Rabu, 22 Juli 2026

Berserah yang Kreatif: Ketika Manusia Berhenti Menjadi Manajer Alam Semesta

Ada satu penyakit modern yang belum masuk daftar BPJS. Namanya Sindrom Direktur Takdir. Gejalanya cukup khas: bangun tidur langsung mengecek masa depan, sebelum mengecek tekanan darah. Baru buka mata sudah bertanya, "Bagaimana kalau rezeki seret? Bagaimana kalau usaha gagal? Bagaimana kalau jodoh menikah duluan? Bagaimana kalau tetangga beli mobil baru?"

Padahal, yang ditanya semua adalah urusan yang bahkan malaikat pun tidak diberi akses edit.

Lucunya, manusia tetap bersikeras ingin menjadi admin semesta.

Barangkali kalau Tuhan membuka lowongan, sebagian dari kita akan melamar sebagai "Koordinator Jalannya Takdir", lengkap dengan proposal perbaikan cuaca, revisi umur, serta pengajuan kenaikan gaji bulanan.

Untungnya, langit tidak mengenal sistem aspirasi semacam itu.

Di sinilah ceramah Berserah yang Kreatif datang seperti secangkir kopi hangat di tengah rapat kehidupan yang terlalu serius. Ia tidak mengajak kita berhenti bekerja, tetapi berhenti berpura-pura menjadi Tuhan.

Karena ternyata, dua pekerjaan itu sering tertukar.


Tasawuf dalam ceramah ini memulai pelajarannya dengan kalimat sederhana tetapi menghantam ego manusia seperti notifikasi tagihan kartu kredit di akhir bulan:

"Jangan mengatur apa yang sudah diatur Allah."

Kalimat ini sebenarnya terdengar ringan.

Masalahnya, manusia mempunyai hobi mengelola sesuatu yang tidak berada dalam daftar kewenangannya.

Kita ingin mengatur kapan kaya.

Kapan sukses.

Kapan anak menjadi juara kelas.

Kapan doa dikabulkan.

Bahkan kadang kita sudah membuat jadwal kapan Allah seharusnya mengabulkan permohonan kita.

Kalau lewat dari target, mulailah hati melakukan demonstrasi.

Padahal hubungan manusia dengan Tuhan bukan hubungan pelanggan dengan jasa ekspedisi yang bisa menulis ulasan, "Pengiriman doa terlambat. Bintang dua."


Yang menarik, ceramah ini tidak mengajarkan kemalasan.

Justru sebaliknya.

Ia mengatakan bahwa manusia harus sangat serius pada apa yang memang menjadi tugasnya.

Shalat? Serius.

Belajar? Serius.

Bekerja? Serius.

Menepati janji? Serius.

Menolong orang? Serius.

Tetapi begitu selesai...

Lepaskan hasilnya.

Ini konsep yang terdengar sederhana, tetapi praktiknya lebih sulit daripada menahan diri agar tidak membuka media sosial setiap lima menit.

Manusia memang makhluk unik.

Ketika bekerja, pikirannya sibuk pada hasil.

Ketika hasil datang, pikirannya sibuk pada hasil berikutnya.

Akhirnya ia bekerja terus, tetapi tidak pernah sempat menikmati bekerja.

Seperti hamster yang berlari di roda.

Capeknya nyata.

Majunya tidak ke mana-mana.


Ceramah ini juga memperkenalkan sesuatu yang terdengar aneh bagi telinga modern: naik kelas dalam beristighfar.

Biasanya orang beristighfar karena melakukan dosa.

Lalu selesai.

Tetapi para sufi rupanya memiliki standar yang jauh lebih tinggi.

Mereka beristighfar karena lupa kepada Allah.

Lalu naik lagi.

Beristighfar karena hatinya diisi selain Allah.

Kalau diteruskan, mungkin suatu hari ada sufi yang beristighfar karena ketika minum teh terlalu fokus pada tehnya sampai lupa mengagumi Sang Pencipta daun teh.

Di titik ini, orang awam mungkin mulai berkeringat.

"Kalau begitu saya harus istighfar berapa kali sehari?"

Jawabannya mungkin sederhana.

Sebanyak napas.

Karena ternyata perjalanan spiritual bukan lomba mengumpulkan angka, melainkan memperhalus kesadaran.


