Ada satu penyakit modern yang belum masuk daftar BPJS. Namanya Sindrom Direktur Takdir. Gejalanya cukup khas: bangun tidur langsung mengecek masa depan, sebelum mengecek tekanan darah. Baru buka mata sudah bertanya, "Bagaimana kalau rezeki seret? Bagaimana kalau usaha gagal? Bagaimana kalau jodoh menikah duluan? Bagaimana kalau tetangga beli mobil baru?"
Padahal, yang ditanya semua adalah urusan yang bahkan
malaikat pun tidak diberi akses edit.
Lucunya, manusia tetap bersikeras ingin menjadi admin
semesta.
Barangkali kalau Tuhan membuka lowongan, sebagian dari kita
akan melamar sebagai "Koordinator Jalannya Takdir", lengkap dengan
proposal perbaikan cuaca, revisi umur, serta pengajuan kenaikan gaji bulanan.
Untungnya, langit tidak mengenal sistem aspirasi semacam
itu.
Di sinilah ceramah Berserah yang Kreatif datang
seperti secangkir kopi hangat di tengah rapat kehidupan yang terlalu serius. Ia
tidak mengajak kita berhenti bekerja, tetapi berhenti berpura-pura menjadi
Tuhan.
Karena ternyata, dua pekerjaan itu sering tertukar.
Tasawuf dalam ceramah ini memulai pelajarannya dengan
kalimat sederhana tetapi menghantam ego manusia seperti notifikasi tagihan
kartu kredit di akhir bulan:
"Jangan mengatur apa yang sudah diatur Allah."
Kalimat ini sebenarnya terdengar ringan.
Masalahnya, manusia mempunyai hobi mengelola sesuatu yang
tidak berada dalam daftar kewenangannya.
Kita ingin mengatur kapan kaya.
Kapan sukses.
Kapan anak menjadi juara kelas.
Kapan doa dikabulkan.
Bahkan kadang kita sudah membuat jadwal kapan Allah
seharusnya mengabulkan permohonan kita.
Kalau lewat dari target, mulailah hati melakukan
demonstrasi.
Padahal hubungan manusia dengan Tuhan bukan hubungan pelanggan dengan jasa ekspedisi yang bisa menulis ulasan, "Pengiriman doa terlambat. Bintang dua."
Yang menarik, ceramah ini tidak mengajarkan kemalasan.
Justru sebaliknya.
Ia mengatakan bahwa manusia harus sangat serius pada apa
yang memang menjadi tugasnya.
Shalat? Serius.
Belajar? Serius.
Bekerja? Serius.
Menepati janji? Serius.
Menolong orang? Serius.
Tetapi begitu selesai...
Lepaskan hasilnya.
Ini konsep yang terdengar sederhana, tetapi praktiknya lebih
sulit daripada menahan diri agar tidak membuka media sosial setiap lima menit.
Manusia memang makhluk unik.
Ketika bekerja, pikirannya sibuk pada hasil.
Ketika hasil datang, pikirannya sibuk pada hasil berikutnya.
Akhirnya ia bekerja terus, tetapi tidak pernah sempat
menikmati bekerja.
Seperti hamster yang berlari di roda.
Capeknya nyata.
Majunya tidak ke mana-mana.
Ceramah ini juga memperkenalkan sesuatu yang terdengar aneh
bagi telinga modern: naik kelas dalam beristighfar.
Biasanya orang beristighfar karena melakukan dosa.
Lalu selesai.
Tetapi para sufi rupanya memiliki standar yang jauh lebih
tinggi.
Mereka beristighfar karena lupa kepada Allah.
Lalu naik lagi.
Beristighfar karena hatinya diisi selain Allah.
Kalau diteruskan, mungkin suatu hari ada sufi yang
beristighfar karena ketika minum teh terlalu fokus pada tehnya sampai lupa
mengagumi Sang Pencipta daun teh.
Di titik ini, orang awam mungkin mulai berkeringat.
"Kalau begitu saya harus istighfar berapa kali
sehari?"
Jawabannya mungkin sederhana.
Sebanyak napas.
Karena ternyata perjalanan spiritual bukan lomba mengumpulkan angka, melainkan memperhalus kesadaran.
Ada bagian ceramah yang sangat menarik sekaligus lucu jika
direnungkan.
