaya diri.
Sebaliknya, dalam sistem yang terlalu bergantung pada satu
pemimpin hebat, masalah terbesar muncul ketika sang pemimpin pensiun.
Bayangkan sebuah orkestra yang selama tiga puluh tahun hanya
memiliki satu dirigen jenius. Semua berjalan sempurna. Lalu suatu hari
dirigennya pergi.
Kalau sistemnya sehat, musik tetap dimainkan.
Kalau sistemnya bergantung pada satu orang, yang terdengar
berikutnya hanyalah suara pemain trombon bertanya, "Sekarang kita mulai
dari nada apa?"
Indonesia sering tergoda oleh pesona kalimat Lee Kuan Yew.
Maklum.
Ketika melihat birokrasi berbelit, korupsi yang muncul
seperti iklan sebelum video, atau rapat yang menghasilkan rapat lanjutan, orang
mulai berkhayal tentang "pemimpin kuat" yang bisa menyelesaikan semua
masalah dalam sekali gebrak meja.
Padahal meja bukan sumber masalah.
Kalau sistemnya rusak, meja hanya menjadi korban pertama.
Indonesia bukan Singapura. Luas wilayahnya berbeda.
Keragaman suku, budaya, bahasa, agama, serta jumlah penduduknya jauh lebih
kompleks. Mengelola Singapura ibarat mengatur satu kapal pesiar modern.
Mengelola Indonesia lebih mirip mengatur armada kapal dari Sabang sampai
Merauke, sementara sebagian awak masih memperdebatkan siapa yang membawa termos
kopi.
Karena itu, menyalin model Singapura mentah-mentah sama
seperti memakai jas ukuran anak SD untuk menghadiri konferensi internasional.
Bahannya mungkin bagus, tetapi jelas tidak pas.
Yang sebenarnya dibutuhkan bukan memilih antara disiplin
atau demokrasi.
Keduanya justru seperti dua kaki.
Kalau hanya punya disiplin tanpa demokrasi, negara bisa
berjalan cepat, tetapi berisiko menuju arah yang salah tanpa ada yang berani
mengingatkan.
Kalau hanya punya demokrasi tanpa disiplin, negara memang
bebas menentukan arah, tetapi langkahnya sering berhenti karena semua sibuk
berdebat tentang sepatu siapa yang paling demokratis.
Negara yang sehat memerlukan disiplin agar kebijakan dapat
dijalankan dengan konsisten, sekaligus demokrasi agar kekuasaan tidak berubah
menjadi kursi malas yang enggan ditinggalkan.
Akhirnya, mungkin pelajaran terbesar dari Lee Kuan Yew
bukanlah bahwa demokrasi harus dikalahkan oleh disiplin. Melainkan bahwa
pembangunan membutuhkan warga yang mau tertib sekaligus pemerintah yang mau
diawasi.
Sebab disiplin tanpa kebebasan bisa berubah menjadi barak.
Sebaliknya, kebebasan tanpa disiplin bisa berubah menjadi
kolom komentar.
Dan, sebagaimana kita semua tahu, tidak ada negara yang
berhasil dibangun hanya dengan memenangkan perdebatan di kolom komentar.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.