Ada bagian ceramah yang sangat menarik sekaligus lucu jika direnungkan.

Katanya, hati adalah rumah Allah.

Maka jangan diisi terlalu banyak barang.

Mendengar ini, saya membayangkan kondisi hati manusia modern.

Isinya cicilan.

Diskon tanggal kembar.

Komentar media sosial.

Harga cabai.

Drama grup WhatsApp keluarga.

Notifikasi marketplace.

Perbandingan hidup dengan tetangga.

Ditambah rasa kesal karena paket datang terlambat.

Kalau hati benar-benar rumah, mungkin sekarang kondisinya sudah seperti gudang yang gagal disortir.

Tidak heran ketenangan sulit menemukan alamatnya.


Yang lebih jenaka lagi adalah kebiasaan manusia mencemaskan rezeki.

Padahal rezeki dijamin.

Sebaliknya, akhlak yang tidak dijamin justru sering diabaikan.

Lucu sekali.

Kita seperti mahasiswa yang panik memikirkan warna map untuk wisuda, tetapi lupa mengerjakan skripsinya.

Fokusnya terbalik.

Kita sibuk mengurusi bonus, sementara pekerjaan pokok terbengkalai.

Padahal Tuhan berkali-kali mengatakan bahwa urusan manusia adalah berusaha.

Sedangkan hasil merupakan wilayah langit.

Kalau langit sudah diurus bumi, nanti siapa yang mengurus langit?


Lalu muncullah pembahasan tentang basirah, mata hati.

Kalau mata biasa melihat bentuk, mata hati melihat makna.

Mata biasa melihat seseorang memberi sedekah.

Mata hati melihat keikhlasan.

Mata biasa melihat hujan.

Mata hati melihat rahmat.

Mata biasa melihat kegagalan.

Mata hati melihat pelajaran.

Persoalannya, manusia modern terlalu rajin membersihkan kacamata, tetapi lupa membersihkan hati.

Lensanya semakin mahal.

Pandangannya semakin kabur.


Ceramah ini juga mengingatkan bahwa agama bukan sekadar gaya hidup.

Hari ini, agama kadang berubah menjadi aksesori.

Ada yang sibuk mempercantik foto ibadah, tetapi lupa mempercantik akhlak.

Feed media sosial penuh kutipan bijak.

Kolom komentar penuh pertengkaran.

Status dipenuhi doa.

Pesan pribadi dipenuhi umpatan.

Agaknya sebagian orang ingin masuk surga melalui filter kamera.

Padahal malaikat tidak pernah meminta kualitas resolusi foto.

Yang dicatat adalah kualitas hati.


Yang paling saya sukai dari ceramah ini adalah ia tidak mengajak manusia kabur dari dunia.

Ia justru mengajak manusia berhenti panik menghadapi dunia.

Ada perbedaan besar.

Tasawuf bukan menghapus pekerjaan.

Tasawuf menghapus kepanikan.

Tasawuf bukan melarang memiliki harta.

Tasawuf melarang harta memiliki hati.

Tasawuf bukan mematikan cita-cita.

Tasawuf mematikan kesombongan yang sering ikut tumbuh bersama cita-cita.

Karena itu, berserah ternyata bukan duduk sambil menunggu mukjizat jatuh dari langit.

Kalau begitu, ayam yang sedang mengerami telur pun sudah layak disebut wali.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Berserah adalah bekerja sepenuh tenaga, lalu tidak mabuk oleh hasil.


Akhirnya kami menyadari satu hal.

Mungkin hidup memang akan jauh lebih ringan jika manusia berhenti menjadi sutradara seluruh adegan kehidupannya.

Ada peran yang memang harus dimainkan dengan sebaik-baiknya.

Tetapi ada naskah yang memang tidak pernah diberikan kepada kita.

Tugas kita bukan menulis akhir cerita.

Tugas kita adalah memainkan karakter dengan jujur.

Sisanya?

Biarlah Sang Penulis Agung menyelesaikan skenarionya.

Dan mungkin, di situlah letak humor terbesar kehidupan.

Manusia berkeringat menyusun ribuan rencana.

Sementara Tuhan, dengan kelembutan-Nya, hanya tersenyum melihat betapa seriusnya kita mencoba mengatur sesuatu yang sejak awal sudah berada dalam genggaman-Nya.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.