Kamis, 23 Juli 2026

Belajar Hidup dari Elif Shafak: Jangan Terlalu Percaya Kata "Selamanya", Apalagi Diskon yang Tinggal Lima Menit

Ada dua jenis manusia di dunia. Yang pertama percaya bahwa hidup bisa direncanakan dengan rapi seperti jadwal belajar menjelang ujian. Yang kedua sudah menyerah dan menganggap hidup hanyalah serial drama dengan penulis naskah yang suka mengganti alur di episode terakhir.

Elif Shafak tampaknya berdiri di tengah-tengah. Ia tidak menyuruh kita menjadi pesimis, tetapi juga tidak membiarkan kita mabuk optimisme. Ia sekadar mengingatkan bahwa hidup itu lebih kreatif daripada manusia yang membuat vision board setiap awal tahun.

Lihat saja urusan cinta.

Konon cinta datang tanpa diundang. Benar. Yang jarang dibahas adalah bahwa kadang ia juga pulang tanpa pamit. Bahkan lebih cepat daripada tamu hajatan yang baru datang, makan dua kali, lalu menghilang sebelum acara doa.

Kita sering menganggap cinta seperti kontrak internet berlangganan: begitu aktif, tinggal bayar setiap bulan. Padahal cinta lebih mirip tanaman. Kalau tidak disiram, ia layu. Kalau disiram berlebihan, ia juga layu. Kalau tetangganya lebih rajin menyiram... nah, itu sudah masuk sinetron.

Begitu pula persahabatan.

Teman terbaik bisa berubah menjadi orang asing. Sebaliknya, orang asing bisa menjadi sahabat seumur hidup. Fenomena ini membuat kita sadar bahwa hubungan antarmanusia lebih dinamis daripada harga cabai.

Di media sosial, seseorang bisa memberi tanda hati pada semua unggahan kita selama bertahun-tahun, lalu suatu hari hilang tanpa jejak. Sebaliknya, orang yang dulu hanya bertanya, "Permisi, colokannya kosong?" justru beberapa tahun kemudian menjadi orang yang membantu kita saat hidup sedang korsleting.

Karena itu jangan terlalu cepat memberi label permanen kepada manusia. Bahkan aplikasi yang kita anggap paling stabil pun rutin meminta pembaruan. Masa manusia tidak?

Yang paling menarik dari renungan Shafak adalah kritiknya terhadap dua kata yang sangat disukai manusia: "selamanya" dan "tidak akan pernah."

Lucunya, kedua kalimat itu paling sering diucapkan saat emosi sedang mencapai puncak.

"Aku tidak akan pernah memaafkan dia!"

Dua minggu kemudian mereka sudah makan bakso bersama.

Atau sebaliknya.

"Kita akan bersama selamanya."

Lalu enam bulan kemudian status media sosial berubah menjadi, "Perjalanan terbaik adalah perjalanan menemukan diri sendiri."

Hidup memang gemar mempermalukan kalimat yang terlalu absolut. Alam semesta tampaknya alergi pada kata "selamanya". Ia lebih suka berkata, "Kita lihat nanti."

Kemudian datang nasihat yang membuat para penunda kronis sedikit berkeringat: kalau ingin bertemu seseorang, pergilah mencarinya sebelum terlambat.

Masalahnya, manusia punya bakat luar biasa dalam menunda.

Menelepon orang tua? Nanti malam.

Mengunjungi sahabat lama? Minggu depan.

Meminta maaf? Tunggu suasana lebih enak.

Mulai olahraga? Senin.

Seninnya? Senin depan.

Kalender mungkin satu-satunya benda yang paling sabar menghadapi kebiasaan manusia. Ia terus berganti halaman sambil diam-diam berkata, "Silakan ditunda lagi. Aku tetap jalan."

Shafak juga mengatakan bahwa orang yang mau akan bisa melakukannya.

Kalimat ini sederhana, tetapi cukup mengganggu. Sebab selama ini kita memiliki gudang alasan yang jauh lebih besar daripada gudang usaha.

Kita ahli membuat kalimat seperti, "Belum waktunya."

Padahal kadang yang belum waktunya hanyalah niat kita bangun dari kasur.

Lalu tibalah bagian favorit para pencinta zona nyaman: tentang risiko.

Kita sering mengira hidup paling aman adalah hidup tanpa risiko.

Padahal itu seperti membeli payung lalu tidak pernah keluar rumah karena takut hujan. Payungnya memang awet, tetapi pemiliknya tidak pernah melihat pelangi.

Risiko memang bisa menghadirkan kegagalan.

Namun tidak mengambil risiko hampir pasti menghadirkan penyesalan.

Yang satu melukai harga diri.

Yang satunya lagi menghantui sampai tua.

Pilihannya tidak pernah benar-benar nyaman.

Bagian paling filosofis dari Shafak adalah ketika ia membedakan rasa sakit dan penderitaan.

Sakit memang datang tanpa meminta izin. Kehilangan, kegagalan, ditolak, kecewa—semuanya bagian dari paket kehidupan.

Namun penderitaan sering kali adalah hasil rapat panjang di dalam kepala sendiri.

Bayangkan seseorang tertusuk duri. Itu sakit.

Lalu setiap hari ia membuka album foto duri itu, mengenangnya, membahasnya di grup keluarga, membuat seminar tentang duri, lalu menulis status, "Tak semua orang mengerti perjuanganku melawan duri."

Nah, di situlah penderitaan mulai membuka kantor cabang.

Yang terakhir mungkin paling sulit: menerima kenyataan.

Manusia punya hubungan yang rumit dengan fakta. Kita sering berharap kenyataan berubah hanya karena kita tidak menyukainya.

Padahal kenyataan itu seperti petugas parkir.

Kita boleh protes sepanjang hari, tetapi tarifnya tetap harus dibayar.

Penerimaan bukan berarti menyerah. Ia hanyalah pengakuan bahwa melawan kenyataan dengan cara menyangkalnya sama efektifnya dengan memarahi hujan karena membasahi jemuran.

Pada akhirnya, Elif Shafak seolah mengajak kita menjalani hidup dengan cara yang lebih ringan. Mencintailah tanpa menganggap semuanya pasti abadi. Bersahabatlah tanpa merasa memiliki. Beranilah mengambil langkah meski lutut sedikit gemetar. Datangi orang-orang yang berarti sebelum nama mereka tinggal tersimpan di kontak yang tak pernah lagi dihubungi.

Sebab hidup, kalau dipikir-pikir, memang punya selera humor yang sangat khas. Ia sering menutup pintu yang kita kejar mati-matian, lalu diam-diam membuka jendela yang bahkan tidak kita sadari keberadaannya.

Mungkin itulah sebabnya orang bijak tidak sibuk mencari kepastian mutlak. Mereka cukup membawa bekal keberanian, sedikit kesabaran, dan kemampuan menertawakan diri sendiri.

Karena pada akhirnya, yang paling sering membuat hidup terasa berat bukanlah kenyataan itu sendiri, melainkan ekspektasi kita yang bersikeras bahwa hidup seharusnya mengikuti rencana. Padahal sejak awal, hidup hanya tersenyum sambil berkata, "Terima kasih atas usulnya. Sekarang izinkan saya memakai skenario saya sendiri."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.