Selasa, 28 Juli 2026

Kepepet adalah Bahasa Cinta Tuhan: Tentang Al-Hikam, Ego, dan Manusia yang Terlalu Percaya Diri

Ada dua jenis manusia di dunia.

Yang pertama, orang yang setiap bangun pagi berkata, "Hari ini aku akan menaklukkan dunia!"

Yang kedua, orang yang baru membuka mata, melihat tagihan listrik, cicilan, grup WhatsApp kantor, dan notifikasi "Penyimpanan hampir penuh", lalu berbisik lirih, "Ya Allah..."

Anehnya, menurut Al-Hikam, justru golongan kedua sering kali lebih dekat dengan pintu ma'rifat.

Ternyata jalan menuju Allah kadang tidak diawali dengan seminar motivasi, melainkan dengan saldo rekening yang motivasinya sudah habis.

Begitulah salah satu pelajaran indah dari hikmah-hikmah Ibnu Atha'illah. Semakin seseorang merasa fakir di hadapan Allah, semakin ia sedang menemukan jati dirinya. Sebaliknya, semakin seseorang merasa hebat, semakin ia berisiko tersesat di museum ego, lengkap dengan tiket VIP dan pemandu wisata bernama "Aku".

Ego: Direktur Utama yang Tidak Pernah Mau Pensiun

Masalah terbesar manusia ternyata bukan kemiskinan.

Bukan pula inflasi.

Bukan cuaca yang sulit diprediksi.

Masalah terbesar manusia adalah satu makhluk yang selalu ikut ke mana-mana, tidak pernah membayar kos, tetapi merasa pemilik rumah.

Namanya: ego.

Ego memiliki kebiasaan unik.

Kalau berhasil ujian, ia berkata, "Aku memang cerdas."

Kalau gagal, ia berkata, "Soalnya tidak berkualitas."

Kalau dipuji, ia merasa memang pantas.

Kalau dikritik, ia menyimpulkan dunia sedang iri.

Ego adalah politisi paling sukses dalam sejarah batin manusia. Apa pun hasil pemilu kehidupan, ia selalu mengklaim kemenangan.

Padahal menurut Al-Hikam, selama "aku" masih terlalu besar, Allah hanya kebagian ruang kecil di dalam hati. Sulit menyaksikan Yang Maha Besar jika ruang batin dipenuhi papan reklame bertuliskan "Prestasi Saya".

Manusia Modern dan Agama Bernama Kontrol

Kita hidup di zaman ketika hampir semuanya bisa dikendalikan.

Lampu cukup tepuk tangan.

Pintu cukup sidik jari.

Mobil bisa parkir sendiri.

Jam tangan bisa mengingatkan kita untuk bernapas, seolah-olah paru-paru sedang magang.

Lalu pelan-pelan muncul keyakinan baru.

"Kalau semua bisa dikontrol, hidup juga pasti bisa dikontrol."

Di sinilah masalah dimulai.

Begitu kenyataan tidak mengikuti jadwal Google Calendar, manusia langsung protes kepada semesta.

Ketika promosi jabatan gagal, kita kecewa.

Ketika rencana liburan batal, kita murung.

Ketika sinyal internet hilang lima menit, kita merasa kiamat versi digital telah tiba.

Padahal hidup memang tidak pernah menandatangani kontrak untuk selalu sesuai ekspektasi kita.

Tasawuf datang seperti teman lama yang menepuk bahu sambil berkata,

"Barangkali yang perlu dikendalikan bukan dunia, melainkan rasa ingin mengendalikan dunia."

Kalimat ini tidak laku dijual dalam seminar "Jadilah Penguasa Alam Semesta dalam 21 Hari", tetapi justru menyelamatkan banyak hati dari kelelahan.

Doa: Saat Manusia Berhenti Berlagak Jadi Superman

Ada alasan mengapa doa disebut inti ibadah.

Karena saat berdoa, semua gelar mendadak kehilangan tenaga.

Profesor tetap mengangkat tangan.

Direktur tetap mengangkat tangan.

Pejabat tetap mengangkat tangan.

Juara dunia pun tetap mengangkat tangan.

Di hadapan Allah, semua kembali menjadi makhluk yang sedang berkata,

"Aku tidak sanggup."

Ironisnya, kalimat yang paling sulit diucapkan manusia bukanlah rumus fisika kuantum.

Melainkan:

"Aku memang membutuhkan pertolongan."

Ego alergi terhadap kalimat itu.

Ia lebih suka berkata,

"Aku bisa sendiri."

Lalu tiga hari kemudian mengetik di mesin pencari:

"Cara mengatasi hidup yang terasa berat."

Kepepet: Universitas Spiritual Tanpa Wisuda

Dalam kehidupan sehari-hari, kata "kepepet" terdengar menyedihkan.

