Rabu, 22 Juli 2026

Sekolah Tanpa Komite, Guru Tanpa Peta: Komedi Serius dari Ruang RUU

Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa mendidik anak membutuhkan satu kampung. Namun, dalam dunia regulasi, kadang muncul gagasan yang terdengar seperti, "Tidak usah satu kampung. Cukup satu meja rapat."

Begitulah kira-kira suasana ketika draf RUU Sisdiknas 2026 mulai beredar. Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) membacanya dengan wajah yang mula-mula tenang, lalu mengernyit, kemudian mencari kopi, dan akhirnya mengeluarkan daftar kritik yang panjangnya hampir menyaingi daftar tugas siswa menjelang ujian.

Membaca kritik itu rasanya seperti menyaksikan seseorang pulang dari pasar dengan membawa kantong belanja yang ternyata isinya tinggal struk pembayaran. Barang-barangnya entah ke mana.

Ketika Komite Sekolah Dianggap Terlalu Ramai

Salah satu sorotan terbesar adalah hilangnya Komite Sekolah atau POMG dari rancangan undang-undang.

Komite sekolah selama ini ibarat grup WhatsApp keluarga besar. Memang kadang ramai oleh pesan "Selamat pagi" bergambar bunga matahari, sesekali ada perdebatan soal uang kas, bahkan ada yang diam bertahun-tahun lalu tiba-tiba muncul saat membahas seragam. Tetapi justru di situlah denyut partisipasi hidup.

Bayangkan sebuah sekolah tanpa komite.

Orang tua hanya menerima kabar ketika rapor dibagikan atau ketika anak pulang membawa surat yang diawali kalimat legendaris:

"Mohon kehadiran orang tua."

Padahal kehadiran orang tua seharusnya bukan hanya ketika anak membuat ulah, tetapi juga ketika sekolah sedang menentukan arah kebijakan.

Menghapus komite sekolah karena dianggap tidak sempurna sama seperti membuang payung karena pernah bocor. Solusinya mungkin bukan membuang payung, melainkan memperbaiki kainnya.

Dewan Pendidikan: Wasit yang Dipensiunkan Sebelum Pertandingan

Lebih menarik lagi adalah hilangnya Dewan Pendidikan.

Dewan Pendidikan itu seperti wasit dalam pertandingan sepak bola. Tidak selalu disukai semua pihak, tetapi semua orang baru sadar pentingnya wasit ketika pertandingan berubah menjadi adu dorong.

Tanpa wasit, setiap pemain merasa dirinya benar.

Kiper merasa golnya sah.

Penyerang merasa semua pelanggaran layak diabaikan.

Penonton ikut meniup peluit yang sebenarnya tidak mereka miliki.

Begitulah nasib pendidikan jika semua pengawasan dipersempit. Semua tampak rapi di atas kertas, tetapi belum tentu sehat di lapangan.

Demokrasi memang sering berisik. Ada rapat, ada kritik, ada usulan, ada yang setuju, ada yang mengeluh karena rapatnya terlalu lama.

Namun alternatifnya bukanlah kesunyian.

Kesunyian dalam tata kelola sering kali lebih menakutkan daripada kebisingan diskusi.

Guru Harus Lahir, Tapi Rumah Bersalinnya Hilang

Bagian yang paling filosofis justru menyangkut LPTK.

RUU masih menghendaki guru berasal dari pendidikan keguruan, tetapi pengaturan tentang lembaga pencetak guru justru menghilang.

Logikanya mengingatkan pada seseorang yang berkata,

"Saya ingin selalu makan roti hangat."

Lalu lima menit kemudian ia menutup semua toko roti.

Tentu roti masih mungkin ada. Barangkali dibuat di tempat lain. Barangkali diatur lewat aturan lain. Namun kesannya tetap unik: hasilnya dipertahankan, prosesnya disamarkan.

Guru bukan produk yang muncul seperti mi instan setelah disiram air panas.

Ia dibentuk melalui latihan, praktik, refleksi, bahkan kadang melalui pengalaman salah mengajar yang kemudian menjadi pelajaran hidup.

Mengurangi perhatian terhadap lembaga pencetak guru sama seperti berharap panen melimpah sambil lupa menyiram sawah.

Ikatan Dinas dan Romantika Daerah Terpencil

Lalu ada soal ikatan dinas.

Indonesia memiliki ribuan daerah yang jauh dari pusat kota. Sebagian bisa ditempuh dengan pesawat, kapal, mobil, motor, lalu ditambah berjalan kaki sambil bertanya kepada kambing yang sedang merumput.

Menempatkan guru terbaik ke daerah seperti itu memang bukan perkara mudah.

Ikatan dinas selama ini menjadi salah satu cara agar negara bisa berkata,

"Mari mengabdi. Setelah belajar dengan biaya negara, sekarang saatnya membantu daerah yang membutuhkan."

Kalau mekanisme ini dihapus tanpa alternatif yang jelas, situasinya mirip membuka lowongan pekerjaan dengan syarat:

  • Bersedia tinggal jauh dari kota.
  • Internet kadang muncul kadang menghilang.
  • Jalan menuju lokasi lebih sering muncul di cerita petualangan daripada di aplikasi peta.
  • Semangat mengabdi wajib tinggi.

Lalu berharap pelamar datang berbondong-bondong.

Optimisme memang penting.

Tetapi optimisme juga sesekali perlu ditemani logistik.

Pendidikan Tidak Bisa Diatur Seperti Merapikan Lemari

Di sisi lain, kritik P2G tentu bukan kitab suci yang bebas dari pertanyaan.

Boleh jadi pemerintah memiliki alasan mengapa beberapa lembaga dianggap perlu disederhanakan.

Mungkin ada komite sekolah yang hanya aktif saat pemilihan ketua.

Mungkin ada dewan pendidikan yang lebih sering rapat daripada menghasilkan rekomendasi.

Mungkin ada tumpang tindih kewenangan yang memang perlu dirapikan.

Semua kemungkinan itu layak dibahas.

Masalahnya, pendidikan bukan lemari pakaian.

Kalau ada baju yang kusut, kita menyetrikanya.

Bukan membuang seluruh lemarinya.

RUU dan Seni Mendengarkan

Setiap rancangan undang-undang sebenarnya hanyalah sebuah draf—kata yang secara halus berarti, "Masih boleh diperbaiki, asal semua mau mendengarkan."

Yang sering menjadi persoalan bukanlah ada atau tidaknya kritik.

Melainkan apakah kritik diperlakukan sebagai gangguan, atau sebagai vitamin.

Vitamin memang rasanya kadang pahit.

Tetapi justru karena pahit itulah ia berguna.

Kalau semua yang didengar hanya tepuk tangan, jangan heran bila suatu hari yang lahir bukan kebijakan terbaik, melainkan kebijakan yang paling sedikit diperdebatkan.

Padahal sejarah pendidikan menunjukkan bahwa sekolah terbaik bukanlah sekolah yang tidak pernah menerima masukan.

Melainkan sekolah yang tahu bahwa belajar bukan hanya tugas murid.

Pemerintah pun belajar.

DPR belajar.

Guru belajar.

Orang tua belajar.

Bahkan undang-undang pun, sebelum disahkan, seharusnya diberi kesempatan untuk "belajar" dari kritik.

Karena pada akhirnya, pendidikan adalah satu-satunya tempat di mana menghapus kesempatan berdialog justru bisa menjadi pelajaran yang paling mahal.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.