Katanya, hati adalah rumah Allah.
Maka jangan diisi terlalu banyak barang.
Mendengar ini, saya membayangkan kondisi hati manusia
modern.
Isinya cicilan.
Diskon tanggal kembar.
Komentar media sosial.
Harga cabai.
Drama grup WhatsApp keluarga.
Notifikasi marketplace.
Perbandingan hidup dengan tetangga.
Ditambah rasa kesal karena paket datang terlambat.
Kalau hati benar-benar rumah, mungkin sekarang kondisinya
sudah seperti gudang yang gagal disortir.
Tidak heran ketenangan sulit menemukan alamatnya.
Yang lebih jenaka lagi adalah kebiasaan manusia mencemaskan
rezeki.
Padahal rezeki dijamin.
Sebaliknya, akhlak yang tidak dijamin justru sering
diabaikan.
Lucu sekali.
Kita seperti mahasiswa yang panik memikirkan warna map untuk
wisuda, tetapi lupa mengerjakan skripsinya.
Fokusnya terbalik.
Kita sibuk mengurusi bonus, sementara pekerjaan pokok
terbengkalai.
Padahal Tuhan berkali-kali mengatakan bahwa urusan manusia
adalah berusaha.
Sedangkan hasil merupakan wilayah langit.
Kalau langit sudah diurus bumi, nanti siapa yang mengurus langit?
Lalu muncullah pembahasan tentang basirah, mata hati.
Kalau mata biasa melihat bentuk, mata hati melihat makna.
Mata biasa melihat seseorang memberi sedekah.
Mata hati melihat keikhlasan.
Mata biasa melihat hujan.
Mata hati melihat rahmat.
Mata biasa melihat kegagalan.
Mata hati melihat pelajaran.
Persoalannya, manusia modern terlalu rajin membersihkan
kacamata, tetapi lupa membersihkan hati.
Lensanya semakin mahal.
Pandangannya semakin kabur.
Ceramah ini juga mengingatkan bahwa agama bukan sekadar gaya
hidup.
Hari ini, agama kadang berubah menjadi aksesori.
Ada yang sibuk mempercantik foto ibadah, tetapi lupa
mempercantik akhlak.
Feed media sosial penuh kutipan bijak.
Kolom komentar penuh pertengkaran.
Status dipenuhi doa.
Pesan pribadi dipenuhi umpatan.
Agaknya sebagian orang ingin masuk surga melalui filter
kamera.
Padahal malaikat tidak pernah meminta kualitas resolusi
foto.
Yang dicatat adalah kualitas hati.
Yang paling saya sukai dari ceramah ini adalah ia tidak
mengajak manusia kabur dari dunia.
Ia justru mengajak manusia berhenti panik menghadapi dunia.
Ada perbedaan besar.
Tasawuf bukan menghapus pekerjaan.
Tasawuf menghapus kepanikan.
Tasawuf bukan melarang memiliki harta.
Tasawuf melarang harta memiliki hati.
Tasawuf bukan mematikan cita-cita.
Tasawuf mematikan kesombongan yang sering ikut tumbuh
bersama cita-cita.
Karena itu, berserah ternyata bukan duduk sambil menunggu
mukjizat jatuh dari langit.
Kalau begitu, ayam yang sedang mengerami telur pun sudah
layak disebut wali.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Berserah adalah bekerja sepenuh tenaga, lalu tidak mabuk oleh hasil.
Akhirnya kami menyadari satu hal.
Mungkin hidup memang akan jauh lebih ringan jika manusia
berhenti menjadi sutradara seluruh adegan kehidupannya.
Ada peran yang memang harus dimainkan dengan sebaik-baiknya.
Tetapi ada naskah yang memang tidak pernah diberikan kepada
kita.
Tugas kita bukan menulis akhir cerita.
Tugas kita adalah memainkan karakter dengan jujur.
Sisanya?
Biarlah Sang Penulis Agung menyelesaikan skenarionya.
Dan mungkin, di situlah letak humor terbesar kehidupan.
Manusia berkeringat menyusun ribuan rencana.
Sementara Tuhan, dengan kelembutan-Nya, hanya tersenyum
melihat betapa seriusnya kita mencoba mengatur sesuatu yang sejak awal sudah
berada dalam genggaman-Nya.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.