Padahal dalam Al-Hikam, kepepet sering kali adalah ruang kelas favorit Allah.

Ketika semua pintu tertutup...

Ketika semua kenalan tidak bisa membantu...

Ketika semua rencana berantakan...

Di situlah manusia mulai belajar mengetuk pintu yang sejak awal sebenarnya tidak pernah tertutup.

Lucunya, banyak orang baru rajin tahajud ketika dokter berkata,

"Besok kita lihat hasil laboratoriumnya."

Banyak yang baru khusyuk berzikir ketika proposal ditolak.

Banyak yang baru menghafal doa ketika pesawat mengalami turbulensi.

Kalau pesawat selalu mulus, mungkin sebagian penumpang lebih sibuk memilih filter foto daripada mengingat Penciptanya.

Kepepet memang bukan pengalaman yang menyenangkan.

Tetapi sering kali ia adalah guru yang paling jujur.

Cahaya yang Tidak Bisa Difoto

Zaman sekarang orang sangat menyukai cahaya.

Lampu RGB.

Lampu LED.

Ring light.

Neon.

Aura.

Filter "glow."

Semua ingin terlihat bercahaya.

Namun cahaya yang dibicarakan para sufi bukanlah cahaya yang bisa ditingkatkan resolusinya.

Ia tidak muncul di kamera.

Tidak bisa dipasang sebagai wallpaper.

Tidak bisa dipamerkan di media sosial dengan caption:

"Feeling blessed."

Cahaya itu justru membuat seseorang semakin rendah hati.

Kalau setelah merasa mendapat "cahaya" seseorang justru makin merasa paling suci, mungkin yang menyala bukan nur, melainkan lampu indikator ego.

Orang Arif Tidak Sibuk Mengiklankan Kedekatannya dengan Allah

Ada fenomena menarik.

Semakin sedikit ilmu, semakin mudah seseorang merasa sudah sampai.

Semakin banyak ilmu, semakin sadar bahwa perjalanan masih panjang.

Gunung tidak pernah mengiklankan dirinya tinggi.

Laut tidak pernah memperkenalkan dirinya dalam seminar.

Matahari tidak pernah membuat unggahan,

"Hari ini kembali sukses menerangi bumi."

Mereka cukup menjalankan tugasnya.

Begitu pula orang yang benar-benar mengenal Allah.

Ia justru semakin lembut.

Semakin tenang.

Semakin sedikit berbicara tentang dirinya.

Karena ia sibuk melihat Sang Pencipta, bukan sibuk melihat dirinya sedang melihat Sang Pencipta.

Faqir yang Kaya

Tasawuf tidak mengajarkan manusia menjadi miskin.

Yang diajarkan adalah jangan pernah merasa memiliki.

Kita boleh punya rumah.

Tetapi jangan sampai rumah memiliki kita.

Boleh punya jabatan.

Asal jangan jabatan yang menjalankan hidup kita.

Boleh punya harta.

Asal jangan hati disimpan di dalam dompet.

Sebab sejarah membuktikan, dompet paling mahal pun tidak memiliki ruang untuk menyimpan ketenangan.

Penutup: Pulang Tanpa Membawa Gelar

Pada akhirnya, hidup mungkin memang bukan perlombaan untuk menjadi manusia paling hebat.

Melainkan perjalanan panjang untuk menjadi hamba yang paling tahu diri.

Lucunya, dunia terus menyuruh kita menjadi "besar".

Al-Hikam justru mengajarkan seni menjadi "kecil".

Dunia berkata, "Buktikan bahwa engkau mampu."

Allah mengajarkan, "Sadari bahwa tanpa-Ku engkau tidak mampu."

Dunia memuja orang yang tidak pernah jatuh.

Tasawuf menghormati orang yang setiap jatuh justru semakin mengenal Tuhannya.

Mungkin itulah sebabnya Allah kadang membiarkan hidup sedikit oleng.

Bukan karena Dia lupa memegang kemudi.

Melainkan karena kita terlalu percaya bahwa kitalah sopirnya.

Dan ketika akhirnya kita menyerahkan setir kepada-Nya, barulah kita sadar bahwa perjalanan ini sejak awal memang bukan tentang seberapa hebat kita mengemudi, melainkan tentang seberapa rela kita menjadi penumpang yang percaya kepada Sang Pengarah Jalan.

Karena dalam kamus para arif, orang yang paling kaya bukanlah yang rekeningnya penuh, melainkan yang hatinya selalu merasa membutuhkan Allah. Dan mungkin, di situlah letak humor paling halus dalam kehidupan: manusia sibuk mengejar rasa cukup, sementara kebahagiaan justru lahir ketika ia dengan jujur mengakui bahwa dirinya akan selalu faqir di hadapan Yang Maha Kaya.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.