Ada dua jenis manusia di dunia. Yang pertama percaya bahwa hidup bisa direncanakan dengan rapi seperti jadwal belajar menjelang ujian. Yang kedua sudah menyerah dan menganggap hidup hanyalah serial drama dengan penulis naskah yang suka mengganti alur di episode terakhir.
Elif Shafak tampaknya berdiri di tengah-tengah. Ia tidak
menyuruh kita menjadi pesimis, tetapi juga tidak membiarkan kita mabuk
optimisme. Ia sekadar mengingatkan bahwa hidup itu lebih kreatif daripada
manusia yang membuat vision board setiap awal tahun.
Lihat saja urusan cinta.
Konon cinta datang tanpa diundang. Benar. Yang jarang
dibahas adalah bahwa kadang ia juga pulang tanpa pamit. Bahkan lebih cepat
daripada tamu hajatan yang baru datang, makan dua kali, lalu menghilang sebelum
acara doa.
Kita sering menganggap cinta seperti kontrak internet
berlangganan: begitu aktif, tinggal bayar setiap bulan. Padahal cinta lebih
mirip tanaman. Kalau tidak disiram, ia layu. Kalau disiram berlebihan, ia juga
layu. Kalau tetangganya lebih rajin menyiram... nah, itu sudah masuk sinetron.
Begitu pula persahabatan.
Teman terbaik bisa berubah menjadi orang asing. Sebaliknya,
orang asing bisa menjadi sahabat seumur hidup. Fenomena ini membuat kita sadar
bahwa hubungan antarmanusia lebih dinamis daripada harga cabai.
Di media sosial, seseorang bisa memberi tanda hati pada
semua unggahan kita selama bertahun-tahun, lalu suatu hari hilang tanpa jejak.
Sebaliknya, orang yang dulu hanya bertanya, "Permisi, colokannya
kosong?" justru beberapa tahun kemudian menjadi orang yang membantu kita
saat hidup sedang korsleting.
Karena itu jangan terlalu cepat memberi label permanen
kepada manusia. Bahkan aplikasi yang kita anggap paling stabil pun rutin
meminta pembaruan. Masa manusia tidak?
Yang paling menarik dari renungan Shafak adalah kritiknya
terhadap dua kata yang sangat disukai manusia: "selamanya" dan
"tidak akan pernah."
Lucunya, kedua kalimat itu paling sering diucapkan saat
emosi sedang mencapai puncak.
"Aku tidak akan pernah memaafkan dia!"
Dua minggu kemudian mereka sudah makan bakso bersama.
Atau sebaliknya.
"Kita akan bersama selamanya."
Lalu enam bulan kemudian status media sosial berubah
menjadi, "Perjalanan terbaik adalah perjalanan menemukan diri
sendiri."
Hidup memang gemar mempermalukan kalimat yang terlalu
absolut. Alam semesta tampaknya alergi pada kata "selamanya". Ia
lebih suka berkata, "Kita lihat nanti."
Kemudian datang nasihat yang membuat para penunda kronis
sedikit berkeringat: kalau ingin bertemu seseorang, pergilah mencarinya sebelum
terlambat.
Masalahnya, manusia punya bakat luar biasa dalam menunda.
Menelepon orang tua? Nanti malam.
Mengunjungi sahabat lama? Minggu depan.
Meminta maaf? Tunggu suasana lebih enak.
Mulai olahraga? Senin.
Seninnya? Senin depan.
Kalender mungkin satu-satunya benda yang paling sabar
menghadapi kebiasaan manusia. Ia terus berganti halaman sambil diam-diam
berkata, "Silakan ditunda lagi. Aku tetap jalan."
Shafak juga mengatakan bahwa orang yang mau akan bisa
melakukannya.
Kalimat ini sederhana, tetapi cukup mengganggu. Sebab selama
ini kita memiliki gudang alasan yang jauh lebih besar daripada gudang usaha.
Kita ahli membuat kalimat seperti, "Belum
waktunya."
Padahal kadang yang belum waktunya hanyalah niat kita bangun
dari kasur.
Lalu tibalah bagian favorit para pencinta zona nyaman:
tentang risiko.
Kita sering mengira hidup paling aman adalah hidup tanpa
risiko.
Padahal itu seperti membeli payung lalu tidak pernah keluar
rumah karena takut hujan. Payungnya memang awet, tetapi pemiliknya tidak pernah
melihat pelangi.
Risiko memang bisa menghadirkan kegagalan.
Namun tidak mengambil risiko hampir pasti menghadirkan
penyesalan.
Yang satu melukai harga diri.
Yang satunya lagi menghantui sampai tua.
Pilihannya tidak pernah benar-benar nyaman.
Bagian paling filosofis dari Shafak adalah ketika ia
membedakan rasa sakit dan penderitaan.
Sakit memang datang tanpa meminta izin. Kehilangan,
kegagalan, ditolak, kecewa—semuanya bagian dari paket kehidupan.
Namun penderitaan sering kali adalah hasil rapat panjang di
dalam kepala sendiri.
Bayangkan seseorang tertusuk duri. Itu sakit.
Lalu setiap hari ia membuka album foto duri itu,
mengenangnya, membahasnya di grup keluarga, membuat seminar tentang duri, lalu
menulis status, "Tak semua orang mengerti perjuanganku melawan duri."
Nah, di situlah penderitaan mulai membuka kantor cabang.
Yang terakhir mungkin paling sulit: menerima kenyataan.
Manusia punya hubungan yang rumit dengan fakta. Kita sering
berharap kenyataan berubah hanya karena kita tidak menyukainya.
Padahal kenyataan itu seperti petugas parkir.
Kita boleh protes sepanjang hari, tetapi tarifnya tetap
harus dibayar.
Penerimaan bukan berarti menyerah. Ia hanyalah pengakuan
bahwa melawan kenyataan dengan cara menyangkalnya sama efektifnya dengan
memarahi hujan karena membasahi jemuran.
Pada akhirnya, Elif Shafak seolah mengajak kita menjalani
hidup dengan cara yang lebih ringan. Mencintailah tanpa menganggap semuanya
pasti abadi. Bersahabatlah tanpa merasa memiliki. Beranilah mengambil langkah
meski lutut sedikit gemetar. Datangi orang-orang yang berarti sebelum nama
mereka tinggal tersimpan di kontak yang tak pernah lagi dihubungi.
Sebab hidup, kalau dipikir-pikir, memang punya selera humor
yang sangat khas. Ia sering menutup pintu yang kita kejar mati-matian, lalu
diam-diam membuka jendela yang bahkan tidak kita sadari keberadaannya.
Mungkin itulah sebabnya orang bijak tidak sibuk mencari
kepastian mutlak. Mereka cukup membawa bekal keberanian, sedikit kesabaran, dan
kemampuan menertawakan diri sendiri.
Karena pada akhirnya, yang paling sering membuat hidup
terasa berat bukanlah kenyataan itu sendiri, melainkan ekspektasi kita yang
bersikeras bahwa hidup seharusnya mengikuti rencana. Padahal sejak awal, hidup
hanya tersenyum sambil berkata, "Terima kasih atas usulnya. Sekarang
izinkan saya memakai skenario saya sendiri."
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.